Beautiful Monster

Beautiful Monster
Penulis Cream



"Acara penandatanganan buku? Entahlah aku tidak begitu yakin. Acaranya setelah ujian." Semangat Ignacia turun setelah mendapatkan informasi dari Nesya. Jadwal yang terlalu bertabrakan bukanlah sesuatu yang disukai Ignacia belakangan ini. Apalagi dirinya setelah ujian pertama bulan ini saja rasanya sudah sangat lelah.


Danita yang duduk di samping Ignacia pun membujuk, "acaranya lebih singkat dari sebelumnya, Ignacia. Kamu hanya perlu membawa novelnya dan mendapatkan tanda tangan. Dan juga bukunya mendapatkan potongan harga. Ayo kita pergi bersama." Membaca itu tidak mahal, tapi jika ada potongan harga, kenapa tidak? Mendapatkan tanda tangan penulisnya juga.


Ada komik yang ingin dibeli Nesya juga di toko buku tempat acara penandatanganan ini. Dengan begitu ketiganya bisa pergi membeli buku bersama kan? Membayangkannya saja sudah membuat Nesya bersemangat. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali karena kehidupan kuliah akan semakin terasa berat dengan adanya tugas-tugas lain.


"Kamu sangat menyukai Nona Cream kan? Kamu bahkan mengoleksi semua bukunya di asrama. Ayo kita dapatkan satu buku bertandatangan lagi, Ignacia."


Ada alasan kenapa kedua teman Ignacia ini begitu tertarik untuk membawa Ignacia pergi bersama meskipun sudah ditolak secara halus berkali-kali. Rasanya tidak adil jika Nesya juga Danita bersenang-senang tanpa mengajak Ignacia. Takut jika Ignacia terlalu kelelahan hingga sedih lagi. Sampai saat ini saja Ignacia tidak banyak membicarakan soal perasannya.


"Nona Cream pasti senang bertemu denganmu lagi," asal Nesya untuk membuat Ignacia tertarik. Sudah habis semua kalimat untuk membujuk Ignacia sejak tadi. Usaha Nesya berhasil, Ignacia terkekeh lalu menyetujui pergi dengan kedua temannya ini ke toko buku waktu itu. Toko buku yang menjadi awal pertemuan Ignacia dengan Tata.


Ignacia hanya bisa berharap energinya tidak terkuras habis seperti ujian hari ini. Sejujurnya selera makannya pergi terbawa angin dari kipas angin ruang ujian tadi. Berkat kegigihan Nesya dan Danita, perutnya yang terasa hampa kini terisi dengan nasi juga lauk pauknya. Ditambah lagi dengan susu coklat yang menjadi pendamping makan siang.


Susu coklat lagi. Ignacia harus cepat-cepat bertemu dengan Rajendra agar tidak terus menahan rindu. Padahal setelah bertemu nanti, perasaan rindu Ignacia malah semakin besar. Entah apa yang bisa menghilangkan rasa rindu ini.


"Lalu apa kalian tertarik untuk membuat makan malam di pantry asrama?" tanya Danita, "Kukira akan menyenangkan jika kita bertiga bisa memasak bersama setelah membeli buku. Ya kalian tahu, hari para gadis bagian kesekian." Senyuman Danita di akhir kalimat mampu menarik minat kedua temannya tanpa butuh berpikir. Kedengarannya menarik.


Ignacia ikut saja. Lagipula pantry tidaklah jauh dari asramanya. Hanya perlu turun tangga satu kali saja. Sementara Nesya mumpung tidak ada rencana apapun malam itu. Update komiknya juga masih lama. "Kita berbelanja bersama lalu memasaknya di pantry," tambah Nesya.


"Tapi bagaimana jika ada penghuni asrama lain yang ingin menggunakan pantry? Apa kita bisa menggunakannya sesuka hati kita?" Yang dikatakan Ignacia benar juga.


Bukan hanya mereka yang tinggal di asrama. Berharap saja tidak ada orang yang ingin memasak di pantry selama ketiganya bersenang-senang. Lagipula biasanya orang-orang sibuk mempersiapkan ujian dan memesan makanan online. Beberapa kali Danita yang baru kembali berkencan melihat kurir makanan datang silih berganti untuk mengantarkan makanan bagi para mahasiswa yang kelaparan.


"Oh ya, bagaimana jika kita membuat masing-masing satu makanan? Nanti kita bisa menikmati tiga hidangan sekaligus. Terserah akan selaras atau tidak, yang penting kita akan mencobanya lebih dulu."


"Woah Ignacia, kamu keren juga. Kalau begitu kita akan merahasiakan masakan apa yang akan kita buat hingga waktunya untuk memasak," sahut Nesya.


"Aku setuju sekali. Apa kita harus membeli makanan penutup juga?" Kedengarannya tidak perlu karena tiga jenis makanan saja sudah terdengar banyak. Meksipun tidak ada salahnya membeli es krim atau camilan.


Hari penandatanganan buku semakin dekat. Ignacia memasukkan beberapa barang ke dalam tas kuliahnya agar bisa langsung pergi sesuai janjinya dengan teman-teman. Agar mereka bisa segera mendapatkan tanda tangan lalu pergi makan siang. Waktu Nona Cream di acara itu cukup terbatas.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Hari ini aku akan pergi dengan teman |^^^


^^^Kami pergi ke acara tanda tangan buku |^^^


^^^Lalu setelahnya memasak bersama |^^^


^^^Jika kamu sudah di kos, kabari aku |^^^


Ignacia menyimpan ponselnya ke dalam tas, dengan tangan yang sedikit gemetar ia menutup tasnya lalu dibawa keluar asrama. Danita sudah pergi sejak tadi. Jadinya Ignacia melangkah cepat sendirian agar tidak terlambat. Mata kuliah yang akan diujikan hari ini cukup sulit. "Semoga aku tidak kehilangan energi. Kasihan teman-temanku," gumamnya.


Begitu sampai di kelas, Ignacia tidak mendapati Danita di tempat duduknya. Entah kemana perginya gadis itu di menit-menit sebelum ujian dimulai. Ignacia berniat untuk menelfon teman berambut pendeknya. Baru saja akan menekan tombol panggilan, Danita tiba-tiba muncul dari belakang.


"Selamat pagi, Ignacia," sapanya ramah.


"Kau pergi kemana tadi?"


Sekotak susu disodorkan Danita tanpa menjawab, "minumlah ketika jam istirahat." Setelah susu coklat itu diterima Ignacia, Danita meninggalkannya di dekat pintu sementara dirinya berjalan lebih dahulu ke tempatnya.


Selama ujian, suasananya sangat hening. Bahlan suara nafas pun hampir terdengar. Ignacia menenangkan dekat jantungnya, menulis jawaban dengan sungguh-sungguh. Karenanya waktu berjalan dekat cepat. Tidak terasa jika waktu istirahat cepat datang. Danita mendekati meja Ignacia, mengajaknya minum susu sambil mengobrol.


Danita tidak mengeluh, dirinya sibuk membahas rencana siang ini dengan Ignacia. Dia sudah memutuskan akan memasak apa untuk makan malam dan membuat daftar apa saya yang dia butuhkan. Masih dengan menyembunyikan nama makanan yang akan dia buat.


Semalam Ignacia juga sudah membuat daftar makanan apa yang akan ia buat setelah belajar. Semoga nanti ketika makanan yang akan mereka makan berhasil dibuat dengan sempurna.


Selesai dengan urusan kampus, Ignacia dan Danita bertemu dengan Nesya di gerbang kampus. Nanti bersama-sama naik bus dan pergi ke toko buku yang menjadi tempat acara penandatanganan. Karena acaranya dilaksanakan sebelum makan siang, jadinya ketiga gadis yang duduk berdampingan di dalam bus ini menahan lapar dengan sekotak susu.


Ponsel Ignacia bergetar sekali. Tanda datangnya sebuah pesan.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Ada yang ingin kukatakan nanti malam


| Setelah urusanmu selesai, hubungi aku


Kini si penerima pesan jadi penasaran. Perasannya berkata jika ada hal buruk yang terjadi hingga isi pesan Rajendra terlihat serius. Ignacia menggelengkan kepala, mengusir pikiran buruk yang kemungkinan besar bisa membuat emosinya tidak lagi terkendali. "Tetap berpikir positif, Ignacia. Rajendra pasti sekarang sibuk dan ingin dihubungi nanti."


Gelengan kepala Ignacia yang terkesan samar tadi tentu terlihat oleh sudut mata kedua teman yang duduk di sampingnya. Keduanya tidak ingin membahasnya. Yang penting emosi Ignacia tengah baik-baik saja.


Ignacia menghembuskan nafas panjang kemudian berbicara, "Setelah acara penandatanganan buku, aku ingin makan Ramen. Bagaimana dengan kalian?" Danita dan Nesya tidak mengubah posisi dari menatap Ignacia. Keduanya langsung bertemu mata dengan yang diperhatikan.


"Ramen kedengarannya enak," balas Danita dan Nesya bergantian. Makan apa saja keduanya suka. Selagi makanannya bisa dimakan dan tidak menimbulkan efek samping. Mendengar jawaban kedua temannya, Ignacia tersenyum tipis lalu memalingkan wajah ke arah lain.


...*****...


Ramai.


Satu kata yang bisa mendeskripsikan pemandangan yang ketiga teman baik ini saksikan ketika sampai di depan toko buku. Kebanyakan yang menunggu di depan adalah laki-laki. Ada yang perempuan, namun tidak sebanyak laki-lakinya. Jika dilihat dari wajah memelas dan lelah mereka, kemungkinan besar mereka tengah menunggu seseorang yang ada di dalam toko buku.


Jika para lelaki yang berdiri diluar ini sama seperti yang Ignacia bayangkan, mungkin dirinya akan merasa beruntung. Ya meksipun Ignacia tidak benar-benar membuat rekannya merasa bahagia saat bersamanya waktu itu.


Danita menggandeng kedua temannya masuk ke dalam toko buku. Barisan para penggemar yang didominasi perempuan sudah terlihat. Dan di ujung paling depan, sudah tersedia meja dan kursi dengan beberapa tumpukan buku karya terbaru Nona Cream. Rasanya sangat familier bagi Ignacia dan Danita.


"Aku akan mencari komik," izin Nesya lalu pergi ke rak yang lumayan jauh.


"Ignacia, ayo bergabung dengan barisan."


Inginnya Ignacia berdiri di belakang teman berambut pendeknya, agar bisa menetralkan wajah tanpa diketahui olehnya. Namun tangan Ignacia sudah ditarik oleh Danita dan ditempatkan di depannya. "Aku tidak ingin kamu tiba-tiba menghilang," bisik Danita dari belakang Ignacia.


Memangnya Ignacia akan pergi kemana? Keduanya sudah terlanjur berada di tempat ini. Aroma toko buku yang khas dengan buku-buku baru membangkitkan semangat Ignacia. Lalu ditambah dengan keberadaan Nona Cream yang terus menyunggingkan senyum untuk para penggemar, hati Ignacia rasanya sangat hangat.


Belum lima menit berdiri di barisan, Danita sudah bisa mengobrol dengan mereka yang baru bergabung di belakangnya. Ignacia hanya mendengar pembicaraan mereka samar-samar. Seorang gadis berwajah ramah dan di sebelahnya ada laki-laki pasti dikenal baik gadis itu. Keduanya tampak akrab ketika mengobrol dengan Danita.


Barisan di depan Ignacia semakin memendek setelah lima belas sampai dua puluh menit. Semua orang mendapatkan waktu yang terbatas jadi barisannya tidak terlalu lama. Ignacia memperingati Danita karena mereka akan semakin maju ke depan. Karenanya obrolan seru bersama dua orang baru yang ditemuinya tadi harus terhenti.


Ignacia sampai di hadapan Nona Cream, rasa gugupnya datang bersamaan dengan semangat mendapatkan tanda tangan. Senyuman yang diberikan Nona Cream menambah kegugupannya. Sebuah buku diberikan pada seseorang yang sejak tadi berdiri di samping Noma Cream untuk ditandatangani.


"Halo, senang bertemu denganmu. Boleh aku tahu siapa namamu? tanya si novelis dengan ramah. Matanya yang berbinar menatap ke manik mata Ignacia.


"Ignacia." Jawaban yang sangat familier.


"Nama yang unik. Sepertinya aku pernah mendengar namamu sebelumnya. Apa kamu datang ke penandatanganan bukuku sebelumnya? Di toko buku ini juga." Ignacia tidak bisa menahan senyum lebar. Penulis favoritnya mengingat nama dan tempat pertama kali keduanya bertemu. Hatinya terasa akan meledak seperti kembang api saking senangnya.


"Kakak mengingatku."


"Kamu yang menanyakan soal riset bukuku. Bagaimana bisa aku melupakannya." Buku untuk Ignacia selesai di tandatangani, diberikan pada yang menginginkannya. "Aku senang karena ada penggemar yang menanyakan hal berbeda tentang bukuku. Terima kasih sudah datang, Ignacia. Semoga kamu menyukai bukunya. Sampai jumpa lagi."


"Terima kasih, Kak." Ignacia tidak lupa meninggalkan senyuman terbaiknya sebelum berlalu.


Mimpi apa Ignacia semalam hingga mendapatkan perhatian dari idolanya? Tangan Ignacia bergetar saat akan mengambil buku yang disodorkan oleh Nona Cream. Lalu maksud Nona Cream dengan 'sampai jumpa lagi' itu apa artinya Ignacia bisa bertemu dengan Nona Cream lagi di masa depan?


Selesai melakukan transaksi buku, Danita dan Ignacia menunggu Nesya diluar toko buku bersama para laki-laki yang sudah berganti wajah. Danita bilang jika para laki-laki yang menunggu diluar itu adalah kekasih dari perempuan-perempuan yang tengah berbaris untuk mendapatkan tanda tangan Nona Cream tadi. Kesimpulan ini didapat Danita setah mengobrol dengan teman baru yang berbaris di belakangnya tadi. Keduanya ternyata sepasang kekasih.


Di sebelahnya, tangan Ignacia masih bergetar. Episode saat acara penandatanganan tadi benar-benar membuatnya sulit bernapas. Ignacia sangat ingin menceritakan momen ini pada Rajendra juga Athira nanti malam. Ignacia mendekap tas kuliah berisi buku barunya, jantungnya masih belum terkendali.


Danita merasa iri melihat mereka memiliki kesukaan pada hal yang sama. Bahkan keduanya bersama-sama pergi ke acara penandatanganan buku oleh penulis yang sama. Danita ingin seperti mereka, namun menurutnya akan membosankan jika memiliki kekasih yang memiliki kesukaan yang sama. Gadis ini juga menambahkan jika ia lebih suka Bahri yang punya ketertarikannya sendiri.


Masih dengan dirinya yang bercerita, Ignacia mendengarkan namun isi kepalanya melayang kembali ke momen tadi. Jadinya di seperti patung yang terus mendengarkan Danita bercerita soal apa yang ia rasakan. "Bagaimana denganmu?" Hingga pertanyaan itu diajukan, Ignacia bingung harus merespon bagaimana. Jadinya dia hanya mengangguk.


Jelas Danita tekekeh, membuat Ignacia semakin bingung. "Ya kurasa lebih baik memiliki ketertarikan yang berbeda namun tetap ingin terlibat kan?" Ignacia setuju, dia kembali mengangguk.


"Wah kukira disini sudah lebih lenggang." Nesya berjalan mendekat. Di tangannya sudah ada komik yang akan dimasukkan ke dalam tas juga. "Kita pergi sekarang? Mari cari Ramen yang enak lewat penelusuran." Kini berganti ponsel yang dibawa Nesya. Mengetikkan sesuatu lalu memberikan beberapa rekomendasi.


Lagi-lagi pikiran Ignacia melayang. Ia ikut melihat latar ponsel yang ditunjukkan Nesya tentang dimana saja tempat makan ramen yang menarik. Hanya saja telinga Ignacia seolah buntu seiring dengan pikirannya yang terus melayang bagai awan. Danita berbisik pada Nesya, "mungkin Ignacia sudah lapar hingga tidak bisa fokus."


"Apa ada sesuatu ketika acara tadi?" Nesya ikut berbisik. Danita mengangkat bahu tidak tahu. Dirinya mendapatkan pesan dan fokus membalas tadi. Jadi tidak bisa melihat apa yang dilakukan Ignacia dengan Nona Cream tadi.


"Tangannya tadi bergetar," imbuh Danita selang beberapa detik. "Tapi kurasa bukan karena lapar. Ignacia pasti gugup karena bertemu dengan idolanya lagi."


"Begitukah?" Nesya ingin heran, namun yasudah lah.