
Ignacia menatap dirinya di cermin. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya tampak sempurna. Topi dan toga wisuda sudah ia kenakan untuk berpartisipasi dalam acara hari ini. Danita mengambil tempat di samping kaca yang tengah digunakan Ignacia. Menatap temannya yang kini tampak semakin bersinar dengan riasan ringan di wajahnya.
"Rajendra pasti akan jatuh cinta lagi padamu, Ignacia. Kamu tampak semakin cantik. Cobalah untuk tersenyum. Iya, seperti itu. Kamu tampak lebih cantik lagi." Danita membawa senyuman pada wajah temannya, tak ada lagi sudut bibir yang datar. Tidak ada lagi perasaan khawatir dan sedih karena studinya sudah berakhir. Ignacia mendapatkan kembali energi berkat Danita.
Ignacia meraih ponselnya yang ada di belakang Danita. Tidak ada pesan dari Rajendra. Apa mungkin laki-laki itu masih dalam perjalanan? Ataukah ada sesuatu yang menghalanginya untuk memberikan kabar jika sudah sampai seperti permintaan Ignacia semalam? Sinyal disini sangat baik, tidak mungkin pesan Rajendra terlambat diterima.
Danita merebut ponsel Ignacia tanpa alasan, "Sudahlah, Rajendra pasti akan datang. Lebih baik kita segera bersiap. Sebentar lagi kita resmi berpisah dengan tugas kuliah." Danita lanjut menggandeng tangan Ignacia untuk dibawa keluar ruangan. Sepanjang lorong, para mahasiswa yang siap di wisuda tengah menunggu untuk dipersilahkan masuk ke ruangan.
Para tamu undangan akan dipersilahkan duduk terlebih dahulu di tempat yang sudah di tetapkan. Para orang tua dan wali para wisudawan akan duduk bersebelahan. Sekitar sepuluh menit lagi barulah pada mahasiswa dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan. Mama Ignacia sudah bersiap-siap dengan ponselnya untuk merekam masuknya Ignacia ke dalam ruangan.
Momen ini harus diabadikan.
Danita menelfon Bahri di sisa waktu, memastikan laki-laki itu sudah sampai bersama ibunya di dalam gedung. Saat pertama kali masuk, Bahri bilang jika ruangan wisudanya lebih besar dari yang ia gunakan wisuda beberapa hari lalu. Danita memberitahu Ignacia soal kekaguman kekasihnya, sebagai bahan obrolan agar Ignacia tidak gugup saja.
Kemarin saat latihan naik ke depan panggung, tangan Ignacia tampak gemetar sesaat. Kebetulan jurusan mereka menjadi yang paling awal di panggil. Danita masih bisa melihat kegugupan Ignacia meksipun tidak terlalu kentara seperti kemarin. "Atur nafasmu, Ignacia. Hadapi rasa gugupmu dan menyelesaikan wisudanya dengan baik."
"Teman-teman, apa kalian gugup?" Seorang gadis berdiri di samping sepasang teman ini. Dia tampak berbeda tanpa memakai kacamata. "Aku ingin menemui kalian sebelum kita duduk terpisah. Aku ingin mengajak kalian berfoto bersama setelah acaranya selesai. Aku membawa kameraku juga."
Danita terharu melihat Nesya juga berhasil sampai di titik ini. Ingin rasanya memeluk namun takut riasannya bisa rusak tanpa sengaja. Ignacia mengangguki permintaan temannya. Ia bergerak untuk menggandeng tangan masing-masing temannya, membuat janji untuk bertemu nanti.
Kode bagi para mahasiswa diberikan, waktunya untuk masuk ke dalam ruangan sesuai barisan. Beruntung Ignacia duduk bersebelahan dengan Danita, jadi dia masih bisa merasa tenang karena keberadaan temannya itu. Sebelum masuk saja Danita sudah memberikan semangat pada Ignacia. Katanya Ignacia pasti bisa melewati rasa gugupnya.
Kala memasuki ruangan, para wisudawan akan melewati tempat duduk orang tua dan wali murid. Kamera mulai diarahkan pada mereka, layaknya artis yang diundang dalam acara penting saja. Ignacia iseng melirik, mencari keberadaan orang tuanya. Dan disalah mereka berdua berdiri dan mengarah kamera ponsel untuk menyoroti dirinya saja. Perhatian kedua orang tuanya kembali padanya hari ini.
Di belakangnya, Danita terus mencari keberadaan Bahri dengan ibunya. Mereka seharusnya duduk di samping orang tua Ignacia. Matanya terus melirik tanpa diketahui siapapun. Tahun ini lebih banyak yang menjadi wisudawan hingga tidak sempat untuk memperhatikan satu persatu.
Butuh beberapa saat hingga Danita dapat menemukan keberadaan seorang wanita yang ia sebut ibu. Berdiri tepat di samping seorang laki-laki yang sudah menjaga anaknya bertahun-tahun. Hati Danita menghangat, apalagi setelah menyadari tatapan kagum kedua orang yang sudah ia undang itu. Nanti Danita harus mengabadikan hari ini bersama mereka.
Para wisudawan masih belum diperbolehkan untuk duduk sebelum para petinggi universitas masuk. Perasaan berdebar Ignacia perlahan menghilang. Tepat saat para wisudawan dipersilahkan duduk, Danita langsung menggandeng tangan temannya. Sekarang giliran dia yang gugup. Tangannya terasa sedikit dingin. Mungkin karena pendingin ruangan, Danita agak menggigil.
Di sisi lain, Athira menunggu dengan bosan bersama kedua adiknya. Jika saja mereka tidak ikut, pasti sekarang ketiganya bersenang-senang di kamar masing-masing. Hanya saja mereka akan kehilangan waktu untuk makan diluar jika berada di rumah. Ayahnya berjanji akan membawa mereka makan enak siang ini. Siapa yang bisa melewatkan hari istimewa? Apalagi kakaknya akan bergabung dengan mereka bersama toganya.
Athira bosan memainkan ponselnya. Yang bisa dilakukannya sekarang hanya duduk di dalam mobil dengan pintu sebelahnya terbuka. Kakinya dia biarkan menggelantung, bersandar pada kursi mobil dengan nyaman. Mengamatu gedung tinggi yang menjadi tempat kakaknya diwisuda. Karena tempat ini tidak panas, Athira tidak akan mengeluh.
"Kak, apa kita tidak boleh berkeliling? Ayo beli camilan sambil menunggu kakak selesai." Rafka tidak biasanya merengek, apalagi sekarang dia sudah SMP. Dia pasti sudah terlalu bosan. Melihat kakaknya merengek, Arvin jadi ikut membantu. Dia juga ingin pergi berkeliling. Selama ada kakak keduanya, dirinya dan kakak ketiganya pasti akan aman kan? Duduk-duduk di mobil membosankan.
Jika diperbolehkan, Athira juga ingin berjalan-jalan sebentar. Masih ada sekitar tiga jam hingga acaranya selesai jika mengikuti jadwal yang ia baca. "Ambilkan ponselku. Ayo coba minta izin pada ayah dan mama apa kita boleh pergi." Kebetulan ayahnya tadi menitipkan kunci mobil pada Athira jika saja mereka ingin pergi ke toilet.
Rafka langsung semangat, mengambil ponsel kakaknya yang ada di dekatnya. Arvin mengintip pesan yang Athira ketikkan di rumah obrolan mamanya dari kursi belakang. Dia tidak bisa menunggu hingga meminta kakaknya untuk menelfon mama. Dengan tegas Athira menolak. Acara di dalam tidak boleh di ganggu dengan sebuah panggilan.
Sekitar lima belas menit berlalu, pesan yang ditunggu kakak beradik ini tidak kunjung datang. Rafka dan Arvin sudah hampir menyerah, begitu pula Athira. Perhatiannya berubah pada layar ponsel yang menunjukkan ruang obrolannya dengan sang mama. Apa mamanya tidak bosan di dalam? Kenapa tidak melihat pesannya sedari tadi?
Tiga puluh menit berlalu, mamanya masih belum membalas. Athira berpikir untuk mengirimkan pesan pada ayahnya saja. Mungkin ayahnya bisa membantu. Lagipula ayahnya pasti paham kenapa Arvin dan Rafka ingin keluar. Duduk berjam-jam di dalam mobil hanya buang-buang waktu.
Athira langsung turun dari duduknya, berbalik menatap kedua adiknya yang kebingungan. "Kenapa kalian masih bersantai? Kalian tidak ingin jalan-jalan denganku?" Athira melipat tangan di depan dada, menunggu kedua adiknya yang bersemangat. Mereka buru-buru memakai alas kaki dan keluar dari mobil bergantian. Mobil dikunci, lalu kuncinya disimpan ke dalam tas selempang Athira.
Ayahnya minta agar Athira menjaga adik-adiknya dengan baik. Mungkin mereka bisa bersantai di minimarket yang ada di dekat kampus. Makan es krim atau camilan, entahlah. Mereka tidak diperbolehkan pergi lebih jauh. Takutnya mereka tersesat atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kalau begitu kau harus rajin belajar," timpal Athira.
Dia bergerak menggandeng tangan kedua adiknya karena akan menyebrang jalan. "Kalian berdua harus fokus pada jalan, mengerti?" Ingat Athira pada Rafka juga Arvin sebelum lampu lalu lintas berubah hijau untuk pejalan kaki. Lalu lintas di sekitar sini cukup padat karena berada di kota.
Arvin memantau lampu lalu lintas, "Kak, sudah hijau. Ayo jalan."
Beberapa orang juga akan menyebrang baik dari arah yang ingin dituju Athira dan sebaliknya. Jadi dia melepaskan tangan Rafka sebentar untuk meletakkan tasnya di depan. Dikiranya genggaman tangannya pada Arvin sudah kencang, namun justru anak itu dapat melepaskan diri dengan cepat. Ia tidak sabar sampai di seberang jalan.
Sontak Rafka dan Athira berlari menyusul yang lebih muda. Arvin tidak mendengar seruan kakaknya. Langkahnya begitu lincah melewati orang-orang, akibatnya ia hampir saja tertabrak seseorang. Meski begitu Arvin tidak menyerah, dia masih berlari. Beruntung ada orang yang berhasil menahan tangannya. Athira ingin sekali memarahi adiknya itu.
Mereka beserta orang yang menghentikan Arvin tadi sampai di seberang, tatapan Athira masih tertuju pada adiknya alih-alih orang yang membantu mereka. Rafka mengomel, dirinya terkejut karena adiknya berlari di tengah keramaian. Bagaimana jika ada orang jahat yang justru membuatnya celaka? Lalu tidak akan ada liburan lagi karena gagal menjaga satu sama lain.
Selang beberapa detik Athira baru melihat pria yang membantu tadi. "Kenapa kakak bisa ..." ucapannya tertahan, pikirannya baru memproses apa yang baru saja terjadi, "Oh ya aku lupa. Kak Ignacia wisuda. Terima kasih sudah membantuku, Kak. Kakak akan pergi ke universitas kakakku?"
Rafka dan Arvin tampak bingung, bagaimana bisa kakaknya bisa mengenal pria ini. Mereka pasti lupa bagaimana rupa Rajendra Karana sudah lama tidak bertemu. Sementara mereka bingung, kakak dan pria ini masih mengobrol. Membahas soal universitas dan kakak tertua mereka.
"Tentu saja. Kenapa aku kesini jika bukan untuk Ignacia. Kalian akan pergi kemana?" Rajendra bertanya.
"Acaranya masih dimulai, kami bosan dan ingin makan es krim di minimarket. Kakak tidak ingin bergabung dengan kami? Daripada menunggu lama di depan gedung." Athira memastikan dirinya menggandeng kedua adiknya dengan benar sekarang. Pandangannya lalu mengarah pada calon kakak ipar.
Rajendra menggeleng, "Ada tempat yang harus aku datangi. Hubungi aku jika Ignacia sudah selesai. Untuk memastikan aku tidak terlambat." Rajendra pamit undur diri, langsung berbalik dan menyebrang tanpa menunggu lampu. Kelihatannya pria ini tengah sibuk menyiapkan sesuatu.
Bersantai di minimarket cukup membuat waktu bergerak sangat cepat. Tidak terlalu membosankan seperti duduk-duduk di mobil. Es krim ketiganya sudah habis sedari tadi, berganti dengan camilan gurih sekarang. Sudah lama Athira tidak membelikan kedua adiknya sesuatu setelah mencari kos dan mempersiapkan banyak hal untuk kuliahnya. Anggap saja sekarang saat untuk menebusnya.
Panggilan dari ayah muncul di layar benda pipih yang tengah digenggam Athira. Ayahnya meminta agar anaknya ini segera kembali serta membawa buket bunga yang sudah disiapkan di mobil. Acara menunggu sudah selesai. Athira membawa kedua adiknya kembali, menyebrangi jalan lalu bergegas menuju mobil.
Tidak lupa Athira menghubungi Rajendra, memberitahu jika kakaknya sudah bebas dengan gelar sarjananya. Dengan buket sudah di tangan, Athira pergi ke tempat yang diberitahu ayahnya. Mereka akan berfoto bersama di lapangan luas dekat gedung wisuda.
Tampaknya tanpa membaca pesan Athira, Rajendra sudah tahu kapan kekasihnya selesai. Athira tidak sengaja melihat seorang laki-laki berpakaian rapi, baju batik warna coklat, celana kain polos dengan warna yang lebih muda. Tatapan pria itu tertuju pada seorang gadis idaman yang tengah bercengkrama dengan keluarganya. Terutama kedua orang tuanya.
Athira meneruskan langkah, mengikuti kemana kedua adiknya pergi. Ignacia pura-pura terharu ketika mendapatkan buket bunga dari sang adik. Athira juga melakukan hal yang sama. Pura-pura menguap air mata. Hubungan kakak beradik ini memang selalu akur di mata keluarganya. Bahkan di saat-saat seperti ini mereka masih bisa bergurau.
Ignacia tidak tampak terharu sama sekali. Kebahagiaannya terlalu besar hingga rasa harunya tertutupi. Ignacia menerima bikey bunga yang diberikan, tidak lupa mengucapkan terima kasih atas kehadiran semua keluarganya. Apa yang bisa lebih dia syukuri daripada itu?
Kebetulan Nesya lewat bersama Danita serta keluarga mereka. Kakak Nesya rupanya juga datang. Jadinya seperti pertemuan keluarga. Orang tua Ignacia mengenal keluarga Nesya, begitu pula sebaliknya. Lalu Danita mengenalkan kedua temannya pada sang ibu. Kedua orang tua Ignacia tidak mengenali Bahri karena sudah lama tidak bertemu. Beruntungnya.
Sebelum ketiga teman ini berfoto bersama, Nesya lebih dahulu akan membantu Ignacia berfoto dengan keluarganya. Menggunakan kamera yang Nesya bawa tentunya. Makin kesini dia semakin pandai mengatur kamera. Hasil fotonya sangat bagus saat Ignacia melihatnya.
Kakak Nesya membantu adiknya untuk berfoto dengan kedua teman baiknya ini. Kakak beradik ini juga sama-sama hebat dalam mengambil gambar. Mereka mencoba banyak gaya tanpa perlu khawatir hasilnya tidak memuaskan. Foto yang paling wajib diambil adalah foto bersama bukey bunga beserta ijazah, benar? Foto itu harus sempurna.
Kembali Athira melirik ke arah pemuda tadi, kelihatannya ada yang sedang memperhitungkan waktu yang tepat untuk muncul. Apa sebaiknya Athira membawa anggota keluarganya menjauh sebentar? Atau mungkin mengatakan sesuatu pada kakaknya yang mungkin terlalu sibuk hingga tidak melihat pesan yang bisa saja Rajendra tunggu balasannya?
Yang sedang ditatap juga seolah membalas tatapan Athira. Mereka sama-sama bingung. Jika Rajendra tiba-tiba masuk, suasananya takut akan canggung. Athira menghampiri kakaknya yang tengah melihat-lihat hasil foto. Ia panggil beberapa kali dengan suara pelan, menarik perhatian sang kakak.
"Kak, ada yang menunggu," ucap Athira memberitahu.