Beautiful Monster

Beautiful Monster
10. Monster Indah



"Apa yang terjadi?" gumam Miho memandangi rumahnya yang sudah hangus terbakar sesampainya ia dan Yujiro di sana.


"Siapa yang sudah melakukan ini?" Miho bertanya-tanya sendiri. Dia masuk ke rumahnya yang sudah jadi reruntuhan, dibakar habis sampai tak ada yang tersisa.


Rumah yang menjadi kenangan antara dirinya dengan Toru kini lenyap, tak bisa ditinggali lagi. Miho terduduk lemas di sana, memikirkan beberapa barang peninggalan ayahnya yang sudah jadi abu dan gosong.


"Miho," panggil Yujiro yang membantu Miho agar berdiri. Dia mengangkat tubuhnya dengan mudah saat Miho masih terlihat syok dengan rumahnya yang dibakar oleh orang tak bertanggung jawab.


Yujiro membawa pergi Miho menjauh dari rumah itu. Dia menggendongnya sampai ke dekat sungai. Di sana Yujiro membantu Miho membersihkan tangannya yang menghitam bekas memegang beberapa barang yang gosong tadi.


"Yujiro, rumah kita..." lirih Miho berbinar hendak menangis. "Bagaimana ini?"


Yujiro mengeringkan tangan Miho yang sudah bersih. Hatinya juga merasa marah saat rumah mereka dibakar begitu saja seakan menjadi suatu ancaman bagi dirinya dan Miho.


Srakkk!


Suara itu membuat Yujiro berwaspada melindungi Miho di belakangnya. Terdengar langkah yang semakin mendekat, hingga Yujiro mendapati seekor anjing hitam melompat ke arahnya.


Yujiro langsung menggunakan tangannya untuk mencakar anjing hitam itu hingga terlempar dan terluka. Masalah tak sampai di sana. Mata Yujiro menangkap bayangan yang semakin mendekat ke arah mereka.


Sayap di punggung Yujiro pun kembali muncul. Ia menarik Miho ke dalam pelukan lalu terbang dengan cepat untuk pergi menghindari orang yang Yujiro pikir berbahaya dan sempat mengancamnya tadi.


Mereka pun mendarat di dekat tebing. Yujiro menurunkan tubuh Miho dengan hati-hati.


"Siapa tadi? Apa dia orang yang akan memburumu?" gumam Miho berpikir keras.


Yujiro juga merasakan hal yang sama, apalagi ia merasakan anjing itu hanya menargetkannya. Yujiro tahu karena ia pernah menjadi seekor anjing yang harus melakukan apapun yang diperintahkan majikan, termasuk menggigit atau menyerang manusia.


Malam hampir tiba.


Yujiro dan Miho terpaksa harus beristirahat dalam sebuah gua. Dengan susah payah, Miho menciptakan api dari dua batu yang terus digesek. Sementara Yujiro hanya mengamatinya dengan polos karena memang tak mengerti dengan hal yang sedang Miho kerjakan.


"Kau bisa mengeluarkan api? Semacam dari mulut atau dari tanganmu?" tanya Miho nyengir.


Yujiro memandangi kedua tangannya lalu memegang batu itu tanpa melakukan apapun lagi. Hal itu membuat Miho menghela nafas lelah, pasrah jika mereka bermalam tanpa ada penerangan saja.


"Kita harus mencari tempat tinggal lain besok," cetus Miho lantas berjalan keluar dari gua.


Yujiro berjalan mengekori dari belakang. Mereka duduk dekat tebing sambil memandangi langit yang mulai gelap. Pandangan Miho nyalang ke arah desa di depannya yang mulai menyalakan lampu di setiap rumah.


"Yujiro, kau pasti lapar sekarang. Karena rumah kita tidak ada, aku jadi tak bisa membuatkanmu makan malam," lontar Miho merasa bersalah.


Harusnya saat ini ia sudah memasak dan menyajikan makanan yang banyak lalu makan bersama Yujiro.


Tunggu!


"Apa yang membakar rumahku... Dia sudah menemukanmu?" pikir Miho lantas menoleh pada Yujiro yang duduk di sampingnya.


Dugaan itu membuat Miho semakin was-was. Mungkin saja si pemburu tahu jika Yujiro ada di sana. Tapi karena Yujiro dan Miho sedang keluar saat itu, orang tersebut membakar rumahnya sehingga Yujiro dan Miho tak akan memiliki tempat tinggal lagi.


"Yujiro, jika kau bertemu dengan seseorang yang mencurigakan, pergilah. Jangan pedulikan aku apapun yang terjadi. Kau mengerti, kan?" pinta Miho.


Yujiro hanya berkedip memandangi raut khawatir Miho. Tubuhnya pun bangkit untuk mengangkat Miho begitu saja.


"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Miho sambil berpegangan pada bahu Yujiro.


Lelaki itu berjalan masuk ke dalam gua yang begitu gelap karena tak memiliki pencahayaan apapun. Miho menengok ke sana kemari dan yang dia temui hanya warna hitam dari kegelapan disekitar.


Miho terkagum melihat tanduk tersebut yang menyala bak lampu hiasan. Ia menjulurkan sebelah tangannya untuk menyentuhnya..


"Cantik sekali," puji Miho lalu menatap mata biru bercahaya milik Yujiro.


Untuk seukuran disebut monster yang menakutkan, Miho malah merasa ini terlalu indah. Ia tak pernah melihat makhluk unik seperti Yujiro.


Setelah duduk di batu yang ada di sana sambil mempertahankan Miho di pangkuannya, sayap di punggung Yujiro juga mulai muncul.


Miho terkejut melihat sayap itu mengatup seakan tengah mendekap tubuh mereka berdua. Kini Miho yang awalnya merasa kedinginan menjadi cukup hangat apalagi Yujiro yang mulai memeluknya begitu dalam.


"Kau hangat," kata Miho membalas pelukan Yujiro lalu memejamkan mata untuk tidur.


Yujiro terdiam merasakan keheningan di sekitarnya. Ia menunduk melihat Miho sudah tertidur dalam pelukannya dengan begitu tenang.


Sayapnya itu semakin mengatup, memeluk tubuh mereka berdua sehingga Yujiro menyandarkan kepala pada pucuk kepala Miho.


Mereka berdua pun tidur dengan kehangatan tersebut.


...****************...


Kedua mata Miho mulai terbuka secara perlahan untuk menyesuaikan pencahayaan. Ia menoleh ke sana kemari saat menyadari dirinya terbaring di atas dedaunan kering yang ditimbun begitu banyak.


"Yujiro?" panggil Miho mencari lelaki itu.


Kedua kaki Miho pun melangkah keluar dari gua. Sinar matahari langsung menghangatkan tubuhnya. Ia mengedarkan pandangan, mencari Yujiro yang masih tak terlihat batang hidungnya.


Tiba-tiba sesuatu terbang dari bawah tebing, ke atas dengan sayap terlentang, lalu mendarat cukup keras di depan Miho.


"K-kau... Apa yang kau lakukan?" protes Miho yang terkejut.


Sayap Yujiro menyusut lalu hilang. Ia menjatuhkan beberapa buah-buahan ke depan Miho. Dilihatnya lelaki itu mengetuk perut tiga kali yang sudah Miho pahami jika arti di dalamnya adalah rasa lapar.


Setelah kenyang memakan buah-buahan itu, Miho dan Yujiro berinisiatif untuk pergi mencari tempat tinggal di desa atau kota. Mereka berdua berjalan menyusuri hutan sambil bergandengan tangan.


"Kenapa kalian berdua ada di hutan ini?" tanya seorang lelaki tua yang Miho dan Yujiro temui.


"Kakek sendiri... Kenapa ada di sini sendirian?" tanya Miho lalu menoleh ke arah lain untuk memastikan, apakah lelaki tua itu benar sendirian atau bersama orang lain.


"Aku sedang mengembara ke setiap hutan untuk mencari bunga higanbana biru," jawabnya.


"Higanbana? Bukankah itu bunga kematian?" Miho teringat akan kejadian ayahnya yang meninggal karena bencana atau kutukan dari bunga itu.


"Higanbana merah adalah simbol kematian. Higanbana biru adalah simbol dari kehidupan," jelas kakek itu. Dia mengalihkan tatapan pada Yujiro, mengamati dua mata birunya dengan seksama.


"Matamu... seperti warna higanbana itu," katanya dengan tangan sudah terhipnotis hendak memegang mata Yujiro.


"Kau mengembara sendiri untuk mencarinya?" tanya Miho yang berhasil menghentikan gerakan Kakek itu.


"Aku selalu bepergian sendiri untuk memburu bunga itu. Sudah berbagai hutan, gunung, bahkan lembah kulalui. Tapi tak ada satu pun yang kutemukan sampai aku setua ini," ungkapnya.


"Memangnya untuk apa kau mencari bunga itu?" tanya Miho penasaran.


"Untuk hidup," balasnya termenung sebentar. "Hal yang ditakuti manusia adalah kematian. Mereka selalu ingin hidup, karena setelah mati, mereka tak akan bisa melakukan apapun lagi. Bunga biru itu adalah salah satu harapan dari kehidupan yang manusia inginkan, termasuk aku."