Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kembali Lagi



Perlahan Ignacia membuka mata. Disesuaikannya pengelihatan dengan pencahayaan di sekitar sebelum memutuskan untuk duduk menyadarkan diri. Perasannya sangat senang karena bisa terbangun di kamarnya yang dipenuhi buku dan semua kenangannya selama hidup.


Ignacia akan merindukan suasana hati puas dan menggelitik di dalam perutnya jika sudah kembali ke asrama.


Si gadis melihat sekitar, mencari jam dinding untuk memastikan waktu. Sungguh diluar dugaan, Ignacia terbangun sebelum alarm ponselnya berbunyi. Sebuah rekor yang belum pernah dia lakukan ketika ada di asrama. Mungkin karena tubuhnya merasa sangat nyaman di kamarnya sendiri hingga bisa bangun tanpa dibangunkan.


Suasana rumah Ignacia masih sepi. Orang-orang belum ada yang memulai aktivitas. Bangun saja belum. Ya bagaimana tidak? Ignacia bangun terlampau pagi. Bahkan matahari saja belum terbit. Dia memilih untuk duduk di kursi teras samping memeluk lutut menatap langit yang perlahan mulai terang.


Entah sudah berapa lama Ignacia duduk disana tanpa melakukan apapun. Hingga Arvin tiba-tiba datang, melihat siapa yang membiarkan pintu depan terbuka. Arvin hanya datang sebentar kemudian berlalu pergi, kembali ke dalam rumah dan mencari posisi nyaman di sofa ruang tamu.


Ignacia menyudahi aktivitas bebasnya begitu ada seorang tetangga yang lewat. Seseorang bisa kaget karena melihat seorang gadis dengan rambut berantakan duduk diam di depan rumah. Sebaiknya dia segera masuk dan membersihkan diri.


Saat akan memasuki kamar, Ignacia bertemu kontak dengan Athira. Anak itu terlihat baru saja bangun. Rambutnya sama berantakan dengan Ignacia, mata yang lebih muda juga terlihat masih sedikit terbuka. Jika masih mengantuk, kenapa dia harus keluar kamar? Tanya Ignacia dalam hati.


Lalu Rafka juga muncul dari dapur, membawa gelas berisi air menuju ruang tamu. Dia juga terlihat sama mengantuknya seperti dua saudaranya yang lain. Karena penasaran, Ignacia bertanya saja pada Athira. "Apa yang kalian lakukan sepagi ini? Jika masih mengantuk, tidur di kamar saja."


"Kakak tidak tahu ya? Rafka dan Arvin mengikuti ekstrakurikuler renang. Ayah bilang kita semua harus bangun pagi agar bisa bersiap-siap pergi juga. Ayah biasanya akan mengajak kita berenang juga di kolam yang berbeda." Athira menatap kakaknya, "apa kakak juga mau ikut?"


"Tentu. Kalau begitu aku akan menyiapkan pakaian."


Ignacia tidak pernah tahu tentang kegiatan olahraga baru keluarganya. Apalagi sampai melibatkan semua orang. Yang Ignacia ingat hanya dulu ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ayahnya akan membawa dirinya juga Athira bersepeda. Mamanya tidak ikut karena adik-adik Ignacia masih belum bisa bersepeda lama.


Dalam sekejap kehidupan di rumah Ignacia dimulai. Ayah dan mama bangun beberapa menit setelah si anak pertama sudah membawa baju ganti untuk berenang. Dia tidak bisa berenang, tapi mungkin ayahnya bisa membantu. Ignacia ingin menjadi lebih tinggi agar tidak terlihat pendek bagi Rajendra juga.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Aku ada janji bertemu teman-teman


^^^Kapan kamu pulang? Hubungi aku nanti |^^^


| Mungkin setelah makan siang


| Apa kamu punya rencana hari ini?


^^^Ayah mengajak kami berenang |^^^


| Wah itu bagus, olahraga


| Mungkin kita bisa agendakan untuk berenang bersama


| Untuk date selanjutnya hehe


^^^Aku tidak pandai berenang |^^^


^^^Sebaiknya agendakan date yang lain saja |^^^


| Haha baiklah. Aku berangkat sekarang


^^^Hati-hati di jalan |^^^


Keluarga Ignacia sampai di kolam renang yang akan membantu dua anak laki-laki dari keluarganya berenang dengan baik. Sementara mereka mendapatkan pelatihan ahlinya, Ignacia, Athira, dan sang mama akan mendapatkan pelatihan dari sang kepala keluarga secara langsung.


Tujuan pelatihan ini hanya agar anggota keluarga Ignacia dapat menjaga kesehatan dengan olahraga rutin setiap akhir pekan. Juga daripada hanya mengantar Rafka dan Arvin, bukankah waktu menungu yang membosankan itu dapat digunakan untuk berolahraga juga? Seperti berenang sambil minum es teh.


Di sela berenang, juga akan ada sesi makan camilan. Namun dilakukan setelah membersihkan tubuh agar bisa langsung pulang setelah beristirahat. Ignacia yang membersihkan diri lebih dahulu bersama Athira sementara kedua orang tua mereka membeli makanan.


Setelahnya Ignacia dan adik pertamanya bisa makan sementara orang tuanya membersihkan diri bersama kedua anak laki-lakinya. Tersisa Ignacia dengan adik pertamanya di sebuah kursi dengan payung besar di tengahnya. Hening, mereka sibuk menonton film di ponsel Athira sambil makan mie cup.


Dan di tengah keheningan seru, sebuah pesan masuk ke ponsel Ignacia diam-diam. Layar ponsel yang menyala sebentar menunjukkan jika seseorang baru mengirimkan kabar. Ketika di cek, Ignacia langsung tahu siapa itu tanpa melihat nama kontaknya lebih dahulu.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Aku sudah pulang


| Aku sudah makan siang juga


^^^Baguslah kamu sudah sampai rumah |^^^


^^^Bagaimana pertemuannya tadi? |^^^


^^^Kalian pasti saling merindukan |^^^


| Pertemuannya seru


| Aku lebih rindu padamu daripada mereka


| Kamu masih di kolam renang?


^^^Iya, tapi setelah ini pulang |^^^


| Kamu mau bertemu nanti malam?


| Akan aku jemput nanti


^^^Tentu, ayo berkencan |^^^


^^^Kita bertemu di tempat temu saja |^^^


Bagaimana Ignacia bisa menyelinap nanti malam? Orang tuanya masih libur malam ini. Alasan apa yan bisa Ignacia gunakan tanpa tertangkap basah oleh ayahnya? Jika alasan bertemu teman, kemungkinan besar ayahnya akan mengantarkan demi keamanan. Tapi itu cara yang aman.


"Seperti yang kau tahu, Athira. Aku akan menemui Rajendra di tempat yang dia inginkan." Ignacia kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya, "oh dia mengajakku pergi ke bukit. Jalan ke tempat itu tidak berbeda sama sekali kan?"


Athira menggeleng. Namun ada beberapa pembaruan di bukitnya. Katanya ada lebih banyak tanaman di sekitar pagar pembatas tebingnya dan juga beberapa tambahan kursi taman. Pencahayaan di malam hari juga lebih banyak karena beberapa perluasan lagi.


Apa karena itu Rajendra ingin menemui Ignacia? Bukan hanya untuk urusan rindu?


...*****...


"Aku pulang," salam Rajendra sambil memasuki rumah. Ditutupnya pintu di belakangnya perlahan. Tanpa meletakkan sling bag miliknya, Rajendra langsung pergi menuju dapur. Menebak jika ibunya pasti ada disana karena adanya suara seperti tengah mencuci piring. Dan tebakannya benar.


"Ibu, aku pulang," salamnya lagi. Sang ibu mungkin tidak mendengarnya karena terlalu sibuk membersihkan sisa makan siang.


"Oh kamu sudah pulang. Tolong bantu ibu mengeringkan piring-piring ini dan letakkan di tempat yang seharusnya," pinta sang ibu. Engah mengapa ada banyak piring yang dicuci. Seperti baru ada acara makan besar.


"Kakak pertamamu mampir. Dia dan suaminya pergi keluar sebentar untuk membeli kebutuhan dapur. Keponakanmu sedang tidur di kamar tamu sekarang," jelas sang ibu ketika Rajendra bertanya. Tidak ada reaksi apapun dari si anak ketiga mendengar penjelasan sang ibu.


"Ibu heran kenapa kalian jarang berinteraksi. Padahal kalian satu rumah selama bertahun-tahun sebelum kakak pertamamu menikah. Kalian merasa canggung?" Rajendra menggeleng sebagai jawaban. Dia hanya melakukan apa yang diminta sang ibu kemudian pergi ke kamarnya untuk istirahat.


"Satu rumah selama bertahun-tahun tidak membuktikan apapun. Kakak tidak pernah melihatku ada," batin Rajendra.


Dilihatnya dirinya sendiri dari cermin, "sebaiknya Ignacia tidak melihat wajah lesuh ini. Kami ada kencan malam ini."


Malam harinya Rajendra bersiap-siap pergi. Dimasukkannya barang yang dia butuhkan ke dalam sebuah paperbag lalu bergegas pergi. Sebaiknya dia datang lebih awal agar Ignacia tidak menunggu. Baru saja pintu kamarnya terbuka, Rajendra sudah disuguhkan pemandangan tidak bagus.


Di ruang keluarga dekat kamarnya, kakak pertama dan kakak kedua Rajendra tengah bermain dengan si keponakan. Rajendra ingin saja langsung pergi setelah berpamitan dengan ayah ibunya jika saja si keponakan tidak memanggilnya.


"Kak Rajendra." Anak laki-laki berambut hitam pendek itu berjalan ke arah Rajendra dengan tatapan berbinar. Dia pasti merindukan sosok adik laki-laki ibunya yang jarang sekali mampir ke rumah. "Kapan Kak Rajendra pulang?" tanyanya polos dengan senyuman.


Melihat keberadaan paperbag di tangan yang lebih tua, anak muda ini kembali bertanya, "Kak Rajendra membawa apa di dalam tas itu? Mau pergi kemana? Aku boleh ikut?" Tangan kecilnya akan meraih paperbag itu, cepat-cepat Rajendra mengangkatnya agar tidak dapat di raih.


"Maaf, Kak Rajendra ada urusan. Kak Rajendra pergi dulu ya. Tolong jangan masuk ke kamar Kak Rajendra. Mengerti?" Di sentuhnya puncak kepala yang lebih muda kemudian berlalu pergi menuju pintu depan. Laki-laki berjaket denim hitam itu pamit pada ibunya yang kebetulan ada di ruang tamu dan langsung pergi.


...*****...


Ignacia sudah bersiap-siap di atas motor. Dia memakai helm perlahan agar tidak merusak gaya rambut yang dibuat Athira. Biasanya Ignacia hanya membiarkan rambutnya tergerai. Namun kali ini Athira tidak akan membiarkannya.


Dibuatnya kepangan di salah satu sisi rambut, menyelipkan ujung kepangan tersebut di bagian belakang rambut, selanjutnya Athira menggunakan bobby pin untuk menahan kepangan. Lalu dia membiarkan rambut yang tersisa terurai secara messy. Ignacia tampak cantik, bahkan mama dan Arvin ikut memuji.


Ignacia berpendapat jika ini hanya kencan biasa seperti kencan-kencan sebelumnya. Tapi sekali lagi Athira tidak setuju. Dia bahkan memanggil mamanya untuk bertanya baju apa yang bagus untuk kencan malam. Sarannya hanya memakai baju yang tidak terlalu tipis dan tertutup.


Maka dari itu Athira mengambil rompi rajut miliknya yang berwarna netral untuk dipadukan dengan blus polos dan straight-leg pants bernuansa earth-tone untuk menghasilkan tampilan berkesan chic yang menawan. Kakaknya terkulit putih, jadinya model apapun akan cocok untuknya. Apalagi wajahnya yang cantik dan manis.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan? Kami hanya akan pergi sebentar," ragu Ignacia.


"Kak Rajendra pasti akan sangat menyukai penampilan kakak. Apalagi kakak memang sudah terlihat cantik dari lahir." Pujian Athira membuat si gadis yang tengah menatap cermin kamarnya itu tersipu. Wajahnya terasa panas hanya karena pujian kecil.


Ignacia menyalakan mesin motor. Disesuaikannya spion kanan dan kiri sebelum pergi. Dari spion, Ignacia dapat melihat adik pertama dan sang mama yang sama-sama melipat tangan di depan dada dan menatapnya. Ignacia menoleh, "kenapa kalian berdiri disana?" Mereka membuat Ignacia salah tingkah.


"Jangan pulang terlalu malam," pesan mamanya.


"Jangan lupa untuk terus tersenyum Kak," Athira ikut bicara.


Sudahlah, Ignacia pamit dan pergi meninggalkan rumah. Seperginya Ignacia, samb ayah muncul, mendekati dua anggota keluarga yang masih berada di dekat pintu. "Apa yang kalian lakukan? Dimana motor Ignacia? Dia pergi kemana?" Langsung diserang dengan pertanyaan.


...*****...


Ignacia sudah sampai. Dibukanya ponsel untuk mengecek dimana lokasi kekasihnya. Tidak ada pesan apapun. Apa mungkin Rajendra sudah ada di atas bukit? Ketika akan meninggalkan motor, seseorang menghentikan Ignacia. Seseorang yang membuat Ignacia mengubah gayanya malam ini.


"Kamu sudah lama disini? Apa aku terlambat?" Rajendra menggeleng, dia tersenyum lalu menggandeng tangan Ignacia naik ke bukit. Keduanya berjalan bersisian, saling curi-curi pandang sekilas hingga keduanya saling menangkap basah.


"Aku kira kamu sudah ada di atas. Kamu menungguku, Rajendra?" Ignacia bertanya.


"Aku membeli es krim. Kencan kita tidak afdol tanpa es krim, benar? Vanila untukmu dan coklat untukku." Rajendra benar. Keduanya hanya akan benar-benar merasa berkencan jika sudah makan es krim diselingi obrolan.


"Omong-omong kamu terlihat berbeda malam ini. Kamu terlihat sangat cantik."


Tidakkah Rajendra terlalu blak-blakan dalam menuju? Wajah Ignacia kembali memanas. Mungkin akan terlihat merah jika pencahayaan jalan menuju bukit lebih terang. Melihat kekasihnya yang menunduk malu, Rajendra terkekeh pelan dan berganti merangkul Ignacia agar lebih dekat dengannya.


Beruntung keduanya berhasil mendapatkan tempat duduk dengan pemandangan menakjubkan sebelum orang-orang datang. Dalam hitungan menit banyak orang yang datang untuk berkunjung. Bukit jadi sama ramainya seperti alun-alun.


Rajendra tidak mengatakan apapun, hanya memberikan es krim milik Ignacia setelah dibukakan lalu duduk, memakan es krimnya tanpa suara. Si gadis otomatis bertanya, jawaban yang ditunggu tidak datang juga. Perlahan Rajendra menggenggam tangan Ignacia yang ada di samping tubuh si gadis, sekali lagi dia tidak mengatakan apapun.


"Apa ada yang salah?" Ignacia bertanya, "apa kamu memikirkan sesuatu yang berat? Kamu bisa mengatakannya padaku, kita cari jalan keluarnya bersama-sama."


Rajendra menoleh, tersenyum tipis, "aku hanya merasa aneh. Kakak perempuanku mampir ke rumah. Katanya akan pulang lusa. Kami sudah lama tidak bertemu, jadi aku merasa agak canggung."


Ignacia mungkin akan merasakan hal yang sama jika sudah lama tidak bertemu dengan keluarganya. Apalagi Rajendra pernah bercerita jika kakak perempuannya hanya beberapa kali mampir ke rumah orang tuanya setelah menikah.


"Mungkin nanti kamu akan terbiasa. Kalian kan saudara, pasti ada waktu ketika kalian merasa kembali akrab."


"Tapi kenapa dia harus kembali lagi setelah sekian lama? Apa yang dia inginkan kali ini?" Rajendra berbisik tanpa sengaja. Kedengarannya samar-samar dan tidak jelas di telinga Ignacia. Rajendra menggeleng, berkata jika apa yang dia katakan bukanlah apa-apa.


"Dia sudah memiliki semuanya, apa lagi yang dia inginkan dari kami?" Sekali lagi Rajendra tidak sengaja berbisik. Menarik perhatian gadis yang sejak tadi belum melepaskan tatapannya dari dia yang berbisik aneh. Karenanya Rajendra harus kembali mengelak dan berbohong.


"Kamu baik-baik saja? Setelah ini kita pulang saja ya? Kamu terlihat kurang enak badan," putus Ignacia. Dia kini menatap khawatir pada Rajendra yang terlihat tidak fokus.


"Tidak, aku baik-baik saja. Jangan khawatir." Bohong lagi.