Beautiful Monster

Beautiful Monster
Situasi Aneh



"Nesya," sapa Ignacia.


Gadis berambut panjang terikat berlari kecil mendekati teman baiknya yang sudah sampai lebih dahulu di depan sebuah toko baju. Rencananya hari ini mereka akan mencari pakaian yang akan digunakan untuk kuliah nanti. Kebetulan mereka diminta untuk mempersiapkan pakaian mereka sendiri.


"Aku datang terlambat, maaf. Adik-adikku harus kuantarkan ke sekolah mereka untuk acara akhir semester."


"Tidak apa-apa. Aku juga baru datang."


Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam toko. Mereka saling menunjukkan baju yang mereka dapatkan, bertanya pendapat, dan mencobanya di ruang ganti untuk berjaga-jaga jika ukurannya kurang besar atau terlalu besar. Jadinya akan digunakan untuk waktu yang lama.


Setelah selesai dengan baju, hal kedua yang mereka lakukan akhir pekan ini adalah membeli beberapa buku catatan sejenis binder agar mudah diisi ulang. Jika menggunakan buku biasa, mereka khawatir akan memakai begitu banyak dan catatannya tidak bisa rapi seperti yang diinginkan.


"Ignacia," Nesya memanggil, "lihatlah gantungan kunci ini. Mereka terlihat lucu." Ignacia tidak tahu jika toko peralatan sekolah seperti ini memiliki gantungan kunci juga. Bentuknya lucu sekali, burung hantu. Menarik perhatian Ignacia setelah diberitahu Nesya.


"Mau mengambilnya?"


"Mengambilnya?" Beo Ignacia.


"Kamu dan Rajendra mungkin tidak satu universitas, jadi bagaimana jika mengambil gantungan kunci ini untuk mengingat satu sama lain? Maksudku kalian mungkin akan membutuhkan pengingat yang manis."


"Entahlah," Ignacia ragu, "Rajendra mungkin tidak suka."


...*****...


Tempat selanjutnya adalah tempat makan. Nesya yang merekomendasikan karena dia pernah melihat ulasan tempat ini di media sosial. Katanya mie di tempat ini enak karena mienya dibuat sendiri dan menggunakan resep yang sudah diwariskan turun-temurun. Mie legendaris lah istilahnya.


Sambil mencampur mie, Nesya bertanya, "kalian tidak pergi berkencan? Kalian belum pernah berkencan sebelumnya. Kupikir karena kalian masih bisa bertemu di sekolah. Kita akan wisuda Minggu depan dan menjadi mahasiswa baru. Kulihat juga kalian tidak bertemu lagi akhir-akhir ini."


Ignacia berhenti mengaduk mienya, lebih memilih meminum seteguk es teh yang es batunya belum bisa membuat esnya dingin. "Rajendra sibuk. Dia tidak mengatakan apapun, tapi kulihat dia sibuk. Tidak sopan membawanya pergi ketika kesibukan untuk kuliahnya datang."


Ada senyuman meremehkan di sudut bibir Ignacia, "ya meskipun dia tahu jika kami akan berkuliah di tempat yang berbeda dan menjalani hubungan jarak jauh yang- jauh." Air wajahnya terlihat sendu. Namun mie yang ada di hadapannya membuat air wajahnya tidak begitu terlihat.


Nesya memakan mienya bersamaan dengan Ignacia. Sesekali melirik antara mangkuk dan temannya bergantian. "Kalian tidak bertengkar kan? Aku agak khawatir dengan sikap kalian yang seolah memiliki masalah internal."


Ignacia menggeleng, tidak menatap temannya. Hanya fokus dengan mie yang tengah diaduknya lagi. "Mana mungkin kami bertengkar. Meksipun bertengkar sekalipun, kami tetap akan terlihat biasa saja. Di umur hubungan yang seperti ini, bukan pertengkaran yang membuat kami menjauh."


"Tapi kalian benar tidak bertengkar kan?"


"Rajendra sibuk untuk masa depannya, Nesya. Tidak perlu khawatir. Kami baik-baik saja."


...*****...


"Sampai jumpa," Ignacia melambaikan tangan pada Nesya yang sudah menjauh dengan motornya. Dia harus cepat-cepat pulang karena sang nenek datang ke rumah. Nesya mendapatkan telfon dari ayahnya beberapa saat yang lalu dan buru-buru pergi.


Ignacia memakai helm dan memposisikan sepeda motornya ke arah rumah. Sebelum menyalakan mesin motor, ponselnya bergetar sekali. Tanda jika ada pesan yang masuk. Karena sedang menikmati waktu berdua dengan Nesya, Ignacia tidak menyalakan suara apapun dari ponselnya hari ini.


...Kemala...


| Ignacia, kau sedang bersama Rajendra?


Ignacia mengerutkan keningnya bingung. Kenapa Kemala bisa bertanya seperti itu? Bukankah Kemala yang lebih mungkin bersamanya? Mereka satu kelas.


...Kemala...


^^^Tidak, aku tidak bersamanya |^^^


^^^Kenapa bertanya begitu padaku? |^^^


| Karena mungkin kau bersamanya sekarang


| Rajendra tidak mengangkat panggilanku


| Hari ini kami akan membahas sesuatu tentang kelas


^^^Sudah cari di rumahnya? |^^^


^^^Mungkin dia ada di rumah |^^^


| Aku sudah bertanya pada Feby


| Mobilnya tidak ada di rumah


| Dia juga melihat orang tua Rajendra keluar rumah


Aneh sekali. Rasanya tidak mungkin Rajendra melewatkan sesuatu yang penting. Dia juga tidak menghubungi Ignacia seharian ini. Ignacia beralih ke roomchat Rajendra. Menekan ikon panggilan dan hanya mendengar nada tunggu hingga panggilannya tidak bisa tersampaikan.


...Kemala...


^^^ ^^^


^^^Akan aku hubungi lagi nanti |^^^


^^^Jika aku berhasil menemukannya |^^^


| Terima kasih banyak, Ignacia


| Maaf sudah merepotkanmu


Ponsel kembali disimpan ke dalam tas. Ignacia mengemudikan sepeda motornya sambil memikirkan kemana kiranya kekasihnya pergi. Jika orang tuanya pergi, Rajendra apakah ikut? Tapi sepertinya tidak karena Rajendra sibuk di rumah.


Tidak butuh waktu lama hingga Ignacia bisa sampai ke rumah Rajendra. Kebetulan area Ignacia dan Nesya makan tadi dekat dengan daerah rumahnya. Begitu sampai, yang didapati Ignacia adalah keheningan. Pagar rumahnya tidak dikunci seperti ada seseorang yang menjaga rumahnya.


Ignacia mengetuk dengan ragu. Ragu ada seseorang yang akan membukakan pintu. Takut seseorang itu nanti bukannya Rajendra melainkan orang lain. Tapi mungkin saja Rajendra ada di rumahnya dan Feby tidak melihatnya dengan jelas karena pintu rumah terhalang mobil.


"Rajendra," panggil Ignacia setelah mengetuk. Jika ada seseorang di rumah, pintunya akan segera dibuka setelah diketuk dan di panggil beberapa kali. Tapi ini tidak ada sahutan apapun. Rumahnya seperti benar-benar kosong.


Ignacia mengambil ponselnya dari dalam tas. Mencoba menghubungi ponsel Rajendra. Ada rasa khawatir karena bahkan teman-teman Rajendra tidak bisa menemukannya. Beruntung ponselnya aktif. Namun memang hanya nada tunggu yang Ignacia dengar sejak tadi. Panggilannya mati karena yang di telfon tidak memberikan respon.


Anak terakhir seperti Rajendra biasanya yang akan menjaga rumah. Kakak pertamanya sudah memiliki rumah sendiri. Sementara kakak keduanya sedang berkuliah diluar kota. Biasanya akan pulang di akhir tahun atau ketika liburan kuliah. Yang jelas itu bukan bulan ini.


"Rajen-" Ignacia mendengar sebuah suara samar-samar dari dalam rumah. Kedengarannya seperti nada dering ponsel Rajendra. Mungkin teman-teman Rajendra yang menghubungi. Ignacia melangkah dengan hati-hati. Memastikan tidak akan ada orang yang melihatnya dan menjadi curiga.


Asalnya dari dalam sebuah kamar. Kemungkinan besar kamar Rajendra. Entahlah Ignacia hanya menebak-nebak saja. Sudah berada di dalam rumah orang saja sudah sangat tidak sopan. Tapi mau bagaimana lagi? Ignacia sedang mencari pemilik rumah yang entah ada dimana.


Pintunya terbuka sedikit. Ignacia dapat melihat sesuatu yang ada di dalam. "Apa aku harus melakukannya?" Ragu Ignacia. Ada seseorang di meja belajar. Tengah tertidur dengan posisi yang terlihat tidak nyaman dan membuatnya sakit ketika bangun.


Perawakannya terlihat seperti Rajendra. Dan saat Ignacia membuka pintunya perlahan, dia melihat dengan jelas wajah yang tengah kelelahan. Benar itu Rajendra. Jadi dia tidur disini dan tidak mendengar panggilan yang dibuat teman-teman juga Ignacia sejak tadi?


Si gadis menghembuskan nafas lega. Kini langkahnya tidak perlu berhati-hati karena ada Rajendra yang menjaga rumah dan sekarang tengah tertidur pulas di meja belajarnya.


"Rajendra, orang-orang mencarimu. Tapi kamu malah ada disini, tidur dengan posisi seperti ini."


Ignacia menepuk bahu Rajendra lembut, mencoba untuk membangunkan. Sementara itu, panggilan terus datang ke ponsel Rajendra. Mungkin sebaiknya Ignacia mengatakan pada mereka jika Rajendra akan segera menghubungi mereka setelah ini. Jadilah ponsel Rajendra diambil untuk mengangkat panggilan yang rupanya dari Kemala itu.


"Rajendra!" Teriak yang ada di ujung panggilan. Dia pasti kesal karena Rajendra tidak segera menjawab untuk sesuatu yang kelihatannya mendesak. Ignacia langsung menjauhkan ponsel yang tadinya berada di sebelah telinganya seketika. Suara Kemala terlalu nyaring untuknya.


"Kami sudah menunggumu sejak tadi! Kau kenapa hilang begitu hah?! Sebenarnya kau ada dimana hingga begitu sibuk?!"


"Kemala," suara lirih Ignacia membingungkan yang ada di ujung panggilan. "Aku menemukan Rajendra. Akan kuminta dia menghubungimu setelah ini, ya? Rajendra memiliki sedikit kendala. Tolong tunggu sebentar, Kemala."


"Ig-Ignacia, apa yang kamu lakukan disana?"


"Rajendra akan menghubungimu segera, Kemala."


Ignacia mematikan panggilan sebelum menjawab. Yang penting dia menyampaikan bahwa Rajendra akan menghubungi Kemala dan orang-orang yang menunggunya. Ponsel Rajendra menjadi tenang setelahnya. Kemala sudah mengurus mereka sepertinya.


...*****...


"Kau menghubungi siapa sebenarnya? Kenapa kau menyebutkan Ignacia? Dimana Rajendra? Bagaimana dengan rencana yang sudah kita siapkan?" Seorang laki-laki bertubuh tinggi mengomel. Sejak tadi dia sudah menunggu Kemala memarahi Rajendra yang tidak segera muncul.


"Ignacia sudah menemukan Rajendra. Katanya dia akan menghubungi kita nanti. Sekarang kita tunggu saja." Kemala menyimpan ponselnya dan menyingkir. Dia sama terkejutnya dengan teman-teman yang mendengarnya menyebutkan nama kekasih Rajendra tadi.


...*****...


Ignacia masih berusaha membangunkan yang sedang tidur. Mengguncangnya pelan tanpa berniat membuatnya terkejut. Tapi pastinya Rajendra terkejut karena Ignacia bisa tiba-tiba berada di kamarnya. Membangunkan dia yang kelelahan setelah melakukan kegiatan yang entah apa.


"Rajendra," panggil Ignacia dengan sabar. Laki-laki ini sulit sekali di bangunkan. Lebih dari Athira ketika hari Minggu pagi.


"Rajendra, ayo bangun."


Meksipun begitu Ignacia masih saja mencoba. Dia memiliki janji dengan Kemala. Sekitar lima menit di bangunkan, akhirnya Rajendra terganggu. Matanya belum terbuka, tapi badannya sudah bereaksi dan sebentar lagi akan bangun. Tubuhnya terduduk, pasti lehernya terasa sakit.


"Rajendra," panggil Ignacia untuk kesekian kalinya.


"Woah!" Rajendra hampir terjatuh dari kursinya karena terkejut. Ignacia ada di kamarnya, menatap khawatir dan mencoba untuk membangunkan. Jika ini mimpi, seharusnya Rajendra tidak merasakan sakit di punggungnya kan?


Jelas ini bukan mimpi.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Panik Rajendra. Kini rasa mengantuknya sudah hilang.


"Maaf aku masuk tanpa izin. Kemala mencarimu. Dia menelfon dan bertanya apa aku tengah bersamamu. Aku menelfon, kamu tidak menjawab. Jadi aku mencari disini dan- maaf aku lancang sekali masuk kemari. A-Aku akan segera pergi."


Ignacia menghentikan langkahnya begitu akan meninggalkan kamar Rajendra. Tangannya tertahan oleh Rajendra yang menahannya untuk pergi. Laki-laki itu tidak mengatakan apapun dan langsung bangkit. Masih dengan tangan yang menahan lengan Ignacia, dia berjalan mendekat.


"Kamu baru saja datang," bisik Rajendra. Laki-laki itu meletakkan kepalanya di bahu si gadis, "maaf sudah membuatmu datang jauh-jauh kemari."


Situasinya menjadi semakin aneh. Ya sebenarnya sudah aneh sejak Ignacia masuk diam-diam ke rumah orang dan membangunkan pemilik rumahnya yang tertidur di kamar. Lalu Rajendra membuatnya menjadi semakin aneh dan canggung. Ini tentu tidak benar untuk dilakukan. Apalagi Rajendra berada di belakangnya sekarang.


"Hei, teman-temanmu menunggu. Sebaiknya kamu cepat-cepat bersiap. Mau kuantar sekalian?" Ignacia mengubah suasana yang awalnya hening. Ucapannya membangunkan Rajendra dari posisinya yang nyaman.


"Tidak, aku akan berangkat sebentar lagi. Aku tidak ingin merepotkan kamu lebih lagi."


...*****...


"Akhirnya kau datang." Kemala sudah tidak mampu marah-marah. Dirinya sudah dipenuhi oleh banyak emosi. Jika bukan karena Rajendra, Kemala pasti sudah berangkat berdua dengan kekasihnya sekarang. Tapi biarkan saja. Kekasihnya tadi juga mampir dan sekarang sedang ada di sisi lain toko.


"Darimana saja kau? Katanya kita harus memesan buket bunganya bersama-sama. Aku menjaga stoknya untukmu disini." Teman yang bersama Kemala tadi sudah pergi karena sebuah urusan. Jadinya hanya tersisa Kemala sendiri dengan dua contoh buket bunga di sebelah.


"Kau banyak berhutang padaku hari ini."


Hari kelulusan masih Minggu depan. Jadinya yang dibawa orang-orang sekarang adalah voucher untuk mengambil bunga pesanan di hari H. Mereka sepakat menggunakan bunga segar karena harinya benar-benar spesial. Tanpa voucher ini, mereka tidak akan bisa membawa bunga sesuai contoh yang dipilih.


Kemala masih mengomel, jadinya Rajendra akan mendengarkan dengan cueknya agar tidak memiliki masalah dengan teman dekat kekasihnya. Salahnya juga karena tertidur ketika akan melakukan sesuatu. Beruntungnya Ignacia tadi tidak melihatnya di atas meja.


"Omong-omong kenapa memesan dua? Untuk Ignacia juga?" Pembicaraan teralihkan ketika Rajendra akan meraih kedua buket bunga itu. Kemala memperhatikan. Tapi tak kunjung mendapatkan jawaban dari yang ditanyai. "Aku menghubungi Ignacia karena kau menghilang," tambahnya.


"Iya, aku tahu. Terima kasih sudah menjaga dua stok ini untukku. Maaf sudah merepotkanmu, Kemala. Sampai jumpa."


Saat mendekati sepeda motor, Rajendra dapat melihat kekasih Kemala yang akhirnya muncul dan mengajak kekasihnya pergi ke suatu tempat bersama. "Kelihatannya aku menganggu kencan mereka," gumam Rajendra. Tangannya terulur untuk mengambil helm. Dengan sebuah ingatan yang tiba-tiba muncul.


"Ignacia pergi kemana hari ini?" Tidak biasanya gadis itu akan berpakaian dengan rapi jika hanya mencarinya. Jika sudah begitu, Ignacia pasti memiliki tujuan yang penting dengan seseorang. Rajendra melihat barang-barang yang dibawa Ignacia di motornya. "Dia pergi dengan siapa? Apa sendiri?"


...*****...


"Ignacia terima kasih untuk bantuanmu."


"Tidak apa-apa. Kebetulan aku berada diluar rumah saat itu."


Ignacia mengadakan piknik kecil dengan kesembilan temannya. Sebagai perayaan atas keberhasilan mereka mendapatkan nilai yang terbaik hingga mendapatkan surat undangan universitas. Jadinya waktu ini digunakan untuk berkumpul sebelum pergi ke universitas yang berbeda.


"Bagaimana kau mendapatkan ponsel Rajendra hari ini?" Kemala menatap. "Aku terkejut mendengar suaramu."


"Anggap saja itu trik sulap, Kemala."