Beautiful Monster

Beautiful Monster
Undangan Ignacia



Berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang biasa direncanakan oleh Rananta. Sekarang Ignacia ingin bertemu dengan teman-temannya sebelum liburan semester berakhir. Kebetulan semua temannya berkesempatan kembali ke kota asal mereka hanya untuk sekedar mengobrol dan makan. Karena Ignacia menyukai es krim, jadilah kesepuluh teman ini berkumpul di kedai es krim kesukaan Ignacia bersama Rajendra dahulu.


Ketika melangkah kaki ke lantai atas, suasana disana seakan menyerang Ignacia dengan segala ingatan soal kebersamaan mereka dahulu. Tempat ini adalah tempat yang paling Ignacia kenal, jadinya dia ingin berada disini meksipun rasanya memuakkan. Kebetulan Ignacia memesan tempat di lantai ini ketika jam istirahat karyawan selesai. Jadinya kedai masih lenggang dan tenang.


Meja yang ada di pojok dekat jendela, tempat paling nyaman untuk mengobrol. Selain tempatnya yang terang, disana juga membawa aura tersendiri. Sinar matahari tidak akan masuk karena memang tidak mengarah ke matahari yang terbenam atau terbit. "Jadi disinilah aku. Mengingat masa-masa dahulu kita menikmati camilan dingin bersama."


"Ignacia," sebuah suara membuyarkan fokus Ignacia sendiri. Seorang gadis dengan rambut dikepang satu tengah tersenyum ke arah Ignacia. Wajah yang khas seakan tidak pernah menua di umur yang sudah lama berkepala dua itu menunjukkan wajah bahagia yang amat. "Aku senang kamu mengajak kamu pergi kemari. Menunya terlihat enak."


Rananta dibawa duduk di salah satu meja. "Aku penasaran kenapa kamu yang mengajak kami datang hari ini. Kebetulan sekali aku juga ingin bertemu dengan yang lainnya. Kesibukanku agak memuakkan." Si gadis menatap keluar jendela sekilas, bersamaan dengan itu datang orang lain yang akan bergabung dengan meja keduanya.


Utari datang membawa sesuatu dari kedua tangannya. "Aku sedang senang dan ingin memberikan sesuatu pada kalian. Kuharap kalian menyukainya." Gadis itu mengambil dua kotak berisi kukis buatannya. Diberikan pada dua orang yang ada di depannya. "Harus kalian habiskan karena aku membuatnya dengan susah payah."


Ketiganya mengobrol, membagi kisah yang telah berlalu dengan satu sama lain. Selang beberapa menit akhirnya teman lainnya ikut bergabung. Ignacia tersenyum puas, semua orang datang sesuai keinginannya. Mengobrol dengan mereka akan membuat dirinya merasa lebih baik. Apalagi dengan es krim yang lembut, semuanya jadi lebih sempurna.


Setelah semua yang terjadi setelah pertemuan terakhir kali, sekarang pembahasan sepuluh teman disini menjadi lebih serius. Soal pekerjaan dan rencana ke depan. Contohnya seperti Rananta yang bercita-cita memiliki rumah di kota perantauannya atau Dianti yang ingin mencari pekerjaan baru yang lebih menghasilkan uang.


Ignacia dengar jika Utari ingin memulai bisnis kue dan kukis bersama orang tuanya yang terus mengeluh tidak punya kesibukan setelah pensiun. Ignacia juga ingin melakukan sesuatu untuk kedua orangtuanya yang sudah masuk masa pensiun baru-baru ini. Agar mereka masih bisa aktif di hari tua.


Tidak terasa kini mereka sudah dewasa saja. Sudah banyak yang membahas soal orang tua masing-masing. Kegiatan yang bisa membuat mereka senang dan tempat wisata menarik yang bisa jadikan tempat bersantai bersama sedang mereka cari-cari. Pegunungan dan air terjun mungkin bagus, tapi rasanya agak beresiko jika bersama mereka yang sudah berumur.


"Kalian tidak ada yang berkeinginan untuk menikah?" Pertanyaan Widia menarik perhatian teman-temannya. Bagaimana tidak? Kebanyakan dari mereka masih menikmati masa lajang, menikmati hari dimana mereka bisa menghabiskan waktu untuk diri sendiri sepuasnya setelah keluar dari kesibukan sedari pagi. Apalagi mereka belum merasa ada laki-laki baik yang cocok dengan kepribadian masing-masing.


Kemala memasukkan suapan kesekian ke dalam mulut sebelum merespon pertanyaan temannya. "Kau saja yang menikah lebih dulu. Nanti aku akan datang dan makan prasmanan yang kau siapkan." Kemala bicara dengan entengnya. "Aku dan kekasihku masih belum membahas soal pernikahan sejauh ini. Kamu masih ingin mengumpulkan banyak rupiah untuk menikah."


Biaya untuk pernikahan memang tidak sedikit. Kemala berniat untuk menggunakan uangnya sendiri untuk segala keperluannya, membantu kekasihnya yang juga harus bekerja keras. Hanasta menatap teman-temannya dalam diam, ingin rasanya bicara namun agak malu untuk mengaku. Rananta lalu membantu agar si teman bisa menyampaikan sesuatu.


"Ada pria yang melamarku Minggu lalu." Sontak teman-temannya menatap kaget. Bagaimana bisa Hanasta yang tidak pernah bicara soal laki-laki malah mendapatkan lamaran dari seseorang. "Dia teman ayahku. Aku pernah bertemu dengan dia beberapa kali dan kemudian dia melamarku. Aku belum mengenalnya jadi aku berkata untuk menunda lamarannya hingga waktu yang tidak ditentukan."


Tiba-tiba mendapatkan tawaran dari orang lain pasti membuat kaget. Apalagi dia yang mengalami. Hanasta tahu laki-laki itu baik, sopan, dan ramah. "Aku ingin bertanya pada kalian apakah yang kulakukan ini sudah benar atau berlebihan. Aku merasa ... kurang, jadi aku menundanya tanpa memberi batas waktu yang jelas. Mungkin kalian bisa memberi saran juga."


Mungkin waktu sebulan bukan waktu yang terlalu lama. Lagipula jika laki-laki ini serius dan bukan hanya karena hubungan yang baik antarayah, dia bisa menunggu selama apapun demi orang yang ia lamar. Waktu yang terlalu lama juga bisa membuat si pelamar tidak sabaran atau bahkan putus asa. "Tidak apa, jika dirimu yakin, lakukan saja." Dianti menguatkan.


Obrolannya menjadi semakin beraneka ragam saja setelah Hanasta memberikan kabar. Sementara itu, si empunya acara, Ignacia, hanya diam dan menatap teman-temannya. Tak tahu kenapa, Utari melihat temannya itu tampak gugup. Daripada hanya diam dan menatap yang lain bercengkrama, ia mengambil inisiatif untuk memulai sebuah percakapan.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rajendra?" Karena yang lainnya masih membahas soal laki-laki, jadinya Utari menanyakan hal serupa. Hanya sebagai iseng saja karena mereka tidak membicarakan apapun setelah teman-teman lain datang. "Hubungan kalian baik-baik saja seperti biasa? Ataukah ada berita baik akhir-akhir ini?"


Ignacia memberikan jeda sebelum menjawab. Bimbang ingin memberitahu soal hubungan yang kandas bersama Rajendra atau tidak. Rasanya Ignacia tidak mampu mengatakannya sendiri. Ujung bibirnya tertarik ke atas membuat senyuman yang mengartikan segalanya. "Entahlah, aku tidak mengerti. Kurasa aku belum bisa membahasnya sekarang."


Sontak jawaban itu membuat Utari khawatir. Berbagai pertanyaan dilontarkan, semuanya bernada khawatir jika saja Ignacia menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan sendiri. Tidak biasanya Ignacia akan menutupi soal hubungannya dengan Rajendra seperti ini. Gadis itu bisa menceritakan apapun tanpa takut masalahnya tersebar jika bersama sembilan temannya ini.


"Akan aku jawab jika aku sudah siap."


"Ignacia sudah punya rencana untuk menikah? Kau yang paling lama berhubungan dengan laki-laki." Berkat Widia, banyak pasang mata penasaran menatap gadis berambut panjang itu. Membuat yang ditatap terkesiap. "Kamu belum dengar soal hubungan istimewamu dengan Rajendra. Bagaimana hubungan kalian berjalan?"


Baru saja Utari akan menutup obrolan melihat Ignacia yang tidak punya semangat menjelaskan. Tapi sekarang malah pertanyaan serupa datang lagi. Lagi-lagi mata bulat Utari jauh pada Ignacia. Dia penasaran bagaimana bisa Ignacia menjawab demikian di hubungan yang biasanya baik-baik saja.


Sebelum menjawab, Ignacia mengeluarkan sesuatu yang sudah ia simpan diam-diam. Anehnya tidak ada yang menyadari keberadaan beberapa tas kecil transparan yang Ignacia simpan sejak awal. Mungkin karena tempatnya yang ada di pojok dan tersembunyi di balik kursi. Ignacia harus bangkit untuk memberikan kesembilan temannya bingkisan manis ini. Berisi selembar kain dengan warna unik.


Bingkisan itu mulai terbuka satu persatu. Teman-temannya berbisik-bisik soal bagian kain yang berwarna coklat satin. Bukan warna yang biasa mereka pilih untuk pakaian namun jelas cocok di kulit masing-masing. Ketika yang lain masih sibuk melihat-lihat kain, ada seseorang yang mendapati kertas di dalam lipatan. Kertas itu jatuh ke lantai karena kain yang membalut diangkat dari bungkusan.


"Oh ya, kertas itu aku buat khusus untuk kalian."


Tampak luarnya sudah membuat si penemu kertas menutup mulut. Hanasta menatap temannya tidak percaya, ia jelas tahu benda tipis apa ini. Selanjutnya melihat reaksi yang begitu membingungkan, yang lain mencoba untuk mencari-cari benda serupa. Lalu benda lain yang tanpa sengaja Ignacia letakkan di dalam bungkusan temannya juga ditemukan.


Kini giliran Aruna, si penemu kotak kecil berwarna merah maroon. Tangan Ignacia perlahan meraih kotak yang diamati Aruna sambil berkata, "Maaf ini milikku. Rajendra memberikan ini saat liburan kemarin. Katanya, jika aku menerima ini, hubungan kami akan resmi berakhir."


Hening. Semua pasang mata di meja panjang yang ia tempat dengan teman-teman hanya fokus pada kegiatannya. Gadis berambut panjang itu tampak dengan tenang berbicara dan bertindak. Yang semuanya memberikan kode samar-samar yang dapat dimengerti oleh semua orang pada akhirnya.


Benda berbentuk lingkaran dengan hiasan kecil berkilau yang ada di dalam kotak kini terpasang sempurna di jari manis sebelah kiri Ignacia. Jari yang dianggap sebagai tempat yang paling cocok karena diyakini memiliki hubungan langsung dengan jantung melalui vena amoris atau "urat cinta." Ignacia tersenyum senang, pandangannya berubah kabur berkat air mata yang terkumpul.


"Teman-teman, kami berhasil."


Ignacia tak mampu menahan tangisannya kala melihat teman-temannya berdiri untuk memberikan pelukan. Ignacia sudah berhasil menemukan orang yang bisa menjaganya. Sudah tidak akan ada lagi buku novel sebagai pelampiasan. Sirna sudah waktu menunggu yang tidak ada habisnya. Ignacia tidak akan jadi kutu buku yang memakan kertas demi hati kecilnya. Sekarang akan ada Rajendra yang akan menjadikan dirinya ratu bak tokoh utama dari semua cerita yang Ignacia baca.


"Selamat untuk kalian berdua." Haru teman-temannya membawa rasa penasaran untuk pengunjung lain yang menyaksikan. Jika dilihat dari bingkisan juga kertas di atas meja, mereka sudah mengumpulkan sendiri apa yang terjadi. Apalagi beberapa dari mereka yang sedang mencari pusat perhatian terus menunjukkan rasa bahagia dan ungkapan selamat.


Bukan hanya Ignacia yang menangis bahagia. Teman-temannya tampak berkaca-kaca dan menahan sesuatu yang tidak ingin dikeluarkan. "Kenapa tidak langsung katakan saja? Kukira hal buruk terjadi padamu." Utari memukul lengan temannya pelan, meluapkan kekesalan karena sudah berpikir macam-macam. Hatinya sudah diliputi resah namun ternyata semua salah.


Tampak Maharani melepas kacamatanya untuk menggusap air yang akan turun ke pipi. Dianti dan Aruna tak mampu menahan senyum lebar. Dan di sebelahnya Hanasta, Rananta, dan Widia masih terkejut dengan apa yang terjadi barusan. Lalu ada Kemala dan Indri yang menatap dari sisi, memberikan semangat paling tulus yang pernah ada.


"Kami semua pasti akan datang ke acara kalian dengan kain yang sudah kamu berikan, Ignacia. Jika bisa, kami sudah akan di tempat, membantumu bersiap-siap." Tidakkah ucapan Kemala tadi cukup manis? Bahkan ia menawarkan diri untuk membantu padahal Ignacia jelas sudah merancang semuanya.


Mendengar pernyataan demikian, Ignacia semakin merasa bahagia. Indri mengoper sekotak tisu agar Ignacia bisa menyeka wajahnya yang sudah basah. "Kalian terlalu manis, aku sampai tidak bisa berhenti menangis." Ignacia sudah berusaha menahan tangisannya, namun justru air matanya semakin deras mengalir.


Minggu-minggu menegangkan sudah usai. Sekarang sudah waktunya untuk berjalan ke depan, menjemput masa depan yang sudah tertata. Melangkah ke jenjang yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang yang ada di hubungan ini. Ignacia berulang kali menyunggingkan senyum begitu air matanya mengering.


"Aku penasaran bagaimana Rajendra melamarmu. Secara, apa yang dia lakukan untuk mengungkapkan perasaannya padamu itu cukup--membangkitkan adrenalin." Rananta langsung mengingat kejadian yang terjadi bertahun-tahun silam. Rananta tersenyum ketika melihat Ignacia terkekeh pelan.


Gadis itu mengaku jika kemampuan Rajendra untuk mengungkapkan perasaan itu luar biasa hebat. Bahkan Ignacia sampai menangis dan menjadi amat kacau dibuatnya. Entah darimana ide itu muncul dan bagaimana Rajendra bisa membuat drama sedemikian rupa. Rajendra belum memberikan penjelasan apapun padahal sudah membuat Ignacia amat terluka.


"Nanti akan aku beritahu. Sekarang biarkan menjadi rahasia agar kamu terus memikirkan aku."


Diam-diam Ignacia tersenyum mengingat perkataan Rajendra sore itu. Jika diingat-ingat, semua yang dikatakan memang perlu. Rajendra pasti lelah terus bersembunyi ketika akan membawa Ignacia pergi keluar. Setelah ini mereka tidak perlu takut jika ingin menghabiskan waktu bersama. Jadi ini yang Rajendra maksud untuk menunggu sebentar lagi. Hasil dari penantiannya sudah datang sekarang.


"Karena aku ingin berhenti jadi pengecut yang hanya bisa membuatmu menunggu."


Rajendra itu bukan pengecut. Dia laki-laki terbaik yang pernah datang ke hidup Ignacia setelah masa-masa tidak menyenangkan di sekolah menengah pertama. Sulit dipercaya. Mereka kini sudah menjadi sepuluh tahun bersama sebagai sepasang kekasih. Rajendra berani membuat hubungan dengan seorang gadis yang baru ia kenal. Berani membawa Ignacia pergi keluar dan berhubungan baik dengan mama Ignacia.


Tidak semua laki-laki bisa melakukan hal serupa. Dan tidak ada yang Ignacia inginkan untuk berada di posisi itu bersama dengan laki-laki yang bukan Rajendra. Meskipun sudah sepuluh tahun berlalu, hatinya masih berlabu pada laki-laki itu. Ignacia yakin masih bisa mempertahankan hatinya di tahun-tahun berikutnya tanpa rasa lelah.


"Ini yang aku inginkan. Harus aku perjuangkan."