Beautiful Monster

Beautiful Monster
Tiga Rasa



Ignacia menemui mamanya di dapur pagi-pagi sekali. Ketika mamanya akan menanak nasi untuk sarapan. Berhubung yang lainnya belum bangun, Ignacia merasa bebas untuk meminta izin. Soal kencan yang ia bicarakan dengan Rajendra, besok mereka sudah bisa bertemu. Harap-harap akan ada keajaiban hingga ia bisa bersenang-senang tanpa merasa takut.


Mama Ignacia menimbang-nimbang keputusan. Besok tidak ada rencana keluar rumah apapun. Ayah Ignacia bisa berkeliaran di rumah dan tanpa sengaja melihat laki-laki yang menjemput anak gadisnya. Sambil menatap anak gadisnya yang tertunduk, sang mama tentu mengizinkan Ignacia pergi. Besok mamanya akan mengajak sang suami mengurus taman sebelum anaknya pergi. Dengan begitu Ignacia bisa menyelinap lagi.


"Ma, kira-kira kapan aku bisa mengenalkan Rajendra pada ayah? Aku ingin seperti orang lain yang bisa berpamitan dengan kedua orang tua sebelum pergi dengan kekasihnya." Si gadis berambut panjang itu tetap tertunduk, menatap arah bawa meja makan. "Apa ketika aku sudah menikah, baru kami bisa berkencan sepuasnya?"


Mamanya tidak menjawab. Ignacia sudah menjawab pertanyaannya sendiri. Ayahnya pasti setuju anaknya berkencan jika sudah memiliki hubungan yang jelas dengan seorang laki-laki yang akan Ignacia sebut suami. Entah butuh waktu berapa lama, sampai kapan Ignacia akan menunggu. Ignacia saja tidak tahu persis apa yang kekasihnya lakukan. Kesibukan apa yang Rajendra hadapi, Ignacia bahkan tidak diberitahu.


Ignacia berterima kasih atas kerja sama mamanya, kalau begitu ia akan membantu membuat sarapan. Ia diminta mengeluarkan beberapa bahan makanan dari rak juga kulkas sementara mamanya masih berhadapan dengan nasi. Tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi selain informasi apa yang harus Ignacia lakukan setelah mencuci sayuran dan memotong tipis-tipis daging.


Di tengah kesibukan dapur, satu persatu anggota keluarga bangun akibat mendengar banyak susra dari dapur. Satu persatu hadir dengan wajah bantal, perlahan memenuhi kursi di meja makan. Athira juga ikut membantu memindahkan makanan dari wajan ke piring kemudian disajikan di meja makan. Para lelaki hanya perlu duduk, minum air, dan menunggu semua makanannya siap.


Mama Ignacia mulai membicarakan soal rencana besok dengan sang suami agar tidak curiga. Mulai dari rencana untuk membersihkan beberapa rumput liar dan memindahkan tanaman yang sudah terlalu besar untuk pot yang sekarang. Keduanya akan sibuk di halaman belakang, membiarkan Ignacia pamit sebentar dan langsung pergi.


"Kalian akan pergi kemana?" Ignacia menoleh pada sumber suara, mamanya tengah berdiri di bingkai pintu kamar. Penasaran kemana rencana kencan kali ini. "Pastikan untuk tidak pulang terlalu malam. Rajendra nanti akan mengantarmu pulang kan sebelum kembali?"


Yang di tanyai mengangguk, tidak menjawab pertanyaan pertama. Biasanya pertanyaan terakhir adalah pertanyaan yang paling diharapkan jawabannya oleh sang mama. Pasti ada hubungannya dengan Rajendra, topik kesukaan mamanya. Athira ikut muncul, berdiri di belakang mamanya. Penasaran kenapa mamanya disana. Mamanya hanya menatap anaknya berdandan di depan kaca.


Beberapa detik kemudian mamanya pamit, ingin menjalankan rencana untuk mencegah suaminya berkeliaran. Tanpa basa-basi si suami juga sudah bersiap-siap membawa sekop juga mengeluarkan beberapa pot baru yang sudah dimiliki sejak lama. Jadinya tidak perlu keluar rumah lagi. Semua peralatan yang di butuhkan sudah tersedia.


Kembali ke bingkai pintu Ignacia yang masih memiliki satu pengunjung, Athira tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kakaknya tampak lebih cerah dari sebelumnya. Tebakannya pasti kakaknya kelewat senang akan bertemu dengan pujaan hati. Aura positif dan kecantikan yang terpancar jadi lebih terang dari sebelumnya. Semakin kesini, yang Athira lihat adalah ketulusan hati kakaknya pada si kekasih.


"Aku senang melihat kakak bersemangat begini. Kakak tampak sangat berbeda." Athira menatap kakaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Semoga kencan kalian berhasil. Dan semoga bisa terus bertemu di lain waktu."


Si adik pertama mengikuti kakaknya keluar kamar. Hanya ikut saja bahkan untuk pamit saja. Tidak ada yang ia inginkan dari kencan kakaknya, hanya iseng mengikuti. Begitu mendapatkan persetujuan, Ignacia mengambil helm dan menunggu Rajendra di teras. Tak lama kemudian kekasih kakaknya sampai, Athira sempat berpesan pada calon kakak iparnya untuk menjaga Ignacia. "Tolong pulangkan kakakku dengan selamat."


Rajendra menunjukkan jempol sebagai jawaban. Mana mungkin ia tidak menjaga gadis cantik yang sangat ia sayangi. Athira menolak ketika diminta masuk. Ia ingin menetap kakaknya hingga hilang dari pandangan. Belum pernah ia begitu penasaran dengan kakak juga calon iparnya itu. Sepertinya Athira hanya duak aura bahagia Ignacia.


Ada kedai es krim bagus yang direkomendasikan beberapa orang di media sosial. Karena tempatnya masih baru, akan ada banyak orang yang datang. Rajendra mengatakan soal itu pada Ignacia sebelum sampai, mungkin Ignacia ingin pergi ke tempat lain jika tahu soal keramaian yang akan mereka hadapi. Ignacia tidak keberatan selama ia bisa bersenang-senang dengan Rajendra. Dari cerita Rajendra soal kedai ini membuatnya tertarik.


Outletnya tidak begitu besar, seperti kedai-kedai es krim pada umumnya. Memiliki dua lantai yang tampaknya lantai kedua yang menjadi favorit orang-orang. Meskipun begitu tempat berwarna dominan warna pastel ini memiliki desain yang luar biasa. Lucu, mengemaskan, seperti dunia mimpi. Ditambah dengan permainan lampu dan detail lainnya.


Di depan kedai terdapat beberapa kursi berwarna putih, cocok dengan warna pastel kedai. Hari ini cuacanya agak panas, jadi orang-orang lebih suka berada di dalam atau membawa pesanannya pulang. Tempatnya seramai yang dijelaskan Rajendra. Harap-harap mereka bisa menemukan tempat.


Rajendra menggandeng tangan Ignacia ke dalam, mempersilahkan si gadis masuk lebih dulu sebelum dirinya. Hawa dingin menyambut dengan sopan, sesopan para pegawai yang berada di belakang etalase kaca besar penuh es krim dan gelato. Udaranya benar-benar berbeda dengan cuaca diluar. Berlama-lama disini pasti menyenangkan.


Keduanya berdiri di antrian, baru masuk sana sudah disambut dengan antrian panjang. Pegawainya disini cukup banyak untuk menyiapkan semua pesanan dengan cepat, jadinya tidak perlu menunggu terlalu lama. Rajendra menunjuk ke arah menu, bertanya es krim apa yang kekasihnya inginkan. Atau mungkin dia ingin mencoba gelato disini.


"Mungkin setelah melihat ini kamu akan berubah pikiran dengan tiga rasa es krim yang biasa kita temui." Rajendra benar juga. Semua yang ada di menu itu tersedia, langsung diisi ulang begitu hampir habis. Orang-orang datang dan pergi bagai angin. Membawa pergi macam-macam rasa yang mereka inginkan.


Pilihan rasa yang ada saja sudah banyak, apalagi pilihan topping yang disajikan. Wajar saja disini ramai, bahkan rasa-rasa unik juga ada disini. Kapan Ignacia bisa mencoba semuanya? Kelihatannya enak. Butuh waktu lama untuk Ignacia memilih, hingga sebelum giliran keduanya memesan, Rajendra menyarankan sesuatu.


"Sepertinya kita lakukan sesuai rencana kita dahulu, Rajendra. Lalu di lain waktu kita akan mencoba rasa lainnya." Daripada berdiri disana terlalu lama dan menghambat antrian di belakang. Semua yang berbaris di belakang keduanya juga memiliki niat yang sama. Mendapatkan es krim di hari yang panas.


Rajendra bertanya pada seorang pegawai yang baru saja turun dari lantai atas apakah ada meja kosong. Kebetulan pegawai ini baru saja membersihkan sebuah meja dan kelihatannya belum ditempati. Buru-buru keduanya naik ke atas, dengan tangan penuh minuman dan es krim keduanya menaiki tangga dengan hati-hati. Dan mereka beruntung meja itu belum ada pemiliknya.


Rasa vanila, stroberi, dan coklat yang mereka pesan memiliki rasa yang berbeda dengan es krim yang bias dijual di minimarket. Tentu saja karena mereka membuat es krim sendiri dan resepnya tentu berbeda dengan rasa di pasaran. Untuk topping serba unicorn milik Ignacia memiliki rasa manis seperti permen, namun tidak bertekstur keras seperti permen. Lalu untuk Taiyakinya rasanya enak sekali.


Ignacia menyodorkan es krim miliknya pada Rajendra, "Cobalah topping milikku. Rasanya enak."


Rajendra menurut, mencoba sedikit topping berwarna pastel di atas es krim Ignacia. Benar, rasanya enak walau terasa sedikit manis untuk laki-laki beralis tebal itu. Selanjutnya giliran dia yang menyodorkan miliknya, membiarkan kekasihnya mencoba miliknya. Isi cha cha milk itu coklat, dan bintang-bintang yang ada di atasnya memiliki rasa unik.


Suhu udara dari pendingin ruangan sama sekali tidak mengusik acara makan es krim semua orang. Malah membantu agar es krim tidak cepat mencair. Semuanya sama dengan apa yang Rajendra baca di ulasan. Tidak sia-sia dirinya mencari banyak hal di internet selama perjalanan pulang tadi. Melihat Ignacia puas sambag membuatnya bahagia.


"Terima kasih sudah membawaku kemari." Mata gadis di hadapannya berbinar. Tatapan mata itu benar-benar Rajendra rindukan. Apa setelah ini ia siap meninggalkan kekasihnya lagi padahal tahu jika liburan selanjutnya ia akan kembali jika memungkinkan Oh ya Rajendra teringat sesuatu.


"Pengumuman kapan kamu akan wisuda belum ada, Ignacia? Jangan lupa untuk mengatakannya padaku agar bisa disesuaikan jadwal." Rajendra terdengar seperti orang sibuk. Bukannya mengiyakan, Ignacia jutsru terkekeh pelan. Rasanya bukan Rajendra yang baru saja bicara.


"Iya tentu, akan aku kabari. Pasti aku kabari." Ignacia terkekeh lagi, kekehannya sampai menular pada Rajendra meskipun tidak tahu apa hal yang membuat kekasihnya terkekeh sedari tadi. "Kamu pasti datang jika aku menghubungi kan? Lalu kita bisa bertemu di hari bahagiaku lagi."


Rajendra bisa pastikan jika ada rencana jauh-jauh hari. Dia juga sangat ingin datang. Melihat gadis cantiknya memakai toga dan memberikan buket bunga lainnya. Tangan Rajendra meraih salah satu tangan gadisnya, ia genggam lembut seolah mengisyaratkan bahwa dirinya akan menemui apa yang sudah ia janjikan. Ignacia tidak perlu khawatir.


Si gadis menyunggingkan senyum bahagia, benar, dirinya tak perlu khawatir soal apapun. Laki-lakinya adalah manusia terbaik yang ia temui. Meksipun terasa seperti monster yang selaluembuat Ignacia kesal juga rindu, di sisi lain keberadaannya begitu cantik menemani si gadis. Apapun hal kurang baik yang Ignacia berikan, Rajendra tak akan menyerah.


"Kamu yang terbaik," Ignacia berbisik.


Destinasi selanjutnya akan menjadi tempat yang sangat Ignacia sukai. Ignacia tidak berani datang ke bukit karena takut merindukan kekasihnya. Jadinya setelah menikmati siang hari di kedai es krim, sore hatinya mereka menelusuri jalan bukit agar bisa sampai di puncaknya. Gadis berambut panjang terurai itu menggandeng tangan Rajendra tanpa berniat dilepaskan. Bahkan ketika keduanya sudah duduk.


Matahari terbenam yang biasa saja tampak lebih menawan dengan kehadiran sosok yang hangatnya melebihi sang Surya bagi Ignacia. Disana Rajendra sesekali menoleh pada gadis yang belum bisa melepaskan tangannya. Tangan lain Rajendra mencoba untuk menyingkirkan sisi rambut Ignacia ke belakang bahu san sisanya disimpan ke belakang telinga si gadis.


"Kenapa?" Ignacia bertanya, bingung kenapa rambutnya disingkirkan oleh Rajendra.


Lalu dengan entengnya Rajendra menjawab, "Mereka menghalangi aku untuk menatapmu." Ignacia tidak tahu Rajendra sungguh-sungguh berniat begitu atau hanya ingin mengerjai dirinya. Sorot mata yang Ignacia dapatkan ketika ia terkekeh mendengar alasan kekasihnya mampu meredakan tawa. Rajendra terdengar jujur.


Keduanya bersitatap, berbagi perasaan tanpa bicara sepatah katapun. Ignacia akan mengingat momen ini. Momen dimana Rajendra seolah hanya melihat dirinya di tengah dunia yang panas-panasnya dengan drama. Mata tidak pernah berbohong.


Rajendra harus memulangkan kekasihnya tepat waktu. Takut dirinya akan kelewat enggan berpisah jika terlalu lama. Saat menuruni bukit, Ignacia bergerak memeluk lengan kekasihnya. Pasti Ignacia juga merasa enggan berpisah. Dalam hal ini Rajendra berharap jika Ignacia tidak akan sedih lagi.


Ignacia memeluk tubuh tinggi di depannya lebih erat selama perjalanan pulang. Tangannya melingkar di pinggang Rajendra sementara kepalanya ia sandarkan pada punggung sang kekasih. Aroma maskulin yang muncul dari tubuh Rajendra saja sudah membuatnya rindu, bagaimana jika tubuhnya sudah tidak bisa di raih? Berat sekali.


"Ignacia, kita sudah sampai." Rajendra sudah menghentikan sepeda motornya sejak tadi. Sedari tadi laki-laki itu menunggu Ignacia melepaskan dirinya dan turun, namun sepertinya gadis ini tidak ingin lepas. "Ignacia, sudah waktunya kamu pulang. Aku akan menemui kamu di liburanku selanjutnya. Kita akan menghabiskan waktu bersama seperti hari ini. Sekarang sebaiknya kamu masuk dan beristirahat."


Perlahan Ignacia melonggarkan pelukannya, turun dari motor lalu berdiri di samping pemiliknya. Wajahnya tampak tidak senang, hari yang indah terlalu cepat berakhir. Kurang dari satu detik setelahnya, Rajendra merasakan sesuatu yang lembut menyentuh ujung bibirnya. Meskipun tidak bisa ia rasakan, Rajendra seperti mencium aroma manis dari es krim yang keduanya pesan hari ini.


"Terima kasih sudah menghabiskan waktu denganku, Rajendra. Itu hadiah agar kamu bisa menemui aku lagi." Ignacia mencoba untuk tersenyum secerah mungkin sebelum berbalik meninggalkan laki-laki yang masih berada di atas motor disana. Ia tampak begitu tenang tanpa menyadari sepasang mata yang tengah menatapnya sedari tadi.