
Dorrr! Dorrr! Dorrr!
Beberapa peluru perak turut ditembakkan ke tubuh Yujiro sampai pada bagian kepala belakangnya. Yujiro mendorong tubuh Miho agar menjauh darinya ketika ia bersimpuh menahan rasa sakit di tubuh yang sudah berdarah-darah.
"Yujiro!" panggil Miho ikut terduduk di tanah dengan mata berlinang cairan hangat.
Perlahan, kenangan bersama Miho mulai terungkap dengan kepala dibarengi dengan rasa sakit. Kenangan saat mereka berdua tumbuh bersama, terlebih ketika Miho selalu melindunginya.
Kesadaran mulai muncul. Kedua sayap di punggungnya mulai menyusut. Cahaya tanduk di kepalanya kini mati, tak menyala lagi.
Miho menangkap tubuh Yujiro yang lemah ke pelukannya. Sebelah tangannya berlumuran darah ketika memegangi kepala Yujiro yang ternyata terluka. Tubuh berbulu lelaki itu pun perlahan hilang bersamaan bulan purnama yang segera berakhir.
"Mi... Ho..." lirih Yujiro dengan suara yang begitu lemah ketika didengar.
Miho memeluk erat tubuh Yujiro yang sudah dipenuhi banyak luka. Jika itu manusia, pasti dia sudah mati terbujur kaku sekarang.
Yujiro menggerakkan sebelah tangannya seakan ingin membalas pelukan Miho. Ia pun dibaringkan oleh Miho yang menangis tanpa suara saat melihatnya.
"Bertahanlah," pinta Miho sambil menggenggam tangannya erat.
Yujiro menjulurkan sebelah tangan untuk meraih sisi wajah Miho, wanita yang sangat dia sayangi sebagai manusia selain Naho. Miho yang berhasil membuat dirinya sadar kembali sebagai seorang Ushioda Yujiro.
"Miho..." panggil Yujiro lagi. "Yuji... Ro... Cinta... Miho..."
Miho semakin terisak dengan air mata yang mengalir deras. Ia melihat Yujiro yang sedang memandangi langit bertabur bintang dengan bulan yang sudah tidak purnama. Hazel birunya perlahan-lahan redup, membuat Miho segera memeluk kepala lelaki itu dengan penuh perasaan.
"Aku juga mencintaimu, Yujiro..." ungkap Miho.
Beberapa orang menyaksikannya, termasuk Jo yang kini menjatuhkan senjata yang menembaki Yujiro. Ia terduduk surut, merasa begitu bersalah dan sedih. Di sisi lain, inilah yang dirasa harus dia lakukan.
Membuat Yujiro terus hidup akan tetap menyengsarakannya. Semua orang sudah terlanjur membenci dan menganggapnya sebagai ancaman, jadi dia akan terus diburu untuk dimusnahkan. Oleh karena itu, Jo memilih mengakhiri kesengsaraan anaknya itu agar bisa hidup bahagia dengan Naho di kehidupan setelah kematian.
Bersamaan dengan matanya yang redup memandangi langit, Yujiro mengingat-ngingat semua kehidupan yang telah dijalaninya.
Yujiro ingat tentang bagaimana awal dirinya mendapatkan kutukan hidup diburu kematian seperti ini.
Seekor serigala kecil menyedihkan yang terbuang, kesepian, dan kelaparan. Itulah dirinya dahulu. Ia melangkah menyusuri jalanan dengan sekelilingnya yang begitu kacau. Tak ada hewan lain berkeliaran di hutan habis terbakar itu selain dirinya.
Dia kelaparan. Mencari-cari makanan ke seluruh penjuru hutan. Air tak cukup untuk mengganjal perutnya. Keluarganya semua sudah habis bersamaan dengan terbakarnya hutan oleh ulah manusia.
Tubuhnya mulai tergolek lemah, terbaring di tanah yang tandus dan masih menjalar panas bekas api. Mata serigala kecil itu melirik ke arah langit. Begitu banyak bintang bertabur di sana, indah. Berbeda dengan keadaan dirinya di tanah ini.
Merasa tak mau menyerah, serigala itu kembali bangun dengan susah payah. Ia berjalan dengan tubuh goyah hingga sesuatu menarik perhatian dua matanya.
Dia mendekati sebuah bunga biru yang bersinar di bawah rembulan. Bunga yang begitu cantik, tak kalah dengan langit malam di atas sana.
Serigala itu mendekatkan hidung untuk menghirup aromanya yang begitu memikat. Karena rasa laparnya masih belum reda, hanya bunga itu satu-satunya yang tertarik untuk dia makan saat ini.
Higanbana biru. Hewan mana yang tahu jika bunga itu memiliki kutukan, dicari manusia untuk kehidupan abadi.
Namun ternyata keabadian yang manusia maksud adalah sebuah kesalahpahaman. Abadi yang diberikan bunga itu adalah hidup kembali dari kematian berkali-kali tanpa ujung. Seakan jika kau mau berhenti karena merasa sengsara, kau tak akan bisa meski menangis darah.
Ingatan masa lalu itu pun surut secara perlahan, bersamaan dengan mata yujiro yang kini sudah pucat. Tubuhnya pun tak bergerak bahkan tak bernafas.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Yujiro merasa bahagia karena dirinya dicintai oleh manusia.
...****************...
Seorang lelaki memasuki kamar setelah mengetuk pintu dan mendapat izin. Lelaki itu menghadap Keizo yang masih terbaring dengan tubuhnya yang masih kaku.
"Tuan Senzo gagal mendapatkan makhluk itu," lapornya membuat Keizo berdecak.
"Dia memang tidak bisa diandalkan," lanjutnya kecewa. "Jadi bagaimana dengan makhluk itu? Apa masih hidup?"
"Dia sudah mati oleh Jo, Tuan."
"Jo? Ternyata dia memang masih hidup?"
Lelaki itu merespon dengan anggukan. "Dia menyerahkan dirinya sendiri."
"Ah, sial! Dia pasti memberitahu semuanya tentang kita," gerutu Keizo berusaha bangun.
"Bisa kau bantu aku? Kita harus segera pergi dari sini sebelum para polisi datang," pintanya sehingga ia dibantu bangun oleh bawahannya itu.
Mereka berhasil melarikan diri menggunakan mobil yang ternyata sudah disediakan oleh para anak buahnya yang tersisa.
Tak lama setelah kepergian Keizo, beberapa orang datang sambil membawa senjata. Mereka mendobrak masuk ke dalam rumah Keizo yang ternyata tak ada siapapun di dalamnya.
"Sial! Mereka sudah mencium kedatangan kita," desis salah satunya hingga pencarian pun masih dilanjutkan.
Malam yang panjang dan kelam, kini berganti menjadi fajar di pagi hari.
Miho berusaha membuka kedua matanya yang membengkak habis menangis. Ia bangun, terduduk sejenak, lalu mengedarkan mata untuk mencari seseorang yang kini ada dalam pikirannya.
"Yujiro?" panggil Miho dengan mata berbibar menahan tangis.
Miho ingat jika kedua tangannya semalam terus memeluk Yujiro, tak ingin lepas. Lelah dengan keadaannya sampai Miho tak ingat dirinya tertidur, sehingga harus mendapati Yujiro yang telah tiada.
"Akhirnya kau sadar," ujar seseorang yang datang mendekati Miho.
"Hisashi, aku..." Miho tertunduk sedih memikirkan Yujiro.
Hisashi mengerti perasaan Miho. Ia duduk di sebelahnya, memandangi langit yang mulai terang dengan fajar. Angin dingin nan segar pagi itu juga berhembus meniup wajah mereka berdua.
"Miho, baru kali ini aku melihat kesedihan yang begitu mendalam pada dirimu. Aku selalu melihat kau yang berani dan tersenyum dalam menghadapi apapun. Tapi sekarang, kau membuatku semakin ingin terus melindungimu."
Miho memandangi kedua telapak tangannya yang terasa kosong. "Untuk apa kau melindungiku? Aku bahkan... Tak bisa melindungi siapa pun."
"Miho, aku tahu kau sudah merasakan banyak kehilangan. Jangan sampai kau kehilangan dirimu sendiri. Oke?"
"Hisashi..." lirih Miho dengan mata yang berlinang beralih padanya. "... Aku sudah berjanji padanya. Aku... Akan selalu bersamanya. Tapi apa sekarang? Aku bahkan hanya duduk seperti ini membiarkannya pergi. Aku sangat jahat..."
"Tidak. Kau tetap bersamanya bahkan sampai di saat-saat terakhirnya," ucap Hisashi lantas bangkit dari duduk. Ia menjulurkan sebelah tangan pada Miho.
"Aku yakin dia tak ingin melihatmu seperti ini. Semua sudah berakhir, Miho. Sekarang, kita hanya harus menghadapi masa depan. Keizo masih hidup. Dia pergi bersama anak buahnya entah ke mana. Masih ada banyak hal yang harus kita lakukan untuk membalas semua kejahatannya pada kita, pada Yujiro-mu."
Miho terdiam memandangi tangan itu hingga akhirnya dia memberi balasan. Sudut hati Miho mulai bertekad, dia akan memberi hukuman pada orang-orang yang telah melenyapkan Yujiro dan orang-orang dalam kehidupan Miho.