Beautiful Monster

Beautiful Monster
Foto Bersama



Ignacia tertegun sebentar, memproses ucapan adiknya. Athira masih harus memberikan kode lain agar kakaknya cepat mengerti. Senyuman Ignacia langsung mengembang, akhirnya kepalanya berhasil menerima pesan adiknya. Ponsel yang ada di genggaman langsung diaktifkan, mencari-cari nomor seseorang untuk segera dihubungi.


"Kamu dimana?" Ignacia langsung bertanya.


"Kapan aku bisa bertemu denganmu? Kelihatannya kamu sedang sibuk." Mendengar itu Ignacia pun mengedarkan pandangan, mencari-cari sosok yang mirip dengan orang di ujung panggilan. Radarnya bisa merasakan kehangatan, dikiranya tadi karena semua orang yang Ignacia kenal berada di dekatnya. Rupanya ini radar yang mengikat dirinya dengan Rajendra.


Di bawah sebuah pohon yang jauh disana, Ignacia bisa melihat seorang laki-laki yang tampak begitu familier. Ia tidak mungkin salah mengenali kekasihnya sendiri. "Sejak kapan kamu berdiri disana? Apa kamu ingin aku yang datang menemui kamu?" Ignacia melangkah menjauhi kerumunan orang di sekitar, akan menemui sang pujaan hati.


Laki-laki disana menggeleng, "Biar aku yang menghampiri kamu. Kamu bisa aku temui sekarang kan?"


Ignacia mengangguk, dirinya tetap tersenyum meksipun tahu Rajendra tak akan bisa melihatnya dengan jelas. Dunia Ignacia teralihkan sementara. Langkah berani yang diambil Rajendra meluluhkan hatinya, menghentikan waktu, juga membekukan tubuh. Sekarang sudah waktunya bagi Ignacia mengenalkan laki-laki baik yang ditanyakan ayahnya kan?


Apa tidak masalah bagi Rajendra untuk muncul di depan orang tua kedua temannya juga? Jika laki-laki itu begitu yakin dan berani, pasti tidak akan keberatan dengan sekitar kan? Rajendra sudah hampir sampai, Ignacia hanya terpaku dengan wajah yang sangat ia rindukan. Padahal bulan lalu keduanya sudah bertemu dan menghabiskan waktu bersama.


"Kamu datang." Ignacia lebih bersyukur lagi.


Rajendra tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah buket bunga ia keluarkan dari belakang tubuhnya. Buket bunga berwarna maroon, berisi bunga, boneka beruang memakai toga, dan ... boneka lain berbentuk es krim vanila di tangan si beruang. "Selamat untuk wisudamu, Ignacia. Kamu sangat hebat, aku bangga padamu." Rajendra tersenyum, senang melihat Ignacia yang menerima buketnya sepenuh hati.


Selain kehangatan yang Ignacia berikan kala mendapatkan buket bunga sederhana dari Rajendra, laki-laki ini juga menangkap sesuatu yang lebih menarik perhatiannya. Bagaimana bisa gadisnya bisa secantik ini dalam riasan wisudanya? Tidak ada pria lain yang jatuh cinta pada gadisnya selain dia kan?


"Terima kasih, buketnya lucu sekali. Bagaimana bisa kamu menemukan es krim ini?" Ignacia tidak bis mengendalikan rasa bahagianya. "Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku, Rajendra. Ayo aku kenalkan pada orang tuaku."


Mereka berjalan beriringan, mendekati ayah dan mama Ignacia yang tengah mengobrol dengan para orang tua. Ignacia harus mengambil perhatian keduanya agar bisa melancarkan rencana. Nesya sudah mengamati gerak-gerik Ignacia juga kekasihnya itu berkat Athira. Danita juga ikut mengendalikan kerumunan agar tidak berfokus pada dua orang disana.


Nesya memanggil orang tua juga kakaknya, pura-pura sibuk melakukan sesuatu. Begitu pula dengan Danita, mengajak ibunya dan Bahri berfoto. Athira juga berhasil membawa kedua adiknya membantu teman baru kakaknya mengambil foto. Jika mereka tidak tahu apa rencana Ignacia, sebaiknya apa yang Athira katakan untuk memberikan jarak berhasil.


Pandangan ayah Ignacia tampak berbeda kala anak gadisnya berdiri di samping seorang pria yang tidak ia kenal. Di samping itu mama Ignacia tersenyum bahagia, akhirnya calon menantunya berhasil muncul di hadapan suaminya. Langsung saja ia gandeng anak gadisnya lalu bertanya siapa laki-laki yang bersamanya ini. Rajendra bahkan membawakan buket bunga lucu untuk Ignacia. Manis sekali.


"Ayah, perkenalkan ini laki-laki yang sangat baik padaku." Ignacia tidak akan mengatakan apa tepatnya hubungan dirinya dengan Rajendra. Karena begitu ayahnya menyebut kekasih sebelumnya. Tidak ada keraguan baik dari dirinya dan Rajendra. Sebaik mungkin kekasihnya ini berpenampilan layak, siap dengan segala respon orang tua kekasihnya.


Rajendra mengulurkan tangan niat berjabat tangan, memperkenalkan diri sesopan yang ia bisa, mencium punggung tangan calon mertua juga. Ignacia menunggu-nunggu senyuman tulus dari wajah ayahnya. Ia sangat mengetahui senyuman ayahnya setelah kebersamaan mereka setiap dirinya pulang dari dunia kampus. Senyuman dibuat-buat yang diberikan ayahnya pada Rajendra.


"Halo Om, saya Rajendra."


Beberapa detik setelahnya barulah Ignacia menemukan sedikit ketulusan dari ayahnya. Tangan ayahnya dengan Rajendra sudah terpisah, kini giliran mamanya yang diajak berkenalan. Rasanya seperti kembali di masa lalu ketika Ignacia susah payah mengenalkan kekasihnya pada sang mama. Respon yang mama Ignacia berikan juga sama, senyuman bahagia.


"Senang bertemu denganmu, Rajendra. Kamu datang sendirian?" Mama Ignacia menepuk bahu laki-laki tinggi di hadapannya begitu perkenalan selesai. Dikiranya sikap positif dan seolah tidak tahu apa-apa ini bisa menyelamatkan anaknya dari sang ayah. "Bagaimana kamu bisa sampai disini? Tidak sulit menemukan bus yang tepat kan?"


Rajendra menjawab sebisanya, tidak lupa tetap menjaga hati agar tidak gentar. Tatapan ayah kekasihnya terlalu menakutkan hingga ia berharap mama Ignacia terus mengajaknya bicara. Si sampingnya Ignacia tengah mendapatkan beberapa pertanyaan kecil dari ayahnya. Yang pertama dan paling utama, apa laki-laki ini yang menjaga Ignacia selama ini?


"Mama, ayah, bagaimana jika kita semua berfoto? Kak Nesya bilang ingin mendokumentasikan kita semua."


Athira muncul di saat yang sangat tepat. Ignacia sudah memberikan jawaban yang ayahnya butuhkan, anggukan kecil yang berarti hanya ada satu jawaban. Ignacia langsung mengambil tempat di samping sang mama juga Rajendra. Biarkan yang baru selesai di wisuda ini berpencar ke tempat yang diinginkan.


Kakak laki-laki Nesya memberikan sedikit ruang agar si adik dapat langsung menempati. Di sebelah mereka ada Danita yang merangkul ibunya juga Bahri. Lalu di samping mereka ada Athira yang berpose kaku seperti ayahnya, mengeluarkan pose jempol yang disukai para bapak-bapak jaman ini. Di depan mereka ada Arvin juga Rafka.


Diam-diam Ignacia menggandeng tangan Rajendra, tersenyum sangat bahagia ke arah kamera yang sudah dipasang Nesya pada tripod miliknya. Buru-buru gadis tanpa kacamata itu berlari ke sebelah kakaknya. Semua orang yang ada di dalam foto menahan senyuman dan pose kurang lebih empat detik demi hasil foto yang sempurna.


"Kamu berani sekali," bisik Ignacia pada Rajendra, "Terima kasih sudah datang dan mau berkenalan dengan orang tuaku."


Nesya akan mengirimkan hasil fotonya pada kedua temannya sesampainya di rumah. Hari belum berakhir, acara keluarga Ignacia bisa dilanjutkan. Rajendra pamit undur diri, ada urusan yang harus ia kerjakan. Laki-laki tampan itu berlalu pergi dengan senyuman, tatapan terakhirnya ia tujuan untuk sang kekasih layaknya kode rahasia.


"Tunggu sebentar," Ignacia berlari ke arah kekasihnya, "Apa kamu akan langsung pulang? Kamu tidak punya urusan lain disini?" Tatapan gadis ini tampak tidak enak. Jauh-jauh Rajendra kemari hanya untuk bertemu dengannya. Meksipun itu tandanya Rajendra sungguh-sungguh menyukainya.


Seperti yang sudah Ignacia duga, laki-laki ini mengangguk. Rajendra akan langsung pergi ke stasiun sekarang. Ignacia masih merasa tidak enak padahal Rajendra jelas menunjukkan betapa tulusnya dia. "Kamu pasti lelah, setalah ini istirahat saja di mobil. Acaranya berlangsung cukup lama tadi. Aku pamit, terima kasih sudah mengundangku. Sampai jumpa lagi."


Ignacia tidak merasakan canggung yang seolah berputar di sekitar ayah dan Athira. Mama dan kedua adiknya baik-baik saja, menikmati acara di udara yang sejuk. Sebagai pengusir hawa buruk, ayah Ignacia memutuskan berbicara lebih dahulu. Mengajak keluarganya makan siang sesuai rencana.


Sebelum pergi Ignacia izin sebentar untuk melepas toganya. Tidak mungkin dia akan makan masih dengan memakai baju wisuda. Jika untuk riasannya tidak masalah masih menempel. Riasannya terlihat natural dan ia ingin tetap terlihat cantik lebih lama. Rasanya sayang untuk dibersihkan sekarang. Lagipula dandanan ini membuat Rajendra tersenyum semakin lebar tadi.


Ignacia tidak mungkin gagal menyadari perubahan air wajah kekasihnya setelah mendapatkan buket tadi. Apalagi tadi sinar matahari yang tidak begitu panas menyinari wajahnya yang tampan, membuat seluruh sudut wajahnya tertangkap sempurna oleh Ignacia. Andai matanya bisa menyimpan foto, pasti sudah ribuan foto dengan sudut yang sama sudah Ignacia simpan.


Di perjalanan, Ignacia mendapatkan pesan dari teman-teman sedari SMP-nya. Mereka akan membuat semacam reuni kecil akhir pekan ini. Beruntung sekali tidak bertepatan dengan hari wisuda Ignacia. Lagi-lagi Rananta yang akan menyiapkan semuanya. Dia pasti sudah memilih tempat dan menyewakannya seperti biasa.


Tepat sebelum turun dari mobil, Ignacia sempat melirik buket bunga yang ia letakkan di kursi belakang bersama dengan buket lain yang ia dapatkan dari orang tuanya. Pasti ada alasan kenapa Ignacia mendapatkan buket bunga tiruan dari Rajendra hari ini. Terima kasih, berkat dia bunga wisuda ini bisa Ignacia simpan hingga bertahun-tahun lamanya.


Di tengah-tengah makan, keluarga ini membuat perbincangan hangat seperti acara keluarga pada umumnya. Ayah dan mama bertanya kemana kakak beradik yang diminta menunggu di mobil pergi sembari menunggu kakak sulung sedang diwisuda. Mulailah Rafka menceritakan semuanya, bahkan menyinggung soal Arvin yang berlari di zebra cross.


Mendengar itu Arvin reflek memberikan pukulan pada sang kakak karena bisa membuatnya terancam. Mana dan ayahnya pasti akan marah juga jika melihat reaksi Rafka juga Athira memarahinya tadi. Rafka bangkit dari duduknya, menjauhi adiknya masih sibuk bercerita.


Mama dan ayah mendengarkan dengan seksama, aura yang Rafka bawa membuat keduanya agak panik. Jika jalanan tengah ramai dan ada banyak orang yang juga menyebrang, pasti Athira merasa sangat khawatir. Mereka tidak bisa menyalahkan anak perempuannya karena bukan Athira yang dirasa lalai. Arvin yang terlalu bahagia hingga ingin cepat-cepat pergi.


Arvin juga ikut bangkit, jadilah acara kejar-kejaran hingga Athira harus turun tangan. Restoran ini kebetulan tengah sepi karena sudah lewat jam makan siang. Ya meksipun sepi, mereka berdua tidak boleh bertengkar. Apalagi disini ada Ignacia yang lelah terus duduk di prosesi tadi. Ignacia hanya menunggu Athira mengeluarkan kekuatan tersembunyinya untuk menghentikan Rafka dan Arvin.


Ignacia berpindah duduk di tengah-tengah keduanya agar tidak kembali bertengkar. Ada cuplikan lain yang disampaikan Rafka berhubungan dengan tragedi Arvin tadi. Ia menyebutkan soal Rajendra yang muncul, laki-laki yang mampu menghentikan adiknya. Ignacia yang awalnya tidak berniat mendengarkan jadi tampak tertarik. Laki-laki baiknya membuat ayahnya merasa percaya setelah cerita ini kan?


Rafka hanya bilang jika yang menolong itu kakak laki-laki yang dibawa Ignacia tadi, tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengenal Rajendra. Athira tidak ikut bicara, ikut menunggu reaksi kedua orang tuanya bersama sang kakak. Selain Arvin tidak terluka, kakaknya juga bisa menambah nilai atas kekasihnya yang sudah dikenalkan.


Mama Ignacia menasihati anak laki-laki terakhirnya agar tidak melakukan hal berbahaya lagi. "Beruntung ada Rajendra, jadi kamu tidak terluka. Lain kali jangan diulangi lagi." Arvin menunduk takut padahal mamanya tidak berniat menyudutkan. Ignacia mengelus rambut adiknya, mencegah adiknya untuk menangis di tempat umum.


Ayah tidak mengatakan apapun yang berhubungan dengan Rajendra seperti mama. Hanya memberi nasihat dan memberitahu apa yang seharusnya dilakukan Arvin ketika berada di dekat jalan raya. Arvin masih tidak menangis, kepalanya mulai mengangguk-angguk mengerti. Diam-diam punya rencana untuk membuat Rafka menyesal.


Makanan sudah hampir sampai di meja, perhatian semua orang di meja tertuju pada nampan yang mendekat. Kesempatan itu Arvin gunakan untuk menyerang Rafka di sisi lain meja. Ia turun dan memukul Rafka untuk terakhir kali. Ignacia kali ini yang melerai, membuat Rafka yang juga kesal mampu berdamai dengan adiknya.


Arvin marah karena takut, Rafka marah karena merasa kesal ketika terus diserang Arvin padahal semua cerita yang ia sampaikan benar adanya. Athira sudah lelah melihat tingkah kekanak-kanakan adik-adiknya hingga hampir membentak. Melihat mereka kejar-kejaran tadi saja sudah membuat kesal, apalagi pertengkaran lain ini.


Sulit memposisikan diri jika adik-adiknya tengah memanas begini. Yang Ignacia tahu hanya mereka sedang lelah, jadi agak sensitif. Mama dan ayahnya kini tengah mencoba menjauhkan kedua anak laki-lakinya satu sama lain agar bisa menikmati makan siang yang enak di atas meja. Sudah dibiarkan tadi mereka malah semakin liar saja.


Layar ponsel Ignacia menyala sekali, disusul dengan banyak notifikasi yang masuk dari seseorang. Bisa ia tebak jika semua itu pasti kiriman dari Nesya. Tangannya masih bersih untuk bisa membuka layar ponsel, melihat bagaimana hasilnya. Semua foto yang terkirim terunduh otomatis, langsung mengarah ke galeri.


Dari banyaknya foto Ignacia bersama teman-teman dan foto bersama di akhir, ada foto yang tidak diketahui Ignacia ada. Foto ketika Rajendra datang dengan buket bunga di belakang tubuh, memberikannya pada Ignacia, dan momen ketika mereka saling bertatapan. Perasaan momen itu hanya berjadi kurang dari satu menit, foto ini terasa diluar dugaan.


"Ignacia, ayo makan makananmu," Ingat ayah si gadis.


"Sebentar, Nesya mengirim foto-foto tadi padaku."