Beautiful Monster

Beautiful Monster
Mahasiswa Baru



"Iya, aku sudah sampai di asramanya."


Ignacia membuka pintu dengan kunci yang didapatkannya dari pengurus asrama. Dibawanya serta koper di tangan kiri sementara tangan kanan untuk menjawab panggilan telepon dari mamanya. Seharusnya tadi ikut saja jika merasa khawatir. Lagipula barang yang dibawa Ignacia tidak begitu banyak.


"Ayah sudah mengurus semuanya, Ma. Jangan khawatir."


Koper itu diletakkan di sisi tempat tidur. Pemilik barunya melihat sekeliling. Memperhatikan ruangan yang akan dia tempati selama menjadi mahasiswa angkatan baru. Setidaknya berada disini artinya Ignacia tidak perlu keluar area kampus jika ada kelas. Menghemat bahan bakar.


"Kecewa? Aku tidak kecewa karena mama harus pergi bekerja. Ayah akan segera pergi bekerja juga katanya. Aku bisa mengurus semuanya sendiri."


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Mamanya harus segera mematikan ponsel dan kembali bekerja. Hari ini ayah dan mamanya masuk shift pagi karena sebuah urusan. Ayahnya mengambil izin untuk datang terlambat agar bisa mengantar Ignacia di hari pertamanya di asrama kampus.


Keduanya tidak bisa mengambil cuti karena habis digunakan untuk mendatangi acara ketiga adiknya.


Samar-samar Ignacia mendengar suara bel khs tempat kerja sang mama dari ponsel. "Mama bekerja saja, aku akan membereskan barang-barang. Iya, aku bisa mengurusnya. Sampai jumpa. Akan aku hubungi jika sempat."


Panggilan berakhir. Ignacia segera mengisi daya ponselnya dan segera melanjutkan niatnya untuk membereskan barang-barang. Ayahnya sudah membantu untuk membawa sisa barang-barangnya hingga sampai di depan pintu. Ignacia hanya perlu memasukkannya ke dalam kamar.


Berberes hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Setelahnya Ignacia harus menyiapkan makan siang. Perutnya mulai merasa lapar sekaligus gugup karena berada di tempat baru yang jauh dari rumah. Berada di tempat baru bukanlah sesuatu yang disukai Ignacia. Apalagi jika dia sendirian.


"Kuharap bisa menyesuaikan diri dengan baik disini."


...*****...


Hari pertama dimulai besok pagi. Langsung ada kelas pagi hingga siang. Kebetulan hanya ada tiga mata kuliah. Akan selesai di jam makan siang dan Ignacia akan menemui seseorang di kantin kampus lantai satu.


Tidak ada yang menarik di kelas hari ini. Hari pertama hanya membuat Ignacia merasa tegang dan canggung karena dia hanya sendirian tanpa teman. Tapi itu tadi sebelum seseorang datang dan duduk di sampingnya dengan sikap ramah. Seseorang yang mengulurkan tangan lebih dahulu untuk mengajak Ignacia berteman.


Perempuan dengan rambut pendek, bermata hitam, dan suaranya terdengar bahagia. Aura yang terpancar darinya sungguh positif dan rasanya familier. Mungkin perasaan Ignacia saja. Karena seseorang ini memiliki nama yang asing baginya.


"Perkenalkan, namaku Danita." Gadis itu tersenyum bahagia begitu melihat Ignacia. Menjabat tangannya dengan hangat seolah teman lama yang bertemu lagi.


"Aku merasa tidak asing saat melihatmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Ignacia mengangkat bahu tidak tahu. Tapi setidaknya bukan hanya dia yang merasa familier. Namanya berbeda jika dibandingkan dengan orang-orang yang dikenalnya. Ignacia belum pernah mendengar nama ini sebelumnya.


"Pokoknya senang bertemu denganmu, Ignacia. Ayo berteman dengan akrab mulai sekarang." Masih dengan menjawab tangannya, gadis itu tersenyum penuh minat pada Ignacia. Dia orang yang mudah bergaul. Ignacia sedikit iri karena orang ini bisa langsung mendapatkan teman di hari pertama.


"Ignacia, mau pergi ke kantin bersama kami?" Ajak teman baru Ignacia. Siapa lagi jika bukan Danita. Ada teman-teman lain yang kelihatannya sudah menunggu keputusan Ignacia di belakang Danita. Temannya ini sudah memiliki gengnya sendiri.


"Tidak, aku akan menemui temanku di kantin. Mari pergi lain kali saja. Aku pergi dulu ya." Ignacia memasukkan buku dan ponselnya ke dalam tas kemudian cepat-cepat pergi keluar kelas. Dia hampir menabrak seseorang yang akan masuk kelas saling buru-burunya.


"Dia tidak ikut?" tanya seorang teman Danita.


"Tidak, katanya dia sudah ada janji. Lain kali dia akan bergabung dengan kita," Danita menjawab.


Ignacia khawatir teman yang menunggunya kecewa karena Ignacia datang terlambat. Gadis itu masih mencatat materi terakhir sebelum pergi. Jadinya memakan waktu sedikit lebih lama sambil memahaminya.


Ignacia berbaris untuk mengambil nampan makan siang sebelum menemui orang yang dicarinya. Tidak lupa mengambil sebotol minuman dingin untuk menghilangkan dahaga.


Diedarkannya pandangan mencari seseorang di tengah keramaian kantin. Ignacia harus berjalan beberapa jauh hingga berhasil menemukan yang dicarinya. Ignacia berjalan mendekat sambil tersenyum. Seseorang yang menunggunya sedang membaca sesuatu di ponselnya hingga tidak mengetahui kedatangan Ignacia.


"Hei," tegur yang baru datang, "maaf aku terlambat."


"Tidak masalah. Aku juga baru datang. Bagaimana hari pertamamu, Ignacia?" Obrolan makan malam dimulai. Teman di hadapan Ignacia ini membenarkan posisi kacamatanya sebelum menyentuh sendok yang akan digunakannya.


"Aku banyak merasa gugup dan canggung. Tapi aku berhasil berteman dengan seseorang di kelas. Bagaimana denganmu? Hari pertamamu bejalan lancar?"


"Ya begitulah. Aku bertemu dengan seseorang yang kukenal dari grup media sosial. Rupanya kami pernah membahas sebuah komik bersama dahulu. Sekarang kami kebetulan satu jurusan." Ada kekehan pelan di akhir kalimat seseorang di depan Ignacia.


"Kedengarannya menyenangkan. Jurusan pendidikan bahasa menyenangkan?" Ignacia bertanya.


"Biasa saja. Mungkin keseruannya belum datang. Lalu jurusan bahasa dan sastra bagaimana? Sudah menemukan apa yang ingin kau ketahui lebih dalam?"


Ignacia menunduk, menyiapkan suapan kesekian sebelum mulai bicara. "Aku hanya berharap bisa membuat sebuah karya tulis sebelum menjadi sarjana. Dengan bekal semua novel yang kubaca bertahun-tahun, setidaknya aku juga ingin membuat novel yang menarik."


"Kau membawa semua novelmu di rumah?"


Ignacia menggeleng, "kubawa yang paling kusuka dan yang ingin kubaca lagi. Aku berencana membeli novel baru akhir pekan ini. Bagaimana jika kita pergi bersama?" Akhirnya Ignacia memakan suapan yang sudah dia persiapkan tadi sambil menunggu respon dari yang ditawari.


"Entahlah. Aku akan menghubungimu jika aku tidak ada kegiatan apapun, Ignacia."


"Akan kutunggu pesanmu kalau begitu."


"Oh ya, sudah kamu hubungi Rajendra setelah sampai disini? Kukira hubungan jarak jauh membutuhkan komunikasi yang lancar demi ketenangan bersama. Aku hanya memastikan apakah kalian tetap berkomunikasi."


Ignacia menyegerakan kegiatan menelannya sebelum menjawab. "Aku akan menghubungi dia setiap malam setelah semua kegiatanku selesai. Kami berencana melakukan itu setiap ada kesempatan. Aku mencoba untuk tetap memberikan kabar, tenang saja. Kami profesional."


"Aku senang mendengarnya." Ignacia tersenyum bersamaan dengan seseorang di hadapannya.


Pada akhirnya Ignacia kembali mendapatkan hadiah kecil yang sangat dia sukai. Semua kata-kata yang Rajendra sampaikan tidak akan hilang jika ditulis dalam pesan. Dan Rajendra akan mengirimkan pesan sebisanya. Ignacia bersemangat sekali menunggu malam.


"Oh ya, jangan lupa berkunjung ke asramaku. Kamu akan menyukai pemandangan darisana ketika pagi hari, Nesya."


Teman di hadapannya mengangguk, "akan kulakukan ketika aku ada waktu. Ketika kamu tidak sibuk juga."


...*****...


Hari yang melelahkan meksipun hanya setengah hari kelas. Rasa gugup dan canggung yang dirasakan Ignacia hampir seharian ini membuatnya sangat lelah. "Padahal aku sudah bertemu dengan seseorang yang kukenal. Tapi kenapa rasanya masih melelahkan saja? Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Dengan langkah berat Ignacia naik ke tangga menuju kamarnya. Tidak ada lift karena hanya tiga lantai. Dan kamar Ignacia berada di lantai kedua. Omong-omong dia belum bertemu dengan penghuni lain di asrama. Pengurusnya bilang jika satu lantai ini disini oleh para mahasiswa baru.


Mungkin dari jurusan yang berbeda, pikir Ignacia.


Saat akan memasukkan kunci ke lubang kunci, Ignacia mendengar suara pintu terbuka di sebelah kamarnya. Seseorang dengan rambut pendek dan kacamata. Dia kelihatannya memiliki rencana untuk pergi keluar.


"Oh Ignacia," sapa orang itu.


"Danita?" Ragu Ignacia.


"Kita tetangga," senang Danita.


Ignacia mengangguk, urung memasukkan kunci. Mungkin hari-harinya tidak akan demikian melelahkan jika memiliki aura yang sangat positif seperti Danita. Gadis itu berjalan melewatinya setelah memberikan sapaan hangat. Ignacia harus belajar menjadi orang yang lebih baik mulai sekarang.


...*****...


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Bagaimana harimu, Rajendra? |^^^


| Lumayan menyenangkan


| Masih hari pertama


| Bagaimana denganmu?


^^^Aku merasa sangat canggung |^^^


^^^Tapi beruntungnya aku memiliki teman |^^^


| Bagaimana asramanya?


^^^Asramanya nyaman dan aku menyukainya |^^^


^^^Tenang, damai, terang, dan punya rak buku |^^^


^^^Bagaimana dengan kosmu, Rajendra? |^^^


| Bagus, teman-teman disini ramah


| Ini kos khusus laki-laki, jadi jangan khawatir


| Tetangga asramamu bagaimana?


^^^Penjaga asramanya bilang lantai ini diisi mahasiswa baru |^^^


^^^Entah laki-laki atau perempuan aku tidak tahu |^^^


| Kamu belum bertemu dengan tetanggamu?


| Aku saja sudah bertemu dengan teman-teman disini


^^^Disini ada tiga lantai, Rajendra |^^^


^^^Luasnya juga hampir seperti sekolah |^^^


^^^Kelihatannya mereka sibuk |^^^


| Bertemanlah dengan banyak orang, Ignacia


| Yang kamu butuhkan di dunia kuliah itu relasi


| Oh ya, kamu jangan terlalu banyak membeli novel


| Kamu sebaiknya menimbang-nimbang lagi


^^^Iyaa aku mengerti |^^^


^^^Aku akan menghemat |^^^


| Aku tahu jika tempatmu kuliah itu


| Tempat yang kamu sukai karena acara itu


| Acara penandatanganan buku penulis Cream


^^^Seharusnya kamu sudah lupa itu, Rajendra |^^^


^^^Itu sudah lumayan lama |^^^


| Jika itu tentang kamu, aku tidak akan lupa


...*****...


"Ignacia," panggil Danita dari luar. Dia mengetuk tiga kali dan menunggu beberapa saat hingga Ignacia muncul dengan handuk di kepalanya. Jelas terlihat jika dia baru menyelesaikan ritual sorenya sebelum membuka pintu.


"Aku membawa makan malam."


Danita mengangkat kantung plastik yang dibawanya beserta senyuman hangat yang selalu dia berikan untuk orang-orang di sekitarnya. Ignacia menggeser tubuhnya, memberikan ruang untuk Danita masuk ke dalam kamar.


Hari ini mereka memiliki rencana belajar bersama. Sekalian saja Danita membawa makan malam karena kebetulan Ignacia juga belum makan.


Danita melihat-lihat isi kamar temannya. Keduanya sudah berteman hampir seminggu dan ini pertama kalinya dia masuk ke kamar Ignacia. Disana dia menemukan dua rak buku novel yang berisi beberapa koleksi Ignacia. Danita bangkit dari duduknya di dekat meja tengah ruangan, mendekati novel-novel yang ditata rapi oleh pemilik kamar.


"Ignacia, kamu memiliki banyak novel disini."


"Ya begitulah. Aku membawa novel-novel yang kusuka dari rumah. Tapi kurasa koleksiku akan bertambah selagi berada disini. Tempat ini memiliki toko buku yang bagus."


Danita mengambil satu novel yang menarik perhatiannya. Membuka lembar pertama dan menemukan sebuah tanda tangan dari seorang penulis.


"Oh kau penggemar penulis Cream juga?"


Ignacia yang tadinya mencari-cari buku pelajarannya kini berbalik. Melihat buku yang dibawa Danita. "Ya begitulah. Aku bertemu dengan penulis Cream di kota ini saat acara penandatanganan buku. Di toko buku yang kukatakan padamu tadi. Kau mengenal penulis Cream?"


"Tentu saja. Aku penggemarnya juga. Aku juga mendapatkan tanda tangan penulis Cream. Jadi kamu Ignacia yang kutemui di acara penandatanganan buku itu bukan? Aku Tata."


Ignacia memincingkan matanya bingung, "Tata?"


"Iya aku Tata. Kita bertemu ketika acara penandatanganan buku penulis Cream. Kau tidak ingat?"


Oh dunia ini begitu sempit.


"Tapi kamu memperkenalkan diri sebagai Tata padaku waktu itu. Kenapa bukan Danita saja?" Ignacia duduk di dekat meja. Akan mulai belajar dengan buku yang dibawanya. Danita ikut duduk, masih membawa novel milik Ignacia.


"Orang-orang di rumahku selalu memanggilku Tata. Karena aku menyukaimu, jadi aku ingin kau tahu nama yang digunakan keluargaku untuk memanggilku." Ungkapan Danita a.k.a Tata ini agak sulit untuk dipahami. Khususnya dia kalimat terakhir yang dia ucapkan dengan nada santai itu.


"Menyukaiku?"


Danita meletakkan kedua tangannya di atas meja, "Aku merasa bahwa kau adalah orang yang harus kujaga. Kamu merasa canggung dengan lingkungan sosial, tapi tidak menolak saat ada seseorang yang ingin mengajakmu bicara dan berteman. Jadi kurasa aku harus membuatmu lebih santai."


...*****...


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Ada cerita apa hari ini, Ignacia?


^^^Aku bertemu dengan teman | ^^^


^^^Saat acara penandatanganan buku |^^^


| Kamu pergi ke acara itu dan membeli novel lagi?


| Sudah kukatakan untuk menimbang-nimbang


^^^Tidak, bukan begitu maksudnya |^^^


^^^Aku bertemu teman lama dari acara itu |^^^


^^^Kami satu jurusan, tetangga di asrama juga |^^^


| Wah duniamu semakin sempit saja


| Sudah dengan Nesya, sekarang dengan orang itu


| Apa dia perempuan? Teman yang baik?


^^^Haha, apa kamu khawatir dia laki-laki? |^^^


^^^Dia perempuan yang memiliki aura positif |^^^


^^^Namanya Tata. Aslinya Danita |^^^


| Ada nama samarannya?


^^^Itu nama yang keluarganya pakai untuk memanggilnya |^^^


| Bagaimana kamu bisa tahu?


^^^Ceritanya agak aneh |^^^


...*****...


Ignacia mengunci pintu kamarnya sebelum pergi. Hari ini dia berencana untuk menikmati harinya di perpustakaan. Nesya tidak bisa datang karena sebuah alasan. Jadinya Ignacia akan menikmati akhir pekannya sendiri sambil membaca sesuatu di perpustakaan. Mungkin ada teman mahasiswa lain disana.


Jaraknya tidak begitu jauh dari kampus.


Kata Tata, kota ini akan menjadi sangat seru ketika akhir pekan tiba. Orang-orang minim berpergian dengan kendaraan pribadi hingga tidak ada macet. Udaranya menjadi lebih segar. Ada banyak orang yang pergi ke taman atau alun-alun untuk berolahraga. Lalu belum lagi stand-stand yang dibuka dekat sana dengan berbagai macam pilihan makanan.


"Kuharap bisa menikmatinya ketika Rajendra ada disini. Kencan kami pasti akan menyenangkan," gumam Ignacia.


Bus yang Ignacia naiki melewati alun-alun sebelum sampai di perpustakaan. Dia bisa melihat banyak stand makanan dengan jelas. Ada beberapa pasangan juga disana. Ignacia ingin seperti mereka sekarang.


Tidak bertemu dengan Rajendra itu agak menyulitkan.


Begitu sampai di perpustakaan, benar apa yang Ignacia pikiran sebelumnya. Ada lebih banyak orang-orang yang terlihat seperti mahasiswa disana. Kelihatannya mahasiswa tingkat akhir. Mereka membutuhkan banyak buku hingga menumpuk di atas meja yang digunakannya.


Menjadi mahasiswa baru mungkin tidak sesulit mereka yang tengah mempersiapkan hasil terakhir sebelum bisa dinyatakan menjadi sarjana.


Menjadi mahasiswa baru mengharuskan seseorang untuk pergi jauh dari rumah yang selalu menerimanya bukanlah sesuatu yang mudah. Pergi sendiri, berjuang sendiri. Ini kehidupan yang seharusnya Ignacia kenal sejak lama.


Rasanya Ignacia ingin menceritakan apa yang dilihatnya pada Rajendra yang entah sedang apa. Laki-laki itu tidak banyak bicara soal kesibukannya. Ignacia juga tidak berani untuk mengusik kehidupan pribadinya.


Jika Ignacia mengirimkan banyak pesan, membuat ponsel Rajendra tampak sibuk, mungkin itu akan membuatnya merasa tidak nyaman. Meksipun terlihat tidak melakukan apapun, Rajendra biasanya sibuk dengan sesuatu di belakang Ignacia.


"Kurasa aku harus menunggu hingga malam."