Beautiful Monster

Beautiful Monster
06. Bunga Kematian



Suara palu yang memukul batu saling bersahutan dalam sebuah gua. Beberapa orang mendorong gerobak batu, beberapa lagi terus memahat dinding gua agar menjorok semakin dalam sehingga mereka menemukan beberapa butiran emas dan membuat jalan di gua tersebut.


"Di luar hujannya semakin deras. Sepertinya kita harus menunggu di sini sampai reda," ucap salah satu pegawai.


Toru menghentikan kegiatannya yang sedang memalu batu. "Miho pasti sedang menungguku."


Pasalnya gadis itu tak akan makan jika Toru belum pulang ke rumah. Dia senantiasa menunggu meski perutnya sudah sangat keroncongan karena Miho merasa jika makan bersama seseorang lebih enak dibanding makan sendiri.


"TEMAN-TEMAN, LIHAT INI!" teriak seseorang yang membuat beberapa pegawai di sana termasuk Toru datang menghampirinya.


"Bukankah ini bunga higanbana merah?"


"Kau benar. Kenapa ada di sini?"


"Baru kali ini aku melihat bunga higanbana tumbuh di dinding gua," imbuh Toru terheran.


"Kita petik saja. Mungkin bunga ini bukan higanbana. Hanya mirip karena tidak mungkin tumbuh di dinding batu seperti ini," kata yang lain dengan tangan sudah terjulur untuk memetik bunga itu.


"Tunggu sebentar!" cegah Toru yang menahan tangan itu. "Jika ini benar higanbana merah, ini akan menjadi bencana besar untuk kita."


"Kau percaya mitos?" ejek lelaki itu tersenyum meremehkan. "Higanbana akan tumbuh di tanah, bukan di batu seperti ini."


"Ah, sudahlah!" Tiba-tiba lelaki lain mencabut bunga itu bahkan menginjaknya begitu saja. "Lihat? ini hanya bunga biasa. Kembalilah bekerja. Kalian bikin ribut saja!"


Mereka pun mulai bubar untuk kembali bekerja, tapi Toru masih berdiri memandangi bunga itu dengan perasaan tak enak. Ia pun berjongkok memungut bunga itu untuk diteliti lebih jelas. Siapa pun yang melihat bahkan menyentuh higanbana merah tersebut, maka kematian akan menghampirinya.


"Kenapa bisa bunga ini ada di sini?" gumam Toru bertanya-tanya.


Tiba-tiba tanah terasa berguncang. Semual pelan tapi selanjutnya menjadi lebih kuat.


Toru dan pegawai lain dalam gua itu mulai panik. Mereka berlari menggapai ujung gua, tapi guncangannya menjadi semakin besar hingga batu-batu dari atas mulai berjatuhan menimpa mereka.


"Toru!" panggil seseorang yang membuat kaki Toru berhenti berlari. Ia menoleh ke arah rekannya yang tertimpa bebatuan di bagian kaki.


Toru segera mengangkat satu persatu batu tersebut, membantu rekannya itu untuk keluar dari sana di saat yang lain sudah mulai tak ada.


"Kita harus cepat!" kata Toru memapahnya untuk terus berjalan karena guncangannya semakin besar.


Bebatuan mulai jatuh lagi. Toru berusaha menghindar dengan susah payah membawa rekannya itu.


Brakkk!


Terdengar suara keras dari atasnya. Toru mendongak, melihat sebuah batu cukup besar mulai jatuh. Dengan cepat dirinya mendorong rekannya itu agar menjauh hingga hanya dirinya yang mulai tertimpa bebatuan tersebut.


"TORU! TORU!" teriak lelaki itu histeris. Karena guncangan semakin besar dan takut dirinya juga tertimpa, ia pun berjalan ke luar sambil menahan sakit di kaki.


Di sisi lain, Yujiro membuka kedua matanya dengan nafas terengah seakan tengah mengalami mimpi yang buruk. Ia menatap langit-langit sambil memikirkan sesuatu yang membuat hatinya tak enak.


"Apa kau merasa semakin sakit? Kau begitu berkeringat," kata Miho sambil mengelap keringat di kening Yujiro bahkan membantu membersihkan wajahnya.


Yujiro menepis tangan Miho. Ia berusaha bangun dengan termenung memikirkan sesuatu.


Yujiro menatap Miho yang terlihat cukup cemas memikirkan Toru. Mendadak tangannya bergerak menepuk perut sebanyak tiga kali yang membuat Miho menatapnya heran.


"Kau sakit perut?" tanya Miho.


Yujiro menepuk perutnya lagi lalu Miho memahami arti gerakan itu.


"Ah, kau lapar?" Miho sontak bangun lalu buru-buru pergi ke dapur untuk mengambil makan malam yang sudah dibuatnya.


"Aku akan menyuapimu," tawarnya seraya menyendoki makanan pada Yujiro yang mulai membuka mulut untuk menerima.


Miho tersenyum senang melihat Yujiro seakan mulai terbuka. Ia pun kembali menyuapi Yujiro tanpa bisa menghentikan senyuman berseri itu.


"Aku tadi menaiki kuda. Itu pertama kalinya bagiku naik kuda sendirian tanpa ayahku. Syukurnya, kuda itu penurut dan baik. Namanya Kane," oceh Miho yang didengar dengan seksama oleh Yujiro.


"Ah, kau tahu? Aku juga tadi melihat sebuah tempat yang indah. Aku akan mengajakmu ke sana nanti. Di sana juga ada banyak bunga," lanjutnya Miho dengan antusias. "Kau mau, kan?


...****************...


Miho benar-benar tak bisa tidur sampai pagi tiba karena Toru tak kunjung pulang. Hujan juga sudah mereda subuh tadi. Dengan raut khawatir, Miho keluar dari rumah untuk menunggu kedatangan ayahnya.


Namun bukan Toru, melainkan lelaki lain yang datang dengan langkah terpincang-pincang dan baju begitu kotor. Wajah lelaki itu terlihat sangat sedih menahan tangis.


"Kau teman kerja ayahku, kan?" tanya Miho membuat lelaki itu mulai mengangkat wajah untuk membalas tatapan.


"Toru... Dia..." Lidahnya mendadak kelu tak bisa menjelaskan.


"Kenapa dengan ayahku?" tanya Miho semakin cemas.


"Semalam gua tiba-tiba berguncang setelah kami menemukan bunga higanbana merah. Kami... berusaha keluar dari sana. Saat aku... Tertimpa batu, Toru segera membantuku. Dia... Dia mendorongku sehingga bebatuan itu menimpa tubuhnya. Maafkan aku..." Lelaki itu menunduk merasa bersalah.


Miho mengepalkan tangan dengan erat. Dia berusaha menahan tangis meski matanya sudah mulai berbinar dan memerah.


Kini, Toru sudah dimakamkan di dalam tanah. Miho menangis ketika semua orang mulai pergi, kecuali Yujiro yang berdiri di belakangnya.


Ini adalah kali kedua Yujiro melihat manusia menangis, selain ibunya. Dia kembali berpikir, apakah manusia hanya menangis di saat merasa kehilangan? Karena Yujiro juga merasakan hal yang sama ketika dirinya menyadari sudah kehilangan Naho.


Di tengah pikirannya itu, Yujiro teringat dengan perbincangannya bersama Toru pada malam itu...


"Miho akan mengomel padaku jika aku lama-lama berada di luar malam hari begini. Ayo kita masuk!" ajak Toru.


Yujiro menahan lengan Toru agar tak pergi. Lelaki itu mulai menoleh ketika Yujiro menuntun tangan Toru yang menyembunyikan darah bekas batuknya agar terangkat dan ditunjukkan padanya.


"Ah, ini." Toru mengepalkan tangan untuk menyembunyikan noda itu. "Jangan bilang Miho. Dia akan sangat khawatir jika tahu aku sedang sakit."


Yujiro hanya memandanginya tanpa berkata. Namun sebenarnya ia tengah berbincang lewat mata, mengatakan jika Toru bodoh karena harus menyembunyikan hal itu dari Miho.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan pergi hanya karena penyakit ini. Tapi sekarang aku merasa tenang jika meninggalkan Miho sendiri karena ada kau yang menjaganya. Setiap kali aku sedang bekerja, aku selalu memikirkannya dan ingin cepat pulang. Tapi sekarang, aku merasa begitu tenang. Jadi jika aku pergi terlebih dahulu, aku hanya ingin janjimu untuk terus menjaganya. Miho tak memiliki siapapun lagi selain dirimu. Aku juga tak bisa mempercayai siapa pun lagi untuk tetap bersamanya selain dirimu. Jadi... Kau bisa kan menjaga Miho-ku, Yujiro?"