
Ada satu orang yang Ignacia kira mampu membantunya belajar tata Krama kala bertamu ke rumah orang tua kekasihnya. Seorang teman baik yang berkencan dengan kekasihnya tanpa ragu karena mendapatkan izin dari orang tua masing-masing. Ignacia yakin dia juga sudah sering bertemu dengan orang tua kekasihnya untuk sekedar bermain.
Ignacia mengajak orang itu ke rumahnya di siang hari yang cerah. Hujan kemarin membuat kota menjadi lebih sejuk dari biasanya. Bahkan ketika matahari sudah sampai di waktu yang sangat panas, rasanya tidak sepanas sebelumnya. Ignacia menunggu dengan sabar di ruang tamu, sibuk membolak-balikkan halaman buku di salah satu sofa.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ignacia, dari seseorang yang ia undang. Katanya ada sedikit keterlambatan karena ia harus mengisi bensin lebih dahulu. Ignacia sedang santai, ia tidak keberatan jika harus menunggu lebih lama. Lagipula jarak pom bensin dengan rumah ini tidaklah jauh. Sekitar lima belas menit kemudian temannya datang.
Ignacia menghampiri pagar rumah, dibuka selebar mungkin agar sepeda motor temannya bisa masuk. "Terima kasih sudah mau datang. Aku tidak merepotkanmu?" Si pemilik rumah menutup pagar setelah temannya berhasil parkir dengan baik di dalam. Si teman melepas helm miliknya lalu diletakkan di atas jok.
"Tidak, kau tidak merepotkan. Kebetulan aku sedang lenggang. Lalu apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Si teman dibawa masuk ke dalam rumah. Tidak mungkin Ignacia akan mengobrol dengan temannya diluar sini. "Kemana orang tuamu, Ignacia? Aku ingin menyapa mereka juga."
"Orang tuaku sedang keluar untuk mengantar adikku membeli peralatan renang. Adik ketigaku akan masuk ekstrakurikuler." Jika kedua orangtua Ignacia ada di rumah, ia tidak akan mengajak temannya untuk datang. Ayahnya mungkin bisa mendengar pembicaraan mereka tanpa sengaja dan marah-marah nanti.
Sebelum membuka obrolan, Ignacia bertanya lebih dulu apa yang ingin temannya minum. Keheningan mengelilingi si teman kala ditinggalkan sendirian beberapa saat. Kedua adik laki-laki Ignacia ikut kekuar, Athira juga sudah berada di kos. Sebentar lagi dia akan mengikuti masa pengenalan kehidupan kampus.
Ignacia begitu tenang di dapur membuat minuman serta mengambil camilan. Kedatangannya ke ruang tamu saja hampir tidak disadari temannya. Si teman sampai bingung kenapa begitu sunyi disini. Dia tidak tahu saja betapa ramainya rumah ini jika adik-adiknya sudah kembali. Sekitar dua jam lagi mereka pasti selesai mencari baju renang dan lainnya.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan? Katanya ada hal mendesak." Kemala meraih segelas minuman dingin yang sudah Ignacia letakkan di meja tamu. Kemarin malam ia mendapatkan pesan dari Ignacia jika ada hal penting yang ingin dia tanyakan. Kemala tidak akan menolak jika temannya membutuhkan bantuan. Jadilah sekarang dia duduk bersama Ignacia di ruang tamunya.
"Rajendra mengundangku ke rumahnya besok. Bisa berikan aku beberapa saran?" Kemala kira ada apa, rupanya soal bertamu di rumah calon mertua. Gadis bermata sipit itu maklum saja karena ini pasti pertama kalinya bagi Ignacia. Dahulu ia juga pernah bingung bagaimana harus bersikap hingga sekarang sudah pandai dan lebih percaya diri.
Malam harinya Rajendra mengirimkan pesan pada mama Ignacia, meminta izin untuk membawa anak pertamanya datang ke rumah bertemu dengan kedua orangtuanya. Setelah membaca pesan itu, mama Ignacia buru-buru mendatangi anaknya, memastikan pesan yang Rajendra kirimkan bukan main-main. Kebetulan anaknya tengah sibuk memilih baju, berarti Rajendra berkata jujur.
Mamanya duduk di sisi tempat tidur, mengamati Ignacia yang sibuk membuka-buka lemari. Rencananya ia akan mencari baju berlengan sepanjang siku dengan rok melebihi lutut. Memadukan kaos motif stripe dengan midi skirt jeans dan sneakers untuk memberikan kesan girly.
"Sebaiknya kamu memakai dress atau atasan beserta rok. Tidak disarankan memakai celana karena ini pertama kalinya bertemu." Saran pertama yang Kemala berikan langsung Ignacia kerjakan malam itu juga. Memastikan dirinya tidak terlambat meksipun Rajendra membuat rencana besok malam.
Ignacia menunjukkan hasil penemuannya pada sang mama, ia dekatkan pada tubuh seperti sedang dipakai. "Bagaimana menurut mama? Apakah cocok?" Mamanya menatap anak gadisnya dari atas sampai bawah, menilai penampilan yang akan digunakan anaknya besok malam. Kelihatannya cantik, namun sepertinya kurang sesuai.
Mamanya bangkit, mencari sesuatu yang lebih sesuai. Ada satu dress yang terpikirkan oleh mama Ignacia sebelum selesai melihat-lihat isi lemari anaknya. Wanita itu keluar dari kamar Ignacia tanpa mengatakan apapun. Langsung berjalan ke kamarnya dan membuka lemari. Disana ada dress yang belum pernah beliau pakai karena rasanya kurang cocok.
Dress vintage berwarna jeans pudar bermotif yang nanti akan dipadukan loafer warna nude. Ignacia pasti akan sangat cantik memakai pakaian ini terlebih kulit putih anaknya cocok dengan semua baju. Dress tadi dibawa langsung ke kamar anaknya. "Cobalah pakai ini, Ignacia. Pasti sangat cocok untukmu."
Tatapan Ignacia tampak bingung menatap dress berbau baju baru dari mamanya. Ragu-ragu Ignacia membawa dress itu ke kamar mandi untuk mencoba. Setelah melihat dirinya sendiri di cermin, barulah Ignacia merasa sangat cocok. Bajunya bagus ketika dipakai alih-alih dipajang dengan gantungan baju. Sepatu yang mamanya pilihkan juga cocok sekali.
"Benar, rasanya lebih nyaman juga."
"Besok rambutnya biar mama yang atur. Sudah lama mama tidak mengatur rambutmu." Mamanya berdiri di belakang Ignacia, ikut muncul di bayangan cermin. Jika diingat-ingat emang selama ini Ignacia membiarkan rambutnya terurai atau Athira yang menata. Sudah lama sekali rambut panjangnya tidak disentuh mamanya. Wanita di belakangnya ini terlalu sibuk hingga Ignacia tidak peduli dengan tatanan rambutnya.
Waktu dengan cepat berlalu, tidak disangka malam dimana Ignacia akan diundang makan malam akhirnya datang. Rajendra datang sesuai jadwal, Ignacia juga sudah menunggu di teras seperti biasa. Ayah si gadis terlalu sibuk membantu di dapur hingga tidak akan melihat anaknya dijemput seorang laki-laki.
"Biarkan Rajendra yang menjemputmu, jangan datang sendiri. Kata mamaku itu lebih baik."
Senyuman Rajendra mengembang sempurna, gadis kesayangannya tampil dengan dress memukau serta tatanan rambut yang sangat cocok dengan kepribadian pendiamnya. Ditambah dengan sapuan riasan tipis yang lebih menghidupkan wajah kesukaan Rajendra. Orang tuanya pasti bahagia melihat Ignacia malam ini.
Tak lupa di tangan si gadis ada sekotak kue yang masih hangat, baru beberapa menit keluar dari oven. Ignacia menyiapkan kue yang dirasa pasti disukai orang tua kekasihnya. Rajendra bilang ingin makan kue buatan Ignacia lagi, jadi itu yang gadisnya buatkan sore tadi. Berkendara dengan Ignacia rasanya seperti berada di toko kue berjalan. Aroma kuenya enak sekali.
"Bawakan oleh-oleh seperti parsel buah-buahan atau makanan yang disukai orang tua Rajendra. Dahulu aku membawa buah-buahan karena mamanya ingin membuat jus. Coba tanya Rajendra apa yang orang tuanya inginkan."
Si gadis ingin bertanya mobil siapa yang di depan itu namun rasanya tidak perlu. Jika ada saudara yang berkunjung seharusnya Rajendra mengatakannya pada Ignacia sebelum berangkat dan merencanakan pertemuan ini. Si empunya rumah memimpin jalan, dengan sopan membukakan pintu mempersilahkan kekasihnya untuk masuk.
Kondisi ruang tamu tengah kosong, hanya ada keberadaan sebuah tas wanita di salah satu sofa beserta sebuah bola sepak. Kedengarannya orang-orang sedang sibuk di dapur. Ignacia diminta menunggu sebentar sementara dirinya memanggil kedua orang tuanya. Beberapa kali Ignacia seperti mendengar grasak-grusuk dari dalam sebuah kamar sebelah ruang tamu.
"Jangan gugup, santai saja. Jika Rajendra bilang orang tuanya menyukaimu, tidak ada alasan untuk malu. Yang penting tetap tenang, sopan, dan santun. Ingat ketiganya, Ignacia. Jangan terlalu kaku. Jangan lupa juga tersenyum ramah."
Ignacia menghembuskan nafas panjang, mengatur detak jantung yang berdisko ria. Tangannya terasa dingin, kehangatan kue yang ada di tangannya pun seakan tidak bisa tersalurkan. Baru menginjakkan kaki di dalam rumah saja sudah gemetar, bagaimana jika orang tua Rajendra sudah muncul di hadapannya? Harap-harap Ignacia bisa mengontrol diri.
Sebuah perasaan aneh mendatangi hati Ignacia. Di balik dinding yang dekat dengan kamar sebelah muncul seorang anak kecil yang kelihatannya masih duduk di sekolah dasar. Rajendra tidak punya adik, apalagi adik sekecil ini. Anak itu masih mengintip cukup lama. Bahkan hingga seorang perempuan muncul dari arah dapur. "Ada tamu, seharusnya kamu memberikan salam," ucap si wanita pada anak kecil tadi.
"Kudengar Rajendra punya kakak, jadi jangan lupa menyapa kakak-kakak Rajendra juga."
Wanita serta anak yang ia ajak bicara muncul di hadapan Ignacia. Punggung tangan Ignacia disalami oleh si anak kecil sementara wanita yang rupanya ia panggil ibu ini mengulurkan tangan lebih dulu. "Kamu kekasih Rajendra? Senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa akur." Siapa wanita ini? Kenapa bilang begitu padanya?
Perlahan Ignacia menjabat tangan wanita di hadapannya, menyunggingkan senyum seramah mungkin. Wanita dan anak laki-lakinya ini mungkin tamu pemilik mobil di depan. "Halo, salam kenal saya Ignacia." Rasanya ingin bertanya namun Ignacia terlalu malu. Tebakannya bisa saja salah.
"Amira, sudah berkenalan dengan Ignacia ya?" Suara wanita lain yang lebih lembut menarik atensi Ignacia. Ibu Ignacia muncul, langsung mendekati si tamu. "Tante tadi masih menyiapkan makanan jadi terlambat menyambut kamu. Kamu cantik sekali." Rasanya seperti kembali ke masa lalu.
Wajah Ignacia memerah. Tidak percaya akan mendengar kalimat sederhana itu sekali lagi. Ignacia mencoba setenang mungkin untuk bersalaman dengan ibu kekasihnya, mencium punggung tangan wanita ini bergantian dengan ayah Rajendra yang baru muncul. "Kenapa ayah tidak di panggil saat Ignacia datang?" Pria itu menyunggingkan senyum, menyapa dengan hangat.
Tatapan ayah Rajendra begitu mirip dengan kekasihnya. Kebetulan kekasihnya ini juga tengah menatapnya sambil menahan senyuman lebar. Mungkin kegugupan Ignacia yang sangat dia kenal menjadi hiburan tersendiri. Gadisnya tengah berada di tengah-tengah kehangatan keluarganya. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ignacia bahkan hampir lupa untuk menyerahkan sekotak kue di tangannya. "Tante, saya membawa kue coklat. Buatan saja sendiri." Kotak kue itu disodorkan pada Ibu kekasihnya, aroma toko kue yang sempat tercium sebelum masuk muncul lagi. Kegugupannya tadi pasti menghentikan indra penciumannya sesaat.
"Biar aku yang membawanya ke dapur. Aku tidak tahu kamu pandai membuat kue. Aromanya enak sekali." Melihat ibunya membawa sesuatu berbau enak, anak laki-laki di belakangnya ingin meraih kotak itu. "Nanti kita makan bersama dengan Tante Ignacia ya. Sekarang kita ke dapur." Wanita bernama Amira itu menggandeng anak laki-lakinya, menghilang di balik dinding.
Tangan ibu Rajendra berganti berada di bahu Ignacia, merangkul anak perempuan yang disukai anak bungsunya untuk dibawa ke dapur. Sudah waktunya untuk makan malam. Ignacia diberitahu jika wanita yang menemui dia di depan tadi adalah kakak pertama Rajendra. Rupanya bukan tamu yang datang, melainkan anggota keluarga yang datang dari jauh.
Di dapur, Kak Amira sudah bersama dengan suaminya. Langsung terjadi perkenalan keluarga disana. Pria yang tengah membantu istrinya mengoper teko minuman itu bernama Qabil sementara anaknya bernama Maaz. Pria itu bersalaman dengan Ignacia, baru menyadari jika ini calon adik iparnya. Maaz bersembunyi di balik tubuh ibunya, merengek untuk bisa langsung makan kue.
Acara makan malam dimulai, Rajendra duduk di samping Ignacia berhadapan dengan kakak perempuan dan kakak ipar Rajendra juga Maaz di tengah-tengah. Ibu Rajendra ada di bagian meja lain berhadapan dengan sang suami. Ignacia sudah terbiasa dengan meja makan yang sesak, jadi tidak ada masalah ketika keluarga kakak Rajendra ikut bergabung.
Rajendra banyak membawa obrolan agar Ignacia bisa bergaul dengan baik. Beberapa kali tangan kirinya menyentuh pinggiran kursi kekasihnya sebagai kode jika semuanya berjalan baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ignacia senang berada di tengah-tengah kehangatan keluarga yang belum pernah ia rasakan ini. Semua orang menerimanya dengan baik.
"Puji makanan orang tua Rajendra. Ingat, lakukan setulus mungkin dah jangan berlebihan."
Tanpa Ignacia memuji saja sepertinya sudah terlihat jika si gadis menyukai masakan ibu Rajendra. Dari aromanya ketika memasuki dapur saja sudah membuat lapar, apalagi duduk dan menikmatinya. Meskipun begitu Ignacia tetap mencoba untuk memberikan pujian sebisanya. Mungkin suatu hari Ignacia bisa diajarkan bagaimana memasak yang baik dan benar.
Dari sisi lain meja, Kakak Rajendra juga seakan tertarik pada calon adik iparnya ini. Sejak tadi bertanya soal kehidupan Ignacia. Apalagi setelah ibu Rajendra membahas soal wisuda yang anaknya datangi untuk gadis kesayangannya. Rajendra berangkat pagi karena kereta yang datang siang tidak beroperasi. Jadinya anaknya menunggu lama sekali untuk bisa menemuk Ignacia.
"Wah kelihatannya Rajendra begitu menyukaimu. Sejak kapan kalian berkencan? Dimana kalian bertemu?" Sebelum menjawab Ignacia melirik ke arah Rajendra. Laki-laki itu juga bingung harus bagaimana. Dengan isengnya Kak Amira malah tertawa pelan, "Tidak, jangan menjawabnya aku hanya bercanda. Rasanya aneh ketika ditanya seperti itu, Ignacia?"
Si gadis tertawa kaku, sesekali melirik kekasihnya minta tolong.