Beautiful Monster

Beautiful Monster
Sekarang Gantian



Rajendra berjalan di samping Ignacia, ingin membantu gadisnya memilih rok. Sejak tadi keduanya berputar-putar di toko baju dan Ignacia belum memutuskan ingin membeli rok yang mana padahal semuanya sama-sama putihnya. Katanya Ignacia ingin mencari model yang sama, hanya saja tidak ada rok semacam itu di tempat ini. Jadinya Ignacia harus mencari model lain.


Melihat gadisnya yang kebingungan dengan banyaknya model yang ia katakan bagus, Rajendra jadi ikut lelah. "Coba pilihlah satu yang sangat kamu sukai dan coba di kamar pas. Kita juga harus segera makan malam." Rajendra membuat Ignacia tidak punya pilihan. Ada rok paling mirip dengan yang Ignacia gunakan saat ini, mungkin sebaiknya ia pilih yang itu saja.


"Atau kita bisa pergi ke toko lain jika kamu mau, Ignacia."


"Tidak, itu akan memakan waktu lama. Maaf karena sudah merusak jadwal rencana kita."


"Jangan khawatir. Kalau begini kan kita bisa berlama-lama bersama. Aku akan membantumu, tenang saja."


Ignacia meraih satu model rok yang sudah dia timbang-timbang cukup lama. Kekasihnya mengekor dari belakang karena dititipkan tas oleh Ignacia. Setelah sudah berganti, Ignacia meminta saran. "Bagaimana? Apa cocok denganku?" Si gadis menatap Rajendra ragu, berharap dirinya tampak cantik dengan perubahan yang tiba-tiba ini.


"Kamu selalu cantik memakai apa saja. Apa kamu menyukainya?" Melihat Ignacia yang mengangguk, Rajendra kemudian izin pergi sebentar. Menemui seorang pegawai toko yang kebetulan lewat. Bertanya apa mungkin Ignacia bisa memakai rok barunya sekarang dan membayar hanya dengan melepas label harganya.


Ignacia hanya mengintip kekasihnya lewat pintu kamar pas, tidak mendengar pembicaraan Rajendra dengan wanita disana sama sekali. Yanh jelas, ketika kembali, Rajendra berhasil mendapatkan izin dan meminta Ignacia untuk melepaskan label yang ada di rok baru Ignacia. "Kamu tunggu saja disini, rapikan penampilanmu. Nanti aku akan segera kembali."


"Kamu akan pergi kem-"


"Sudah, tunggu saja aku akan mengurusnya."


Sesuatu yang aneh menyelimuti perasaan Ignacia. Kenapa Rajendra harus pergi membawa label harga? Sambil kembali menatap kaca untuk merapikan penampilan seperti yang Rajendra sarankan, Ignacia melihat penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hatinya yang sudah kecewa karena membuat kencan keduanya tertunda membuat rambutnya tidak rapi. Apa sebaiknya Ignacia mengikat rambutnya saja nanti?


Setelah mencoba menyadari apa yang mungkin terjadi, Ignacia segera keluar dari kamar pas. Dilihatnya sekitar, mencari keberadaan Rajendra. Rupa-rupanya di ujung ruangan sebelah sana kekasihnya tengah berdiri di kasir, menyelesaikan pembelian rok baru Ignacia.


Merasa seperti sedang di awasi, Rajendra kemudian berbalik, melambaikan tangan pada sang kekasih agar dia datang kemari. Rajendra mendapatkan kembali kartu debit miliknya lalu disimpan ke dalam dompet. "Aku juga mendapatkan paperbag untuk membawa rok yang terkena noda tadi." Ignacia tidak bisa berkata-kata. Seharusnya bukan Rajendra yang membayar.


"Kamu bisa menggunakan kartuku saja tadi. Kamu masih membawa tasku, ingat?" Mendengar itu Rajendra pun mengembalikan tas yang masih berada di bahunya.


"Tidak apa-apa, aku ingin melakukannya. Kamu sudah jauh-jauh datang kemari untuk mengajakku pulang bersama. Sekarang giliran aku yang melakukan sesuatu untukmu." Ya meskipun begitu, Ignacia merasa tidak enak. Dirinya tadi sengaja memilih rok dengan harga yang tidak begitu murah agar awet. Malah Rajendra yang bagus mengeluarkan uang.


"Biar aku yang membawa paperbagnya." Rajendra menyerahkan paperbag di tangannya tanpa bicara. Mengajak gadisnya keluar toko untuk mencari makanan.


Akhirnya masalah dengan pakaian sudah selesai. Paperbag berisi rok terkena noda milik Ignacia diambil alih oleh Rajendra agar bisa menggandeng tangan kekasihnya. Dirinya berubah pikiran setelah memberikan paperbag tadi. Padahal baru beberapa detik saja Ignacia bisa menggenggam benda itu.


Keduanya berkeliling ke lantai selanjutnya untuk mencari tempat makan. Rajendra lebih mengenal mall ini karena pernah diajak teman-teman kampusnya makan disini. Dia banyak merekomendasikan makanan. Mengakunya tidak sering datang namun sudah bisa merekomendasikan banyak hal.


"Aku harus mempelajari banyak hal agar tidak membuatmu bingung. Karena kamu sekarang berada di kotaku." Rajendra bangga tampak bangga sekali. Dia menyiapkan banyak hal untuk Ignacia hanya karena gadisnya jauh-jauh datang sendirian. Sepertinya Ignacia sudah jatuh cinta lagi. Entah sudah yang keberapa kali.


"Kamu ingin makan apa, Ignacia?"


"Bagaimana jika makan makanan siap saji saja? Sekarang sudah malam. Aku kehilangan sedikit nafsu makan." Salah satu alasan kenapa Ignacia biasanya makan Fitbar setelah mengerjakan tugas malam hari. Selera makannya akan segera hilang jika melewatkan jam makan malam.


"Hei, kamu tidak boleh kehilangan nafsu makan jika denganku. Kamu ingin makanan cepat saji? Kita pergi ke restoran sebelah sana saja." Rajendra menuntum kekasihnya dengan lembut menuju sebuah restoran yang tampak ramai namun antriannya tidak panjang. "Bagaimana jika kamu mencari meja sementara aku memesan? Agar kita bisa segera makan nanti."


Ide Rajendra bagus. Tempat ini juga ramai. Takutnya semua meja sudah terisi dan keduanya tidak bisa makan di tempat. Ignacia mengajukan diri untuk memesan dan biar Rajendra yang duduk. Hanya saja kekasih beralis tebalnya itu menolak, di sisi lain Ignacia juga engga meninggalkan kekasihnya sendirian.


"Silahkan pelanggan selanjutnya."


Pegawai restoran lebih dahulu memanggil mereka sebelum sempat memutuskan. Jadilah keduanya memesan bersama, mencari tempat duduk bersama. Rajendra mengambil alih nampan sementara Ignacia membayar. Si laki-laki sudah memberikan kartunya namun kini giliran Ignacia yang membayar. Baru adil namanya.


Ada beberapa meja kosong sebelum keduanya sempat mencari. Tempatnya juga ada yang baru selesai dibersihkan jadi bisa langsung ditempati. Sambil makan, Rajendra bertanya bagaimana bisa Ignacia terkena tumpahan susu formula. Sepanjang cerita, Rajendra benar-benar menikmati kontak mata Ignacia yang tertuju ke arahnya.


Bagas pernah bilang jika gadis yang menyukai seorang laki-laki akan sulit mempertahankan kontak mata. Sementara yang tidak tertarik, mereka berarti tidak memiliki perasaan apapun pada lelaki itu. Jadi sekarang Ignacia benar-benar terlihat menyukainya kan? Meksipun tidak lama, Ignacia terlihat berusaha mempertahankan kontak mata.


"Mereka terlihat menyesal untukku, tapi rasa penyesalan itu tidak bisa membuat noda di rokku menghilang." Ignacia mengambil kenyang goreng, memakannya untuk menutupi rasa kecewa. "Padahal aku baru membeli rok itu sebelum bertemu denganmu. Aku ingin mencoba warna lain selain coklat ketika bertemu dengan kamu."


Tangan Rajendra bergerak menyentuh puncak kepala gadisnya, mengelus surai panjang lembut milik Ignacia. "Maaf ya aku sudah membuatmu repot dengan datang kemari. Karena aku juga kamu jadi harus berganti pakaian. Terima kasih banyak sudah mau berkorban tenaga untuk bisa sampai disini."


Makan keduanya tidak buru-buru di selesaikan. Mereka masih ingin mengobrol sebelum berakhir di stasiun. Sayang sekali jika malam ini hanya dihabiskan dalam waktu singkat. Di kesempatan selanjutnya juga belum tentu Ignacia bisa datang menemui Rajendra lagi untuk menjemputnya pulang. Meskipun Ignacia yakin bahwa dirinya akan bersikeras datang.


"Rajendra, Sarah dan Feby juga berkuliah di kota ini? Apa kalian juga sering mengobrol seperti tadi?" Daripada menerka-nerka lebih baik langsung bertanya saja. Toh Ignacia yakin jika Rajendra akan menjawab sebisanya.


Seperti yang Ignacia harapkan, laki-laki di hadapannya menggeleng. Dia juga tidak tahu pasti dimana keduanya berkuliah atau bekerja, yang jelas bukan di kota ini. Mereka datang kesini karena ingin berjalan-jalan saja. Pertemuan yang Ignacia lihat tadi hanya sebuah kebetulan. Mereka juga tidak membahas sesuatu yang berarti. Hanya sekedar basa-basi antara teman lama.


Rajendra mengaku jika dia hanya mengobrol dengan Feby karena Sarah kelelahan setelah makan. Padahal seharusnya nasi goreng pedas yang ia beli mampu membuatnya terjaga. "Kamu masih cemburu pada teman-temanku?" Pertanyaan Rajendra di akhir cerita menarik reaksi Ignacia. Dia bukan cemburu, hanya bertanya karena penasaran.


"Jika aku cemburu, kalian bertiga masih saja berteman. Tidak ada gunanya aku memiliki emosi itu." Ignacia menunduk menatap makanannya. Sekali lagi suapan kecil masuk ke dalam mulutnya yang tidak ingin terbuka lebar.


"Kalau cemburu, itu artinya kamu masih menyukaiku. Itu pertanda yang bagus kan?" Memangnya Rajendra berpikir jika Ignacia bisa berhenti menyukainya? Yang benar saja. Makin kesini saja Ignacia lebih sering jatuh cinta. Mana mungkin dirinya bisa lepas semudah itu. Apalagi hubungan asmara keduanya sudah semakin lama berjalan.


Hening, keduanya kehabisan cerita. Rajendra lalu bangkit, memecah keheningan yang tidak begitu sukai. Jika begitu Ignacia tidak bisa lagi menatap matanya. "Kamu mau tambah minuman lagi? Biar aku yang ambilkan." Tangannya meraih gelas kaca milik Ignacia begitu mendapatkan izin.


Mata Ignacia bergerak mengikuti arah Rajendra pergi. Melihat dia yang berada di keramaian membuat Ignacia enggan untuk mengalihkan pandangan. Dari banyaknya orang disini ada yang dengan senang hati melakukan hal kecil karena hatinya tengah senang. Karena bisa bertemu dengan yang terkasih lagi.


Begitu Rajendra kembali, Ignacia masih belum bisa melepaskan pandangannya. "Terima kasih, Rajendra. Setelah ini kita langsung ke stasiun? Aku masih ingin bermain-main disini sebentar." Ignacia ingin berlama-lama menatap Rajendra sebelum mengantuk di kereta.


"Maafkan aku, tapi sekarang sudah malam. Lain kali akan aku bawa kamu berkeliling kota, Ignacia."


Tidak apa-apa. Kalau begitu sebaiknya Ignacia tidak tertidur di kereta. Ignacia meraih gelas yang ia gunakan, meminum isinya perlahan untuk melegakan tenggorokan. Beberapa kali Ignacia melirik ke arah Rajendra tanpa diketahui si laki-laki. Entan kenapa rasanya menyenangkan memata-matai Rajendra.


Kedua tangan keduanya kembali bertautan selesai makan. Akan butuh waktu untuk sampai di stasiun, jadinya mereka segera mencari transportasi umum yang kebetulan belum berhenti bekerja. Karena sudah malam, hanya ada beberapa pekerja yang baru pulang dari kantor di bus. Lebih lenggang daripada saat Ignacia naik tadi.


Untuk memastikan Ignacia tetap terjaga, Rajendra bertanya apa kekasihnya mulai mengantuk. Ia akan berkata jika sebentar lagi Ignacia bisa tidur di kereta sepanjang perjalanan pulang. Tolong tahan sebentar hingga sampai di stasiun, begitulah yang Rajendra ucapkan beberapa kali.


Padahal di sisi lain Ignacia mencoba untuk tidak tertidur agar waktu berjalan lebih lambat. Seharusnya Ignacia minum kopi agar bisa menjalankan rencananya. Tapi jika begitu Ignacia juga tidak bisa tidur sesampainya di rumah. Masih dengan tangan yang bertautan, Ignacia meletakkan kepalanya di bahu Rajendra.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku mencari rok."


Kekasihnya mengangguk, meletakkan tangannya yang tengah kosong di atas genggaman tangan keduanya. Meletakkan kepalanya di atas kepala Ignacia. "Iya terima kasih kembali. Jangan menyesal sudah datang padaku karena tumpahan susu formula itu ya. Lain kali akan aku pastikan kamu tidak terkena noda apapun."


Di stasiun, suasananya ramai. Berbeda sekali dengan perkiraan keduanya. Rupanya ada kereta harus menunda keberangkatan karena ada pemeriksaan dadakan setelah sang masinis melaporkan jika ada sedikit kesalahan pada mesin setelah kerta berjalan beberapa meter. Karenanya para penumpang harus menunggu dan naik ke kereta lain di jadwal yang berbeda.


Merugikan memang, makanya pihak stasiun mengembalikan uang yang di bayarkan para penumpang kereta yang terlambat itu sebagai ganti rugi. Kebetulan juga para penumpang ini adalah para penumpang yang akan naik ke kereta yang sama dengan Ignacia dan kekasihnya. Rajendra yang menjelaskan informasi tadi pada Ignacia. Katanya ia mendapatkan informasi dari akun resmi stasiun ini ketika menunggu Ignacia mencoba rok.


"Wah mereka sudah menunggu lama." Ignacia mengedarkan pandangan, ikut merasa sedih karena banyak penumpang yang akan pulang larut. Di sisi lain pihak stasiun pasti juga mendapatkan masalah. "Setelah kereta kita datang, semua orang ini akhirnya bisa pulang juga."


Benar saja, begitu kereta datang, stasiun menjadi sangat sepi. Seperti menonton film horor saja. Rasa kantuk Ignacia menghilang, keadaan kereta membuatnya tidak bisa tidur. Takutnya membuat Rajendra kewalahan jika ada sesuatu yang terjadi. Ditambah dengan banyaknya orang yang mungkin akan menganggu ketenangan keduanya.


"Kamu tidak ingin tidur? Nanti aku bangunkan setelah kita sampai di stasiun."


"Aku sudah tidak mengantuk."


Ignacia melihat sekitar beberapa kali. Tempat duduknya yang berada di dekat jendela membuat jarak pandangannya terbatas, terhalang kursi-kursi penumpang. Di sekitar mereka hanya terlihat penumpang laki-laki paruh baya. Namun di stasiun tadi Ignacia juga melihat beberapa hadis yang tampak seusai keduanya.


Dia khawatir saja jika Rajendra mengobrol dengan orang asing ketika ia tidur. Sudah cukup mengobrol dengan Feby untuk malam ini. Ignacia ingin menjadi egois dengan mengambil semua perhatian Rajendra.


"Oh ya, Ignacia, bagaimana jika aku antar pulang? Mungkin agar tidak merepotkan orang tuamu." Ignacia yang tadinya melihat sekitar gini berfokus pada Rajendra. Si gadis menggeleng sebagai bentuk penolakan. Tidak ingin merepotkan Rajendra setelah malam yang melelahkan.


"Tapi aku masih ingin lebih lama bersamamu. Bagaimana? Hanya untuk kali ini saja."


Ignacia terkekeh pelan melihat keinginan kekasihnya. "Kamu seperti tidak akan bisa bertemu denganku lagi setelah malam ini, Rajendra. Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat lusa? Kita habiskan seharian penuh bersama seperti waktu itu."