
"Ayo kuantar pulang," tawar Rajendra dengan senyuman.
"Apa tidak sebaiknya kamu langsung pergi kerja kelompok? Takutnya teman-teman sudah menunggu. Sebaiknya kamu tidak mengecewakan mereka."
Ignacia berasalan saja karena takutnya nanti Rajendra kena marah teman-teman dan mereka jadi tidak menyukai Ignacia karena menahan laki-laki ini untuk mengerjakan tugas. Meskipun di sisi lain Ignacia akan sangat menghargai niat Rajendra untuk mengantarnya pulang.
"Tidak apa-apa. Mereka pasti akan datang lebih terlambat dari aku. Bagaimana jika kita membeli es krim juga? Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu. Boleh?"
"Kalau begitu jangan hari ini, Rajendra. Kamu tidak bisa menunda tanggung jawab seperti itu. Kita lakukan besok malam saja, bagaimana?"
Rajendra langsung setuju tanpa banyak berpikir. Yang penting ada kencan dengan Ignacia dalam waktu dekat. "Aku akan tetap mengantarmu pulang. Kamu tidak boleh menolak. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan pakaianmu yang tidak nyaman?"
Bagaimana bisa menolak jika Rajendra memaksanya. Yang ada Ignacia tidak bisa pulang karena Rajendra bersikeras untuk mengantarkan. Pasti bukan hanya karena Ignacia memakai kebaya. Mungkin ada alasan lain? Tapi dari ucapan dan perilakunya, Rajendra tidak memiliki alasan lain.
Keduanya berjalan bersisian menuju tempat parkir. Rajendra tampak sangat ingin menggandeng tangan Ignacia yang tengah lenggang, namun sayangnya keduanya masih berada di area sekolah. Bisa-bisa ada masalah besar nanti.
"Hah, aku lelah," keluh Ignacia.
"Jalannya santai saja. Aku akan menyesuaikan langkahku denganmu. Jadi kamu tidak perlu buru-buru."
"Jika terlalu santai, kamu akan terlambat untuk kerja kelompok. Kamu tahu sendiri jika aku tidak suka menganggu sekolahmu dalam hal apapun. Tidak semua orang memiliki waktu luang, jadi kamu harus menghargai waktu janjian dengan orang lain."
Ignacia masih dengan kecepatannya. Membuat Rajendra akhirnya memutuskan untuk menahan gadisnya sebentar. "Hei aku tidak merasa terburu-buru. Lagipula ini hanya kerja kelompok kecil. Aku disini untuk memudahkanmu, jangan merasa terbebani."
Dalam seperkian detik, Ignacia merasa seperti benar-benar jatuh hati pada nada bicara lembut Rajendra. "Ta-Tapi sebaiknya kamu tidak terlambat." Cepat-cepat dia menetralkan pikirannya dan kembali berjalan. Meninggalkan Rajendra yang masih berhenti di tempatnya.
"Ya baiklah."
...*****...
Naik ke jok belakang jadi agak sulit jika menggunakan kebaya. Ignacia sudah memikirkannya sejak berjalan keluar dari kelas. Hingga saat ini dia belum menemukan cara yang elegan dan pasti berhasil. Akan memalukan jika terus mencoba tapi gagal.
"Pegangan padaku." Rajendra menawarkan lengannya yang lenggang. Tangannya tidak bisa dilepas karena untuk menahan agar sepeda motornya tetap di tempat.
Ignacia melakukan apa yang diminta. Pada akhirnya dia berhasil naik dalam satu kali coba. "Terima kasih," ucapannya.
"Bukan apa-apa. Jadi kita pergi sekarang?"
Jalanan tidak begitu ramai karena hari ini Ignacia masih mengikuti bimsus dan berakhir pulang sore. Belum terlalu sore sebenarnya karena belum waktunya orang-orang pulang kerja. Yang terlihat hanya anak-anak SMA yang kebetulan pulang di jam yang sama.
"Ignacia, kenapa kamu tidak berpegangan padaku?" Tanya Rajendra dengan sedikit berteriak. Jika bicara dengan suara biasa, Ignacia tidak akan mendengarnya.
"Aku sudah berpegangan." Tapi Ignacia lebih fokus pada kakinya yang merasa tidak nyaman duduk miring.
"Berpegangan itu seperti ini." Rajendra menarik satu tangan Ignacia untuk dilingkarkan ke pinggang si pengemudi. Membuat yang di belakang merasa canggung. "Duduk miring memang sulit, tapi sebaiknya berpegangan dengan benar."
"Ini bukan karena kamu sedang modus?" Ignacia menatapnya dari kaca spion. Terlihat Rajendra yang terkekeh karena rencananya ketahuan. Tapi Ignacia tidak keberatan jika harus berpegangan dengan posisi ini.
"Aku hanya memastikan kamu tidak jatuh."
Alasan saja dia.
...*****...
"Ayo mampir sebentar. Tidak mungkin aku akan meminta kamu langsung pergi 'kan?" Ignacia membuka pagar, membiarkan sepeda motornya yang digunakan Rajendra terparkir di dalam. Cuacanya tidak begitu panas, jadi Ignacia tidak perlu repot-repot memasukkan sepedanya ke dalam garasi. Hanya di halaman teras saja.
Tidak perlu mengetuk pintu. Ignacia membawa kunci rumah dan ketiga adiknya masih ada di sekolah. Mereka akan pulang satu jam lagi. Jadi Ignacia bisa menikmati kesendirian begitu Rajendra pergi ke rumah temannya nanti.
"Duduklah, aku akan berganti pakaian sebentar. Setelah itu akan kubuatkan minum."
Rajendra menurut, menunggu di ruang tamu dan memainkan ponselnya. Ada beberapa pesan dari temannya yang bertanya apakah Rajendra masih lama bersama Ignacia atau tidak. Biasa. Teman-temannya mungkin akan melakukan sesuatu selagi menunggu Rajendra berkencan.
Lima menit kemudian Ignacia kembali. Sudah dengan pakaian kasual dan pergi menuju dapur. Rajendra meletakkan ponselnya di sofa, mengikuti si pemilik rumah seperti anak kucing.
"Rajendra, kamu mau pangsit? Mama membelinya kemarin. Hanya perlu di hangatkan saja. Kamu mau? Lalu kamu ingin minuman apa? Minuman dingin?" Ignacia bahkan tidak menatap kekasihnya karena terlalu sibuk menyiapkan apa yang diinginkan si laki-laki.
"Aku tidak akan menolak jika itu dari kamu," jawab Rajendra membuat Ignacia tersenyum kecil.
Sambil menunggu pangsitnya selesai dihangatkan, Rajendra menyiapkan minumannya sendiri atas persetujuan Ignacia. Ya Rajendra yang ingin membuatnya sendiri agar si pemilik rumah tidak perlu melakukan banyak hal.
Melihat Rajendra melakukan sesuatu adalah kesukaan Ignacia. Dia bisa dengan leluasa memandangi kekasihnya yang tengah memasukkan es batu ke dalam teko kaca dan memasukkan sirup ke dalamnya. Sayangnya pemandangan menyenangkan ini harus segera berakhir setelah minumannya siap.
"Kenapa menatap begitu?" Rajendra bertanya.
"Tidak apa-apa. Ingin saja."
Rajendra tersenyum kecil, merasa canggung karena terus ditatap intens oleh Ignacia yang duduk di seberang meja. Entah karena Rajendra belum pernah ditatap begitu lama oleh kekasihnya atau hanya karena dia sedang bersama dengan orang yang dicintainya.
"Ada yang ingin kamu katakan?" Rajendra bertanya agar tidak terlihat canggung. Kini dia menarik kursi, duduk tepat di hadapan Ignacia. "Kenapa kamu terus menatapku seperti itu? Apa aku terlihat berbeda? Kamu membuatku malu."
Ignacia menggeleng, "kamu terlihat tampan. Karenanya aku hanya ingin menatapmu."
Rajendra terkekeh, tersenyum sambil membalas tatapan yang diberikan Ignacia disana. "Biasanya kamu yang paling menghindari kontak mata denganku. Sekarang kamu terus-menerus ingin menatapku? Kamu sudah lebih berani, Ignacia. Selamat untuk kemajuanmu ya."
"Kamu benar. Terima kasih."
"Oh ya, kamu ingin pergi kemana untuk kencan besok? Mungkin ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"
...*****...
Ada yang bilang jika kembang apinya bisa membentuk tulisan teks, huruf, dan juga angka. Pemandangan langka yang belum pernah Ignacia lihat sebelumnya.
Tanpa hadir di alun-alun kota pun orang-orang yang tinggal di dekat alun-alun dapat melihat kembang apinya nanti. Ukuran ledakannya cukup besar hingga dapat dilihat dari kejauhan. Jika tidak terhalang gedung dan bangunan tinggi lainnya.
Dengan permen lollipop di tangan, Ignacia diam saja sambil menatap sekitar. Alun-alun yang dikenalnya sebagai tempat bersantai banyak orang kini semakin ramai. Apalagi dengan adanya stand-stand makanan yang membuat tempat ini tampak berbeda. Pasti akan sulit membersihkan tempat ini setelah acaranya selesai.
Di tengah keramaian, Rajendra tidak lupa menggandeng kekasihnya agar tidak terpisah. Tempat ini ramai dan mungkin saja rawan karena bisa didatangi siapa saja. Rajendralah yang harus menjaga gadis yang sudah dia bawa keluar rumah. Mama Ignacia menitipkan anak gadisnya pada Rajendra.
Sesekali Ignacia menatap tangannya sendiri yang di gandeng oleh Rajendra. Ada rasa aman dan terlindungi ketika Rajendra menggandengnya. Laki-laki itu memang tidak tengah menatapnya, tapi terlihat jelas jika dia ingin memastikan semuanya baik-baik saja.
Awalnya Rajendra menggandeng Ignacia tanpa berusaha mengeratkan genggamannya. Selang beberapa lama Rajendra terus mencoba mengeratkan genggamanbpada Ignacia. Seolah menyampaikan bahwa, 'kamu akan baik-baik saja jika tetap berjalan denganku, jika tetap bersamaku'.
Tangan Rajendra sedikit terlalu besar untuk Ignacia. Beberapa kali gadis itu mengubah posisi tangannya agar tetap pas. Tentu dengan sepengatahuan kekasihnya. Bahkan Ignacia berniat hanya menggenggam salah satu jari Rajendra saja. Yang penting keduanya tidak terpisah.
Tapi Rajendra tentu tidak membiarkan dan memposisikan tangannya agar pas dengan Ignacia. Takutnya pegangan Ignacia terlepas ketika berjalan ke jalan yang lebih ramai. Apalagi konsentrasi Ignacia kadang pergi terbawa angin jika berada di keramaian.
Acaranya akan dimulai pukul delapan malam. Sekarang masih ada waktu untuk berkeliling dan membeli camilan. Dari banyaknya camilan pedas, gurih, dan enak lainnya, Ignacia justru memilih permen lolipop kecil. Itu pun Rajendra yang meminta agar dapat membelikannya.
Ignacia terlalu bersikeras untuk membelinya sendiri pada awalnya. Melihat Rajendra yang ingin melakukan sesuatu membuat Ignacia mengalah.
Keduanya mencari tempat yang bagus untuk menonton pertunjukan. Ada tempat yang nyaman di bawah salah satu pohon dengan pencahayaan bagus di alun-alun. Sedang duduk pun Rajendra masih tidak ingin melepaskan genggamannya dari Ignacia. Hingga membuat gadis itu merasa aneh sendiri.
"Kamu masih takut aku akan hilang?" Pertanyaan Ignacia membuat Rajendra melepaskan genggamannya. Kini dia sedang membuka ponselnya seperti sedang membalas pesan seseorang.
"Kita akan pulang jam berapa? Mamamu mengirimkan pesan." Rajendra menunjukkan pesannya pada Ignacia. Membuat gadis itu mendengus kesal. Padahal acaranya saja belum dimulai, kenapa sudah membahas jam pulang?
"Sampai acaranya selesai."
"Baiklah." Rajendra mengetikkan sesuatu disana kemudian menyimpannya kembali ke dalam kantong. "Tapi mungkin kita harus pulang pukul sembilan, Ignacia. Mamamu mungkin khawatir. Ayahmu juga. Mereka bisa marah padamu nanti."
"Tapi aku masih ingin bersamamu lebih lama. Kenapa harus buru-buru pulang?" Jawab Ignacia tidak suka.
Rajendra menoleh, "iya aku minta maaf. Aku akan mengantar kamu pulang setelah kamu puas disini. Tapi kita tidak bisa pulang terlalu malam, mengerti?"
Rajendra tersenyum ketika Ignacia meletakkan kepalanya ke bahunya. Tanda bahwa gadis itu setuju dengan apa dikatakannya. Masih dengan lollipop di mulutnya, Ignacia tidak bicara. Bahkan menatap Rajendra saja sedang tidak ingin. Takutnya laki-laki itu akan membujuknya pulang lebih cepat.
Selain pertunjukan kembang api, juga ada konser dadakan yang akan dimeriahkan oleh penampilan dari para bintang tamu. Ignacia tidak begitu mengenal mereka, tapi Rajendra tahu. Konser itu baru saja dimulai, sambil menunggu pertunjukan. Beruntung tempat keduanya berada tidak menghalangi untuk melihat panggung.
Terselip beberapa kata cinta di lagu yang dinyanyikan Rajendra bersamaan dengan vokalis laki-laki di atas panggung sana. Ignacia mendongak, menatap lurus ke arah Rajendra. Bahkan Kelihatannya Ignacia tidak berkedip.
Bukan karena lagunya, bukan juga karena suara Rajendra. Tapi Ignacia hanya ingin melihat bagaimana laki-laki ini bernyanyi tanpa merasa canggung di hadapannya. Di beberapa bait, Rajendra seolah menyanyikannya untuk Ignacia.
Dirasa kurang nyaman, Ignacia memperbaiki posisi duduknya masih dengan tatapan yang tertuju pada Rajendra. Sama seperti saat di rumahnya kemarin, Rajendra merasa canggung karena terus mendapatkan tatapan. Apalagi gadis itu tampak sangat berbeda malam ini. Ignacia tampak lebih cantik dengan bandana yang ada di kepalanya.
Ignacia terlalu fokus dan tertarik dengan wajah Rajendra hingga tidak mendengarkan lirik lagunya dengan benar. Atensinya semakin besar ketika Rajendra bahkan masih bernyanyi dan tersenyum ke arahnya. Menularkan senyuman yang manis pula di wajah Ignacia.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" Rajendra terlihat terbawa perasaan sekarang, "ada yang ingin kamu katakan?
Ignacia menggeleng, masih melanjutkan kegiatannya menatap Rajendra. Malah semakin intens saja rasanya. Tak hanya itu, Rajendra merasa jika wajah kekasihnya ini semakin mendekat. Kodenya sudah menyala, tapi Rajendra berusaha keras untuk pura-pura tidak tahu. Dia juga menatan diri agar tidak menoleh.
Jarak keduanya terkikis perlahan, berhenti di titik dimana Ignacia bisa sangat dekat dengan kekasihnya. Rajendra masih pura-pura tidak tahu, masih dengan mulutnya yang menyanyikan lagu kedua si vokalis.
Ada kondisi dimana Rajendra menoleh sedikit dan bertemu tatap dengan Ignacia. Tapi tentu cepat-cepat diputuskan kontaknya oleh Rajendra. Dia terlihat sangat canggung. Padahal tadi saja dia menggandeng Ignacia dengan leluasa.
Cup!
Satu kecupan singkat didapatkan pipi Rajendra hingga menghentikan dia yang tadinya sibuk bernyanyi.
Ignacia langsung menarik wajahnya, pura-pura kembali fokus dengan keadaan sekitar, menatap ke arah panggung, dan tetap memakan permen lollipop di tangannya. Ignacia bisa melihat wajah Rajendra yang sedikit memerah dengan senyuman yang entah artinya apa.
"Kenapa?" Ignacia bertanya tanpa merasa bersalah. Dari wajahnya saja terlihat jelas jika dia merasa tidak melakukan apapun.
"Kamu tanya kenapa? Dasar kamu ini," Rajendra membawa Ignacia ke dalam pelukannya. Karena posisi keduanya yang berada di bagian belakang membuat Rajendra tidak ragu-ragu merangkul Ignacia. Keduanya tertawa kecil, dengan pelukan Rajendra di pinggang ramping Ignacia hingga kini di gadis bersandar pada dada bidang Rajendra.
"Jadi kamu terus menatapku untuk mencium pipiku? Kenapa kamu berani sekali, Ignacia?"
"Karena kamu terlihat tampan." Ignacia tidak berbohong.
"Memang biasanya aku tidak terlihat tampan?" Rajendra menahan senyumannya.
"Aku menyukai kamu yang malam ini. Lebih dari biasanya."
"Biasanya kamu tidak menyukaiku?"
"Hei pertanyaan apa itu?" Ignacia mendongak, menatap kepala Rajendra yang ada di atasnya, "aku selalu menyukai kamu. Tapi hari ini kamu terlihat semakin tampan dan aku menyukainya. Aku ingin menandai kamu."
Rajendra sudah tidak kuat menahan senyumannya sekarang. Ucapan Ignacia yang terdengar polos dan panjang membuatnya bingung harus bereaksi apa. Rajendra lebih memilih untuk terus menyembunyikan wajahnya.
Ignacia mencoba melepaskan diri dari pelukan Rajendra. Membuat keduanya bertatapan. "Kalau begitu kita bisa pulang lebih malam?" Pertanyaan Ignacia datang bersamaan dengan dimulainya pertunjukan kembang api kota. Keduanya masih bersitatap dengan background perayaan hari jadi kota tercinta.
Rajendra terkekeh, "yang penting hari ini kita pulang, Ignacia."
Ignacia tersenyum kemudian mengarahkan pandangannya pada kembang api yang menghiasi cakrawala.