
Utari masih setia bercerita. Mulai dari bagaimana dia bisa bertemu dengan laki-laki ini ketika ada di kantin. Utari meninggalkan ponselnya di meja ketika selesai bermain dan akan meletakkan nampan di tempat kotor. Orang ini mengembalikan ponsel Utari dengan layar ponsel yang masih menyala.
Utari merasa malu dan salah tingkah. Jadinya dia hanya mengucapkan terima kasih lalu segera pergi ke kelas selanjutnya. Setelah sampai di kelas pun Utari masih memainkan game yang sama untuk mengalihkan pikiran. Dia jadinya harus membiarkan seseorang mengembalikan ponsel karena kelalaiannya.
Setelah beberapa lama tidak bertemu dengan laki-laki itu, Utari jadi penasaran kemana perginya dia. Dan kejadian terjadi disini. Ketika asik bermain game, Utari juga bisa mengobrol dengan pengguna lain yang sedang online. Di game itu Utari juga bisa bermain berdua dengan seseorang.
"Perkenalan kami terjadi cukup cepat dan kemudian tidak sengaja bertemu lagi. Kami duduk di kantin setelah makan siang dan bermain bersama. Kami lalu jadi dekat hingga saat ini. Bahkan nanti malam rencananya aku akan bermain dengannya lagi. Aku senang sekali."
"Siapa namanya?"
"Ilham. Namanya saja sudah terdengar baik kan?" Ignacia terkekeh kaku. Temannya memiliki pemikiran aneh karena sedang jatuh cinta.
Sesuai dengan deskripsi Utari ketika bermain truth or dare. Laki-laki yang disukainya ini tinggi, tingkahnya lucu, dan dia kelihatan bisa diandalkan. Utari mendapatkan beberapa informasi lewat media sosial jurusan laki-laki dan media sosial Ilham sendiri. Rupanya ini media sosial yang sedang digeluti Utari. Bukan iseng ternyata.
Lalu ada saat dimana Utari membutuhkan sebuah buku yang kebetulan Ilham miliki. Merska bertemu, Utari mendatangi Ilham di kelasnya atas keinginannya sendiri. Dan saat mengembalikan buku itu, Utari sengaja membuat kukis sebagai ucapan terima kasih. Kukis dengan resep yang sama seperti yang dia buatkan untuk Ignacia hari ini.
Ilham menyukainya, dia bahkan tidak rela berbagi dengan teman sekosnya kadana cookies yang Utari berikan terlalu enak. Bahkan Ilham bilang jika Utari menjualnya, Ilham yang akan pertama membelinya. Sungguh laki-laki yang baik. Sikapnya juga semakin ramah perlahan. Tidak seperti orang jahat.
Alasan Utari bercerita rupanya punya maksud lain selain ingin Ignacia tahu. "Apa aku mungkin harus maju? Aku takut jika kemudian kecewa. Ini pertama kalinya aku menyukai seseorang, jadi aku ragu. Bisa kau bantu aku?" Temannya butuh bantuan.
"Jangan maju sendirian, Utari. Kalian bisa saling mengenal dahulu sebelum memutuskan untuk maju. Lihat bagaimana sikapnya padamu, lihat apa dia juga memiliki perasaan yang sama. Lihat apa dia membalas apa yang kau lakukan untuknya seperti kukis itu," saran Ignacia.
Utari akan mengingat nasihat Ignacia yang lebih berpengalaman. Dia tidak berbohong saat bilang dia kagum pada Ignacia yang bisa berjalan seolah bukan apa-apa. Utari tersenyum ketika mendengar banyak nasihat Ignacia. Itu membuktikan jika Ignacia memang orang yang baik.
"Terima kasih, Ignacia. Aku senang bisa berbagi denganmu. Terima kasih suda mau mendengarkan aku," ucap Utari.
...*****...
"Aku pulang," teriak Ignacia sambil membuka pintu depan. Dia langsung disambut dengan aroma enak dari arah dapur. Buru-buru Ignacia pergi ke arah datangnya bau, dia kalah cepat dengan Arvin juga Rafka yang sudah duduk manis di meja makan. Sudah siap memakan resoles buatan sang mama.
"Akhirnya kamu pulang, Ignacia. Mau bantu mama menggoreng sisa resolesnya? Kita makan bersama sambil menonton tv nanti. Mama akan membersihkan wadah kotornya." Ignacia tidak akan menolak. Langsung diambil alihnya wajan dan menyisihkan resoles yang sudah matang. Diulangi lagi dengan resoles baru.
Sang ayah tidak segera terlihat, membuat istrinya bertanya-tanya kemana perginya. Padahal Ignacia bilang jika ayahnya sudah memasukkan sepeda motor ke dalam garasi ketika dia akan masuk rumah. Akhirnya Arvin dan Rafka diminta untuk memanggil ayahnya masuk untuk mencoba resoles.
Di kesempatan berdua ini, mama Ignacia bertanya soal apa saja yang dilakukan Ignacia bersama teman-temannya tadi. Lalu sedikit demi sedikit mulai membahas Rajendra. Seolah yang ingin diketahui mamanya sejak awal adalah tentang Rajendra dan hubungannya dengan Ignacia.
"Karena kalian sudah dewasa, tidak ada salahnya mulai mempersiapkan masa depan," bisik mamanya saat berjalan me dekat akan mengambil resoles yang sudah ditiriskan. "Mungkin membuat tabungan untuk menikah dan membeli rumah."
Ignacia menoleh cepat, khawatir jika saja ayahnya mendengar pembicaraan ini tanpa sengaja. "Mama ini jangan bicara sembarangan. Kami baru saja masuk kuliah." Tapi ide mamanya untuk membuat tabungan demi keperluan masa depan bukan sesuatu yang buruk.
"Rajendra tidak pulang juga?"
"Katanya pulang besok. Kenapa?"
"Hanya ingin tahu saja. Tau-tau nanti kamu di ajak kencan lagi. Hati-hati jika ingin berkencan disini, Ignacia. Takutnya ada tetangga yang melihat dan melaporkannya pada ayah." Ignacia tentu mengingat soal itu. Mana mungkin dia melupakan peraturan paling penting.
Pembicaraan bergeser pada keberadaan paperbag yang Ignacia tinggalkan di atas meja makan. Mamanya bertanya-tanya kenapa anaknya membawa pulang lagi paperbag yang dibawanya keluar pagi tadi. Ignacia menoleh pada paperbag yang di maksud. Menjelaskan jika semua temannya memakai paperbag yang sama agar isinya tidak ketahuan. Semuanya sama persis sesuai keinginan.
Ignacia lalu bercerita jika dia berpasangan dengan Utari di permainan bertukar kado. Dan dia mendapatkan cookies buatan tangan Utari yang kabarnya bisa membuat seseorang terpikat. Ignacia tidak mengatakan soal bagian memikat, biar hanya rahasianya dengan yang bersangkutan saja.
Mama Ignacia kagum mendengar Utari yang bisa membuat cookies dan ingin mencobanya. Kapan-kapan Ignacia diminta untuk membuat cookies yang sama jika pulang kuliah. Agar ketiga adiknya tidak perlu membeli camilan dikejar katanya.
Semua resolesnya sudah matang. Dipindahkan ke piring saji dan dibawa ke ruang keluarga. Sanh kepala keluarga rupanya sudah disana dengan kedua anak laki-lakinya. Menonton film panda yang memiliki keahlian kungfu. Ketika resolesnya datang, yang pertama menghampiri adalah Rafka.
"Aku sudah menunggu lama," ucapnya dengan nada bicara penuh penekanan. Mungkin dia lapar. Namun kabarnya kedua adik laki-lakinya ini baru saja selesai makan siang satu jam yang lalu.
...*****...
"Kenapa ponselmu terus berbunyi sedari tadi? Matikan saja suara dan getarannya. Itu mengangguku." Ya bagaimana tidak kesal? Sedari adiknya datang ke tempatnya, suara notifikasi yang datang terus datang meksipun tidak berturut-turut. Dan juga Nesya tidak segera mengecek ponselnya setiap saat.
Si empunya ponsel meletakkan garpu miliknya di dekat mangkuk. Berganti meraih ponsel di atas meja dan mematikan dayanya tanpa banyak bicara. Nesya lanjut makan setelah dirasa ponselnya sudah mati total.
"Sudah kubilang jika aku mengikuti banyak grup tentang komik. Aku tidak akan sempat berkencan untuk mengejar studiku," respon Nesya datar. Diteguknya air sedikit kemudian menatap kakaknya lamat-lamat, "lagipula apa yang kakak harapkan dariku? Aku sulit jatuh cinta."
Kakak laki-laki Nesya balik menatap, "itu bukan alasan untuk menyembunyikan laki-laki di hatimu, Nesya. Jujur saja pada kakakmu. Aku akan membantumu agar tidak tersesat."
Nesya terkekeh mendengar ucapan kakaknya. Bagaimana kakaknya bisa membantu jika kakaknya sendiri belum pernah berkencan. Yang pernah hanya menyukai seorang gadis namun tidak segera ditembak hingga gadisnya diambil orang lain. Sama seperti Nesya, kakaknya tidak tertarik dengan cinta yang mengikat.
Setelah makan malam, keduanya harus pulang. Tiket kereta sudah dapatkan, sekarang hanya perlu pergi ke stasiun dan menunggu kereta mereka datang. Dengan membawa ransel, keduanya berjalan beriringan ke arah tepat tunggu kereta. Tidak ada pembicaraan apapun. Perut kenyang setelah makan mie membuat keduanya lelah bicara.
"Nesya, kakak membeli minum sebentar."
Nesya ditinggalkan di depan stasiun sementara kakaknya masuk ke sebuah toko kecil di dekat sana. Si gadis berkacamata menyalakan ponselnya sambil menunggu. Dilihatnya memang ada banyak obrolan yang tengah berlangsung. Nesya tidak berbohong pada kakaknya.
Ketika kakaknya kembali, Nesya menyimpan ponselnya ke dalam saku. Menerima sodoran air mineral dingin dari kakaknya lalu lanjut masuk ke dalam stasiun.
"Kak, menurut kakak, aku bagaimana jika aku menyukai seseorang yang tidak kukenal sepenuhnya?" Nesya bertanya di tengah momen menunggu kereta, "menurut kakak aku bisa percaya pada seseorang yang kutemui hanya lewat pesan?"
Sang kakak tersenyum kecil, satu tangannya terangkat untuk mengacak rambut pendek adik perempuannya. "Ternyata Nesya kakak sudah besar. Bagaimana kalian bisa bertemu? Di ruang obrolan grup soal komik? Kau bisa membicarakannya dengan kakak mulai sekarang."
Nesya diam saja. Mendengar kakaknya yang tidak menentang bahkan mengoreksi ucapannya membuat si berkacamata senang. Perlahan senyuman kecil mengembang. Dia sebaiknya bercerita agar tidak mendapatkan masalah.
Di sisi lain, kakak Nesya tidak punya hak untuk membuat Nesya menolak perasannya sendiri terhadap lawan jenis. Itu hanya akan membuat adik kesayangannya tertutup dan takut untuk mengutarakan seluruh perasannya. Menjadi seorang kakak berarti kita juga harus menjadi orang yang dipercaya kan?
Si berkacamata memulai ceritanya. Soal bagaimana dia bisa menemukan grup obrolan resmi dari sebuah komik yang dibacanya. Nesya mendapatkan sambutan baik dari pada penghuninya, jadinya gadis ini nyaman berada di dalam obrolan yang membahas soal komik on going itu saja.
Lalu di sebuah ketika, Nesya tidak membuka grup ramainya karena fokus dengan ujian penting. Nesya hanya fokus dengan belajarnya tanpa menyentuh grup itu selama beberapa hari. Dan saat tidak disentuh, rupanya ada sebuah event yang diusulkan oleh seseorang dari dalam grup dan meminta pendapat penghuni grup yang lain.
Sebuah tempat penerbit yang biasanya membantu penerbitan buku komik ternama baru saja memberikan kabar pada sang author komik yang disukai Nesya. Katanya komik yang sedang dibicarakan oleh grup ramai Nesya akan membuat komiknya menjadi bentuk buku. Namun bukunya tidak terjual bebas seperti komik lainnya. Harus dipesan dahulu.
Karenanya seseorang yang memberikan usul di grup ini meminta data siapa saja yang ingin memesan bukunya agar sekalian saja beramai-ramai. Nantinya akan di kirim ke domisili masing-masing lewat paket. Nesya pertama menemukan kontak seseorang ini saat mendapatkan pesan tak terduga malam hari ujian hari ketiga.
Seseorang itu bertanya apa Nesya juga ingin memesan komiknya. Si gadis berkacamata itu mendapatkan pesan ini dari banyaknya orang yang ada di grup juga karena Nesya juga kadang aktif dan bisa bergaul dengan semua orang di dalam grup. Tidak heran jika ada yang memperhatikannya.
"Lalu, kalian mulai membahas hal lain?" tanya kakak Nesya penasaran.
"Awalnya hanya soal buku komiknya. Tapi lama kelamaan sama seperti yang kakak katakan. Kami mulai dekat dan sering membahas soal kuliah bersama. Dia baik dan memperhatikan aku seperti teman yang ramah."
Nesya dan seseorang ini sudah berkenalan cukup lama, jadinya Nesya tidak bisa bilang jika seseorang ini mungkin hanya laki-laki gila yang suka menggoda perempuan dengan semua perhatian kecil. Semua yang dilakukan laki-laki ini lewat pesan terlihat tulus. Tidak semua orang bisa menjadi perhatian pada teman asing.
"Katamu teman kecilmu yang bernama Ignacia itu sudah memiliki pacar. Kenapa tidak bertanya padanya tentang cara agar tahu apakah laki-laki yang mendekatimu ini orang baik-baik atau tidak?"
"Aku sedang mencari waktu yang tepat untuk bercerita padanya. Kami jarang bertemu, jadi tidak bisa selalu mengobrol." Nesya menoleh pada kakaknya, "tapi aku malu mengatakannya pada Ignacia. Aku masih baru dalam hal menyukai seseorang. Bagaimana jika aku justru terlihat aneh?"
"Memangnya temanmu itu tidak terlihat aneh ketika pertama kali memulai hubungan dengan pacarnya?"
Nesya mengangkat bahu tidak tahu. Dia sendiri tidak melihat bagaimana kisah awal Ignacia dan Rajendra ketika baru berkencan. Yang dia tahu hanya Ignacia menjadi sedikit pemalu di depan kekasihnya dan perlahan mulai menjadi hangat.
Kereta keduanya datang. Nesya berjalan di depan kakaknya agar bisa dipastikan jika adiknya tidak tersesat. Mereka langsung duduk di tempat yang seharusnya setelah meletakkan ransel ke tempat di atas kursi penumpang.
Diam-diam sang kakak memperhatikan adiknya yang tengah memegang ponsel, "Nesya, ingatlah untuk tetap waspada pada orang-orang yang belum kau kenal dengan benar. Laki-laki bisa sangat berengsek jika berurusan dengan perempuan yang menyukainya," ingat sang kakak.
Adiknya mengangguk patuh, dia alihkannya pandangan ke arah luar jendela. Melihat pemandangan kota yang sudah gelap. Nesya juga tidak berharap jatuh cinta pada laki-laki berengsek yang membuat hatinya melunak. Sebaiknya dia banyak-banyak berdoa agar dijauhkan dari makhluk seperti itu.
"Mau mendengarkan musik?" Kakak Nesya menawarkan satu earphone nya untuk sang adik. Yang ditawari tidak mungkin menolak karena kegiatan favoritnya selain bersenang-senang dengan kakaknya sepanjang hari adalah mendengarkan musik dengan berbagi earphone seperti ini.
Perlahan Nesya menyandarkan kepalanya pada bahu sang kakak. Tidak ada pembicaraan apapun karena keduanya hanya ingin menikmati waktu dengan musik. Jika dipikir-pikir, sikap kakaknya sudah terlampau baik lebih dari semua laki-laki yang ditemui Nesya.
"Apa aku sebaiknya berharap jika bisa bertemu dengan laki-laki yang sama baiknya seperti kakak?" batin Nesya.