Beautiful Monster

Beautiful Monster
Datang Dan Pergi



Kembali ke stasiun yang ramai. Orang-orang berlalu lalang naik dan turun dari kapsul besi yang membawa mereka dari dan ke suatu tempat. Di tengah kesibukan sore hari, Ignacia tidak ada lelah-lelahnya menggenggam tangan Rajendra, melarangnya untuk pergi karena masih rindu. Sayangnya jadwal cuti Rajendra sudah habis dsn besok dia harus kembali bekerja.


"Kenapa kamu harus kembali begitu cepat? Kita belum melakukan banyak hal," rajuk si gadis berambut panjang di hadapan Rajendra.


Yang tangannya masih di tahan-tahan sejak tadi tidak kebenaran karena keretanya belum datang. Nanti jika sudah waktunya pergi, Ignacia pasti akan melepaskannya. Juga melihat Ignacia yang sangat tidak ingin ditinggalkan tampak manis. Apalagi dengan balutan kemeja hitam lengan pendek dan rok coklat membuatnm Ignacia tampak berbeda.


"Kenapa kamu masih bekerja meksipun sedang libur? Apa kamu tidak ingin pulang saja? Aku memiliki rencana untuk pulang Minggu depan." Mata coklat Ignacia menatap lurus ke manik mata Rajendra, mencoba mempengaruhi.


"Aku juga harus izin pada atasanku jika ingin pulang. Akan kuusahakan pulang dan menemuimu, bagaimana? Lagipula liburan kita masih banyak." Rajendra menyentuh bahu Ignacia, "tunggu aku sebentar lagi ya. Aku akan menemui kamu lagi."


Sebentar lagi itu berapa lama?


"Aku belum menemukan ide untuk hadiah ulang tahunku. Jika kuminta secara tiba-tiba bagaimana? Apa boleh?"


"Tentu saja," yakin Rajendra, "jika aku mampu, akan kukabulkan dalam waktu singkat. Tapi kumohon jangan meminta sesuatu yang aneh dan diluar kemampuanku ya."


Ignacia mengangguk. Sekarang Ignacia hanya perlu mencari cara agar Rajendra bisa mengabulkan permintaan kecilnya. Entah apapun itu, Ignacia akan memikirkannya dengan matang. Mungkin kupon hadiahnya bisa ditukar dengan kedatangan Rajendra kembali ke kotanya.


"Oh ya, ada yang ingin kukatakan padamu." Rajendra menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah kekasihnya, menatap lama sebelum berbicara. Jeda yang cukup lama membuat Ignacia gugup. Apalagi ditatap begitu intens begini bukan hal yang biasa.


"Jaga mata dan hatimu untukku, Ignacia. Jika ada yang bisa kulakukan, katakan saja padaku, mintalah dariku. Kecuali jika benar-benar darurat dan urusan kuliah, tidak masalah. Aku percaya kamu tidak akan selingkuh, karena itu kita jaga sama-sama ya hubungan ini."


Ignacia salah dengar kan? Laki-laki yang ada di hadapannya ini benar-benar kekasihnya? Dan yang baru dikatakan Rajendra bukalah remakan dari sebuah film?


Si gadis mengangguk, tersenyum ramah. Ignacia mengangkat jari kelingkingnya, "ya, ayo kita jaga bersama hingga jarak bukan apa-apa bagi kita." Ignacia jadi terbawa suasana sekarang. Rajendra mengaitkan kelingkingnya pada milik Ignacia, menyentuhnya jempol juga untuk mengikat janji.


Jadwal kedatangan kereta disiarkan. Sudah waktunya bagi Rajendra untuk kembali ke kotanya. Ignacia harus segera melepaskannya agar bisa bertemu lagi di kesempatan berikutnya.


"Aku akan merindukan kamu." Tangan Ignacia ditarik pelan, dibawanya ke dalam pelukan, "maaf karena aku hanya bisa menetap sebentar. Lain kali kita kencan seharian ya? Akan ku traktir banyak makanan enak dan melakukan apapun yang kamu inginkan. Entah kapan, tapi kita rencanakan dulu saja."


Ignacia terkekeh, menepuk punggung kekasihnya, "bukan entah kapan, yang benar itu jika kita sudah sama-sama memiliki waktu dan tidak harus mengorbankan hal lain."


Kereta Rajendra akhirnya sampai. Pelukan melonggar perlahan, genggaman tangan hangat terpaksa dilepaskan. Rajendra berjalan ke arah kereta yang sudah berhenti dengan sempurna. Tidak lupa dia melambaikan tangan ketika sudah sampai di tempat duduknya, mengucapkan selamat tinggal terakhir.


Ignacia membalasnya dengan senyuman, ikut melambaikan tangan dengan ceria agar Rajendra tidak merasa bersalah. Lain waktu keduanya pasti bisa kembali bersama. Pasti.


Beberapa menit selanjutnya kereta itu pergi meninggalkan stasiun. Ignacia tidak akan melihat kekasihnya dalam waktu dekat. Dan setelah kepergian kereta di jalur ketiga, suasana stasiun menjadi sangat hening bagi Ignacia. Dia berdiri di tengah keramaian, namun rasanya sepi.


"Kenapa melepaskan seseorang selalu sesulit ini?" batin Ignacia.


...*****...


Ignacia kembali ke asrama, dia harus bersiap-siap untuk pulang ke rumah orang tuanya. Minggu depan sudah akan datang karena sekarang bukan awal Minggu. Tidak perlu membawa semua barang. Hanya pakaian dan beberapa buku yang dia butuhkan untuk belajar.


Rencananya bukan Ignacia yang kembali sendirian, keluarganya akan menjemput Ignacia di depan asrama dan membawanya pergi liburan ke suatu tempat. Katanya Athira yang paling ingin pergi. Ignacia menebak jika adiknya ingin pergi ke pameran seni atau semacamnya.


Karena yang meminta ini si artis kecil keluarganya. Kadang Ignacia melihat hasil karya adiknya di sosial media. Kadang menghasilkan karya sendiri, kadang bersama kedua adiknya, dan bahkan teman-temannya juga ikut datang ke rumah.


Seseorang mengetuk pintu, membuat kegiatan yang ada di dalam asrama teralihkan. Ignacia berjalan dengan langkah berat menuju pintu, membukanya perlahan. Senyuman muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang ada di baliknya. Rupanya gadis berambut pendek dari sebelah asramanya.


"Ada apa?" tanya yang kamarnya diketuk.


"Nesya membuat kue dan ingin membaginya dengan kita," ia menyodorkan kotak kue di tangannya, "Nesya tidak bisa mengirimkannya sendiri karena akan menemui kakaknya diluar kota. Tadi ada kurir yang mengantarkan Karena ada es krimnya, simpan di lemari es agar kembali dingin," Danita menjelaskan.


"Terima kasih. Kamu akan pergi keluar?" Ignacia melihat pakaian yang dipakai temannya, keliatannya bukan pakaian yang hanya untuk kepentingan keluar sebentar.


"Aku akan mengambil koperku yang sedang diperbaiki. Aku setelah ini akan pulang. Aku membutuhkan koperku. Apa ada yang ingin kau titipkan? Aku juga akan membeli makanan."


Ignacia menggeleng, menolak tawaran temannya. Dibawanya kue pemberian Nesya ke dalam, diletakkan ke dalam pendingin sebelum meraih ponsel di atas tempat tidur. Ignacia mencari roomchat seseorang lalu mengirimkan pesan singkat.


...Nesya...


^^^Terima kasih untuk kuenya |^^^


^^^Kudengar kamu menemui kakakmu |^^^


^^^Hati-hati di jalan |^^^


Teman berkacamatanya itu mungkin tidak akan membuka ponselnya hingga sampai di tempat tujuan demi suasana nyaman berpergian. Bahkan jika sudah benar-benar nyaman, ponselnya hanya akan menyala keesokan harinya setelah bangun tidur. Omong-omong kenapa Nesya membuat kue? Ini pertama kalinya dia membuat makanan. Bukannya kurang puas, Ignacia hanya merasa heran.


...*****...


"Kamu makan saja sekarang," saran ayahnya dari belakang kemudi. Karena masih mengisi tenaga, jadinya mobil keluarga Ignacia harus berhenti sebentar. Apalagi Ignacia baru saja masuk mobil setelah meletakkan tasnya di bagasi. Suasana hangat langsung menyambutnya.


Ignacia menatap pemandangan kota tempatnya menuntut ilmu sambil makan. Beberapa kali si gadis berambut panjang ini mendapatkan gangguan dari kedua adik kecilnya nya yang terlampau penasaran. Arvin bertanya kenapa Ignacia tinggal di gedung asrama dan tidak pulang sementara Rafka bingung kenapa kakaknya tidak memakai seragam saat kuliah.


"Sudah, wawancara nya nanti saja. Kakak masih makan," tengah sang mama. "Oh ya, Athira membawa minuman dingin juga. Tolong ambilkan untuk kakakmu."


Lagi-lagi Athira yang menjadi perantara antara sang mama dan kakaknya. Ya mau bagaimana lagi? Athira tempatnya yang paling strategis untuk membantu mengambil barang yang disimpan di kursi belakang bagian bawah. Bagasi terlalu sesak dengan barang bawaan lain milik sang ayah.


"Nanti saja kalian wawancara sambil melihat pemandangan pantai," timbal sang ayah. Tiba-tiba saja ada ide yang terbang entah dari mana ke kepala ayah Ignacia. Katanya sekalian liburan mumpung Ignacia sedang libur kuliah. Berlibur tanpa salah satu anggota keluarga itu kurang menyenangkan.


Ignacia mengiyakan saja ajakan keluarganya. Toh jika hanya di rumah, dia tidak punya sesuatu untuk dibaca. Selain buku-buku yang ada hubungannya dengan mata kuliah. Ignacia sudah puas membaca dan ingin menghirup udara segar.


Ayahnya menjelaskan jika pantai yang akan mereka kunjungi ini tidak terlalu jauh dari kotanya menempuh pendidikan. Waktu tempuhnya kira-kira 1,5 – 2 jam menggunakan kendaraan pribadi. Tapi jika dihitung dari rumah, mungkin bisa hampir 3 jam dihitung dengan padatnya kendaraan pusat kota.


Selesai dengan sarapan paginya, Ignacia menyimpan bekas wajah makannya, beralih membuka minuman dingin dari Athira. Ayahnya hebat karena bisa membawa keluarganya ke jalan ketika hari masih pagi. Bahkan ketika Ignacia baru bangun, ayahnya sudah selesai membuat kopi katanya.


Liburan keluarganya berhasil sesuai rencana ayah. Beliau menyarankan untuk tinggal semalam di hotel dekat sana karena masih berat meninggalkan laut. Aroma segar yang bercampur bau garam yang sangat khas sulit untuk dilepaskan.


"Bagaimana?" tegur ayah, beliau menghampiri Ignacia yang tengah duduk di atas alas sambil membawa sebuah kepala yang sudah siap dinikmati. "Apa liburan ini bisa membuatmu tenang? Pasti sulit ya berada di universitas. Dan jauh dari rumah."


Ignacia mengangguk, menerima pemberian ayahnya. Dikiranya sang ayah akan kembali dengan kedua anak laki-lakinya bermain air di bibir pantai sebelah sana, namun rupanya tidak. Pria paruh baya yang di panggilnya ayah sepanjang hidupnya ini duduk di sebelah Ignacia. Duduk bersila dan mengedarkan pandangan.


"Ketika mama mendapatkan telfon darimu terakhir kali, mama buru-buru pergi agar bisa bicara berdua. Ayah kita ada sesuatu yang buruk, makanya mama tampak khawatir. Ayah tidak bisa bertanya karena mama bilang bukan masalah besar."


Apa mungkin yang tengah di khawatirkan ayahnya ini panggilan Ignacia ketika selesai berkencan? Ayahnya pasti berpikir jika tingkah mamanya berhubungan dengan kehidupan anak pertamanya di perantauan.


"Aku tidak mendapatkan masalah di kampus. Ayah kelihatannya salah paham." Ignacia terkekeh bersamaan dengan sang ayah. Kapak terakhir kali dirinya bisa duduk di samping kepala keluarga yang tangguh ini? Sepertinya sudah sangat lama.


Selama ini Ignacia tidak banyak bicara dengan ayahnya, wajar jika pria paruh baya ini agak gelisah. Anaknya tidak terbuka, tidak menghubunginya selain dari cerita mamanya, dan anaknya berada di kota asing sendirian. Orang tua mana yang tidak khawatir jika sudah di posisi ini?


"Kukira Athira merencanakan sesuatu untuk hari ini? Kukira dia akan mengajak kita pergi ke suatu tempat." Ignacia sudah sangat penasaran kemana adiknya ingin pergi padahal. Yang jelas pergi ke pantai ini bukanlah idenya.


"Dia merencanakan sesuatu, tapi rencananya akan dilaksanakan nanti. Habiskan air kelapanya. Ayah akan pergi berenang," pamit ayahnya seraya bangkit, berjalan menjauh mendekati kedua anak laki-lakinya yang sibuk membuat istana pasir.


Ignacia menghembuskan nafas panjang, mencoba menenangkan pikiran dari perasannya yang terlalu aktif. Si gadis mengedarkan pandangan, melihat ujung bibir pantai sebelah kanan dan kiri yang tidak begitu ramai. Sepertinya hanya ada beberapa keluarga saja yang datang. Karena sekarang memang bukan hari libur.


Sudut mata Ignacia menangkap sesuatu yang bergerak. Rupanya itu sang mama dan adik pertamanya tengah melambaikan tangan ke arahnya, mengajak berfoto bersama dengan pemandangan laut biru. Panggilan yang cukup keras dari keduanya membuat beberapa orang menoleh.


Sebaiknya Ignacia cepat datang sebelum mereka yang menghampiri. Diletakkannya kelapa yang baru diteguknya sedikit tadi, bangkit untuk memenuhi panggilan berfoto. Langit cukup mendukung hingga mereka tidak perlu menyipitkan mata untuk menunjukkan betapa indahnya ombak lautan di belakang.


"Rajendra apa kabar?" Celetuk mamanya hingga Ignacia urung menekan tombol untuk mengambil gambar. Athira yang sudah berpose cantik dengan senyuman seketika hilang karena kakaknya sedang terkena sengatan listrik dari pertanyaan sang mama.


"Bertanyanya nanti saja," kesalnya, "kita berfoto dulu."


Sang kepala keluarga membawa kedua anak laki-lakinya untuk beristirahat di tempat Ignacia duduk tadi. Membawakan dua kelapa lain dan mengamankan milik anak pertamanya dari seragam si kecil bersaudara.


"Ayo minum air kelapanya, setelah ini kita makan siang," titah ayah sambil membawa kelapa-kelapa lain. Entah kapan Ayahnya menyiapkan ini semua. Ignacia yang tadinya memperhatikan keluarganya bersenang-senang saja tidak melihat dari mana datangnya kelapa-kelapa itu.


Ayah menyelesaikan minum air kelapanya dengan cepat, segera berlalu untuk mengambil sesuatu di bagasi mobil. "Ignacia, Athira, Rafka, Arvin, ayo bantu ayah membawa semua barangnya turun." Wah sudah seperti absen di kelas saja. Semua anak ayahnya dipanggil.


Rafka membawa sebuah paperbag berisi apel, lalu sekotak anggur diurus oleh Arvin, minuman di dalam kotak pendingin dibawa Ignacia seorang diri dan sisanya kotak-kotak berisi makanan biar Athira yang mengurusnya.


Ketika semua bekal yang disiapkan ditata di atas tikar, rasanya seperti makan-makan. Menunya lebih banyak daripada saat Ignacia kencan ganda hari itu. Tentu saja latar belakangnya karena keluarga Ignacia memiliki 2 anggota lagi.


Mama menyiapkan martabak asin, samosa, roti isi, dan sushi. Yang terakhir ituu Athira iseng membuatnya karena penasaran setelah melihag acara memasak di tv. "Aku mengeluarkan eksta energi untuk membuatnya," ucap Athira memberitahu dengan bangganya. Membuat sushi tidak semudah membuat warna baru di palet.


Fokus ayah dan mamanya tiba-tiba tertuju pada Ignacia. Bertanya apa Ignacia ingin tambah sushinya, ingin dipotong kan apelnya, bagaimana rasa samosa dan roti isi buatan mamanya, lalu apa Ignacia rasa anggurnya. Athira dan kedua adiknya tidak mendapatkan perhatian yang sama.


"Kenapa mama dan ayah bersikap aneh?" tanya Rafka heran pada Athira. Ignacia tentu dapat mendengarnya karena adik keduanya ini duduk di sebelahnya.


"Aku juga ingin tahu kenapa," bisik Ignacia tepat di telinga si adik laki-laki pertama.


"Rajendra, setelah melepaskan kamu kembali, keluargaku datang untuk memberikan perhatian lebih seperti yang kamu lakukan ketika bersamaku," batin Ignacia.