
Kembali pada kehidupan yang Ignacia inginkan tanpa memikirkan Sarah. Ucapannya membuat Ignacia iba. Dia harus memaafkan mantannya alih-alih melupakannya. Bahkan sudah selama ini dia tidak bisa lupa. Berarti ada hal mengganjal di hatinya. Sarah harus membebaskan pikirannya dari hal-hal penyakitkan dan memperbaiki pola makannya mulai saat ini.
Ignacia melirik ke arah gantungan kunci Rajendra di tas yang tengah ia pangku. Tangannya meraih benda itu dalam pengawasan pemiliknya. "Dia menjadi bukti kita menjalani hubungan jarak jauh. Jika milikku juga hilang, aku pasti akan merasa bersalah juga. Seolah hubungan sulit yang kita hadapi ikut menghilang bersama simbolnya."
Rajendra tersenyum kecil, ia sandarkan kepalanya di atas kepala kekasihnya. Bus tengah lenggang, jadi tidak ada yang bisa menganggu keduanya untuk saat ini. Rajendra setuju dengan ucapan Ignacia. Dia tidak tahu kenapa Ignacia memberikan burung hantu padanya, namun soal simbol jarak jauh mereka itu terasa nyata untuknya.
"Kenapa burung hantu?" Rajendra bertanya.
Ignacia masih mengamati burung hantu Rajendra. Tatapannya terasa dalam pada benda itu. Menurutnya burung hantu cocok sekali untuk dirinya. Mereka beristirahat di waktu yang berbeda dengan sebagian makhluk lainnya. Rasanya sama seperti Ignacia yang merasa bisa mengistirahatkan tubuhnya jika bertemu Rajendra. Tempat dan waktu istirahat yang berbeda dengan orang lain.
Mata burung hantu tidak sama seperti manusia, mereka tidak bisa menggerakkan bola mata dengan mudah dan cara satu-satunya untuk melihat sekitar adalah memutar kepala hingga dua ratus tujuh puluh derajat. Matanya berbentuk tabung dan mirip teleskop. Pengelihatan mereka luar biasa. Mereka juga bisa memutar kepala tanpa menggerakkan tubuh, jadi tubuhnya tetap diam.
Tanpa alasan yang jelas Ignacia merasa bisa melihat apa yang Rajendra coba lakukan dan begitu pula sebaliknya. Mereka punya penglihatan yang baik untuk satu sama lain. Sama hebatnya seperti burung hantu. Ada kalanya mereka juga melihat satu sama lain tanpa harus menggerakkan badan terlebih saat melakukan panggilan suara dan video.
Lalu alasan lain Ignacia memilih burung hantu adalah karena setiap Ignacia menggunakan pakaian berwarna dominan coklat, Rajendra akan menatapnya berbeda. Jadi hewan yang sesuai dengan apa yang ia harapkan adalah burung hantu. Dan juga karena Rajendra menyukai coklat, es krim dan kue coklat. Jadi rasanya Ignacia juga menjadi salah satu favorit kekasihnya.
"Meksipun kamu tidak memakai baju coklat, kamu tetap favoritku," ucap Rajendra berbisik.
Entah bagaimana Ignacia bisa membuat latar belakang begitu tidak terduganya. Si gadis mengarahkan tatapan pada Rajendra. Tidak tampak jelas wajah kekasihnya namun Ignacia bisa melihat senyuman disana. "Kamu menyukainya?" Rajendra memperbaiki posisi duduknya, membalas tatapan Ignacia yang menatap lurus ke arah matanya.
Mana mungkin Rajendra tidak suka. Burung hantu itu memang terdengar merepresentasikan hubungan mereka akhir-akhir ini. Rajendra merasa terisi energi lagi ketika bersama Ignacia, mereka bisa melihat satu sama lain meskipun jarak memisahkan. Semuanya cocok, Rajendra mengangguk disertai senyuman lebar. Apapun yang Ignacia katakan dan pikiran, Rajendra pasti menyukainya.
"Lalu apa kamu tahu maksud aku memberikan emoticon stoberi pada kontakku di ponselmu?" Rajendra menggeleng sebagai jawaban. Sejujurnya awalnya Ignacia hanya iseng karena saat warna merah pada stroberi tampak lebih mencolok daripada yang lainnya. "Jadinya semacam memberikan warna untuk namaku agar lebih bersinar dari kontak lainnya."
Jika melihat kembali ke belakang, Ignacia pernah merasa canggung dan takut ketika bersama dengan Rajendra. Sama seperti orang ketika pertama kali merasakan stoberi yang masih masam. Lalu di lain waktu, Ignacia merasa tenang dan bahagia dengan keberadaan Rajendra di sisinya. Seperti dia mencoba stroberi lain yang rasanya amat manis.
"Lalu nama kontakku di ponselmu apakah ada penanda khususnya juga, Ignacia?" Rajendra belum pernah melihat emoticon harimau yang Ignacia berikan. Rajendra terkekeh melihat nama kontaknya yang tampak lucu. "Aku memberikan ini karena kamu mirip dengan kucing tapi lebih besar dan gagah. Kamu lebih tinggi dan gagah dariku."
Perlu dikoreksi jika Ignacia tidak perlu tampak gagah. Menjadi gadis manis yang terus menyukainya saja sudah lebih dari cukup. Rajendra merangkul bahu gadisnya, hari ini terasa berkali-kali lipat menyenangkan. Mendengar penjelasan Ignacia entah bagaimana bisa sebagus ini untuk perasannya. Jadi apa yang mereka lakukan dan mereka berikan punya makna.
"Sekarang aku penasaran kenapa kamu bilang aku tidak boleh meninggalkan kamu. Di samping fakta bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan kamu." Ignacia butuh beberapa saat untuk menjawab pertanyaan kekasihnya. Dia tidak tahu bagaimana untuk memulai dan bagaimana cara menyampaikannya agar Rajendra mengerti. "Jika kamu tidak bisa menjelaskan sekarang tidak apa-apa. Lain kali kamu bisa mengatakannya padaku."
Tentu, Ignacia akan memilih kata yang tepat nanti.
Hari belum sore, ada hutan kota yang bisa mereka kunjungi untuk bersantai. Rajendra ingin lebih banyak mengobrol, ada juga yang ingin Ignacia sampaikan. Sejak tadi jantungnya berdetak lebih cepat karena memikirkan bagaimana reaksi Rajendra. Apakah kekasihnya akan sangat bahagia seperti saat dirinya mendapatkan pekerjaan pertamanya.
Tangan Ignacia berada di lengan kekasihnya, berjalan-jalan tanpa memperhatikan jalan di depan. Menurutnya mengandalkan Rajendra saja sudah cukup jadi dirinya bisa melihat sekitar dengan lebih leluasa. Beberapa waktu lalu Rajendra sempat berolahraga disini. Menurutnya tempat ini cocok untuk dinikmati berdua. Karena itu Rajendra membawa kekasihnya kemari.
Udara segar di sekitar sini akan menganggu Ignacia kembali segar dan melupakan kejadian buruk beberapa saat lalu. Angin sepoi-sepoi menyapa, memberikan sedikit ketenangan pada gadis yang rambutnya dibiarkan tergerai itu. Kota ini saja sudah identik dengan Rajendra baginya, sekarang ada ketenangan yang disebabkan oleh anginnya.
Di sebuah bangku taman keduanya duduk. Memandangi barisan pohon dan orang yang tengah berlalu-lalang. Rajendra bilang semakin sore, tempat ini akan semakin ramai. Apalagi jika di akhir pekan. Lampu-lampu hutan kota akan menyala, disini tidak akan tampak gelap sama sekali. Redup, remang-remang cantik. Orang-orang tidak akan melewatkan waktu untuk mengistirahatkan diri.
Ignacia menyandarkan kepalanya pada bahu Rajendra. Ikut menatap ke arah mana kekasihnya terpaku. Tidak ada yang mereka bicarakan. Hanya ada banyak hembusan nafas dan kehangatan yang tersalurkan dari genggaman tangan. Ignacia senang dirinya punya banyak waktu untuk dihabiskan dengan kekasihnya ini.
"Kamu menyukainya?" Rajendra bertanya, "Duduk-duduk tanpa melakukan apapun. Setelah ini aku akan membawamu makan malam, tenang saja." Rajendra tidak ingin dengar jika gadisnya lapar setelah pergi ke tempat yang tidak diinginkan. Dia ingin jawaban selain itu.
Gadisnya tersenyum kecil, "Mana mungkin aku tidak suka. Anggap saja pertemuan dengan Feby dan Sarah itu hanya imajinasi tidak masuk akal. Duniaku tidak sesempit itu meskipun kenyataannya begitu. Aku suka kita bersama meskipun tidak melakukan apa-apa seperti saat ini. Apa yang kita lakukan sudah lebih dari cukup."
Seharusnya momen ini berjalan sesuai keinginan Rajendra. Jika saja panggilan dari Feby dan entah siapa yang menghubungi gadisnya saat ini tidak ada. Ignacia memperbaiki posisi duduknya, ia lepaskan gandengan tangan dengan kekasihnya untuk meraih ponsel di dalam tas. Rajendra melirik ponsel itu dengan tatapan tidak suka.
Momen tadi sudah sangat bagus padahal. Mereka belum banyak mengobrol karena adanya panggilan dan suasana berbeda. Ignacia masih duduk di sampingnya sambil menjawab telpon. Jadi Rajendra masih bisa menggandeng tangan lain Ignacia yang tengah senggang. Dia tidak tertarik dengan obrolan kekasihnya. Rajendra butuh memulihkan energi dengan sentuhan Ignacia.
Rajendra menyingkirkan rambut yang mencegah dirinya memandangi wajah Ignacia. Gadis itu tampak bersemangat dengan obrolan yang ada di panggilan singkat itu. Wajahnya tampak lebih cantik hingga Rajendra tidak bisa berhenti memandang. Dan juga Ignacia tidak keberatan jika rambutnya sedikit disimpan ke belakang telinga.
"Oh benarkah? Itu pasti akan menyenangkan. Tapi tidakkah terlalu ramai jika kita pergi bersama-sama? Ya kalian tahu tempat itu jauh darisini." Ucapan Ignacia barusan menarik perhatian Rajendra. Telinganya menajam untuk mendengarkan kekasihnya. Kemana gadisnya akan pergi? Lalu yang ia sebut dengan kata 'kita' itu maksudnya dengan siapa?
Setelahnya Ignacia terkekeh, tidak menyadari tatapan Rajendra sama sekali. Katanya mereka akan membahasnya lagi nanti. Ignacia tidak kelewatan untuk berkata jika dirinya tengah berkencan dan tidak ingin gangguan apapun. Ucapannya membuat Rajendra refleks memeluknya dari samping. Sedari tadi itu yang ia inginkan. Akhirnya Ignacia kembali fokus padanya. Sesuai rencana sebelumnya.
Yang di peluk tentu saja agak terkejut tapi juga senang. Rajendra meletakkan kepalanya di bahu kekasihnya. "Hei kenapa kamu tiba-tiba memelukku? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Rajendra menggeleng. Masih dengan wajahnya yang bersembunyi di balik leher jenjang Ignacia. Si gadis tentu akan membalas pelukan yang ia terima. Dia juga butuh pengisi daya.
Ignacia punya sesuatu untuk disampaikan. Mengenai panggilan yang baru saja selesai itu. Danita mengajak Ignacia dan Rajendra untuk berlibur ke pantai yang pernah ketiganya kunjungi semasa kuliah dulu. Sama seperti pesannya yang terakhir kali. Dia merindukan teman-temannya dan ingin bertemu. Butuh waktu lama bagi Danita membalas pesan kedua temannya karena sibuk menjadi relawan.
"Kapan kamu ada waktu luang, Rajendra? Aku ingin kamu juga ikut. Rasanya tidak nyaman jika sendirian diantara pasangan yang sedang kasmaran." Ignacia tidak mungkin juga akan datang sendiri sementara yang lainnya membawa pasangan masing-masing. Dirinya akan menganggu pasangan orang jika merasa butuh teman.
Sayang sekali Rajendra tidak bisa menjawab dengan pasti. Pantai yang Ignacia datangi dengan kedua temannya waktu itu juga jauh. Mereka butuh setidaknya satu atau dua malam disana agar bisa benar-benar menikmati liburan. "Akan aku sampaikan kapan aku bisa bertemu dengan teman-temanmu. Tidak apa-apa kan? Aku tidak bisa mengambil hati libur lagi."
Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula ini hanya liburan. Semua orang harus menunggu hingga yang lainnya bisa bergabung. Rajendra bertanya untuk memastikan apakah ajakan ini berhubungan dengan kencan bertiga. Dari cerita Ignacia, dia menyebutkan Danita dan pasangan yang sedang kasmaran. Dan tentu saja itu yang Ignacia maksud.
Rajendra tidak menyukai kencan berdua dengan Danita dan pasangannya, lalu sekarang harus bersama Nesya dan Farhan. Dia juga tidak bisa menolak jika ini keinginan Ignacia. Gadisnya sudah menunggu tiga bulan untuk dirinya. Dia pantas mendapatkan kata setuju dari laki-laki yang ia nantikan. Ignacia bisa kecewa jika Rajendra tidak bisa menemani dia bertemu dengan kedua temannya.
Untuk sementara Ignacia mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu waktu berkualitasnya dengan Rajendra. Nesya juga ikut dalam obrolan barusan. Dia juga akan memeriksa jadwal dan mencari waktu yang bagus untuk mereka semua berlibur. Mungkin waktu tahun ajaran baru adalah waktu yang tepat. Ada liburan panjang dan waktu luang. Atau saat akhir tahun dimana ada liburan sebelum tahun berganti.
Ignacia melonggarkan pelukannya, mencoba untuk bertatap mata dengan Rajendra. Laki-laki ini mungkin tidak akan paham dengan apa yang ia maksud soal Proofreader, jadinya sebisa mungkin Ignacia jelasnya dengan sederhana. "Dan aku mendapatkan pekerjaan dari seseorang yang akan menyewa jasaku." Ignacia tersenyum bahagia. Akhirnya ada waktu untuk memberitahu kekasihnya.
Sementara itu laki-laki di hadapannya lebih bahagia. Kekasihnya berhasil menjadi gadis sibuk. Setelah bekerja di perpustakaan sekolah kini ia akan menjadi seolah penyunting naskah. "Kamu kelihatannya akan lebih sibuk daripada aku, Ignacia. Tapi bagus untukmu. Jadi kamu bisa menggunakan hobi untuk pekerjaan. Tapi ingatlah untuk tetap menjaga kesehatan matamu."
Sekarang sudah tidak ada lagi yang mengganjal di hati Ignacia. Makan malam mereka berjalan dengan baik tanpa distraksi benda manapun. Perjalanan ke stasiun dan masa-masa menunggu kereta tidak ada yang melelahkan. Sepanjang perjalanan gandengan tangan, mengobrol, atau hanya iseng saling bertatap-tatapan.
Rajendra punya tanggung jawab untuk mengantarkan Ignacia sampai di rumah dengan selamat. Dirinya tidak membawa sepeda motor, jadinya mereka menghentikan taksi untuk pulang. Ignacia sudah menolak beberapa kali namun Rajendra tidak ingin mengindahkan. Sudah malam, mereka menghabiskan waktu terlalu lama hingga Rajendra khawatir terjadi apa-apa jika tidak ia antar.
"Masuklah, aku akan menunggu hingga kamu masuk." Rajendra berdiri di hadapan Ignacia. Masih dengan taksi yang menunggu di belakang laki-laki bertubuh tinggi ini. Ignacia masih berdiri diam di hadapan Rajendra. Ada yang sedang ia pikirkan dan tidak tahu kapan akan melaksanakan rencananya. "Kenapa kamu diam? Masuklah. Sudah larut."
Ignacia mengambil satu langkah lebih dekat dengan Rajendra. Kakinya berjinjit untuk menggapai sesuatu yang lebih tinggi. Bisa Rajendra rasakan kecupan singkat di bibirnya bersamaan dengan angin malam yang bertiup pelan. Selain salah tingkah, Rajendra khawatir ada orang lain yang menyaksikan.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Rajendra. Hubungi aku setelah sampai di rumah." Satu kecupan lain Ignacia sematka pada pipi dingin Rajendra. Selanjutnya ia berbalik masuk ke dalam rumah. Baguslah tidak ada yang melihat dari dalam rumah. Tidak ada tirai yang nampak tersingkap.