Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kenapa Bertanya?



Semuanya fokus pada film tanpa adanya distraksi dari sesuatu apapun. Ponsel sebagian besar sudah dimatikan, dibisukan agar tidak menganggu. Ya kecuali milik Ignacia. Tidak bersuara, hanya nanti ketika ada pesan masuk, layar ponselnya akan menyala sebagai tanda.


Suasana sekitar hening, hanya suara dari dalam film yang terdengar. Volumenya tirai begitu besar hingga bisa terdengar oleh tetangga yang lain. Yang penting semua yang ada di ruangan ini bisa mendengarnya saja. Ignacia tidak akan melupakan momen ketika dirinya disambut dengan menonton bersama ini. Tifak akan pernah.


Meskipun begitu, Ignacia tetap beberapa kali melirik ke arah ponselnya. Jika saja ada pesan masuk tanpa ia sadari. Apa yang sedang dilakukan laki-lakinya disana? Sesibuk itu dia sampai tidak bisa melihat pesan Ignacia? Semoga Rajendra baik-baik saja. Semoga dia tidak kelelahan atau apapun.


Di bagian awal film, ditunjukkan seorang monster laut kecil yang ditugaskan untuk mengembala ikan. Dia selalu penasaran dengan kehidupan manusia dan berakhir dengan menjadi teman seorang monster laut lain yang begitu berani hingga keduanya bisa berada di dunia manusia. Bahkan mereka berjalan-jalan dalam wujud manusia tanpa diketahui siapapun.


Filmnya lucu menurut Ignacia. Tentang persahabatan antara anak laki-laki yang menyenangkan. Penuh antusias dan tawa. Ignacia merasa jika film ini juga sama bagusnya untuk kedua adik laki-lakinya. Dengan begitu mereka akan jadi seberani monster kecil disana dan memiliki teman yang baik. Tidak salah ayahnya memilih film ini.


Seperti yang dikira Ignacia ketika popcorn dibagikan, Arvin dan Rafka sudah melihat sekeliling mencari camilan lain karena milik mereka sudah habis. Athira memeringatkan mereka agar tidak menganggu popcorn miliknya lewat tatapan mata. Kemudian sang mama mengoper miliknya untuk kedua kakak adik di depan Athira dan kakaknya. Biar mereka yang habiskan. Mamanya sudah makan terlalu banyak katanya.


Acara menonton berlangsung hingga jam tidur dua anak paling kecil terlewat. Alhasil mereka tertidur di atas bean bag sofa empuk. Berhubung mereka tertidur sementara film pertama selesai, sekarang waktunya menonton film yang lebih serius untuk dipahami. Athira yang merekomendasikan film ini. Ingin sekali ia menonton dengan kakaknya.


Dua jam berlalu lagi, kini tanpa camilan karena sudah habis. Keempat anggota keluarga yang tersisa perlahan mulai tertidur di tengah-tengah film kedua. Mama yang pertama, lalu disusul oleh Athira. Dia yang bersemangat ia pula yang tertidur sebelum filmnya berakhir.


Tersisa Ignacia dan sang ayah tanpa ada yang menyadari. Begitu film selesai, barulah keduanya mengalihkan pandangan dari film ke sekitar. Ignacia diminta untuk mengambil bantal dari kamar sementara sang ayah membereskan proyektor dan layar putih di dinding. Setelahnya membantu Ignacia mengambil beberapa bantal agar keluarganya bisa tidur dengan nyenyak.


"Ayah, terima kasih untuk makan malam dan acara menonton filmnya. Aku sangat menyukainya." Ignacia menyunggingkan senyum terbaik pada sang ayah. Membuat pria itu juga ikut tersenyum. Merasa bangga karena sekali lagi rencananya untuk menyenangkan keluarga berhasil.


Posisi para adik dan sang istri dibenarkan oleh si ayah. Ignacia izin pergi ke toilet sebentar untuk ritual sebelum tidur. Gadis itu juga membawa serta ponselnya. Ingin buru-buru membalas jika Rajendra merespon. Dengan begitu Ignacia tidak akan menyia-nyiakan waktu luang Rajendra tanpa sengaja.


Dan benar saja, pesan dari kekasihnya sampai ketika Ignacia tengah menyikat gigi. Dengan sikat gigi yang masih ada di dalam mulut, Ignacia membalas pesan Rajendra penuh semangat. Bagaimana tidak semangat jika Rajendra mengucapkan selamat untuk acara penyambutan dan buket yang Ignacia dapatkan. Ditambah lalu Rajendra menelfon lebih dahulu.


Rajendra bilang jika dirinya tidak bisa membalas karena ada urusan mendakak. Dan informasi bahwa dirinya kini tak bekerja paruh waktu di tempat Bagas lagi. Pendidikannya menuntut banyak waktu hingga hampir tidak ada waktu untuk mengerjakan hal lain. Juga Rajendra rasa waktu bersenang-senang sudah habis.


"Ah begitu rupanya. Aku menunggu kabarmu seharian, Rajendra. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi. Baguslah jika kamu tidak apa-apa. Lalu jika kamu sibuk begitu kapan kamu akan pulang? Orang-orang di rumah pasti juga merindukanmu." Ignacia meletakkan ponselnya di sisi wastafel. Pasta yang tersisa di mulutnya mulai terasa panas.


Cepat-cepat dia selesaikan urusan lalu kembali mengobrol dengan Rajendra. Ignacia menetap di kamar hingga panggilan berakhir. Kondisi rumahnya yang hening membuatnya harus berhati-hati ketika bicara. Takut-takut ayahnya mendengar obrolannya lalu marah karena tahu Ignacia memiliki kekasih.


Si gadis bersandar pada jendela kamarnya, menatap luar rumah yang sunyi sepi. Tidak ada yang berjalan-jalan kecuali beberapa orang yang baru pulang bekerja atau pada satpam yang harus memastikan daerah tetap aman. Beberapa kali Ignacia mendapati kucing-kucing juga melintasi jalan depan rumahnya sambil melihat sekitar. Mungkin dia tersesat.


Malam sudah larut, sebaiknya Ignacia mengakhiri panggilan dengan Rajendra. Membiarkan kekasihnya beristirahat setelah hari yang panjang. Hatinya berkata lain, bertolak belakang dengan keinginan otaknya tadi. Ia tidak ingin mengakhiri panggilan. Susra Rajendra terlalu membuat candu.


Beruntung niatnya ia urungkan, jadi Rajendra punya kesempatan untuk curhat soal kesibukannya hari ini. Ada beberapa cerita soal kegiatan unik teman-teman satu kelasnya. Mereka kedengaran menyenangkan. Lalu sebelum obrolan selesai, laki-laki di ujung telfon bilang jika dirinya mungkin tidak bisa pulang liburan kali ini.


Informasi terakhir tadi sedikit menyakiti perasaan Ignacia. Kalau begitu ia tidak bisa menemui kekasihnya tahun ini. Benar-benar hampir setahun. Rajendra berjanji akan datang ke wisuda Ignacia, jadi sebelum setahun, mereka bisa bertemu. Entaj bisa mengobrol juga atau tidak karena orang tua Ignacia juga akan hadir di wisuda itu.


Ignacia balik bertanya soal wisuda Rajendra. "Hm untuk itu masih rahasia. Jika sudah hampir waktunya, akan aku katakan padamu. Sebaiknya kita akhiri sekarang. Besok aku masih punya waktu di jam makan siang, kita mengobrol lagi besok ya. Selamat malam, Ignacia." Rajendra tidak buru-buru mematikan panggilan karena Ignacia bertanya soal wisudanya kan?


Si gadis akhirnya keluar dari kamar, mematikan lampu sebelum menutup pintu. Ketika membawa serta bantalnya untuk tidur bersama-sama di belakang dengan anggota keluarga lain, Ignacia mendapati sang ayah tengah duduk di dekat pintu belakang dapur. Sibuk mengupas beberapa apel sebagai camilan larut malam.


Melihat Ignacia yang baru sampai, sang ayah memanggil anaknya itu untuk menawarkan apel juga. Anak perempuannya itu tidak akan menolak. Kasihan ayahnya jika tetap terbangun sendirian setelah tawarannya ditolak. Jadilah keduanya makan dalam diam. Awalnya diam, sebelum ayahnya membahas semua topik yang mampu membuat Ignacia memberikan reaksi alami.


"Sekarang kamu sudah lulus kuliah, umurmu bukan umur remaja lagi. Setelah ini kamu akan bekerja dan selanjutnya menikah. Ayah ingin tahu apakah ada laki-laki baik yang kamu kenal dan menjalin hubungan dengannya." Ignacia tidak sanggup menatap ke arah ayahnya. Begitu sebaliknya. Sang ayah tidak sanggup menatap anak perempuan pertamanya.


Ignacia tampak seperti kucing kebingungan yang ia lihat diluar jendela tadi. Bingung harus bereaksi dan menjawab apa. Apa Ignacia harus jujur jika dirinya memiliki seseorang yang menemani dirinya selama bertahun-tahun? Apa itu tidak akan membuat dirinya dalam masalah? Ah situasi ini membuatnya sangat canggung.


"Sepertinya ayah tahu apa yang kamu pikirkan," Ayahnya kembali berbicara, "Selama ini ayah tidak peduli dengan hubungan pertemanan atau urusan hatimu. Lalu ketika ayah bertanya soal ini, rasanya pasti tidak nyaman."


"Sepertinya ayah juga tahu jika ada seseorang yang kamu sembunyikan di dalam hatimu, Ignacia. Pasti dia laki-laki baik yang bisa diandalkan. Melihat kamu yang selalu berusaha keras untuk maju, pasti orang yang kamu sukai ini terus menyemangati dan berada di sisimu sepanjang waktu."


Ignacia bisa melihat senyuman kecil ayahnya lewat sudut mata. Apa ayahnya baru saja tersenyum karena membicarakan soal kemungkinan yang dilihatnya dari Ignacia? Berarti Ayahnya tidak akan marah jika seandainya Ignacia mengenalkan Rajendra pada kedua orangtuanya kan? Ketika hubungan keduanya sudah serius, ayahnya tidak akan menentang kan?


Ignacia memilih untuk tetap diam. Mendengarkan ayahnya soal kehidupan remaja yang penuh bunga sebelum harus masuk ke universitas. Hanya itu kehidupan yang ayahnya tahu sebelum mulai bekerja di tempat yang sekarang ini tanpa menempuh kehidupan kuliah. Karena itu pula ayahnya khawatir tentang Ignacia yang harus menghadapi masa-masa kuliah tanpa bisa dibantu oleh sang ayah.


"Kamu tahu, ketika kamu baru remaja, ada seorang teman yang mengajak ayah melihat seminar. Ayah lupa siapa yang mengisi waktu itu, karena sudah lama sekali. Yang ayah ingat, waktu itu kami membahas soal hilangnya sosok ayah di rumah. Wujudnya ada, namun perannya tidak ada karena terlalu sibuk mengurus materi. Akibatnya membuat ayah takut."


Ayahnya bisa takut? Pria tangguh yang sudah membuat keluarga ini menjadi semakin bahagia ini pernah takut hanya karena ada yang membahas soal perannya di rumah? Ignacia tidak pernah menyadari itu. Karena yang ia lihat, kebutuhan sekolahnya dan ketiga adiknya menuntut perhatian serupa.


Ayahnya lanjut menjelaskan jika sosok ayah tidak bisa dirasakan oleh anak-anaknya, maka ada beberapa hal buruk yang terjadi pada mental dan kecerdasan anak. Untuk anak laki-laki, mereka bisa kurang mengerti bagaimana caranya memimpin keluarga ketika sudah dewasa. Mereka tidak tahu peran apa yang harus mereka lakukan di masa depan kelak.


Lalu untuk anak perempuan, mereka bisa mudah emosional, kurang percaya diri, dan sensitif. Mereka kemungkinan besar akan mengidolakan sosok laki-laki lain yang dirasa bisa membuatnya bahagia. Sosok laki-laki yang memberikan peran besar lebih dari ayahnya. Dan jika sudah begitu, tidak jarang dari mereka akan mudah jatuh cinta pada laki-laki yang hanya ingin bermain-main dengan hati si perempuan.


Untuk keseluruhan, anak-anak yang kehilangan sosok ayah juga bisa kurang berkonsentrasi dalam suatu hal, kurang memiliki kemampuan bersosialisasi, dan ada yang bisa membenci ayahnya sendiri. Kedengarannya juga menakutkan bagi Ignacia. Beberapa kondisi yang ayahnya sebutkan pada bagian anak perempuan tadi juga mirip dengan--dirinya.


Ah itu pasti alasan kenapa dahulu Ignacia bisa berkencan dengan Bagas yang tidak bertanggung jawab itu. Dan itu pasti alasan kenapa Ignacia bisa menerima Rajendra masuk ke kehidupannya. Itu juga alasan kenapa Ignacia sekarang sangat menyayangi Rajendra lebih dari sebelumnya. Karena ayahnya jarang ada untuknya. Orang tuanya terlalu sibuk bekerja.


"Ayah waktu itu pergi dengan mama. Dan mama bilang jika ayah sebaiknya mulai banyak meluangkan waktu. Ayah belum bisa melakukannya karena ada waktu dimana Athira, Rafka, dan Arvin masuk jenjang sekolah berikutnya bersama-sama. Ayah harus banyak mengambil lembur agar bisa menambah penghasilan. Ayah mengikuti program apa saja yang bisa menaikkan gaji ayah di tempat kerja."


"Lalu ayah berhasil. Bahkan hingga aku lulus kuliah," Ignacia menimpali. Apel yang sedari tadi ia pegang belum kunjung dimakan. Nafsu makannya hilang. Air matanya hampir menetes Karena pembahasan hati ke hati ini. Ignacia seharusnya tidak menjadi emosional di waktu ini.


Ayahnya mengangguki ucapan Ignacia. Mengakui jika dirinya berhasil membuat anaknya lulus sarjana. Jika Ignacia ingin melanjutkan pendidikannya ke tingkat master, ayahnya pasti akan menyanggupi. Tapi di samping itu, ayahnya masih menyimpan rasa takut lainnya.


"Sepulang dari tempat itu, ayah ingin mengunjungi rumah teman ayah yang akan segera ditinggalkan. Dia mengadakan acara pindahan di rumah lama, kebetulan satu kawasan dengan tempat kami datang ke seminar. Ketika hampir sampai, rupanya ada kasus mengerikan. Ada seorang gadis yang mengalami pelecehan oleh orang dewasa. Ayah sangat gemetar ketika melihat gadis itu pingsan dengan kondisi menyeramkan."


Nada bicar ayahnya berubah perlahan. Sorot matanya berubah sendu. Ignacia sepenuhnya menatap sang ayah. Khawatir akan perasaan ayahnya. Air wajah damai ayahnya berubah agak panik. Tangannya bergetar sambil masih menggenggam sebuah apel yang tengah akan dipotong menggunakan pisau buah. Pasti kenangan itu tidak bisa dilupakan dengan mudah.


Untuk pertama kalinya Ignacia melihat ayahnya ketakutan. Setelah mendengar soal peran ayah yang menghilang bagi anaknya, ayahnya lalu bertemu dengan seorang anak yang mengalami pelecehan hingga tak sadarkan diri. Katanya mama sampai menangis karena melihat anak itu. Ignacia ikut merasakan sakit yang sama. Anak itu pasti ketakutan.


"Ayah takut kamu bertemu dengan orang jahat ketika mencoba mencari sosok ayah pada orang lain. Ayah takut ada orang yang menyakiti kamu karena ayah kurang perhatian padamu. Karena kita kurang dekat sejak awal." Air mata turun dari kedua mata sang ayah. Bersamaan dengan hati Ignacia yang semakin tersayat. Ayahnya menangis karena khawatir pada dirinya.


"Karena itu ayah mencoba membuat liburan keluarga, kita makan di restoran yang enak, mengabiskan waktu bersama. Ayah lakukan semua itu agar kalian aman, tidak dilukai oleh laki-laki manapun." Pipi Ignacia mulai basah. Butiran bening jatuh dengan derasnya hingga membuat lengan bajunya merasakan dingin.


"Sekarang ayah ingin tahu, apakah ada laki-laki baik yang menjagamu selama ini?" Ayahnya menatap manik mata basah anaknya. Mata yang sangat mirip dengan miliknya. "Ayah juga ingin mengenal laki-laki yang membuatmu bisa sampai di fase ini, Ignacia."