Beautiful Monster

Beautiful Monster
Minta Tolong



"Aku ingin memastikan Maaz mendapatkan kue seenak buatanmu." Amira melirik sang anak yang mencoba untuk mewarnai buku gambar baru yang Amira belikan di perjalanan pulang tadi. Bagus anak itu tidak mendengar pembicaraan ibunya dengan seseorang. Terlihat sangat fokus memilih warna hingga tidak ada waktu untuk melakukan hal lain. "Oh sayang sekali kamu punya kegiatan lain. Jika aku kirimkan pesan bagaimana? Untuk membuatku yakin saja."


Dari ujung panggilan Ignacia menyanggupi jika Amira mengirimkan pesan. Kebetulan sekali kepergian Ignacia keluar kota bersamaan dengan ulang tahun sepupu kekasihnya. Amira berterima kasih pada Ignacia. Setelah ini mereka pasti bisa lebih akrab. Amira tahu jika Ignacia adalah anak baik-baik yang tidak akan bertingkah macam-macam.


Ignacia di ajak bicara basa-basi soal kegiatan hari ini dan kabarnya. Amira tidak begitu dekat dengan tetangga jadi rasanya menyenangkan bisa mengobrol dengan seseorang Selian Qabil. Laki-laki itu lebih mudah bergaul dan akrab dengan orang yang baru ia kenal daripada dirinya.


"Ibu," Maaz memanggil, tatapannya seolah minta bantuan.


"Sekali lagi terima kasih sudah mau membantuku, Ignacia. Sampai jumpa lagi." Panggilan berakhir. Amira meninggalkan ponselnya di atas nakas yang jauh dari Maaz. Dihampirinya si anak laki-laki disana. "Ada apa memanggil Ibu? Kamu membutuhkan sesuatu?"


Yang ditanyai menggeleng, Maaz hanya ingin ditemani. Anak itu menyodorkan krayon berwarna kuning miliknya seolah mengajak sang ibu untuk ikut mewarnai bersama. "Kapan ayah pulang, Ibu? Aku lapar." Maaz bicara masih dengan kegiatannya mewarnai pohon. Dia belum pandai membaca jam, namun dia tahu kapan seharusnya ayahnya pulang. Kata terlambat yang ayahnya katakan itu berapa lama memangn?


Amira mengangkat bahu tidak tahu. Qabil sedari tadi juga tidak mengirimkan pesan. "Mungkin ayah masih menunggu nasi goreng yang kamu inginkan selesai. Kamu tahu sendiri jika tempat itu ramai jika malam hari." Maaz menyandarkan tubuh pada sofa yang ada di belakangnya. Ia lepaskan krayon di tangan lalu mensejajarkan kaki. Kelihatannya dia lelah sibuk sendiri.


Amira menyarankan agar Maaz menunggu ayahnya di meja makan setelah membersihkan alat-alat gambarnya. Maaz memperbaiki posisi duduknya lalu meraih beberapa krayon yang tidak sengaja ia jatuhkan dari meja kecil yang ia gunakan untuk menggambar. Amira sudah membiasakan anaknya untuk membereskan barang-barangnya sendiri. Meskipun waktu yang akan dibutuhkan cukup lama, Amira bisa menunggu.


Sosok ayah yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Qabil datang bersama bungkusan nasi goreng yang sudah Maaz tunggu-tunggu. Amira bangkit untuk mengambil alat makan dan dibawa ke meja makan sementara suaminya mendatangi Maaz untuk obrolan kecil. Qabil minta maaf karena membuat Maaz terlalu lama menunggu.


Maaz meminta ayahnya untuk menyimpan meja kecilnya sementara dia meletakkan buku gambar dan krayonnya ke meja belajar di kamar. Tanda jika ia memaafkan ayahnya. Meja tadi disimpan ke dalam kamar Maaz lalu segera Qabil mendatangi istrinya yang menunggu di dapur. "Maaf aku pulang terlambat. Kalian pasti sudah menunggu lama."


Bungkusan nasi goreng tadi diletakkan di meja makan. Qabil izin untuk membersihkan diri. Membiarkan istri dan anaknya makan lebih dulu. Qabil berjanji akan bergabung segera. Sebelum pergi, Amira bertanya apa mungkin suaminya ingin minum teh hangat. Mungkin bisa membantu Qabil untuk lepas dari kepenatan setelah bekerja lembur.


Maaz tidak ingin makan sebelum ayahnya selesai. Dia sedang belajar membuat teh bersama ibunya. Amira yang akan mendidihkan air. Biar Maaz mengeluarkan daun teh kering di saringan dan ibunya akan menuangkan air panas tadi. Amira mengambilkan tempat gula agar Maaz memasukkan sedikit gula, lalu mengaduk tehnya hingga rata. Semuanya akan lebih cepat jika Amira mengerjakannya sendiri. Namun dengan bantuan Maaz, Qabil bisa datang tepat setelah tehnya siap.


"Wah terima kadih sudah membantu Ibu membuat teh, Maaz." Qabil mengelus lembut puncak kepala anaknya. "Ayah yakin nanti kamu bisa membuat teh sendiri untuk kami nanti. Sekarang biar ayah yang membawa tekonya ke meja makan." Maaz mendahului ayahnya ke meja. Menatap bangga teh yang berhasil ia buat bersama ibunya tadi.


Amira menuangkan segelas teh untuk Qabil. Biar suaminya mencicipi teh buatan anaknya lebih dulu. Selanjutnya dua gelas teh untuk dirinya dan Maaz. Qabil memuji pekerjaan baik Maaz dengan begitu anaknya akan terus membantu dan semakin berkembang dalam mengerjakan sesuatu.


Seperti biasa, Qabil akan bertanya bagaimana hari anak laki-lakinya di sekolah. Kegiatan yang paling disukai si suami ketika sampai di rumah, mendekatkan diri pada anaknya setiap dia punya waktu. Maaz suka sekali dengan perhatian yang selalu diberikan oleh ayah dan ibunya. Menjadi pusat perhatian dari orang-orang sekitar selalu menyenangkan bagi anak seusianya.


Maaz meminta bantuan ayahnya untuk menggambar sesuatu di buku gambar sebelum mulai mengerjakan tugas dari sekolah. Amira harus menahan diri untuk tidak membahas kejutan yang ingin dia berikan pada Maaz. Jadi ia menunggu Maaz selesai belajar dengan ayahnya dan ditemani ibunya membereskan buku untuk dibawa sekolah besok.


Begitu anak laki-lakinya tertidur, Amira buru-buru mendatangi Qabil yang tengah bersiap-siap tidur. "Maaz sudah tidur ya? Tadi dia bilang padaku bahwa dia kesal karena aku pulang terlambat. Kamu juga kesal padaku? Aku minta maaf." Amira menghampiri suaminya yang duduk di tepi tempat tidur, menggeleng pelan sebagai jawaban.


Amira tidak akan kesal selagi apa yang dilakukan suaminya itu baik. Qabil mengaku jika teman yang sakit ini adalah seseorang yang sangat baik padanya. Karena itu Qabil ingin membalas kebaikan temannya dengan membantu menangani tugas menyusun jadwal travel. Tugas Qabil sebagai customer service tidak begitu padat tadi, jadi ia sedikit membantu temannya.


Sebenarnya Qabil bisa saja pulang sesuai jadwal, namun karena adanya perubahan dari pihak penyewa travel, jadinya ia harus sedikit lembur. Hitung-hitung juga untuk mengganti cuti mendadaknya waktu itu. Amira menyesal mendengar itu. Suaminya bekerja lebih keras karena dirinya.


Lalu sekarang bagaimana? Apa Amira langsung saja mengubah topik ke rencana sebelumnya? Soal bantuan yang ia harapkan dari Ignacia dan rencana ulang tahun di rumah orang tuanya. Amira memberanikan diri untuk perlahan membahas soal rencana akhir bulan ini. Berharap suaminya tidak akan marah apalagi kesal padanya.


Qabil mencermati semua yang dilakukan istrinya. Ada perasaan ingin menolak karena kemungkinan besar ia akan lelah setelah bekerja. Dia butuh akhir pekan yang menenangkan di rumah. Kebetulan sekali tahun ini Maaz akan merayakan ulang tahunnya di hari dimana Qabil ingin beristirahat. Qabil bingung harus memberikan respon selembut apa.


Soal Ignacia, Qabil mengizinkan istrinya untuk meminta tolong pada Ignacia jika hanya lewat pesan. Selagi yang dimintai tolong tidak keberatan, tidak masalah pula untuk Qabil. Yang penting Amira tidak sampai memberatkan kekasih adik iparnya. Qabil juga akan membantu istrinya jika dibutuhkan.


"Bagaimana jika kita minta ayah dan ibu untuk datang kemari saja? Jika kamu mau, aku akan mengundang orang tuaku untuk datang juga. Nanti kita bisa membuat acara makan-makan keluarga. Sudah lama kita tidak makan bersama dengan orang tua kita di saat yang sama." Qabil menggenggam tangan istrinya lembut, "Orang tua kita pasti senang diundang datang bertemu Maaz. Kamu tidak keberatan kan?"


Amira mengangguk pelan, tidak masalah. Lagipula Ignacia tidak bisa hadir jika Amira berniat mengundangnya ke rumah orang tuanya. Kalau begitu Amira sebaiknya menyiapkan banyak hal selain kue ulang tahun. Keluarga mertuanya juga akan datang. Sudah lama Amira tidak bertemu dengan mereka.


"Terima kasih sudah mengabulkan permintaanku." Amira tersenyum cerah. Dia tetap senang karena nanti rumah ini tidak akan sepi lagi.


Keesokan harinya Amira pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan. Sayuran, lauk, juga beberapa rempah yang hampir habis. Amira tidak lupa untuk menelpon ibu juga mertuanya untuk bertanya soal resep masakan yang enak. Beliau-beliau pasti senang jika Amira lebih berkembang dalam hal memasak.


Maaz masih belum tahu jika para kakek dan neneknya akan berkunjung dalam waktu dekat. Jadi dia terlihat santai seperti tidak ada yang terjadi. Nanti Amira akan meminta Gafar juga Rajendra untuk mengalihkan perhatian anaknya sementara ia menyiapkan meja makan beserta kuenya. Qabil membantu istrinya menyiapkan makanan tepat setelah Maaz tertidur.


Rencananya Amira akan membuat kue keesokan harinya agar terasa tetap hangat dan aromanya lebih wangi seperti yang Ignacia sarankan. Juga kedua orang tua mereka sudah tidak muda lagi. Sebaiknya tidak diberikan makanan dingin. Karenanya Ignacia akan mendapatkan panggilan telfon sebelum jam makan siang.


Seperti yang Qabil katakan, kedua orang tua mereka senang bisa berkunjung ke rumah sang anak dan menantu. Apalagi jika mendengar soal acara makan-makan. Siapa yang akan menolaknya? Ditambah lagi sudah lama mereka tidak berkunjung. Rasanya rindu berada di tempat tinggal anaknya.


Rajendra diberitahu ibunya jika Amira akan mengadakan acara di rumahnya. Sayangnya anak bungsunya itu tidak bisa hadir. Menemui Ignacia saja tidak bisa apalagi pergi keluar kota. Rajendra punya urusan sendiri dan tidak bisa mengambil hati libur lagi. Jadilah Gafar sebagai paman yang baik menggantikan ayahnya mengemudi hingga rumah kakaknya.


Qabil meminta Maaz untuk duduk di halaman depan, menunggu keluarga orang tuanya datang. Para kakek nenek sudah hampir sampai, jadi Maaz tidak menunggu lama. Yang pertama datang itu orang tua ayahnya. Si cucu pertama langsung berlari pada neneknya, menyambut dengan sangat hangat. Kedatangan orang tua ibunya juga disambut tak kalah hangat. Dari ibu ayahnya lalu berganti pada ibu dari ibunya.


Qabil dan Amira muncul dari pintu, ikut menyambut kedatangan keluarga. Beramah-tamah tanpa Maaz karena sudah di amankan Gafar. Dia hanya menyapa kakak dan keluarga mertua kakaknya singkat sebelum melancarkan aksi yang sudah ia rencanakan dengan sang kakak.


Gafar akan meminta Maaz menemani dirinya membeli bensin untuk mobilnya. Letak pom bensin agak jauh dari rumah, nanti Gafar bisa sedikit mengukur waktu. Mereka mungkin bisa membeli es krim dan memakannya di suatu tempat sambil menikmati waktu bersama.


Gafar tidak begitu dekat dengan Maaz, bocah ini yang pandai bergaul hingga bisa akrab dengan pamannya ini. Dia punya kemampuan yang sama hebatnya dengan sang ayah. Sekarang dia sudah mengerti tentang apa yang ia bicarakan hingga semua pertanyaan yang Gafar ajukan dapat dijawab dengan baik.


Anak itu bertanya kenapa Rajendra tidak datang. Maaz lebih menyukai Rajendra karena laki-laki itu selalu mau menemaninya bermain bola. Sementara Gafar tidak. Ia lebih suka makan di suatu tempat dalam kesendirian. Karenanya sekarang Maaz dibawa makan camilan di depan minimarket.


Dapur Amira menjadi ramai dengan keberadaan ibu juga mertuanya. Beliau-beliau membantu memanaskan makanan yang sudah dikeluarkan dari kulkas sementara Amira menyiapkan bahan-bahan untuk kue. Ia tidak akan menganggu waktu Ignacia dari awal hingga kuenya selesai. Hanya saat ada sesuatu yang Amira tidak yakin saja.


Contohnya seperti apakah kuenya harus dibiarkan di dalam loyang hingga dingin atau bisa dikeluarkan saja. Amira membutuhkan Ignacia dengan cepat, jadi ia menelpon. Ia juga bertanya soal cara membuat coklat leleh yang enak anti gagal. Amira menepi sebentar agar bisa mendengar suara Ignacia.


Dapurnya semakin ramai karena para bapak berpindah ke dapur. Qabil membuatkan keluarga jus buah untuk menyegarkan diri di hari yang panas. Sementara itu Ignacia sudah ada diluar kota. Baru saja turun dari kereta bersama kedua temannya. Mereka tetap si stasiun agar Ignacia bisa menyelesaikan panggilan lebih dulu.


Lima menit kemudian panggilan berakhir. Ignacia berhasil membuat kakak perempuan Rajendra membuat kue seperti dirinya. Entah rasanya mirip atau tidak. Amira berharap rasanya sama. Masih ia ingat manisnya coklat dari lelehan di atas kue. Amira akan menambah beberapa meses dan kacang. Agar lebih ramai saja untuknya.


Gafar ditelpon untuk segera kembali. Begitu membuka pintu depan, Maaz bisa mencium aroma yang manis yang sangat enak dari dalam. Ia berlari ke arah dapur, mendapati orang-orang tidak ada di dalam. Hanya ada banyak makanan dan satu teko minuman dingin di atas meja. Aroma di dalam sungguh membuat Maaz juga Gafar merasa lapar.


"Selamat ulang tahun!" Semua orang muncul dari sebuah ruangan. Ibunya berjalan paling dengan dengan membawa- kue yang mirip dengan yang ada di rumah neneknya waktu itu. Aroma toko roti langsung tercium jelas. Lagu ulang tahun langsung dinyanyikan, mengisi kekosongan rumah.


Maaz menahan diri untuk tidak berlari ke arah ibunya, tahu jika kue yang dibawa itu mungkin akan jatuh. Amira memamerkan diri jika kuenya ia buat sendiri tadi. "Wah kue. Aku ulang tahun? Kenapa Ibu tidak bilang? Aku bisa membantu membuat kuenya." Maaz sungguh anak baik. Dia berpikir untuk membantu alih-alih ingin segera makan kue.


Satu persatu orang yang lebih tua menunjukkan rasa sayang pada Maaz dengan ciuman di pipi dan elusan lembut di puncak kepala. Hadiahnya nanti akan diberikan setelah makan. Qabil mengambil alih kue agar Amira bisa menunjukkan rasa sayangnya juga. Kali ini Amira yang memeluk anaknya sambil berbisik, "Selamat ulang tahun, anak tersayangku."