Beautiful Monster

Beautiful Monster
Study Awalnya



"Bagaimana, Ignacia?" Rajendra menunggu.


Gadis di hadapannya tampak berpikir. Tidak ada salahnya untuk menerima tawaran Rajendra. Hitung-hitung sebagai kali pertama keduanya belajar dan berkencan. Tapi di sisi lain, Ignacia mungkin hanya akan menganggu kekasihnya mengerjakan tugas. Apalagi dirinya tidak yakin bisa membantu Rajendra yang tahu segalanya.


"Berjanjilah untuk menemaniku, ya?"


"Iya aku akan berjanji. Aku tidak akan membuat kamu merasa diabaikan." Laki-laki ini mengangguk cepat. Bahkan senyumannya mengembang sempurna hanya karena rencana kencan kecil keduanya.


Ignacia tersenyum melihat respon Rajendra yang tampak lucu. Meksipun ada sesuatu yang menganggu perasannya. Dia lupa jika Rajendra sebaiknya mendapatkan hari yang baik untuk kencan ini. Ignacia lupa jika dirinya belum belajar soal ini.


"Semoga aku tidak menganggunya," batin Ignacia.


...*****...


Sesampainya di rumah, Ignacia melihat adik ketiganya tengah duduk di teras dengan ponsel sang ayah. Kelihatanya dia tengah menunggu sesuatu atau hanya iseng bermain game disana. Anak itu tidak seharusnya duduk diluar sendirian.


"Kenapa duduk disini, Arvin?" Ignacia bertanya padanya.


"Aku ingin pergi membeli jajan. Kata mama aku harus ditemani kakak," jawab anak itu polos. Dia mengeluarkan selembar uang dari dalam saku dsn menyodorkan pada yang lebih tua. "Tolong antar aku," pintahnya.


"Letakkan ponselnya di dalam sebelum pergi. Mama tidak akan senang jika ponselnya dibawa keluar." Arvin langsung menurut. Melangkah masuk ke dalam rumah dan meletakkan ponsel yang sudah dimatikan itu di meja ruang tamu.


...*****...


"Jam berapa kalian akan berangkat?" Rajendra bertanya. Ingin mengetahui dengan pasti kapan keluarganya akan meninggalkan rumah. Mumpung sedang berdua dengan sang ibu di dapur. Rajendra kebetulan diminta untuk membersihkan piring setelah makan malam.


"Kamu ada rencana di akhir pekan?" Bukannya menjawab, Ibunya malah balik bertanya.


"Iya, ada. Kapan kalian akan kembali?"


"Kamu akan berkencan dengan Ignacia?" Pertanyaan ibunya membuat Rajendra bereaksi. Meskipun tidak menatap, tapi aura ibunya tampak berbeda. Sejak tadi ibunya sibuk menata beberapa bumbu di kitchen set. Memunggungi anak ketiganya yang terus menatap.


...*****...


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Mau kujemput saja?


| Akan kulakukan jika kamu setuju


^^^Tidak, aku akan datang sendiri |^^^


^^^Tuan rumah tidak menjemput tamunya |^^^


| Kenapa tidak?


| Kamu bukan tamu biasa


^^^Aku akan segera berangkat |^^^


^^^Sampai bertemu di rumahmu |^^^


Ignacia meletakkan ponselnya di atas nakas. Buru-buru mengambil kotak sepatu dari lemari dan memakainya di teras. Gadis ini terlalu gugup sampai lupa untuk membawa serta ponsel juga tas berisi pekerjaan rumahnya keluar. Alhasil Ignacia harus melepas sepatunya kembali dan mengambilnya.


"Kakak gugup padahal sudah sering bertemu," ejek Athira yang sudah menunggu di atas motor kakaknya. Menatap dengan bosan kakaknya yang tampak seperti orang yang akan melakukan presentasi sangat penting di depan ribuan orang. Padahal hanya bertemu dengan kekasihnya saja.


"Kali ini aku yang menjadi tamunya. Kau tahu bagaimana gugupnya aku jika bertamu ke rumah orang? Aku takut membuat kesan yang buruk. Juga... takut menganggunya mengerjakan tugas sekolah."


Ignacia berhenti mengingat tali sepatu kaki sebelah kiri, menatap adiknya yang ada di atas sepeda motor. "Kau tidak akan suka jika tampak seperti pengganggu di dekat orang yang kau sukai, Athira."


Yang lebih muda mengangguk, mengalihkan pandangannya pada rumah-rumah di depan yang tampak sepi. "Kakak terlalu banyak khawatir. Kak Rajendra ingin kakak merasa nyaman saat bersamanya. Bersikap seperti biasa saja. Toh Kak Rajendra yang akan mengurus semuanya nanti."


"Iya, kau benar. Jadi kau akan membawa sepeda motorku ke rumah temanmu. Apa aku bisa mempercayakan motor milikku satu-satunya padamu?" Tatapan Ignacia kini berubah.


Hari ini Athira ingin menghabiskan waktu di rumah temannya. Mengantarkan kakaknya ke rumah sang kakak ipar dahulu kemudian membawanya pergi. Sejujurnya Athira tidak ingin melakukannya. Tapi Ignacia akan berputar-putar jika mengantarkan dia lebih dahulu.


"Percaya saja padaku, Kak."


...*****...


"Jika ingin pulang, hubungi saja aku. Tapi lebih baik habiskan saja waktu yang banyak dengan Kak Rajendra. Aku mungkin akan malas untuk pulang jika sudah di rumah temanku."


Ignacia menepuk bahu adiknya sekali, "pergi saja sesukamu. Yang penting sepeda motorku baik-baik saja. Kau mengerti?" Keduanya sudah ada di depan rumah Rajendra. Si pemilik rumah pun sudah menyambut keduanya sebelum akhirnya yang lebih muda pergi kembali ke jalan utama.


Seperti yang sudah diduga. Tidak ada siapapun kecuali keduanya di dalam rumah. Rasanya canggung padahal biasanya juga Rajendra datang ke rumah Ignacia ketika kosong. Tapi rasa canggung itu tidak berlangsung lama karena Rajendra tahu bagaimana cara untuk mencairkannya kembali. Tentu butuh usaha keras dan rasa percaya diri untuk melakukannya.


Berakhirlah keduanya di ruang tamu. Mengerjakan tugas masing-masing dalam diam.


Ignacia sedang tidak ingin mengerjakan tugas, jadinya dia hanya membuka bukunya dan menggunakannya sebagai alas meletakkan kepala. Tatapannya dia tujukan pada Rajendra yang sibuk mengedit video di laptop. Laki-laki itu tentu menyadari apa yang dilakukan kekasihnya dan memilih diam.


"Kenapa kamu harus menatapku seperti itu?" Rajendra bertanya dengan suara sok cool. Padahal nyatanya dia sedang menahan rasa gugup. "Kamu tidak mengerjakan tugasnya, Ignacia? Apa kamu mungkin ingin camilan lagi?"


"Aku hanya ingin menatapmu. Jadi begini sudut pandang orang-orang di kelas jika melihatmu mengerjakan sesuatu, Rajendra? Mereka beruntung karena aku jarang sekali melihat kamu seperti ini." Ignacia masih melayangkan tatapannya pada Rajendra. Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta.


"Kamu ini bicara apa? Jika ada kamu, mungkin aku akan lebih memilih untuk berkencan daripada mengerjakan tugas. Untuk apa aku mengabaikan kamu begitu lama? Lagipula tugas itu membosankan." Ucapan Rajendra membuat Ignacia terkekeh dan mengangkat kepalanya dari atas meja.


"Kenapa kamu tampak gugup?" Tanya Ignacia polos.


"Karena kamu menatapku sejak tadi." Rajendra menghentikan aktifitasnya sebentar. Menatap manik mata coklat yang selalu membuatnya jatuh cinta. "Apa yang kamu inginkan hm? Maaf sudah membuatmu bosan, Ignacia."


Si gadis menggeleng, "aku tidak keberatan kita melakukan apa saja. Aku tahu tugas sekarang sedang menjadi trend dan harus segera diselesaikan. Jangan merasa terbebani dan kerjakan saja tugasmu, Rajendra."


"Bagaimana jika kita makan saja?"


"Tapi ini masih belum siang."


"Kalau begitu apa yang ingin kamu lakukan?"


"Kenapa kamu harus menatapku seperti itu?" Rajendra tidak bisa fokus jika terus ditatap, "aku mengartikannya bahwa kamu ingin sesuatu dariku. Katakan saja apa yang kamu inginkan dan aku akan kabulkan. Apa yang kamu inginkan hm?" Rajendra menggeser laptopnya, melakukan hal yang sama seperti Ignacia.


"Aku hanya ingin menatapmu. Bisakah kau kabulkan itu?"


"Mau kuambilkan bantal saja? Meletakkan kepala di meja yang keras itu tidak nyaman."


"Rajendra, sudah kerjakan saja. Aku hanya akan diam dan tidak menganggumu."


Hanya bagi Ignacia saja atau Rajendra memang tengah berusaha keras agar dia merasa nyaman? Padahal Ignacia tidak melakukan apapun dan hanya ingin menatap kekasihnya. Tapi tatapan itu masih saja diartikan sebagai hal yang lain sejak tadi.


Hening.


Rajendra mengerjakan tugasnya secepat mungkin agar bisa segera bersantai sementara Ignacia masih terus menatapnya. Biarkan tugasnya masih terbengkalai. Toh hanya kurang sedikit saja. Semalam dia sudah mengerjakan tugasnya sebagian.


"Ignacia, gunakan ini." Sebuah bantal sofa disodorkan oleh Rajendra pada kekasihnya. Mata manisnya masih terbuka dan menatap sejak tadi. "Kamu bisa pusing jika terus berada di posisi itu. Pakai saja."


Ignacia tidak menolak. Memakai bantal sambil menatap pemandangan yang menyenangkan itu dua hal yang disukainya saat ini. Kapan lagi bisa melihat Rajendra begitu sibuk demi kenyamanan Ignacia yang sedari tadi hanya diam. Yang sedari tadi tidak menuntut apapun.


Sepuluh menit berlalu. Tidak ada pembicaraan apapun.


"Ignacia, kamu mau minuman dingin lagi? Akan aku-" ucapan Rajendra terhenti saat melihat apa yang dilakukan kekasihnya. Senyuman muncul di sudut bibir Rajendra. Tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah damai Ignacia. Wajah yang terlihat sangat cantik baginya.


"Kamu bosan hingga tertidur?" Rajendra menghentikan tangannya diudara, rasanya tidak mampu menariknya kembali.


"Maaf karena sudah membuat kamu begitu tidak nyaman selama ini, Ignacia. Aku terlalu sibuk dan tidak bisa membagi waktuku dengan baik. Padahal dahulu sebelum menjadi ketua MPK, aku bilang jika keahlianku adalah bisa mengatur waktu untuk organisasi. Tapi sepertinya aku terlalu melebih-lebihkan. Aku minta maaf."


Ignacia tentu tidak mendengar pengakuan Rajendra. Gadis itu sudah terlanjur masuk ke dunianya sendiri.


"Bahkan ketika kamu bersamaku, aku masih saja gagal menjagamu dengan baik. Aku membuatmu bosan dan akhirnya tertidur seperti ini." Rajendra meletakkan kepalanya di posisi yang sama dengan Ignacia. Menatap mata yang sudah tidak lagi menatapnya. "Kamu bermimpi apa?"


"Padahal aku tadinya mengajakmu study date. Tapi kamu justru tertidur tanpa menambahkan jawaban apapun ke tugasmu. Hari ini gagal ya?" Rajendra memonolog. Kini tangannya sudah diambil kembali. Disimpan di bawah meja.


"Tapi masih ada rencana lain."


...*****...


Ignacia terbangun dari tidur nyenyak. Ada aroma enak yang menyeruak masuk ke dalam indra penciuman. Sepertinya ada yang sedang memasak. Kedua matanya terbuka, tidak menemukan sosok Rajendra. Laptop laki-laki itu pun sudah ditutup seolah sudah selesai mengerjakan tugas.


Matanya kini mencari-cari jam dinding, mencari tahu sudah berapa lama dirinya terlelap. Oh sudah hampir 1 jam. Tentu saja Rajendra sudah selesai. Lalu aroma enak ini darimana datangnya? Rajendra memasak sesuatu di dapur?


Ignacia menggosok-gosok matanya yang masih mengantuk. "Apa boleh masuk ke dapur?" Ignacia bertanya pada dirinya sendiri. Si gadis meletakkan bantal sofanya ke atas sofa, mencoba bangkit dan memanggil kekasihnya yang entah pergi kemana.


"Rajendra, kamu dimana?" Rumah yang terlalu sepi ini membuat nada bicara biasa saja terdengar keras.


"Aku disini. Kemarilah, Ignacia," suara dari dapur menyahut. Ignacia ragu untuk masuk lebih dalam, tapi ruang tamu yang sepi juga membuatnya takut. Rasanya sangat asing berada disini. Ditambah dengan fakta bahwa hanya ada keduanya di rumah. Rasanya hanya asing dan canggung.


"Kamu baru saja bangun? Aku sudah menyiapkan makan siang. Aku memasaknya sendiri." Rajendra terdengar sangat percaya diri di kalimat terakhirnya. Dirinya sibuk membersihkan alat masak kotor ketika Ignacia datang. Jadinya dia sok sibuk begitu di hadapan kekasihnya yang masih mengantuk.


"Kamu memasaknya sejak tadi? Kenapa tidak membangunkan aku? Aku tidur lama sekali."


"Ingin aku bangunkan, tapi kamu tampak lelah. Kamu membaca banyak novel semalam?" Rajendra meletakkan alat masak yang sudah bersih ke tempatnya, "kelihatannya ada banyak yang kamu lakukan semalam."


Ignacia menarik kursi, duduk dan memperhatikan Rajendra tanpa merespon. Rasa kantuknya sudah hilang setelah menatap kekasihnya. Dia bahkan hampir tidak sadar dengan makanan yang sudah disusun rapi di atas meja.


"Ayo kita makan," mulai Rajendra dengan senyuman. Rencana keduanya mungkin akan berhasil.


...*****...


"Kenapa tidak bawa Ignacia ke rumah saja? Toh kalian tidak akan macam-macam ketika hanya berdua di rumah. Buatkan dia makan siang jika ingin berkencan di rumah." Sang ibu balik badan, menatap anak ketiganya.


"Mau ibu tuliskan cara membuat makanan yang enak? Sebutkan saja nama makanannya." Alis sang ibu di naik turunkan, menggoda Rajendra yang kelihatan salah tingkah. Anaknya tengah jatuh cinta, jadinya perlu dibantu sedikit.


"Jika praktek sekarang apa tidak bisa? Aku takut membuat kesalahan saat dia datang."


"Ya baiklah ayo kita lakukan. Apa makanan yang ingin kamu buatkan untuknya?"


...*****...


"Aku ingin membantu," Ignacia berjalan dengan langkah kecil mendekati Rajendra, "aku juga bisa mencuci piringnya. Masa aku hanya makan dan membiarkan kamu mencuci piringnya?"


"Kenapa tidak? Bagaimana jika bantu aku mengecas laptop di ruang tamu? Kelihatannya aku meninggalkannya ketika baterainya sudah habis." Ignacia tidak protes. Dia langsung kembali ke rumah tamu dan melakukan apa yang diminta.


Suara sepeda motor terdengar dari depan rumah. Bukan dari arah halaman rumah, tapi dari rumah yang ada di depan. Iseng saja Ignacia mendekati jendela, melihat siapa yang datang. Oh rupanya seseorang yang dikenal Ignacia.


Ignacia tidak lagi tertarik. Selesai mengecas laptop Rajendra, dia kembali ke dapur. Menemukan Rajendra tengah mengeringkan tangan. "Terima kasih sudah membantuku. Apa kamu mau es krim? Aku membelinya sebelum kamu datang."


"Aku melihat Feby di depan," sela Ignacia ketika Rajendra akan membuka kulkas. Rajendra tidak ingin merespon. Disodorkannya es krim rasa vanila yang biasanya dimakan Ignacia dan membawa gadisnya kembali ke ruang tamu.


Ignacia mengekor di belakang.


Baru saja keduanya hampir sampai di ruang tamu. Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu. "Kelihatannya kamu punya tamu, Rajendra," bisik Ignacia dari belakang.


Rajendra tidak ingat sedang menunggu siapapun.


Ignacia masih saja mengekor ketika Rajendra akan membuka pintu. Dengan es krim masing-masing, keduanya berjalan ke arah pintu. Membukanya perlahan dan menemukan- teman-teman yang sekelas dengan Rajendra.


Ada tiga orang.


Ignacia mengintip dari atas bahu Rajendra yang tinggi. Menampakkan diri seperti anak ayam. Keberadaan si gadis membuat ketiga teman Rajendra kebingungan dan saling bertatapan. Memberikan kode aneh.


"Apa yang kalian lakukan berdua?" Tanya seorang perempuan.


Oh ya! Rajendra lupa jika teman-temannya akan mengambil kertas Manila untuk tugas kelompok!


"Kelihatannya kami datang di waktu yang salah," sahut teman perempuan lainnya. Dia tersenyum aneh pada kedua temannya,