
Ignacia merenggangkan tubuhnya, tak lupa menghirup udara malam hari di puncak bukit. Satu tempat yang sangat dirindukan Ignacia untuk menghabiskan waktu bersama Rajendra. Sekali lagi keduanya akan melakukan ritual sebagai pelengkap pertemuan keduanya. Duduk di sebuah bangku taman dan makan es krim dua rasa berbeda. Entah sampai kapan keduanya akan menyudahi kebiasaan makan es krim ini.
Ketika orang-orang akan membeli makanan hangat, panas, dan memiliki rasa lebih kuat, sepasang kekasih ini justru makan es krim dingin dengan begitu damainya. Pemandangan yang tidak biasa namun juga tidak ada yang salah.
Langit terlihat sangat cerah, menunjukkan pemandangan paling menawan antara sang Dewi malam dan para pengikutnya. Ditambah dengan pencahayaan dari gedung-gedung tinggi dan lalu lintas di jalan utama yang bersinar di bawah lautan bintang,dunia di hadapan Ignacia jadi dua kali lipat lebih bercahaya.
"Ignacia, apa yang paling kamu takutkan dariku?" Gadis yang namanya baru di panggil itu menoleh, menatap bingung. Butuh beberapa detik hingga Ignacia bisa mencerna pertanyaan Rajendra tadi tanpa meminta pengulangan.
"Yang paling aku takutkan? Aku takut kamu menyerah padaku. Aku takut jika suatu hari kamu akan selesai denganku, kita tidak akan bertemu lagi, hidup dengan kesibukan masing-masing. Memikirkannya saja aku tidak berani." Ignacia menatap mata Rajendra begitu dalam, "Meskipun begitu, aku yakin jika hubungan kita tidak akan bisa berakhir begitu saja."
Sudut bibir Rajendra terangkat, membentuk senyuman kagum atas jawaban sungguh-sungguh kekasihnya. Jujur saja Rajendra terharu, kekasihnya memberikan keyakinan besar pada dirinya juga hubungan ini. Sesuatu yang belum pernah Rajendra lakukan sepenuhnya. Selama ini ia hanya yakin jika hubungan keduanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Mau Rajendra merasa yakin atau tidak.
"Kenapa kamu sangat takut kehilangan aku?"
Si gadis berpikir-pikir sebentar, "Karena aku belum pernah menemukan peranmu di diri orang lain? Kamu melengkapi bagian hidupku yang hilang. Rajendra, pertanyaanmu membuatku takut. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Ignacia sekarang menatap khawatir. Takutnya ada sesuatu yang disembunyikan Rajendra tanpa sepengetahuannya.
Melihat kekasihnya menggeleng, hati Ignacia merasa sedikit lega. Sekarang ia ingin coba menanyakan hal yang sama. "Apa kamu juga punya sesuatu yang kamu takutkan tentang aku, Rajendra?" Ada jeda panjang sebelum laki-laki beralis tebal di sampingnya ini menjawab. Ignacia menunggu dengan sabar, tak lupa memberikan perhatian pada es krimnya agar tidak leleh.
"Yang paling aku takutkan--jika kamu jatuh cinta pada orang lain? Aku takut jika ada orang lain yang bisa membuatmu nyaman kecuali aku." Ignacia memutar tubuhnya lebih condong ke arah Rajendra, mendengarkan ketakutan terbesar kekasihnya dengan baik. Ia tidak pernah tahu jika Rajendra memiliki ketakutan soal dirinya.
Dalam kondisi ini, Ignacia merasa bahwa kekhawatiran Rajendra itu tidak akan pernah terjadi. Bagaimana bisa Ignacia memikirkan orang lain sementara orang yang selalu Ignacia ingat sedari bangun tidur hingga kembali tidur adalah Rajendra? Senang mengetahui Rajendra khawatir pada dirinya jika sampai berlain hati.
"Aku bisa pastikan jika aku tidak akan menyukai orang lain selain kamu, Rajendra. Entah bagaimana rasa-rasanya aku tidak ingin menyukai orang lain. Aku tidak akan menyerah pada hubungan ini dengan mudah, kamu tahu." Sekarang Rajendra yang menyondongkan diri pada Ignacia, mengangguk paham. Ikut berharap kekasihnya akan tetap bersamanya.
Hening, memberikan waktu untuk mengurus es krim masing-masing.
Di tengah keheningan, Rajendra kembali membuka obrolan dengan pertanyaan lainnya. "Ignacia, selama ini aku merasa jika kamu lebih banyak mengapa hubungan ini daripada aku. Kamu seperti memberikan lebih banyak perhatian daripada yang aku lakukan. Kamu all out untuk menjaga hubungan ini."
Pertanyaan apa lagi itu? Ignacia tidak merasa jika dirinya lebih banyak berkontribusi hingga bisa dikatakan memberikan segalanya untuk menjaga hubungan dengan Rajendra. Ignacia tidak punya alasan, ia hanya begitu menyukai Rajendra yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Tidak menyadari sebanyak apa ia menjaga keutuhan hubungan.
Laki-laki ini lalu menjelaskan kenapa bisa sampai bertanya demikian. Ignacia selalu siap sedia memberikan waktu untuk mengirimkan kabar, menunggu Rajendra selesai dengan kesibukan, dan bahkan datang ke tempat Rajendra hanya untuk mengajak pulang bersama. Belum lagi perhatian yang ia berikan setiap keduanya tengah bersama atau tidak.
Beberapa cerita yang Ignacia ceritakan juga katanya menunjukkan bahwa si gadis begitu nyaman menjalin hubungan dengan Rajendra. Ignacia banyak memberitahu Rajendra soal cerita yang bahkan keluarga atau temannya sendiri belum tahu. Seperti Rajendra orang pertama yang ia temui untuk bercerita.
"Seperti yang kukatakan tadi, aku yakin hubungan ini tidak akan mudah selesai begitu saja. Aku yakin jika aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama. Kalaupun tiba-tiba aku jatuh, ditinggalkan, atau bahkan dibuang, setidaknya aku pernah merasakan bagaimana rasa bahagia yang orang-orang dapatkan ketika bertemu dengan orang yang bisa mereka percaya."
Sekali lagi Rajendra dibuat kagum, hampir tidak bisa berkata-kata. Rasa penasarannya kini terjawab. Dan alasan kenapa ia belum bisa sebanyak itu berkontribusi pasti karena Rajendra belum pernah gagal di hubungan percintaan seperti Ignacia di masa lalu. Ignacia adalah perempuan pertama dan terakhir untuknya. Cinta pertamanya.
"Karena Bagas dahulu tiba-tiba meninggalkan kamu, karena itu kamu takut aku juga pergi seperti mantanmu itu?"
Mungkin memang itu yang terjadi tanpa Ignacia sadari. Kejadian dimana laki-laki tidak berperasaan itu tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa alasan membuat Ignacia frustasi. Padahal rasanya dia tidak membuat kesalahan hingga harus ditinggalkan dalam kondisi tidak adil.
"Aku tidak ingin membahas yang sudah lalu. Yang penting aku sudah bahagia bertemu denganmu. Berita bagusnya, karena aku berpisah dengan Bagas, aku kemudian bisa bertemu dan menjalin hubungan denganmu." Rajendra berbeda jauh dari Bagas. Rajendra tidak akan pernah menjadi seperti Bagas. Ignacia sangat yakin itu.
Pertanyaan yang Rajendra ajukan tadi, apa itu alasan kenapa ia ingin bertemu dengan Ignacia lebih cepat? Apa ada keraguan dalam dirinya soal hubungan ini hingga menanyakan hal mendalam soal perasaan Ignacia?
"Rajendra, jika ada sesuatu diantara kita, masalah besar ataupun kecil, aku ingin kita membicarakannya dan mencari jalan tengah bersama. Begitu cara orang-orang menjaga hubungan mereka agar tetap hangat kan?"
"Tentu. Jangan khawatir soal itu. Kita sudah melalui banyak masa sulit, sebentar lagi kita akan memanen hasilnya." Rajendra merangkul bahu gadisnya penuh kasih sayang, satu kecupan singkat Rajendra berikan pada puncak kepala gadis kesayangannya. "Terima kasih sudah bersamaku malam ini, Ignacia. Aku merasa lebih baik."
Si gadis mendongak, tatapan matanya seolah bertanya kenapa Rajendra mengatakan itu. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang kelelahan, jadi aku ingin bertemu denganmu." Bertemu dengan Ignacia membuat energi Rajendra kembali penuh.
Sebelum pulang, Rajendra ingin mengajak Ignacia berjalan-jalan di bukit sebentar. Sambil bergandengan tangan, keduanya diam menikmati pemandangan sekitar. Beberapa pasangan juga terlihat baru kembali dari arah yang tengah dituju oleh sepasang kekasih ini.
"Kita akan pergi kemana?"
Ah pas itu alasan kenapa bagian ini memiliki jalan berbatu yang memudahkan orang-orang untuk naik. Setelah sampai, Ignacia bisa melihat beberapa kursi taman lain yang disusun berjejer. Memudahkan orang-orang untuk menyaksikan keramaian kota. Benar kata Rajendra, disini lebih luas daripada di bawah tadi.
Rajendra mengajak gadisnya mendekati pagar pembatas. Melihat lebih jauh sudut-sudut kota yang diterangi lampu-lampu rumah. Mungkin menyenangkan memiliki rumah di tepi ketinggian. Ketika akan tidur, pemandangan yang disajikan adalah lampu-lampu kota yang mirip kunang-kunang.
"Aku tiba-tiba ingat tentang pesanmu beberapa tahun lalu, Rajendra. Jkka aku sedih, aku tidak boleh datang kemari karena kamu takut ada orang yang menenangkan aku ketika kamu tidak ada." Ignacia tersenyum kecil, "jika aku sedih, lebih baik aku menemui kamu saja. Agar kamu menenangkan aku."
Rajendra bahkan tidak mengingat dengan jelas apa yang ia ucapkan waktu itu. Yang ia inginkan hanya Ignacia tidak datang kemari sendirian. Seperti yang gadisnya katakan tadi. Tangan keduanya masih bertautan, rasanya semakin erat. Rajendra akan mulai memberikan kepercayaan penuh pada hubungan keduanya.
Ignacia menoleh, menatap kekasihnya. Satu langkah lebih dekat ia ambil, membuat yang di dekati menatap ke arahnya. Kalau begitu gagal rencana Ignacia untuk mencium pipi kekasihnya. Tidak mungkin ia akan bercumbu dengan laki-laki ini di depan beberapa orang yang berlalu lalang.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa." Si gadis kembali ke posisinya. Mengembalikan satu langkah yang sempat ia ambil agar tidak lama-lama bertatapan dengan Rajendra. Apalagi jarak keduanya tadi cukup dekat. Pipi Ignacia memanas jika Rajendra terus menatapnya seperti itu. Pandangan sudah ia alihkan namun si laki-laki masih tetap memandangi Ignacia.
Cup!
Cepat-cepat Rajendra bersikap seolah tidak terjadi apa-apa setelah memberikan oleh-oleh pada Ignacia. Wajah Ignacia semakin memerah, lebih merah dari kepiting rebus. Sudah beberapa kali keduanya melakukan skinship serupa. Kenapa Ignacia masih merasakan gejolak aneh di dadanya? Tubuhnya lemas akibat salah tingkah, jadi ia menyandarkan kepalanya pada lengan Rajendra.
Dengan sopan Rajendra menahan senyum.
Waktu terus berjalan, tak terasa sekarang Rajendra harus memulangkan Ignacia kembali. Perasaan enggan pulang tentu muncul di hati Ignacia, sekarang bukan saatnya merengek menolak pulang. Sebaiknya Ignacia tidak membuat kekasihnya kewalahan. Tadi ia juga sudah berjanji pada ayahnya untuk pulang tepat waktu.
Ignacia menyandarkan kepalanya di punggung Rajendra, memeluk tubuh jangkung itu bercampur rasa rindu. Belum berpisah saja sudah rindu. "Rajendra, apa kita masih bisa bertemu lagi di liburan selanjutnya? Aku masih boleh menemuimu di restoran lagi?"
Mungkin Rajendra tidak mendengar pertanyaan Ignacia, makanya ia tidak menjawab. Suara Ignacia pasti terlalu kecil hingga tak terdengar di antara keramaian jalan utama. Mata Ignacia perlahan tertutup ketika angin malam menerpa wajahnya lebih kuat. Bau parfum Rajendra bercampur dengan angin yang melewati Ignacia.
"Rajendra, lain kali aku ingin menjemputmu lagi."
Sesampainya di rumah, Ignacia menggenggam satu tangan Rajendra dengan kedua tangan. Menyesal sudah membuat kekasihnya merasakan dingin. Rajendra yang masih terduduk di atas motor hanya bisa diam, memandangi wajah Ignacia. Tidak ada rasa risih atau segera menarik tangannya kembali. Rajendra akan memanfaatkan menit-menit singkat ini selagi bisa.
"Kabari begitu kamu sampai di rumah, Rajendra. Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."
"Dengan senang hati. Masuklah, udara malam tidak begitu baik." Rajendra akan pergi setelah memastikan Ignacia masuk ke dalam rumah. Matanya mengikuti arah gerak kekasihnya yang masih bisa melambaikan tangan sebelum hilang di balik daum pintu. Tersisa Rajendra sendiri, senyuman yang ia suguhkan pada Ignacia menghilang perlahan.
Ignacia mengira jika pulang tepat waktu sudah cukup untuk membuatnya tidak perlu berbicara dengan ayahnya. Gadis itu sudah berbohong, jadi hatinya merasa tidak enak jika harus mengobrol dengan ayahnya lagi. Terlebih jika ayahnya datang ke kamarnya tepat saat Ignacia akan membalas pesan Rajendra yang sudah sampai di rumah.
Ayah Ignacia mengetuk pintu, izin masuk tanpa menutup pintu di belakangnya. Ignacia diminta duduk di sisi tempat tidur sementara ayahnya ada di kursi meja belajar anak pertamanya ini. Perasaan yang di ajak bicara mulai tidak enak. Apa ayahnya akan marah? Apa ayahnya melihat laki-laki yang sudah mengantar jemput anaknya barusan?
"Ayah hanya ingin bertanya apa kamu sudah bisa memastikan kapan akan lulus. Sebentar lagi kamu akan menginjak tahun keempat. Ayah harap kamu bisa lulus tepat waktu dah segera wisuda." Pembicaraan yang berjalan jauh dari dugaan awal Ignacia. Ayahnya hanya ingin tahu masalah kuliah. Syukurlah jika ayahnya tidak tahu apapun soal Rajendra.
"Jangan merasa terbebani. Jika tidak bisa lulus tepat waktu, apa tahun depan kamu bisa pulang ke rumah? Ayah rencananya akan mengadakan acara makan-makan. Hanya keluarga kita saja, ayah akan membantu mama dan Athira untuk membuat hidangan spesial menyambut kepulangan mu."
Ignacia tersentuh dengan rencana ayahnya di masa depan. Katanya meskipun Ignacia tidak bisa lulus tepat waktu, keluarganya akan tetap bangga karena Ignacia bisa bertahan sejauh ini. Ya meksipun semua orang pasti ingin Ignacia segera menyelesaikan sekolahnya dan mulai mencari pekerjaan sebagai kehidupan awal setelah kuliah.
Ada yang aneh, kenapa ayahnya harus memberikan sedikit bocoran soal kegiatan yang akan mereka lakukan saat Ignacia pulang si liburan selanjutnya? Sebelumnya semua liburan dan kejutan tidak pernah diberitahukan lebih dulu. Apa ayahnya hanya ingin memastikan Ignacia tidak merasa kecewa pada dirinya sendiri? Upaya yang sama seperti saat dirinya di ajak berlibur ke pantai waktu itu?
Selanjutnya ayahnya penasaran dengan kegiatan Ignacia bersama temannya barusan. Hanya sebagai basa-basi antara ayah dan anak saja. Ayahnya ingin menunjukkan sosok yang biasanya disebut hilang oleh orang-orang yang katanya hanya bisa melihat sosok ayahnya namun tidak bisa merasakan perannya hidup diantara keluarga.
"Kalau begitu sekarang tidurlah. Besok bangun lebih bagi agar badan terasa segar. Ayah akan pergi ke kamar."
Kamar Ignacia perlahan mulai kembali pada suhu normal. Kepergian ayahnya ikut membawa suasana aneh yang Ignacia keluarkan. "Hah beruntung ayah tidak menanyakan hal-hal menakutkan. Namun cepat atau lambat ayah harus bertemu dengan Rajendra. Demi masa depanku."