Beautiful Monster

Beautiful Monster
19. Bulan Purnama



Suara kicauan burung terdengar ke dalam gua. Miho membuka matanya sambil menggeliat kecil saat tidur nyenyaknya terbangun. Ia mengangkat kepala, menyadari jika semalaman dirinya tidur memeluk Yujiro.


"Yujiro?" panggil Miho memastikan bahwa lelaki itu masih hidup. Namun tak lama dipanggil, kedua mata Yujiro terbuka.


Miho merasa lega sorot birunya masih ada, tidak seperti saat lelaki itu mengamuk yang mana warna birunya berubah menjadi merah.


Yujiro membiarkan sayapnya terbuka agar Miho bisa pergi darinya setelah semalaman dia peluk.


"Yujiro, bisakah kau... kembali ke dalam wujud manusiamu? Aku ingin mengobati lukamu," pinta Miho berjongkok mengelus kepala Yujiro yang masih seperti seekor serigala.


Tiba-tiba serigala yang semalam datang sambil membawa seekor kelinci di mulutnya. Miho terkejut saat kelinci mati itu ditaruh di sisinya begitu saja.


"Apa maksudnya?" Miho benar-benar tak mengerti apa yang serigala jinak itu inginkan.


Melihat Miho tak melakukan apapun dan malah menatapnya aneh, serigala itu kembali membawa kelinci tersebut dengan mulutnya yang ia sodorkan pada mulut Yujiro.


Miho pun paham. Serigala itu ingin agar dirinya menyuapi Yujiro dengan kelinci hasil buruan tersebut.


Dilihatnya mulut Yujiro terbuka perlahan untuk mulai menerima kelinci itu agar bisa dimakan. Ia mengunyah dengan pelan lalu menelannya.


"Kau yang selama ini memberinya makan?" tanya Miho pada serigala itu. "Terimakasih. Kupikir kau adalah serigala ganas yang akan menggigitku."


Serigala itu hanya menatap Miho lalu kembali pergi keluar dari gua. Miho pun berinisiatif untuk melihat keadaan luar. Ia pun berjalan meninggalkan Yujiro yang masih terbaring lemah.


Saat keluar, Miho mendapati pemandangan yang begitu indah. Semalam dia tak bisa melihatnya karena gelap. Tapi sekarang ia bisa melihat pepohonan yang hijau dan beberapa hewan melompat bahkan berlarian dengan harmonis.


Sayang sekali Yujiro masih sakit di dalam sana. Miho selalu ingin melihat tempat yang indah bersama lelaki itu, tapi untuk saat ini tak bisa. Alhasil, Miho hanya bisa berjalan-jalan sendirian dengan serigala jinak yang melompat-lompat disekitarnya mengejar seekor kupu-kupu.


"Ada suara air!" gumam Miho berjalan mengikuti suara yang terdengar di telinganya.


Ternyata benar ada sebuah air terjun yang jernih dan mengalir cukup deras. Moho berlari senang ke sungai itu lalu menceburkan diri di sana sekaligus mandi.


"Segarnya!" seru Miho tersenyum senang.


Serigala yang mengikutinya hanya melompat-lompati bebatuan di sana sambil menghindari air.


Saat itu, Miho melihat sosok Yujiro datang dengan langkah terhuyung menyeret sayapnya juga. Ia berpegangan ke pohon lalu terduduk di tepi sungai.


"Kau mau mandi?" tanya Miho mulai menepi. Ia membantu membasuh tangan Yujiro yang masih berbulu dan memiliki kuku tajam.


Tak hanya itu, Miho membantu membasuh beberapa bagian tubuh Yujiro yang dirasanya kotor sampai membersihkan mulut dan wajahnya dengan tangan yang sudah dibasahi air.


"Apa kau benar tidak bisa berubah jadi manusia?" tanya Miho terlihat murung saat membersihkan wajah Yujiro. "Tapi tidak apa-apa. Selama kau selamat, kau tidak perlu berubah jadi apapun lagi."


Yujiro hanya menggeram kecil seakan ingin mengatakan sesuatu. Sebelah tangannya menyendok air yang ia kucurkan ke atas kepala Miho.


Miho terkejut sambil tertawa lepas. Ia kembali bermain-main di sungai, mencoba menciprati Yujiro dengan air itu.


Setelah puas bermain-main di sungai, Miho dan Yujiro pun mengeringkan diri di bawah sinar matahari. Mereka duduk bersampingan seraya menikmati langit cerah siang itu.


"Kau tahu? Setiap melihat langit, aku selalu bermimpi ingin terbang di atas sana. Saat itu kau mengabulkan mimpiku, Yujiro. Kau membuatku bisa merasakan terbang di atas sana," tutur Miho lalu terbaring di samping Yujiro tengah yang duduk dengan tenang.


"Kita akan menghadapinya bersama. Jadi aku tak ingin kau ada dalam bahaya sendirian. Kau punya aku," lanjut Miho.


...****************...


Suara melolong kesakitan terdengar oleh Miho yang kini tersadar dari tidurnya. Ia menoleh ke sana kemari tak mendapati Yujiro berada disekitarnya.


Miho mendongak melihat bulan tampak besar dan cahayanya cukup terang malam itu yang menunjukkan gejala bulan purnama. Miho teringat akan mitos manusia serigala yang akan berubah ganas bahkan bisa memangsa manusia.


Apakah Yujiro termasuk makhluk yang akan melakukan hal itu?


Mengingat wujud Yujiro seperti manusia serigala meski diberi hiasan tanduk rusa dan dua sayap yang membantunya terbang.


Saat dicari, lolongan itu keluar dari serigala jinak yang sedang Yujiro injak bagian kepalanya. Miho segera mendekat, takut Yujiro membunuh serigala itu.


"Yujiro, kenapa kau--"


Kalimat Miho sontak berhenti saat Yujiro menengok dan matanya begitu dingin. Sorot biru di sana terlihat tercampur dengan warna merah yang membuat Yujiro beberapa kali menggeleng-gelengkan kepala seperti hendak menyingkirkan sesuatu dari kepalanya.


"Yujiro, kau harus tenang. Jangan... Jangan berubah. Kau harus melawannya," bujuk Miho yang perlahan mendekat meski sebenarnya dia mulai takut diserang oleh lelaki itu.


Yujiro meraung kecil sambil menatap kedua tangannya yang mulai gatal ingin mengoyak sesuatu. Bahkan hidungnya kini merasa tajam dan tergiur ketika mencium aroma tubuh Miho.


Ada apa denganku?


Pendengaran Yujiro mulai bermasalah. Panggilan Miho padanya mulai tak bisa didengar, bahkan tak bisa Yujiro mengerti seperti saat dirinya menjadi seekor hewan yang tak mengerti bahasa manusia.


Pandangan jelas di matanya mendadak memerah. Semua yang Yujiro lihat kini berwarna merah, bahkan Miho sekali pun.


Yujiro menampar dirinya sendiri agar bisa sadar. Sayang saat Miho berhasil menyentuh lengannya, Yujiro sontak menoleh sambil unjuk taring seperti anjing ganas.


Ekspresi takut kini tersirat di wajah Miho. Hal itu membuat sudut terdalam di hati Yujiro mulai menggelap. Ia berjalan mendekati Miho yang mulai mundur karena kini kesadarannya benar-benar sudah tak bisa dikontrol.


Yujiro pun sudah bergerak hendak menyerang, tapi serigala itu langsung melompat ke arah kepalanya.


Miho terduduk dengan tatapan melongo menyadari Yujiro barusan hendak menyergapnya jika saja serigala itu tidak melindunginya.


Kini, Yujiro dan serigala itu saling bertarung. Beberapa kali tubuhnya dibanting, serigala itu tetap berusaha keras menghalangi Yujiro agar tak menyerang Miho yang masih terduduk dengan air muka tegang.


Serigala itu mulai merengek kesakitan dengan tubuh terbaring lemah dan tak bisa melawan lagi. Hal itu membuat Yujiro mulai mendekat, hendak mencakar, dan menghabisinya.


"USHIODA YUJIRO!" teriak Miho memanggilnya.


Yujiro menoleh. Meski tak mengerti, dia mendengar suara teriakan itu. Dia merasakan ketakutan luar biasa yang dipancarkan Miho.


Apa sebenarnya aku?


Yujiro mulai tak bisa mengontrol apapun lagi. Ruang kecil di hatinya terasa sudah menutup sampai setiap kenangan di ingatannya sebagai Yujiro perlahan memudar.


Kaki Yujiro perlahan mundur. Ia menggeram marah lalu berlari melompati satu per satu pohon di sana sebelum akhirnya terbang, meninggalkan Miho yang terengah memandangi serigala yang sedang terbaring lemah dan terluka di depannya.