Beautiful Monster

Beautiful Monster
Rekan Kerja



"Kelihatannya dia butuh bantuan agar tidak terus merasa putus asa." Ignacia tahu bagaimana rasa sakit ketika diputuskan orang yang ia sukai. Ia merasa iba pada Sarah. Pelampiasannya kurang tepat hingga membawa masalah untuk dirinya sendiri. "Katakan padanya untuk tidak terus menyiksa diri. Takutnya hal buruk terjadi nanti."


Feby tentu sudah melakukannya. Ia bahkan menawarkan diri untuk mengunjungi Sarah jika gadis itu merasa terpuruk. "Padahal mereka sudah berpisah cukup lama, tapi Sarah masih memikirkan laki-laki itu." Feby kesal pada Sarah juga mantan kekasihnya. Kabarnya laki-laki itu sudah membangun hubungan dengan gadis lain sementara Sarah semakin merasa buruk.


"Mereka sudah berkencan lama, kurasa wajar jika Sarah masih menaruh hati. Tapi ayolah, dunia tidak runtuh hanya karena ada laki-laki yang meninggalkannya." Feby berbicara lagi.


Ucapannya benar, Ignacia setuju tapi tidak sepenuhnya. Dunia akan terasa runtuh jika berpisah dengan orang yang sudah bersamamu selama bertahun-tahun. Ignacia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Rajendra yang pergi setelah hubungan keduanya yang terjalin cukup lama. Selama ini sudah terbiasa bersama lalu kehadiran dirinya tiba-tiba menghilang. Rasanya akan sangat sulit.


"Kuharap dia bisa menemukan cara untuk kembali ceria." Feby kembali fokus pada tugasnya. Jam istirahat pertama dimulai. Dia mendata para murid yang membawa kartu pelajar sementara Ignacia akan melakukan tugasnya mengembalikan buku nanti. Sekarang Feby yang tampak bersemangat. Pasti ini caranya untuk berhenti khawatir pada Sarah.


Sarah beruntung memiliki teman sebaik Feby.


Ignacia menyimpan berita soal Sarah untuk dirinya sendiri. Ia mirip dengan gadis itu ketika tidak bisa mengendalikan diri. Bedanya Ignacia melampiaskan semuanya pada buku dan imajinasi sementara Sarah menyerang tubuhnya sendiri. Jika gadis itu hanya makan pedas dan jarang makan tempat waktu, kemungkinan besar ia akan semakin putus asa.


"Besok aku akan datang lebih pagi agar bisa membersihkan debu bersamamu. Aku pulang dulu, sampai jumpa." Feby memakai sepatu di depan perpustakaan lalu berjalan cepat menuju tempat parkir staff. Tak lupa dia melambaikan tangan pada Ignacia yang masih berada di dekat pintu.


Tepat setelah rekan kerjanya menghilang, Nesya dan Farhan datang. Laki-laki itu hanya akan ikut ke kantin untuk membeli minuman dingin lalu kembali ke kantor untuk mengurus laporan. Sekali lagi Farhan tidak bisa ikut makan bersama Ignacia dan Nesya. Kembali ke kantin yang lenggang. Nesya bisa mengeluh sesuka hati soal laporan yang baru selesai ia kerjakan sebelum menemui Ignacia.


Ada beberapa murid yang terlambat mengumpulkan tugas, jadinya Nesya harus menunggu hingga semuanya terkumpul dan menulis laporannya sebelum waktu habis. Nesya tidak bisa memaksa anak-anak didiknya untuk cepat mengerjakan tugas ini karena berhubungan dengan karangan yang indah. Jadinya jika dipaksa, maka mereka malah akan membenci mata pelajaran ini. Nesya tentu tidak ingin ini terjadi.


Ignacia juga akan membagi ceritanya. Soal rekan kerja yang rupanya adalah Feby. Seseorang yang sempat Ignacia anggap sebagai gangguan kecil dalam hubungannya dengan Rajendra. Ignacia masih ingat soal ungkapan bahwa Rajendra diminta untuk berangkat dan pulang bersama gadis itu. Baguslah sekarang Feby ada disini. Ia tidak akan bertemu dengan Rajendra yang masih sibuk di kota lain.


"Makin hari duniamu makin sempit saja," ucap Nesya. Ia menggeser minuman dingin temannya. "Minumlah agar merasa dingin lagi. Omong-omong Danita mengirimkan pesan, katanya dia merindukan kita dan ingin bertemu. Sudah membaca pesannya?"


Si lawan bicara langsung meraih ponselnya yang tak jauh dari tangannya berada. Ignacia tidak membuka ponsel selama beberapa jam, jadi tidak tahu apakah ada pesan atau tidak. Dan ucapan Nesya benar. Pesan dari Danita muncul di layar ponselnya. "Kenapa dia ingin bertemu? Disini dia tidak menjelaskannya." Nesya juga tidak tahu. Danita merahasiakan ini dari teman-temannya.


Keduanya menebak jika gadis itu mungkin bosan melakukan tugas relawan dan ingin berjalan-jalan jauh bertemu dengan kedua temannya ini. Atau mungkin ada berita baik yang ingin disampaikan secara langsung. "Mungkin Bahri melamarnya. Di umur ini wajar jika kita menikah. Agar tidak terlalu tua ketika anak kita mulai dewasa." Tebakan Nesya bisa saja benar.


Dianti dan Bahri berkencan lumayan lama. Bahri pasti akan melamar kekasihnya karena dari sikapnya saja sudah terlihat jika dia laki-laki bertanggungjawab. Dan jika benar mereka menikah dalam waktu dekat, Ignacia harus menyiapkan baju untuk datang ke acara itu. Lalu meminta Athira untuk menata rambutnya.


Farhan bergabung setelah pembahasan soal Danita berakhir. Ia siap membawa kekasihnya pulang. Lagi-lagi Farhan dan Nesya yang pulang lebih dulu. Itu Nesya yang memintanya secara diam-diam. Dia tidak ingin Ignacia melihat dirinya bersama Rajendra pada hubungannya ini. Takutnya Ignacia terlampau rindu pada kekasihnya yang jauh itu.


"Tidak apa-apa jika membiarkan temanmu sendiri?" Farhan bertanya untuk meyakinkan. Dirinya tidak begitu mengenal Ignacia, tapi ia tahu jika Nesya dan Ignacia tidak bisa terpisahkan sejak SMA. Farhan beberapa kali juga melihat keduanya bersama setiap berada diluar kelas. Farhan bisa berkendara dengan Ignacia di belakang gadis itu sebelum berpisah di persimpangan jika Nesya mengizinkan.


Nesya mengangguk, meminta Farhan untuk menyalakan mesin motor dan berpamitan dengan temannya. Ignacia merogoh saku, mengecek ruang obrolan Rajendra. Laki-lakinya masih sibuk, tidak sempat membalas pesannya. Lalu tiba-tiba tanda aktif muncul di bawah nama Rajendra. Iseng Ignacia langsung menelpon kekasihnya. "Hei, Rajendra. Kamu sudah tidak sibuk sekarang? Kamu sudah makan siang?"


Semangat gadis ini langsung kembali naik. "Aku baru selesai makan dengan Nesya. Sekarang aku akan pulang. Hei kamu punya waktu malam ini? Ada yang ingin aku ceritakan." Ignacia memastikan untuk tidak menganggu kekasihnya sekarang, jadinya ia menanyakan soal rencana malam nanti.


Kebetulan sekali Rajendra tidak punya rencana apapun. Jadi ia bisa memberikan semua waktunya pada si gadis. Katanya Rajendra akan langsung mengangkat panggilan dari si gadis begitu panggilannya tersambung. "Hati-hati di jalan, Ignacia. Perhatian jalan dan jangan mengebut," Rajendra berpesan.


Ignacia bukan pertama kalinya mengendarai motor. Ia sudah paham betul jalan yang akan ia lewati. "Iya aku mengerti. Sekarang kamu sedang apa?" Jam makan siang sudah selesai, Rajendra sekarang tengah beristirahat. Memberikan jeda agar makanan yang dikonsumsi bisa turun.


Mereka hanya mengobrol sebentar. Rajendra ingin gadisnya cepat sampai di rumah. Nanti malam mereka bisa mengobrol hingga larut jika boleh. Rajendra besok ada kegiatan di siang hari, jadi tidak masalah bangun terlambat sedikit. Ignacia tidak sabar untuk melihat reaksi Rajendra tentang Feby. Ia tidak akan coba-coba membahas soal Sarah.


Sesampainya di rumah, Ignacia mendapati mama dan ayahnya baru bangun tidur. Semalam orang tuanya harus bekerja. Sebentar lagi sudah waktunya pensiun, Ignacia tidak sabar untuk menghasilkan banyak uang untuk kedua orang tuanya. Ignacia disapa, ditanyai apakah sudah makan atau belum. Adik-adiknya belum pulang, Ignacia merasa seperti anak tunggal dengan semua perhatian ini.


Yang ditanyai mengangguk. Ia membawa gelas dan botol berisi air dingin ke meja makan. "Namanya Feby. Dia tetangga Rajendra. Kami belum pernah berkenalan sebelumnya, hanya saling tahu saja." Ayahnya mengangguk-angguk mengerti. Senang anaknya tidak merasa terasingkan di perpustakaan.


Mamanya ikut duduk di meja makan, membawa dua porsi makanan yang sudah di hangatkan. Mamanya menawarkan pada anaknya jika ingin mencoba makanan yang orang tuanya beli sepulang bekerja dini hari tadi. Tentu saja anaknya menolak. Ia tidak ingin menganggu waktu makan orang tuanya. Dan dirinya sudah makan sebelum pulang.


Ignacia pamit pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian juga meletakkan tas berisi ponsel dan laptop untuk melihat iklan yang ia pasang. Mungkin Ignacia fokus saja di perpustakaan dan melupakan soal Proofreader. Tapi sesuai janjinya pada sang ayah, Ignacia harus menggunakan bekal yang ia dapatkan dari dunia perkuliahan. Sayang jika dibiarkan begitu saja.


Entahlah Ignacia tidak ingin memikirkannya sekarang. Dia lelah dan butuh mengistirahatkan diri. Di perpustakaan dia banyak duduk, jadi sekarang waktunya untuk merebahkan diri. Ignacia menatap langit-langit kamarnya yang diterangi sinar matahari dari jendela. Ignacia penasaran bagaimana Feby bisa sampai di kota ini lagi. Padahal dulu dia berada di kota Rajendra.


Sekitar lima menit Ignacia merebahkan diri, sudah ada yang memanggil dari luar kamar. Itu mamanya, meminta Ignacia untuk menjemput kedua adiknya. Salah satu mobil antar jemput di sekolah Arvin mengalami masalah dan beberapa anak bisa terlambat pulang karenanya. Ignacia diminta menjemput Arvin sekaligus menunggu Rafka di SMP.


Daripada tidak melakukan apa-apa, Ignacia menurut pada mamanya. Segera gadis itu memakai pakaian panjang untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Kembali ia mengeluarkan motor yang tadinya sudah terparkir rapi di garasi. Mamanya mengamati anak gadisnya hingga suara motornya tidak lagi terdengar.


Di depan sekolah, Arvin sudah menunggu di dekat pagar. Dari wajahnya saja sudah tampak kelaparan. Begitu melihat kemunculan Ignacia, Arvin langsung berlari ke arah gurunya untuk memberitahu jika kakaknya sudah datang untuk menjemput. Arvin sudah tahu jika kakaknya yang datang. Tapi masih mempertanyakan kenapa kakaknya yang datang.


Lanjut ke sekolah Rafka. Adik keduanya Ignacia itu masih belum waktunya pulang sebenarnya. Masih kurang sepuluh menit lagi. Karenanya Arvin meminta kakaknya untuk membelikan minuman dingin di toko terdekat. Selain lapar, adiknya juga kehausan. Air di botolnya sudah habis. Dia juga malas membeli di kantin.


Menunggu sepuluh menit, Rafka masih belum keluar sekolah. Arvin diminta untuk masuk dan mencari kakaknya. Anak itu tidak tahu jika Ignacia yang menjemput karena tidak diperbolehkan membawa ponsel. Entah jika mama menelpon wali kelas dan memberitahu Rafka. Biarkan saja Arvin mencari kakaknya.


Sambil menunggu, sekali lagi Ignacia mengecek apakah ada yang menghubungi dia lewat media sosial. Ignacia melupakan soal iklan itu dan berganti membuka media sosial yang ia gunakan untuk mengikuti para Proofreader senior. Ia gunakan saja tempat itu untuk merekomendasikan jasa yang ia tawarkan. Membuka laman yang membahas soal buku juga menarik.


"Kakak," sapa Rafka bersama adiknya. Langsung saja Ignacia memakai kembali helm dan membawa kedua adiknya pulang. Ia membutuhkan buku bacaan untuk meringankan kepala. Sepanjang perjalanan, Arvin bercerita soal kejadian di sekolah. Rafka juga sama, tapi tidak sebanyak adiknya. Jadinya perjalanan ini lebih ceria daripada saat Ignacia berangkat tadi.


Di rumah, kembali keduanya menceritakan soal sekolah tapi sekarang pada orangtuanya. Ayah dan mamanya baru menyelesaikan makan, jadi punya waktu untuk memperhatikan cerita yang disampaikan. Ignacia kembali ke kamarnya lagi. Sambil menunggu Rajendra nanti malam, ia akan mencari buku di online saja seperti waktu itu.


...*****...


"Sudahlah, berhenti memakan makanan pedas itu. Tidakkah kau sadar jika yang kau lakukan ini sia-sia?!" Feby meluapkan segala emosinya pada Sarah. Nadanya memang tidak meninggi, tapi terdengar jelas jika dia marah. Laki-laki yang meninggalkan temannya ini tidak akan kembali. Sarah memberitahu jika mantan kekasihnya sudah berkencan dengan perempuan lain. Dia mulai makan makanan pedas lagi.


Feby lelah mendengar keluhan soal perut Sarah. Dia juga tidak suka jika Sarah harus kembali ke rumah sakit. Kemarin Feby sudah cukup menemani Sarah hingga diperbolehkan keluar rumah sakit. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lagi untuk membangun Sarah. "Sadarlah, kau tidak membutuhkan laki-laki itu lagi."


Gadis ini tidak pernah berkencan, tapi dia tahu apa yang harus dilakukan di waktu seperti ini. "Cobalah cari laki-laki lain, Sarah. Daripada menyusahkan diri sendiri. Orang tuamu sangat cemas karena kamu terus sakit dan minum banyak obat. Akan kucari laki-laki baik untukmu jika perlu."


Terdengar suara kekehan dari ujung panggilan. Sarah tidak butuh laki-laki baru. Ia hanya ingin mendapatkan mantan kekasihnya kembali. Dahulu laki-laki yang menemani dirinya selama bertahun-tahun itu selalu khawatir soal kesehatan Sarah. Ia masih berpikir jika menyakiti diri sendiri dapat membawanya kembali ke pelukannya.


"Kali ini aku akan menyakiti diri sendiri dengan baik. Aku tidak akan makan obat lagi. Jika kau bisa datang setiap Minggu dan menemani aku, nanti aku akan menyudahi terapi makan pedas ini." Sarah terkekeh lagi. Dirinya tahu jika Feby sudah bekerja. Bolak-balik mengunjungi dirinya hanya akan membuat gaji yang diterima temannya ini cepat habis.


Sarah masih belum bisa menyelesaikan kuliahnya karena kondisinya yang selalu memburuk setelah putus hubungan. Jadinya dia tidak bisa lulus tepat waktu. Sarah tidak bisa kembali ke rumah orang tuanya di kota ini. Urusannya di kota rantauan belum berakhir.


"Cepat selesai kuliahmu dan pulang ke rumah. Kita selesaikan masalah hatimu disini. Aku akan menemanimu setiap pulang kerja jika kau pulang ke rumah." Feby kini terdengar sungguh-sungguh. Bahunya yang semula menengang lemas kembali. Ia tatap sebuah foto kebersamaannya dengan Sarah. Feby rindu senyuman manis temannya.


Di ujung panggilan, Sarah menunduk. Bendungan yang ia bangun berhasil runtuh akibat ketulusan temannya. "Iya, aku akan segera kembali. Kau harus berjanji menemani aku setiap hari, Feby. Aku akan mengingat janjimu itu." Sarah terkekeh sembari sibuk menyeka air mata yang berjatuhan mengenai bantal.