Beautiful Monster

Beautiful Monster
Waktunya Liburan



"Ingat, kirimkan pesan padaku nanti malam. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja. Oh ya, berhati-hatilah dengan orang asing. Jangan tidur terlalu malam meskipun sedang liburan. Kalian tetaplah waspada. Lalu pastikan kalian makan dengan baik. Makanlah sesuatu yang enak, Ignacia."


Mendengar Rajendra yang menyampaikan banyak nasihat membuat Ignacia tersenyum bahagia. Mengingat sekarang masih cukup pagi untuk melakukan panggilan telfon. Bahkan matahari saja baru saja muncul. Ignacia melirik ke arah kedua teman yang ada di depan gerbang asrama sementara dirinya berjarak beberapa langkah untuk mengangkat panggilan Rajendra ini.


"Aku pasti makan makanan enak jika bersama Nesya. Kamu jangan khawatir, kami akan baik-baik saja. Akan aku kirimkan foto juga agar kamu lebih yakin."


"Baiklah, aku percaya padamu. Jika saja aku tinggal lebih dekat denganmu, mungkin aku bisa mengantar kalian berlibur. Semoga liburan kalian menyenangkan. Aku akan bersiap-siap pergi ke kampus sekarang."


Panggilan berakhir, menyisakan senyuman yang seolah tidak bisa hilang dari wajah Ignacia. Bahkan ketika dia kembali pada kedua temannya pun senyuman itu masih jelas terlihat. Danita dan Nesya yang melihat Ignacia tersenyum pun jadi melayangkan tatapan menggoda. Keduanya saling pandang lalu terkekeh bersama. Teman kita sedang jatuh cinta, begitu maksudnya.


Tak lama kemudian Danita yang mendapatkan panggilan. Ignacia yakin jika yang menelfon itu pasti Bahri. Pasalnya Ignacia baru menyadari datangnya pesan Bahri setelah Danita izin mengangkat panggilan itu. Dia hanya khawatir karena Danita tidak membalas pesannya.


"Kalian semua ada yang menghubungi. Kuharap bisa menemukan laki-laki baik seperti dalam komik." Nesya mengeluh namun tidak ada penyesalan. Tujuannya masih melajang kan untuk mengejar cita-citanya sebagai tenaga pengajar bahasa. Mana mungkin dia menyesali keputusannya.


Ignacia yang mendengarkan pengakuan temannya itu mengangguk. Sejujurnya dia senang karena sampai sekarang pun Nesya tidak punya hubungan yang serius dengan Bagas. Laki-laki itu hanya bisa memberikan perhatian penuh di awal dan selanjutnya menghilang. Tokoh yang sangat tidak patut diberikan perempuan sebaik Nesya.


Danita kembali, dengan senyuman yang sama seperti Ignacia setelah menerima panggilan dari sang kekasih. Sekarang giliran Ignacia dan Nesya yang menatap. Masih ada sekitar lima menit sebelum mobil travel yang mereka pesan datang. Nantinya mobil itu yang menemani ketiganya berlibur dua hari satu malam.


Kebetulan Danita mendapatkan informasi dari seorang teman soal supir travel yang terpercaya ini. Jika ada masalah pun temannya akan membantu Danita soal mobil yang mereka sewa. Sekali lagi koneksi Danita menyelamatkan liburan keduan temannya.


Suara getaran terdengar oleh indra pendengaran Ignacia. Asalnya seperti dari tas kecil milik Nesya. Si empunya tas langsung menyadari getaran dari ponselnya. Segera ia lihat siapa yang menghubunginya itu. "Aku terima panggilan dulu ya," ucapan Nesya lalu meninggalkan koper yang sedari tadi dia gandeng.


Ignacia menatap penasaran, Bagas tidak mungkin menghubungi Nesya sampai menelfon begitu kan? Berpikir positif saja, mungkin kakak atau orang tua Nesya yang menghubungi untuk memberikan nasihat sebelum gadis berkacamata itu pergi berlibur. Sama seperti yang dilakukan mama Ignacia sebelum panggilan Rajendra datang.


"Apa mungkin itu laki-laki yang Nesya ajak ke acara kampus waktu itu?" Danita berbisik pada Ignacia. Rupanya gadis itu juga memikirkan hal yang sama. "Laki-laki itu terlihat baik dan perhatian pada Nesya. Tapi kurasa dia bukan tipe Nesya. Dia pernah menunjukkan laki-laki yang dia sukai dalam komik. Dan keduanya tidak punya persamaan sama sekali."


Ignacia terkekeh mendengar penjelasan Danita. Sebenarnya tidak menutup kemungkinan jika Nesya benar-benar bertemu dengan seseorang yang mirip dengan tokoh dalam dunia fiksi. Laki-laki itu fiksi pasti ada meksipun mereka tidak tercipta untukmu. Mereka pasti ada di dunia nyata tapi kamu belum menemukannya.


Mobil travel muncul tepat waktu. Danita buru-buru mengakhiri panggilan lalu berlari membawa kopernya yang akan diambil alih oleh Ignacia. Ketiganya dibantu seorang supir yang rupanya seorang wanita. Umurnya mungkin lima tahun di atas ketiganya. Pasti akan menyenangkan karena hanya ada perempuan di dalam mobil.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Ignacia dan kedua temannya mencoba untuk berkenalan dengan supir wanita yang akan menemani mereka ini. Diketahui nama kakak ini adalah Riris. Sikapnya yang ramah membuat Danita yakin jika ia mampu berteman dengan kakak ini.


Sepanjang perjalanan, supir perempuan yang ketiga teman ini panggil dengan sebutan Riris memutar banyak lagu yang asing namun terdengar seru di telinga ketiganya. Selain ramah dan baik, Riris juga punya selera yang bisa diterima ketika teman ini. Sampai Danita yang duduk di depan menemani Riris saja bersemangat sekali. Bahkan meminta kakak ini menggunakan kata 'aku' agar lebih akrab.


Perjalanan terasa cepat bagi Ignacia karena ia sudah pernah datang sebelumnya. Apalagi obrolan menenangkan yang dibawa Danita sedari tadi membuat suasana mobil terasa lebih hidup. Riris sampai berkata jika ketika teman ini membuatnya lebih banyak tertawa daripada penyewa lainnya.


"Kakak tidak akan punya waktu diam jika sudah mengenal Danita," celetuk Nesya di tengah obrolan. Riris mengangguk mengiyakan. Kelihatannya memang begitu, katanya.


Sebentar lagi lautannya akan terlihat. Nesya sudah siap mengambil video untuk dikirimkan pada kakaknya yang menelfon tadi pagi. Kakaknya minta Nesya mengirimkan foto dan video pantai yang adiknya itu kunjungi untuk liburannya bersama teman-temannya. Ignacia tidak lagi memikirkan soal Bagas karena pengakuan temannya.


"Kita langsung pergi ke penginapan kan?" Riris bertanya untuk meyakinkan diri.


Penginapannya berada cukup dekat dengan pantai. Jadi setelah meletakkan koper di kamar dan melakukan check in, mereka bisa langsung pergi ke pantai dan membiarkan Riris beristirahat. Pasti melelahkan sudah berkendara cukup lama. "Setelah beristirahat, kakak bisa bergabung dengan kami," ucap Ignacia memberitahu.


"Tentu, terima kasih. Jika ada sesuatu, hubungi saja aku ya. Selamat bersenang-senang."


"Tunggu sebentar kak," cegah Ignacia, "Apa kami boleh menitipkan tas kami? Takutnya nanti kamu terjatuh ke dalam air dan dapat masalah." Ignacia ragu untuk meminta, tidak enak meminta tolong. Tapi jika tidak begitu, bagaimana dia akan meletakkan tas tanpa pengawasan di pantai yang luas?


Diluar dugaan, Riris menerima permintaan Ignacia dengan baik. Katanya nanti setelah beristirahat sekitar satu atau dua jam Riris akan membawa tas ketiganya ke pantai. Ignacia dan kedua temannya berterima kasih sekali untuk bantuan Riris ini.


Rencana mereka datang pagi ketika pantai masih sepi rupanya berhasil. Sepanjang mata memandang pantai ini seakan hanya milik ketiganya. Alas kaki dilepas, berlarian bertelanjang kaki di sepanjang bibir pantai. Jika biasanya hanya menginjak lantai dingin sekarang berganti menginjak pasir lembut.


"Kalian tahu, aku selalu ingin bermain di pantai. Berjalan di atas pasir, menikmati ombak, dan menghirup aroma lautan." Danita menatap lautan yang ada di hadapannya. Beberapa kali ombak kecil mengenai kakinya, membasahi sedikit ujung celana panjang yang sudah ia lipat. "Terima kasih kalian sudah mengajakku kemari. Aku sangat menyukainya."


Tanpa aba-aba Danita memeluk Ignacia dan Nesya yang serius mendengarkan curhatan hatinya. "Kalian yang terbaik!" Saking senangnya pelukan Danita hampir membuat ketiganya jatuh ke ombak yang baru saja datang. "Kalian mau berjalan-jalan sampai ujung sana?" Danita bertanya.


Danita iseng berlari meninggalkan dua teman yang mengekor di belakangnya. Nesya dan Ignacia mengejarnya meksipun tidak tahu kenapa mereka juga harus berlari. Ketika kedua temannya hampir sampai, Danita akan menendang air yang datang hingga mengenai ujung pakaian kedua temannya.


Wajah puas gadis berambut pendek itu sangat kentara. Suasana hatinya terlampau bahagia hingga apapun yang ia lakukan terlihat lucu baginya.


"Woops!" Nesya hampir terpeleset ketika ombak yang lebih besar datang. Niatnya untuk membalas Danita pun harus tertunda sebentar. Beruntung Ignacia cepat memegang tangan Nesya agar tidak jatuh. Danita juga menunda niatnya untuk berlari lagi, ia membalikan tubuhnya cepat, terkejut karena suara Nesya barusan.


"Kurasa laut disini ingin bermain-main denganku," ucap Nesya sambil tersenyum kecil.


Tidak sampai disitu, rupanya ombak disini ingin bermain-main dengan mereka yang sedang bermain ini. Begitu Nesya dibantu untuk kembali berdiri dengan baik, ombak besar lainnya datang hingga Danita dan Ignacia yang masih memegang tangan Nesya terjatuh. Jadinya sebagian tubuh mereka terkena air asin.


Ketiganya saling pandang, terkekeh karena takdir konyol di awal liburan. Sepertinya mereka sebaiknya menyudahi bermain-main disini sebelum waktunya makan siang. Padahal Ignacia ingin lebih lama memakai baju barunya ini. Apa laut tidak senang melihat Ignacia memakai dress? Padahal Ignacia senang sekali tadi.


"Apa sebentar lagi kita akan menjadi mermaid?" Danita meluruskan kakinya ke depan, menggerakkan kakinya seperti ekor putri duyung yang biasanya ada di dalam film. Nesya menepuk pundak temannya, mendukung imajinasi Danita.


Bukannya cepat-cepat bangkit, mereka senang duduk di tengah terpaan angin dan disapa ombak seperti ini. Ketiganya mundur sedikit hingga ombak hanya bisa menyapa kaki yang mereka luruskan. Meskipun matahari semakin naik, mereka seakan tidak terganggu dengan itu.


"Untungnya tadi kita menitipkan tas pada Kak Riris. Ponsel kita jadi tidak ikut berenang di dalam tas. Dan liburan ini masih menyenangkan." Nesya menganggukkan kepala setuju dengan ucapan Danita. Dia berterima kasih pada Ignacia juga Riris.


Selanjutnya hening, hanya suara deburan ombak yang terdengar. Angin ringan terus menerpa wajah ketiganya yang menatap lautan luas. Ignacia memeluk lututnya yang tertekuk, dia letakkan kepala di atas tumpukan tangan. Pikirannya melayang pada Rajendra. Seperti biasa, dia rindu.


Riris yang baru sampai bingung dengan ketika penyewa yang ia bawa pagi ini. Mereka tampak diam sambil digoda ombak beberapa kali. Ingin rasanya mendekat dan bertanya apa wajah datar ketiganya itu bukan masalah besar. Tapi mengingat dirinya yang bertanggung jawab membawa tiga tas yang sudah mereka titipkan, Riris urung mendekat.


Di dekat pohon ada sebuah batu besar yang bisa diduduki. Riris mengambil tempat disana sambil mengawasi ketiga gadis disana. Riris dapat melihat mereka dengan sangat jelas meksipun jaraknya cukup jauh. Pantai di sebelah sana tidak seramai Pantai yang ada di hadapan Riris.


Matahari sudah sampai di takhta tertinggi. Udaranya semakin panas karena kekuatannya itu. Perut ketiga gadis yang masih setia duduk di bibir pantai mulai berbunyi. Rasanya hampa, perlu diisi makanan. Danita lebih dahulu bangkit, menarik kedua temannya untuk ikut dan mencari keberadaan Riris.


"Kak, kami lapar." Danita mengadu sambil memegangi perutnya.


Riris mengangguk, katanya dia akan menunggu di mobil sementara ketiga gadis ini berganti pakaian. Rasanya pasti sangat tidak nyaman memakai baju basah yang terkena air laut. Lihatlah ketiganya tertawa karena celana Nesya mengandung garam asli langsung dari laut.


Mobil mereka bergerak ke arah restoran yang sudah diincar Nesya. Katanya di sekitar restoran makanan laut itu juga terdapat bazar yang selalu diadakan sore hari di akhir pekan. Mereka mungkin bisa mencicipi beberapa camilan yang ada setelah makan sedikit. Mumpung sedang liburan, nikmati saja apa yang ada di sekitar.


Sambil berjalan dari tempat parkir yang terpisah dengan jajaran restoran juga bazar, Nesya meminta Riris mengambil video dirinya bersama Danita dan Ignacia. Dokumentasi wajib ketika liburan. Riris berjalan di barisan paling akhir, merekam sambil sesekali membesarkan layar agar bisa melihat wajah masing-masing gadis di hadapannya lebih jelas.


Riris tidak ikut makan di restoran yang sama dengan Ignacia dan yang lainnya. Wanita itu memilih untuk makan di restoran sebelah yang tidak mengandung makanan laut. "Jika sudah selesai hubungi saja aku. Sampai jumpa." Riris pamit, meninggalkan mereka di depan restoran yang kebetulan ramai.


"Ayo masuk," ajak Ignacia.


Nesya sudah memesan meja di lantai kedua, jadi mereka langsung diarahkan ke tempat yang sudah dipesan. Kedua temannya takjub karena Nesya memesan tempat yang bisa menunjukkan pemandangan jajaran restoran dan bazar. Gadis berkacamata itu langsung tersenyum bangga, memperbaiki posisi kacamatanya penuh percaya diri.


"Bagaimana?" Nesya bertanya, ingin mendengar validasi kedua temannya. Ignacia dan Danita tidak menjawab dengan ucapan. Mereka dengan kompak memberikan dua jempol disertai senyuman yang dibuat-buat.


"Kita langsung memesan? Ayo kita coba paket untuk dimakan bersama." Danita membuka menu lebih dahulu, diikuti oleh Ignacia dan Danita yang duduk berhadapan. "Mau coba asam manis ini? Kerang dan kepiting. Kelihatannya enak."


"Tentu. Aku suka semua makanan laut." Ignacia menimpali.


Nesya memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat, menyampaikan pesanan mereka yang dicatat segera oleh pelayan laki-laki itu.


Setelah lima menit sehabis memesan, satu paket kerang hijau dan kepiting datang ke meja ketiganya. Nesya mencegah kedua temannya makan sebelum diabadikan dalam bentuk foto. Saking semangatnya hingga dia tidak sempat melihat wajah Danita dan Ignacia yang sudah kelaparan.


"Baiklah, ayo kita makan!" Nesya berseru, membuyarkan lamunan kedua temannya pada makanan yang sudah terpampang jelas di hadapan. Langsung saja mereka memakai sarung tangan plastik dan mulai makan ditemani nasi putih.