
"Sudahlah, Ignacia. Jangan menangisi laki-laki tidak berguna itu. Dia pasti akan menyesal sudah meninggalkanmu." Sekeras apapun Utari mencoba menenangkan temannya, tetap saja si gadis tidak bisa mengendalikan air mata yang sudah membasahi pipinya sejak tadi.
Apa yang terjadi pada Ignacia satu jam yang lalu merubah seluruh suasana hatinya. Sang kekasih datang tadi, membawakan sebuah surat dengan senyuman seolah sengaja datang untuk bertemu. Dan satu kaya yang dia ucapkan benar-benar berbanding terbalik.
"Aku ingin hubungan kita berhenti disini."
Mata Ignacia hampir membulat sempurna. Hatinya yang berbunga-bunga dengan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya seketika berubah menjadi hujan badai. Bagaimana bisa laki-laki itu memutuskannya dengan sangat mudahnya? Bahkan dengan senyuman yang terkesan bahagia.
"Sepertinya dia hanya penasaran denganmu, Ignacia. Dan setelah rasa penasarannya hilang, dia meninggalkanmu. Sudahlah, dia tidak berarti lagi sekarang," Aruna menimpali. Di sampingnya ada Dianti yang hanya menatap namun samar-samar mengangguk.
"Aku tidak sedih karena ditinggalkan seperti itu," Ignacia mengklarifikasi, "tapi aku menyesal karena sudah menyukai laki-laki seperti dia. Padahal kami baru saja kenal dan laki-laki itu mencampakkan aku seperti sampah."
Utari menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah basah Ignacia. Perlahan-lahan tangisannya berhenti. Padahal dia sudah berusaha menjadi kekasih yang baik, dan ini belum berjalan lama. Ignacia tidak percaya dengan apa yang kulakukan.
Si gadis mengusap wajahnya yang basah dengan kasar, minum beberapa teguk air yang dibawanya kemudian menatap teman-temannya. "Memangnya apa yang salah denganku? Aku juga tidak melakukan apapun yang bisa membuatnya membenciku."
"Mungkin dia merasa tidak pantas dan akhirnya pergi," jawab Rananta dengan kepala yang disangga dengan tangan, "kau bisa mencari orang yang lebih baik daripada laki-laki dekil itu. Lagipula apa yang kau sukai darinya?"
Rananta terlihat muak karena sahabatnya menangisi seseorang yang seharusnya tidak ditangisi. "Carilah seseorang yang sebaik dirimu dan lebih pintar dari mantanmu," suruhnya acuh.
"Lupakan saja soal patah hatimu dan pergi bersama kami ke kantin. Kau membutuhkan energi setelah berolahraga." Widia mengelus perutnya yang terasa hampa. Kemudian mendapatkan pukulan ringan di bahunya dari Hanasta. Mengingatkan jika temannya memiliki waktu yang buruk.
"Ya, ayo kita pergi ke kantin," putus Ignacia kemudian bangkit mendahului keluar kelas. Meninggalkan kesembilan temannya yang masih bergerombol untuk menenangkannya.
"Kurasa dirinya sedang terguncang," gumam Utari pada Maharani yang kemudian diangguki teman berkacamatanya.
"Sebaiknya kita cuma mengikutinya sebelum bel berbunyi," ajak Kemala sambil menggandeng Indri. Dirinya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati segelas jus dingin sambil makan cilok di kantin sebelum semakin ramai orang.
Di rumah, Ignacia langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apapun pada Athira yang kebetulan juga baru sampai di rumah dengan seorang temannya. Dia menatap kakaknya yang seperti sehabis menangis. Tidak biasanya Athira melihat kakaknya dalam keadaan begitu.
Diketuknya pintu kamar sang kakak oleh yang lebih muda. Memanggil beberapa kali untuk bertanya, "kakak kenapa?". Namun tidak kunjung mendapatkan kesempatan hingga Athira memutuskan untuk memutar gagang pintu.
Ignacia ada di sisi tempat tidurnya dengan ponsel di sebelah kaki. Kakaknya terduduk disana seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Perlahan Athira mendekat, ikut duduk di samping kakaknya. "Apa kakak mengalami hari yang buruk? Kakak bisa mengatakannya padaku."
"Aku baru saja diputuskan," gumam Ignacia. Dirinya sekarang merasa lebih santai daripada sebelumnya. "Aku tidak tahu apa yang kulakukan hingga dia membenciku, tapi kuharap bukan karena aku begitu perhatian padanya."
Ignacia menarik kakinya, memeluk lututnya kemudian menenggelamkan wajahnya di antara tumpukan tangan. Ingatannya kembali pada waktu dimana Ignacia begitu bahagia mendapatkan seseorang yang menyukainya lebih dari seorang teman. Rasa bahagianya tidak terhingga.
Mungkin matanya dibutakan sesaat dengan perasaan berbunga-bunga, bahkan dia tidak melihat sedikitpun rasa tidak nyaman pada mantannya itu. Tapi apa yang sudah dia lakukan? Ignacia membalas pesannya dengan cepat, menyapa dan tersenyum setiap tidak sengaja bertemu.
Sepertinya ada yang salah dari laki-laki itu, pikir Ignacia.
"Kakak menangis karena laki-laki itu? Dia bahkan tidak keren dan tidak tampan. Dan juga kakak pasti bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik darinya." Athira kesal melihat kakaknya merasa sedih. Padahal seharusnya dia tidak mengatakan hal buruk tentang mantan kakaknya.
"Apa laki-laki itu memang semudah itu untuk membuang perempuan?" Ignacia mengangkat separuh wajahnya, menatap adiknya, "apa dia jadi besar kepala karena aku menerimanya dalam sekali percobaan? Kurasa aku sudah bersikap bodoh."
"Memangnya dahulu kenapa kakak menyukainya?"
"Karena dia banyak membantuku untuk menyesuaikan diri di kelas sore. Dia membuatku lebih berani dan- hah sudahlah aku tidak ingin membahasnya. Lupakan saja." Ignacia kembali menyembunyikan wajahnya. Menghembuskan nafas panjang nan berat yang sulit dipercaya.
"Kakak ini baru saja masuk SMP tapi sudah ingin berpacaran saja. Sudahlah, daripada hanya bersedih karena laki-laki payah, lebih baik kakak menemani aku membuat makanan. Mama tidak memasak dan kita diminta membuat sesuatu untuk dimakan."
"Kau berganti pakaian saja dulu dan menunggu di dapur. Aku akan membersihkan diri dan menemuimu."
Athira menurut, pergi keluar kamar kakaknya kemudian menutup pintunya perlahan. Seperginya Athira, Ignacia bangkit untuk melakukan apa yang dikatakannya pada si adik. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, dilihatnya pantulan dirinya sendiri dari cermin.
"Dia memang tidak luar biasa, tapi dia membantuku untuk menjadi lebih berani di tempat yang membuatku takut," gumam Ignacia sambil menahan tangis. Bagaimanapun, laki-laki yang baru saja meninggalkannya dengan cara yang tidak adil ini pernah menjadi sesuatu beginya.
...*****...
Ignacia memotong sayuran dengan lemas. Energinya habis sebab menangis di jam kosong sekolah. Tingkahnya terlalu kekanak-kanakan untuk anak seusianya memang. Tapi siapa yang bisa mengendalikan perasaan sedih yang bercampur kemarahan tidak berasalan?
"Menurutmu kenapa aku diputuskan?" Ignacia bertanya dengan suara pelan, "apa karena aku terlalu mudah ditebak? Temanku bilang jika laki-laki itu hanya penasaran denganku dan pergi setelah merasa puas."
"Entahlah kak, aku belum pernah terjebak di dalam hubungan romantis. Sepertinya laki-laki itu sudah membuat kakak buta. Meskipun sikapnya baik dan romantis, kakak tidak seharusnya membuang-buang perasaan kakak untuk orang seperti dia. Kakak pasti akan bertemu dengan orang yang lebih baik nanti."
Kompor dinyalakan oleh yang lebih muda. Dia memasukkan minyak goreng dan menunggunya hingga panas. "Kakak tidak perlu memikirkannya lagi. Toh sudah berlalu. Tapi jika kakak ingin membuat hati kakak lega, kenapa tidak bertemu dengan Kak Bahri saja?"
Ignacia mengoper sayuran di tangannya pada sang adik tanpa mengatakan apapun. Langsung pergi keluar dapur untuk mengambil ponselnya di kamar. Saran Athira kedengaran bagus. Temannya ini pasti bisa membantunya karena pernah memiliki mantan sebelumnya.
Dan Bahri juga yang memperingatkan Ignacia untuk berhati-hati saat berpacaran dengan mantannya.
"Apa yang dilakukan mantan kakak hingga kakak yang seperti ini bisa begitu sedih?" gumam Athira. Tangannya bersiap untuk mencuci sayuran yang dibawa tanpa protes.
...*****...
Kebetulan Bahri ada di rumahnya dan tidak sedang melakukan apapun. Ponselnya masih dalam mode pengisi daya, jadinya dia hanya merebahkan diri di samping ponselnya yang baru terisi setengah. Benar-benar tidak melakukan apa-apa selain menatap langit-langit dengan mata yang perlahan terpejam.
Suara kecil dari ponselnya menginterupsi. Membuat rasa penasaran Bahri datang. Pasalnya dia tidak sedang menunggu pesana apapun. Dan yang didengarnya adalah suara notifikasi pesan singkat.
New Message from Ignacia
| Hei aku membutuhkan saran
| Bisa bertemu nanti malam?
Bahri menatap malas. Nanti saja dia membalas pesan temannya. Tapi jika dipikir-pikir, kenapa Ignacia mengajaknya bertemu? Ini pertama kalinya gadis itu mengajak seseorang bertemu secara mendadak. Beruntungnya nanti malam Bahri juga ingin keluar rumah untuk bermain di taman.
Malam harinya mereka benar bertemu. Ignacia datang dengan wajah kusut yang bisa langsung ditebak oleh si teman laki-laki. Bahri benar bahwa laki-laki yang mengencani temannya ini bukan orang yang baik. Dari wajahnya saja sudah terlihat tampang penjahatnya.
"Jadi bagaimana ceritanya?" Tanya Bahri memulai. Tak lupa menggeser minuman dingin yang dia beli untuk Ignacia.
Si gadis mulai bercerita. Kisah menyedihkan yang memalukan sebenarnya. Ignacia tidak punya pilihan selain bercerita dan menebak-nebak maksud dari mantannya itu. "Dia membuatku merasa sangat buruk. Kenapa dia memutuskan aku dengan senyuman itu? Aku muak mengingatnya."
"Mungkin itu yang disebut dengan penasaran, Ignacia. Sudahlah, dia bukan orang yang baik pada akhirnya. Lupakan saja dan cari sesuatu yang bisa membuatmu melupakannya." Bahri bicara dengan nada santai. Melirik Ignacia secara diam-diam takut salah bicara.
"Menurutmu apa yang bisa kulakukan? Aku tidak pandai melakukan apapun." Tangan si gadis perlahan meraih minuman dari Bahri. Membukanya dengan gerakan lamban namun pasti.
"Ya lakukan sesuatu yang tidak harus bisa kau lakukan. Cobalah bermain pesan tanpa nama. Tanyakan pada seseorang tentang hobi mereka yang mungkin bisa menginspirasimu. Atau cari terapi tanpa pengawasan yang bisa kau lakukan sendiri."
Ignacia menoleh dengan mulut yang akan meminum minuman dinginnya. Kedengarannya apa yang dikatakan Bahri itu benar. Lantas dia bertanya aplikasi apa yang Bahri maksud. Bahkan dia membantu Ignacia untuk mengunduhnya.
"Jangan katakan nama aslimu pada orang asing. Jangan katakan hal-hal yang pribadi. Cukup bahas saja soal apa yang ingin kau tanyakan. Mungkin tidak mudah untuk menemukan seseorang yang tepat, namun kurasa akan berhasil."
"Darimana kau tau aplikasi ini?" Ignacia bertanya. Matanya menatap pada aplikasi di layar ponselnya.
"Temanku. Akan kubantu kau membuat akun. Ingat apa yang kukatakan padamu barusan."
Ignacia tidak langsung mencoba apa yang dikatakan Bahri. Dia ingin melakukannya nanti malam saja. Bertemu dengan orang baru bukanlah sesuatu yang mudah bagi Ignacia. Jiwa pemalunya begitu kuat dan sulit di tembus.
Ini alasan kenapa Ignacia menyukai mantannya waktu itu. Laki-laki itu membuatnya tetap berada di zona nyaman meskipun harus berada di tempat yang jauh berbeda.
"Hubungi aku jika kau ingin menggunakan aplikasi ini. Telfon atau apalah terserah padamu. Akan ku pastikan kau baik-baik saja selama menjadi apa yang ingin kau lakukan untuk mengalihkan perhatian." Ignacia tersenyum kecil, perhatian sekali temannya ini.
"Bagaimana jika aku tidak menemukan apa yang kucari setelah berbicara dengan banyak orang?"
"Kalau begitu akan kucarikan untukmu nanti. Jangan khawatir. Aku sudah ahli dalam pengalihan perhatian jika soal hati begini."
...*****...
Athira mengetuk pintu kamar kakaknya. Memutar kenop pintu setelah mendapatkan izin dari yang di dalam. Dilihatnya sang kakak duduk menatap ponsel di meja belajarnya. Tidak ada yang gadis itu lakukan selain duduk diam. Kedatangan Athira pasti mengganggu fokus kakaknya.
"Aku ingin meminjam gunting, Kak."
"Ya, cepat kembalikan setelah selesai."
"Apa yang Kakak lakukan?" Athira bertanya sebelum pergi, "apa kakak menunggu pesan seseorang? Kakak masih menghubungi mantan kakak itu?"
Ignacia menggeleng tanpa menjawab. Menatap adiknya sebagai kode untuk yang lebih muda agak meninggalkannya sendirian. Ignacia harus mengumpulkan banyak keberanian untuk memakai aplikasi ini. Sudah lebih dari satu jam Ignacia mencoba fokus, namun dirinya selalu merasa gagal.
...Bahri...
^^^Kurasa aku tidak bisa melakukan ini |^^^
^^^Apa kau bisa Carikan saja untukku? |^^^
^^^Sesuatu yang menyibukkanku |^^^
| Kau ini memang payah
| Kalau begitu cobalah membaca buku atau sesuatu
| Mulai dari genre yang ringan-ringan saja
| Cari rekomendasinya di internet
^^^Ya tidak perlu mencelaku seperti itu |^^^
^^^Kau ini dasar laki-laki tidak pengertian |^^^
^^^Padahal aku baru saja patah hati |^^^
| Kalau aku tidak perhatian padamu
| Kenapa kau bertanya padaku?
^^^Karena kau sudah lama mengenalku |^^^
Ignacia mengabaikan pesan yang datang dari Bahri setelahnya. Mencari-cari soal buku seperti yang direkomendasikan laki-laki tadi. "Mungkin buku bisa menghilangkan stress," gumam si gadis sambil mengetikkan sesuatu di pencarian online.
Membaca buku dapat membantu mengalihkan pikiran dan membuat Anda sibuk dengan cara yang menarik. Saat membaca dan terus membaca, pikiran cenderung melakukan perjalanan ke alam lain yang membantu Anda menjadi lebih rileks.
Ignacia membaca artikel yang tersedia. Bahkan tanpa sadar dia sekarang sudah membaca lebih dari tiga artikel hanya untuk mengetahui keampuhan teknik membaca buku. Hingga di sebuah artikel, ada yang lebih menarik perhatiannya.
Bibliotherapy atau biblioterapi adalah terapi yang dilakukan dengan membaca buku. Terapi ini dapat membantu serta meningkatkan kondisi kesehatan mental seseorang.
Sejujurnya Ignacia tidak merasa dirinya mengalami masalah kejiwaan atau apapun. Tapi jika tepai seperti ini bisa membantu meningkatkan kondisi kesehatan pasca kehilangan, mungkin dia bisa mencobanya. Lagipula Ignacia tidak bisa terus-menerus mencoba melupakan mantannya sendirian.
"Membaca buku tidaklah sulit, benar?"
Dilihatnya sebuah artikel lain. Ada sebuah review tentang sebuah acara penandatanganan buku pertama oleh seorang penulis wanita muda. Ignacia melihat cover buku terbaru yang membuat acara itu tergelar sekilas. Rasa penasarannya muncul dari judul yang tertera.
"Kelihatannya menarik. Apa aku harus membeli buku ini saja? Genrenya juga tidak begitu rumit."