
"Iya, Feby yang tinggal di depan rumahmu. Dia rupanya juga mengenalku. Kukira hanya aku yang ingat padanya."
Rajendra mengoreksi ucapan kekasihnya. Sepertinya semua orang di kelasnya dahulu sudah mengenal Ignacia. Juga Feby sudah melihat wujud Ignacia yang sebagai mahasiswa. Gadisnya tidak banyak berubah setelah kejadian bertemu di restoran waktu itu. Jelas Feby masih mengingatnya. Sungguh mengejutkan kekasih dan tetangganya menjadi rekan kerja.
Ignacia menyandarkan diri pada sandaran kursi. Perlahan tangannya mulai mematikan laptop yang sudah menemani sedari siang. Waktunya bagi benda berharganya ini untuk istirahat. Ignacia bisa menyimpan rasa penasaran soal buku yang ia baca ini untuk besok. "Dia langsung mengenaliku saat kami pertama bertatapan. Aku tidak menyangka."
"Lalu kalian akan dekat setelah ini."
"Tentu saja. Kami rekan. Aku sedikit menyukai gadis bernama Feby ini. Dia teman yang baik. Dia perhatian dan peduli pada orang lain." Pikiran Ignacia langsung melayang pada Sarah. Ini pasti alasan kenapa orang tua Ignacia memperbolehkan anaknya berangkat dan pulang sekolah dengan temannya ini. Feby anak baik, dia tidak akan macam-macam.
Ignacia berpindah tempat ke atas tempat tidurnya. Sudah malam, rencananya setelah mengobrol dengan Rajendra ia akan langsung tidur. Namun ucapan Rajendra seolah menahan rasa kantuk si gadis. "Ignacia, aku ingin bilang jika selama tiga bulan ke depan, aku tidak akan bisa mendatangimu. Ada hal penting yang harus kulakukan. Apa tidak masalah untuk kamu?"
Kenapa harus ada berita buruk di hari seperti ini? Rajendra berjanji untuk tetap aktif jika ingin dihubungi. Ponselnya akan selalu menyala kecuali waktunya untuk mengisi daya. Sekarang ada apa lagi? Ignacia tidak diberitahu apa yang akan Rajendra lakukan. Baiklah, Ignacia mungkin bisa bertahan tanpa ada pesan atau telpon dari laki-laki ini. Jika tanpa bertemu, entahlah.
Ignacia akan bertahan. Yang penting masih bisa mendapatkan kabar dari kekasihnya. "Tentu saja tidak masalah. Setelah semua urusanmu selesai, kita bisa bertemu kan? Aku pasti sangat merindukan kamu." Ignacia melirik gantungan kunci burung hantu miliknya di atas meja. Baguslah Rajendra bilang jika ia akan menemui kekasihnya setelah semuanya selesai.
Kenapa Rajendra tidak memberitahu Ignacia tentang kesibukan apa yang akan dia hadapi? Apa sekarang laki-laki ini juga tidak sanggup memberitahu? Seperti lomba membuat kapal itu, Rajendra awalnya tidak memberitahu. Jika begitu, Rajendra pasti akan mengatakan hal jujur pada Ignacia. Tunggu saja, semuanya akan terjawab.
Iseng Ignacia bertanya soal Sarah untuk mengalihkan hatinya yang merasa berat. "Apa kamu bertemu dengan Sarah akhir-akhir ini? Feby memberitahu aku jika Sarah ada di kotamu, Rajendra." Ignacia kira kekasihnya tahu soal temannya itu, rupanya tidak. Rajendra tidak peduli juga jika Sarah ada disini. Gadis itu bukan siapa-siapa baginya.
Rajendra terdengar keren, berhasil mengembangkan wajah gadis yang semula kehilangan cahayanya ini. Andai saja Rajendra tahu siapa yang menemukan gantungan kunci miliknya, kira-kira apa yang akan dia lakukan? Berterima kasih ataukah hanya senang hadiah dari kekasihnya kembali ke tangan?
Hari-hari setelah panggilan malam itu berlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Kesibukan di perpustakaan membuat Ignacia lupa jika dirinya menunggu kabar kekasihnya. Mendengar Rajendra yang cuek pada berita soal perempuan lain entah mengapa menguatkan perasaan Ignacia.
Di rumah, Ignacia bisa membaca novel daring dan melanjutkannya ketika perpustakaan lenggang. Atau ia bisa menonton film bersama Feby di laptop temannya itu. Dia punya banyak rekomendasi film untuk ditonton berdua. Katanya daripada sibuk sendiri, lebih baik sibuk berdua. Nanti jika ada yang meminjam buku, mereka akan kembali bekerja dan bersantai lagi setelahnya.
Keduanya mulai datang lebih pagi untuk membersihkan rak. Mengembalikan buku sebelum waktunya Feby pulang. Sebulan berteman dengan tetangga kekasihnya ini lumayan juga. Ignacia lebih banyak bicara, rasanya hampir sama seperti bersama Nesya hanya bedanya Feby masih baru untuknya.
"Sayangnya kita tidak diperbolehkan membawa makanan ke dalam perpustakaan. Jika boleh, aku ingin membeli camilan di kantin." Feby memainkan bulpen di tangannya. Bosan menonton tanpa camilan. Peraturannya jelas tertulis, dilarang membawa dan makan makanan apapun di dalam perpustakaan. Takutnya bisa mengotori tempat yang seharusnya memang tidak digunakan untuk makan ini.
Ignacia setuju sekali. Mereka hanya bisa makan ketika berada di kantin di jam istirahat kedua. Selain itu makanan harus dihabiskan diluar perpustakaan. Contohnya di halaman depan. Tak lupa mereka juga mengawasi pintu masuk--berjaga-jaga jika ada yang masuk dan mencari keberadaan keduanya.
Seperti yang mereka lakukan saat ini. Feby mengajak Ignacia duduk di depan perpustakaan sambil makan. Mengunyah sambil mengarahkan pandangan hanya pada pintu. Ada obrolan kecil sebagai teman makan tanpa merusak fokus. Menjadi petugas perpustakaan memang yang terbaik.
"Menurutmu apa akan ada yang datang setelah ini? Kita baru saja makan beberapa suap." Feby berbisik. Sejujurnya dia bertaruh jika ada yang akan datang tak lama lagi. Entahlah hanya menebak saja. "Oh seharusnya aku tidak bicara sembarang. Ini seperti ketika kita mengatakan rumah sakit terasa lebih lenggang dari biasanya."
Ignacia melihat ke arah lain. Ia baru menyadari beberapa siswa yang berjalan ke arah perpustakaan. Kelihatannya mereka akan meminjam buku paket. Ignacia lebih dahulu bangkit. Ia simpan makanannya di dalam plastik lalu dibawa masuk. Daripada membiarkannya diluar. Lebih baik disimpan dengan baik dan dimakan diluar nanti.
Anak-anak yang datang tadi tidak hanya datang untuk meminjam buku paket. Beberapa ada yang mencari buku novel untuk tugas mereka. Feby dan Ignacia harus menunggu lebih lama hingga mereka selesai untuk menyelesaikan makan camilan. Meksipun begitu keduanya suka ketika ada orang lain di perpustakaan. Rasanya tidak sia-sia menata dan membersihkan semua rak buku juga meja.
Kedua petugas perpustakaan ini meletakkan tangan di atas meja. Menatap ke arah para remaja perempuan yang sibuk mengelilingi rak. "Aku tiba-tiba penasaran, ada berapa banyak buku yang kau punya di rumah, Ignacia? Kulihat kamu sering membaca ketika kita sedang tidak melakukan apa-apa." Feby bersuara. Selama ini selalu dia yang merasa penasaran.
Ignacia tidak menghitung jumlah buku miliknya. Rasanya ada banyak namun tidak sebanyak itu. Ignacia balik bertanya dan jawabannya adalah gelengan. Feby tidak punya satu buku pun seperti novel di rumahnya. Dia lebih suka membaca buku di online daripada bentuk fisik. Jika fisik dia kerepotan untuk membersihkan buku-bukunya nanti.
Aroma makanan menghiasi meja kedua petugas ini. Mereka melakukan tugas dengan baik tanpa mengeluh. Camilan bisa menunggu meskipun nanti tidak terasa garing lagi. Yang penting tidak ada murid yang merasa kecewa setelah berkunjung kemari. Ada lebih banyak wajah baru karena tugas dari para guru. Tugas membaca dsn mengidentifikasi novel sepertinya.
Waktu berlalu begitu cepat. Sekarang sudah waktunya istirahat makan siang saja. Feby cepat-cepat melakukan tugasnya lalu pulang. Dirinya butuh makanan rumahan untuk mengembalikan semangat. "Sampai jumpa Minggu depan, Ignacia. Hati-hati ketika pulang nanti." Rekannya itu sudah memakai sepatunya lalu berlalu pergi.
Berselang lima menit, Nesya datang bersama Farhan. Laki-laki itu bergabung bersama kedua gadis ini makan siang untuk pertama kalinya. Meja mereka pasti akan terasa lebih ramai dengan adanya anggota baru. Nesya menunggu di dekat pintu, "Ada aroma makanan disini. Jika kamu lupa, disini tidak boleh memakan makanan apapun."
"Kami tidak memakannya di dalam. Ada beberapa murid yang berkunjung ketika kami makan camilan. Jadi makanannya kami bawa masuk dan memakannya diluar lagi." Sungguh orang yang mematuhi peraturan. Padahal Nesya awalnya hanya ingin menggoda temannya saja. Selesai membersihkan meja, Ignacia keluar membawa tas ranselnya.
Dengan adanya Farhan, Ignacia tidak merasa tersisihkan. Laki-laki ini pandai menempatkan diri sebagai teman hingga tak ada rasa canggung atau apapun. Berbeda sekali dengan dirinya ketika ada Rajendra dan Nesya di saat yang bersamaan. Mungkin Ignacia harus lebih merasa santai seperti Farhan. Kini rasanya mereka seperti teman lama.
Dia sudah mendengar soal cerita aneh Ignacia dan kekasihnya. Tentang mereka yang tak sengaja kembali bertemu di SMA hingga sekarang berada di tempat kerja yang sama. Farhan tidak tahu jika dunia sesempit itu. "Aku belum pernah merasakan itu, jadi kelihatannya seru di mataku. Bertemu dengan seseorang yang dahulu pernah kita temui di tempat yang berbeda."
Malam harinya Ignacia memberitahu Rajendra soal apa yang terjadi hari ini. Soal ucapan Feby yang menjadi kenyataan juga Farhan yang bergabung untuk pertama kalinya. Rajendra merasa terhibur dengan kejutan yang datang pada kekasihnya. Dia tidak punya cerita menarik, jadi ia senang bisa mendengarkan cerita-cerita dari Ignacia.
Untuk sebulan pertama Ignacia tidak punya keluhan apapun. Komunikasinya dengan Rajendra berjalan lebih baik dari sebelumnya. Kekasihnya punya waktu luang untuk dirinya setiap malam. Pesan yang dikirimkan pagi akan dibalas ketika makan siang. Ada panggilan suara dan video beberapa hari sekali jika bosan berkirim pesan.
Menginjak bulan kedua, hubungan Ignacia dengan Feby sudah seperti teman biasa. Keduanya berbagi banyak hal seperti cerita lucu dan bahkan mimpi aneh yang datang semalam. Sementara itu Farhan juga beberapa kali bergabung untuk makan bersama kekasih juga teman barunya. Tidak sering, setidaknya sekali dalam dua minggu.
Untuk hubungannya dengan Rajendra juga berjalan dengan baik. Di dua Minggu awal, Rajendra punya beberapa cerita menarik ketika berangkat dan pulang dari suatu tempat seperti minimarket dan tempat makan. Bukan hanya Ignacia yang berbagi keseharian. Suara Rajendra yang terus terdengar semakin terasa candu untuk kekasihnya ini.
"Aku sangat ingin bertemu denganmu sekarang, Rajendra." Ignacia mengeluh sedikit. Sudah menginjak dua bulan mereka sama sekali tidak bertemu. Di ujung panggilan, Rajendra meminta kekasihnya untuk bersabar. Rajendra pasti akan mendatangi Ignacia ketika keadaannya memungkinkan. "Memangnya ada apa hingga kamu tidak bisa menepati janji? Kesibukan apa yang kamu lakukan sebenarnya?"
Ignacia merasa sedikit gusar. Bagaimana jika Rajendra batal menemui dirinya karena sesuatu yang tidak ia ketahui? Melanggar janji karena keadaan bukanlah sesuatu yang Ignacia sukai. Terlebih jika sebelumnya Rajendra sudah membuat janji. Si gadis mencoba untuk menenangkan diri. Dia tidak boleh emosi hanya karena ucapan kekasihnya.
"Maaf aku masih belum bisa mengatakannya padamu. Setelah semuanya selesai, akan kukatakan yang sejujurnya." Kalimat itu yang Ignacia tunggu-tunggu. Tidaj apa-apa, hanya kurang satu bulan lagi dan penantian akan terbayarkan. "Kumohon tunggulah sebentar lagi, Ignacia. Aku akan menemui kamu di rumah. Atau kamu ingin menemui aku disini?"
Tawaran yang kedua terdengar menarik. Ignacia akan memikirkannya lebih dulu sambil mencari cara untuk izin pada orang tuanya. Panggilan malam itu tidak ada yang terasa janggal. Tidak seperti malam-malam yang datang setelahnya. Rajendra jadi lebih sibuk dan sulit untuk dihubungi jika tidak malam hari. Dunia kekasihnya pasti tengah sibuk-sibuknya.
Gadis ini tidak khawatir dengan keadaan kekasihnya yang sulit dihubungi. Hubungan keduanya sudah terjalin sangat lama. Rajendra tidak mungkin akan menutupi rahasia yang sebaiknya Ignacia ketahui. "Kita tunggu saja apa yang terjadi. Bersabarlah," gumam Ignacia pada dirinya sendiri.
Akhirnya sudah hampir tiga bulan. Dua Minggu lagi keduanya bisa bertemu. Ignacia senang Athira juga akan pulang sehari sebelum ia akan bertemu dengan Rajendra. Ignacia ingin rambutnya tampak lebih istimewa agar kekasihnya hanya menatap kecantikannya. Athira tidak keberatan. Lagipula tangannya masih terampil untuk menata rambut sang kakak.
Dua Minggu berubah seminggu. Tepat di akhir pekan besok, Ignacia bisa berlari ke arah Rajendra dan memeluk laki-laki kesayangannya. Wajah dan tubuh tinggi kekasihnya itu amat ditunggu-tunggu oleh Ignacia. Ia bahkan sudah mencari pakaian yang cocok. Kali ini ia akan memakai pakaian berwarna coklat seperti yang biasa membuat Rajendra terpikat.
Malam itu Rajendra bilang dirinya sedang lelah, jadi hanya bisa menelpon sebentar. Suara kekasihnya bisa menyembuhkan hati yang lelah, namun tubuh Rajendra butuh istirahat lebuh. Ignacia tidak keberatan, yang penting mereka akan bertemu dan Rajendra sudah mengiyakan. Ignacia menawarkan diri untuk menemui kekasihnya di kota itu. Mungkin ada kedai es krim bagus lain yang bisa mereka kunjungi.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Ignacia kala panggilan masih tersambung. Rajendra mengundurkan diri, dia akan tidur sekarang. Jadinya Ignacia bisa memeriksa apa yang baru sama masuk ke ponselnya dalam bentu email. "Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak," pesan Ignacia sebelum mematikan panggilan.
Email ini berhasil membuat Ignacia mengembangkan senyuman lebar dibarengi hati berbunga-bunga. Janjinya pada sang ayah kini terpenuhi. Tidak sia-sia dirinya belajar di universitas dan begitu pada para senior Proofreader. Ada permintaan untuk mengecek naskah yang akan diterbitkan oleh seorang penulis dari platform online.
Ignacia harus mengatakan ini pada Rajendra ketika bertemu. Hitung-hitung sebagai topik yang bisa mereka bahas bersama. Ignacia tidak sabar untuk melakukan pekerjaan sampingan ini dengan baik. Si gadis urung tidur cepat. Ia harus berdiskusi dengan pengguna jasa pertamanya ini.