
Yujiro beranjak keluar dari sungai setelah merasa tubuhnya bersih dari noda darah bekas semalam. Ia berjalan terhuyung menuju ke rumah Nenek Kawa, merasa sedikit mual setiap kali perubahan itu menghampiri.
Saat masuk, Yujiro mendapati Nenek Kawa sedang terduduk membelakanginya. Menyadari kedatangan Yujiro, Nenek Kawa pun berbalik yang sukses membuat Yujiro terbelalak kaget melihat sesuatu yang dipeluknya yaitu kepala Sen.
"Dia tidak ada," kata Nenek Kawa merujuk pada Miho.
Menyadari hal itu, Yujiro pun pergi ke kamar untuk mencari Miho yang memang sudah tak ada. Dia mengacak-acak barang di sana dengan emosi yang begitu menggebu penuh amarah.
Siapa yang sudah berani membawa Miho darinya?
Nafas Yujiro berderu tak beraturan. Tersadar akan dirinya yang hendak berubah, ia pun berusaha menenangkan pikiran dan hatinya terlebih dahulu.
Yujiro tak mungkin berubah di hadapan Nenek Kawa dan warga lainnya. Yujiro harus bisa menemukan Miho tanpa merubah dirinya menjadi monster itu.
Oke. Kepala Yujiro mulai berpikir keras, mencari cara untuk menemukan Miho sekaligus yang membawanya.
Salah satu cara yang Yujiro pikirkan saat ini adalah anjing. Ia ingat jika anjing hitam milik Jo yang waktu itu menyerangnya menggunakan penciuman untuk menemukan mereka.
Yujiro pun mulai fokus untuk menggunakan penciumannya, seperti ketika dirinya masih hidup sebagai seekor anjing. Ia mengambil baju Miho yang masih ada di sana lalu menghirup aromanya untuk dilacak.
Penciumannya pun mulai bekerja. Yujiro seakan melihat aroma Miho yang ada di sekitar bahkan menuntunnya pergi ke beberapa tempat di ruangan itu.
"Kau..." kata Nenek Kawa ketika Yujiro keluar dari kamar hendak pergi. Dia masih menaruh kepala Sen di pangkuannya.
"Sen pasti sudah merasa tenang karena dia menemukan apa yang dicarinya. Kau adalah bukti dari kutukan higanbana biru itu yang memiliki kehidupan, tapi juga selalu dihadapkan dengan kematian," katanya yang dimengerti oleh Yujiro.
Tanpa mau berkomentar apapun lagi, Yujiro segera pergi mengikuti aroma dari Miho. Ia berlari cepat seperti seekor harimau sambil menggunakan penciuman tajamnya bak seekor anjing.
Yujiro bersumpah, tak akan mengampuni siapa pun yang sudah menyakiti Miho, satu-satunya orang yang ia sayangi selain Naho.
Yujiro berkaca pada kesalahannya di masa lalu yang malah membiarkan Naho tewas dihadapannya. Sekarang, dia tak mau kejadian itu berulang. Merasa kehilangan saat menjadi manusia itu sungguh menyakitkan. Bahkan Yujiro sempat seperti mayat hidup setelah Naho meninggal, sebelum akhirnya kepedulian Miho merubah segalanya.
Sementara itu, Miho menatap tajam ke lelaki yang ada di depannya. Kini dirinya sedang berada di dalam sebuah kereta kuda yang dapat membawa mereka ke suatu tempat. Kedua tangan dan kakinya terikat oleh tali yang begitu kuat bahkan ada tali memanjang yang sedang lelaki asing depannya pegang agar Miho tak bisa kabur darinya.
"Aku tahu, Tuan Senzo yang menyuruhmu, kan?" Miho mulai buka suara hingga lelaki berwajah setengah luka bakar itu memperhatikannya.
"Jika kau menangkapnya, kau hanya akan membuat dia mengamuk. Kau bahkan tak akan pernah diampuni olehnya karena telah membunuh Kakek Sen dengan kejam hanya untuk mengancam kami," tambah Miho.
Lelaki itu menyeringai. "Baguslah jika dia mengamuk. Itu akan memperlihatkan jika dia memang monster."
"Aku akan membalasmu nanti!" tekad Miho berdesis tajam ke arahnya.
"Kau tak akan pernah bisa membalasku karena aku akan segera mengirim kalian pada kematian. Aku selalu melakukan pekerjaanku dengan tuntas demi uang dan kehidupan."
Miho menggertakkan rahangnya menahan emosi. "Kau harus melepaskanku."
Miho tak ingin Yujiro mencari dan akan datang pada mereka dengan mengamuk sambil memperlihatkan wujud aslinya yang pernah Miho saksikan.
Miho tak ingin Yujiro kehilangan kesadaran dirinya sebagai manusia dengan membawa dan menyekapnya seperti ini.
...****************...
Rin menyembulkan sedikit kepalanya dari balik semak-semak yang menjadi tempat persembunyian dirinya selama mengintip beberapa anak buah sang ayah yang mulai pergi sambil membawa banyak senjata seakan hendak mulai berperang. Mereka pergi ke hutan dengan berbagai persiapan yang membuat Rin penasaran apa yang hendak diburu ayahnya itu.
Di tengah situasi tersebut, terlihat Koyo sedang memeriksa senjatanya yang bisa menembak sesuatu dari kejauhan bahkan berpotensi mati jika terkena peluru beracunnya.
"Aku sangat bersemangat untuk memburunya!" seru Koyo lantas tertawa jahat dengan cukup keras.
Mata Rin beralih pada dua orang yang baru saja datang. Matanya menyipit melihat seseorang yang ditawan dengan tali sedang ditarik ke tengah-tengah mereka.
Apa yang terjadi?
Sang ayah selalu bilang akan memburu monster. Apakah Miho monsternya?
Rin menggelengkan kepala, mencoba menepis pemikiran itu. Dia mengendap pergi ke arah lain untuk lebih dekat mengetahui yang terjadi di depannya.
"KELUARKAN AKU, SIALAN! LEPASKAN AKU!" teriak Miho sambil mengguncang jeruji yang mengurungnya.
Senzo dan pengawalnya datang menghampiri. Dia mengamati Miho dari ujung kepala sampai kaki lalu terkekeh mendapati jika Miho adalah teman sang anak yang pernah ditemuinya.
"Umpan yang bagus," katanya.
"Monster itu akan segera datang kemari, Tuan."
"Aku tak mengira kau yang ternyata menyembunyikan monster itu," ucap Senzo pada Miho yang melemparkan tatapan tak suka padanya.
"Dia bukan monster! Kalian yang monster!" desis Miho melawan.
"Aku akan membunuhmu setelah membunuhnya," ancam Koyo yang mengarahkan senjata ke wajah Miho. "Monster itu tak pantas hidup di sini. Dia harus mati. Aku bersumpah akan membunuh, memotong setiap bagian tubuhnya."
Miho memegang erat jeruji itu untuk menahan amarah. Percuma saja dia melawan karena sekarang tak ada yang bisa dia lakukan setelah terkurung dalam sebuah kandang yang dijaga oleh beberapa orang pembawa senjata.
Miho berharap dalam hatinya jika Yujiro tak perlu datang untuk menyelamatkannya. Jika dia datang, orang-orang itu akan benar memburu dan membunuhnya seakan Yujiro memanglah monster.
Malam semakin larut.
Semua orang sudah bersiap di berbagai sisi dengan senjata, menunggu Yujiro yang tak kunjung datang.
Miho terduduk pasrah dalam kurungannya. Saat itu, ia tak sengaja melihat sesuatu bergerak di balik semak tak jauh dari tempatnya dikurung. Rin melambaikan sedikit tangannya pada Miho untuk memberitahu bahwa dia ada di sana.
Yujiro, jangan kemari...
Miho sangat berharap dalam hatinya. Namun di tengah keheningan itu, terdengar samar suara langkah yang semakin mendekat bahkan membuat tanah mulai bergetar.
Semua orang kembali bersiap-siap mengarahkan senjata ke setiap sudut karena suara itu tak diketahui arahnya dari mana.
"Suara apa itu?" decak Koyo juga kebingungan mendengar suara langkah yang mulai terasa begitu keras.
Jo memandang ke arah sudut pepohonan yang gelap dan mulai menyadari sesuatu.
"Itu suara hewan-hewan yang sedang kemari," tuturnya. "TEMBAK MEREKA!!!"
Suara tembakan mulai terdengar ketika ada banyak hewan berlarian ke arah mereka seperti tengah kabur dari sesuatu. Hewan-hewan itu terdiri dari babi hutan, rusa, gajah, hingga hewan lainnya yang membuat orang-orang di sana fokus mengatasi mereka.
Miho mencoba bertahan dalam kandangnya yang terombang-ambing oleh hewan-hewan itu. Ia melihat Rin mulai mendatanginya di saat para pengawal ayahnya lengah menembaki semua hewan yang berlarian di sana.
"Kita harus segera keluar dari sini!" seru Rin berusaha membuka jeruji itu dengan sebuah batu yang ia hantam beberapa kali pada gemboknya yang terkunci.
Akhirnya terlepas. Rin segera membuka kurungan itu lalu membawa Miho untuk segera pergi dari sana.
"DIA DATANG!" teriak seseorang.
Miho menengok ke belakang saat kakinya hendak melangkah pergi mengikuti Rin. Ia melihat cahaya biru mata Yujiro yang muncul dari kegelapan. Lelaki itu menghadapi mereka dengan berani hanya menggunakan wujud manusianya.
"Yujiro..." lirih Miho hendak pergi ke sana.
"Kita harus pergi dari sini!" cegah Rin menarik tangan Miho untuk pergi dari sana alih-alih masuk ke dalam bahaya yang sedang berlangsung.