
"Ada seseorang yang menyukaiku. Dia seseorang yang seringkali mengirimkan pesan. Kukira kami hanya akan dekat seperti teman, tapi rupanya dia ingin lebih. Dia mengungkapkan perasaannya padaku setelah aku membersihkan kelas. Dan aku sudah menerimanya lima hari yang lalu."
"Kurasa dia tidak seburuk mantanku. Dia memperlakukan aku lebih baik dan tidak kecewa dengan tingkah cuekku. Aku sudah mencoba terlihat berbeda, menjadi seperti bukan tipe siapapun, tapi rupanya itu tidak berpengaruh banyak."
"Laki-laki ini tinggi, alisnya tebal seperti ayah. Dia juga lebih pintar dariku di bidang matematika. Aku baru mengenal dia selama sebulan terakhir, tapi kurasa semua yang kami lakukan ini terlalu cepat. Aku bingung, tapi ingin mencoba lagi. Siapa tahu, nanti aku akan berhasil dengan orang yang menyukai aku lebih dahulu. Aku hanya penasaran."
Ignacia hanya bisa menatap sayuran yang tengah dia potong sambil berterus terang dengan mamanya. Sebelumnya wanita ini tahu jika si anak pertama baru saja diputuskan oleh kekasih pertamanya setahun yang lalu. Saat pertama tahu jika ada laki-laki yang sering menghubungi Ignacia saja mamanya tahu.
Tapi siapa sangka jika laki-laki yang baru dikenal oleh anaknya sebulan setelah masuk ke kelas tahun kedua rupanya melihat sisi yang tidak bisa dilihat siapapun. Kabar bahwa dia sabar dengan sikap cuek anak gadisnya pun membuat mamanya sedikit menaruh kasihan.
Tingkah cuek itu pasti Ignacia gunakan untuk melindungi hatinya.
Wanita yang tengah mengaduk bumbu untuk membuat telur balado di samping Ignacia itu menatap, tersenyum kecil.
"Mama menyukai Rajendra ini," mama Ignacia bersuara, "dari yang mama tahu dari ceritamu, dia kelihatan tulus. Tapi apa kamu benar menyukai laki-laki ini? Kamu punya perasaan dengannya? Lebih dari sekedar rasa penasaran."
"Aku bisa menyukainya setelah mengenalnya. Apa aku harus memiliki perasaan lebih dahulu untuk menerima seseorang? Jika begitu, aku bisa saja disakiti lagi."
Ignacia selesai dengan sayurannya, meletakkannya di dekat wastafel untuk dicuci. Dari arah belakang, ada mamanya yang akan mengambil telur untuk di masukkan ke dalam bumbu.
"Itu terserah padamu, Ignacia. Tapi jangan terlalu kejam padanya hanya karena kamu penasaran apakah dia bisa bertahan. Rajendra kelihatannya tidak jahat. Mama hebat dalam menilai seseorang, kamu tahu?"
"Iya, iya aku tahu."
"Dahulu mama juga pernah berpacaran dengan laki-laki tinggi seperti Rajendra," mama memberitahu sambil mencampur telur-telur tadi ke bumbunya, "mama tahu bagaimana rasanya berpacaran. Jangan terlalu aktif di dalam hubungan. Karena hakekatnya perempuan yang menerima."
"Aku sedang mencobanya sekarang."
"Iya, bagus. Karena jika kamu terlalu mengambil kendali, laki-laki itu mungkin akan bosan. Mereka makhluk yang suka mengambil alih. Mereka suka menjadi aktif." Mama Ignacia tahu banyak.
Di dekat wastafel, Ignacia berhenti sebentar. Menatap ke arah mamanya dengan tatapan meminta tolong. "Mama tidak akan mengatakannya pada ayah kan?" Tanya Ignacia takut-takut. Sedari tadi itu pertanyaan yang ingin ditanyakan Ignacia. Dia ingin mencari seseorang yang bisa dia percaya.
"Tentu saja. Ini akan menjadi rahasia kita berdua. Jika ayahmu tahu, mungkin dia akan marah-marah. Ayah saja tidak tahu jika dulu mama memiliki mantan. Ayah itu pencemburu, jadi hati-hati jika ingin berkencan dengan Rajendra."
Jadi ini artinya Ignacia sudah mendapatkan restu mamanya?
Ignacia tersenyum kecil. "Apa hubungannya ayah yang pencemburu dengan aku yang berkencan?"
"Biasanya para ayah itu akan sulit membiarkan anak perempuannya untuk berkencan. Laki-laki itu posesif pada apa yang dia miliki. Para ayah memiliki naluri untuk melindungi anak perempuannya."
Ignacia ragu dengan itu, namun ada benarnya. Selama ini ayahnya selalu membenci teman laki-laki yang mendekati Ignacia. Gadis ini dahulunya selalu diperingatkan agar tidak mendekati lelaki manapun apalagi sampai berpacaran. Dikiranya Ignacia masih tidak tahu mana yang baik dan buruk.
"Aku tidak akan pergi berkencan dengan Rajendra," Ignacia bersuara. Tanpa adanya sang ayah, dia merasa bebas untuk membahas soal Rajendra. Kalimat yang baru dikatakan oleh si anak perempuan mengambil atensi mamanya.
"Aku tidak akan pergi berkencan seperti orang-orang."
"Maksudnya kalian tidak akan pergi berdua untuk berkencan? Pergi berjalan-jalan atau apapun?" Mamanya mencoba untuk menerjemahkan kalimat si anak.
Ignacia mengangguk, dia berencana untuk tidak pernah pergi bersama Rajendra. "Lagipula aku masih SMP. Aku tidak berniat untuk pergi seperti yang dilakukan orang-orang."
"Memang sebaiknya jangan," mamanya menimpali, "lebih baik setelah kalian dewasa saja. Jangan mudah putus jika berpacaran, Ignacia. Putus itu bukan cara terbaik. Belajarlah dewasa untuk menghadapi masalah dengan manusia sungguhan. Bukan hanya dengan teman-teman fiksimu."
...*****...
"Kakak berkencan? Dengan siapa? Bukannya kakak sudah putus dengan mantan kakak?" Athira memincingkan matanya bingung. "Kukira kakak sudah menyerah dengan dunia manusia kemudian kembali ke dunia fiksi. Kenapa kakak menerima laki-laki tanpa sepengetahuan siapapun?"
Ignacia memperbaiki posisi duduknya di atas tempat tidur. Punggungnya terasa sakit jka terus di posisi tengkurap. "Tanpa sepengetahuan? Kau dan mama tahu jika aku sering bertukar pesan dengan Rajendra."
"Tapi kenapa langsung pacaran setelah mengenal kurang dari 1 bulan? Bahkan kurang 4 hari jika sebulan. Wah aku tidak tahu jika Kak Rajendra itu orang yang responnya cepat dan percaya diri. Apa selama ini teman-teman Kak Rajendra pernah memberi tanda jika Kak Rajendra menyukai kakak?"
"Entahlah. Kakak hanya tidak ingin menjadi bahan ejekan di kelas." Ignacia menurunkan novel yang tengah dia baca dari depan wajahnya, menatap langit-langit kamar yang berpencahayaan baik. "Jika diingat, aku bisa bertemu dengan Rajendra karena aku berhasil masuk ke kelas unggulan."
"Disaat orang-orang hanya mendapatkan rasa bangga masuk ke kelas unggulan, kakak malah mendapatkan jodoh juga disana," ejek Athira dengan nada bicara yang di naik-turunkan. "Kakak rupanya tidak menyerah di kehidupan manusia. Lain kali kakak menyerah saja jika tidak berhasil dengan Kak Rajendra."
"Hei aku saja baru memulainya."
"Dengan mantan kakak dulu juga baru memulai."
...*****...
Ignacia merasa tidak nyaman di hari kesekian di kelas baru tahun keduanya. Merasa jika ada sesuatu yang akan terjadi. Perasaannya bilang demikian.
Hari itu wali kelasnya akan masuk ke kelas untuk ketiga kalinya. Padahal sudah lebih dari sebulan kelas ini terbentuk, namun baru ketiga kalinya para murid bertemu dengan sang wali kelas di kelas.
Saking sibuknya Ibu ini sebagai seorang petinggi di sekolah. Dengan membawa banyak buku, guru berkacamata merah melangkah masuk dengan percaya dirinya.
"Selamat siang, anak-anak," sapa wanita yang kemudian meletakkan beberapa bukunya di atas meja. Beralih menatap anak didiknya yang tengah menjawab dengan suara yang bersamaan. Diperhatikannya satu persatu wajah seolah tengah mencari sesuatu yang sudah dikira.
"Saya sudah dengar kabarnya," mulai sang wali kelas, membuat semua orang menebak-nebak maksudnya, "saya sudah mendengar dari para guru di ruang guru bahwa di kelas ini ada banyak yang berpacaran dengan teman sekelas."
"Kenapa kalian tidak memberitahu saya saja? Atau kalian sembunyikan dahulu agar tidak ada orang diluar kelas yang tahu tentang urusan kalian. Seharusnya saya yang pertama kali tahu tentang kalian."
Hah, mengarah kesini. Ignacia seharusnya tahu. Langsung dia arahnya tatapan lelah pada Rajendra yang kebetulan tidak menatapnya seperti biasa. Jika dia dalam masalah karena berpacaran kali ini, Ignacia akan benar-benar melupakan masa mudanya.
"Jika saya boleh tahu, ada berapa pasangan disini? Coba kalian yang laki-laki, angkat tangan." Sang wali kelas tersenyum lagi ketika melihat tiga laki-laki mengangkat tangannya tanpa ragu. Bahkan ketiganya tampak percaya diri.
Iseng-iseng Ignacia melirik Rajendra yang tempat duduknya ada di depan. Merasa aneh karena laki-laki itu tampak baik-baik saja. Mengangkat tangan tanpa merasa ragu ataupun canggung sama sekali. Seperti dia sudah merencanakannya.
"Oh rupanya begitu. Anak-anak yang pintar tentu bisa jatuh cinta. Namanya juga anak muda, masih remaja."
Ketiga laki-laki tadi menurunkan tangannya, mengangguk-angguk pelan dan saling pandang. Mereka tampak terlalu tenang meksipun sadar jika ketiganya pasti menjadi bahan pembicaraan orang lain.
"Sekarang saya ingin tahu kenapa seseorang dari kelas lain bisa tahu soal hubungan kalian di dalam kelas?"
Suasana kelas menjadi agak ramai. Semua orang sudah tahu bagaimana caranya seseorang dari kelas lain mengetahui soal rahasia kelas. Seseorang masuk dengan dalih meminjam solatip, menatap sekitar dan mendapati banyak yang berkencan. Lalu ada yang mengintip dari kaca jendela belakang.
"Rananta, apa aku mungkin akan dapat masalah?" Bisik Ignacia sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh yang lain.
Mungkin kelasnya terasa ramai, namun seseorang tetap bisa saja tidak sengaja mendengarkan. Rananta mengeleng, meyakinkan bahwa Ignacia tidak membuat masalah apapun.
"Kau saja tidak bisa melakukan apapun saat berada di dekat Rajendra, mana bisa kau mendapatkan masalah."
Rananta menatapnya dengan tatapan aneh yang dibuat-buat dan berakhir dengan mendapatkan teguran dari Ignacia berupa tepukan di bahunya. Rananta sedang usil. Tapi ya mau bagaimana lagi? Ignacia tidak dalam emosi yang baik.
Ignacia yang mulai berkencan dahulu saja langsung diputuskan tanpa penjelasan apapun. Tentu dia akan merasa gugup dan menahan hatinya agar tidak melakukan hal yang dapat membuat dia diputuskan lagi. Kali ini Ignacia berencana untuk menjadi lebih cuek untuk melihat reaksi Rajendra. Dan laki-laki itu juga malah terlihat sama gugupnya.
"Ignacia," tiba-tiba saja namanya disebutkan oleh sang wali kelas. Semua mata kini tertuju padanya.
Dalam hati, Ignacia mengutuk dirinya sendiri yang malah berbicara dengan Rananta hingga tidak mendengar kata-kata yang disampaikan wanita berkacamata di depan sana. Mana kebetulan Ignacia duduk di belakang, jadi dia bisa merasakan tatapan semua orang.
"Ignacia, kamu dari kelas 7B?" Aneh karena tiba-tiba sang wali kelas bertanya. Ignacia hanya mengangguk, menahan jantungnya yang ingin buru-buru keluar dari tempatnya.
"Bu Zahra pernah bercerita soal kamu di ruang guru. Beliau saja lebih dahulu tahu sebelum saya."
Ignacia ingin menghilang saja rasanya. Kenapa harus dibahas disini? Dia juga menyadari tatapan Rajendra padanya. Ada senyuman kecil dari laki-laki beralis tebal itu. Sepertinya dia sudah tidak merasa gugup. Tapi tak butuh lama hingga perhatian orang-orang kembali ke depan.
"Ignacia, aku akan mencari penerbangan menuju mars untukmu nanti. Jangan khawatir," bisik Rananta dengan nada candaannya.
"Tolong pesankan penerbangan yang paling cepat."
...*****...
Ignacia masih tidak paham dengan dirinya sendiri. Dahulu dia sudah pernah memiliki kekasih meksipun hanya dalam waktu singkat, lalu kenapa dia begitu gugup saat bersama dengan Rajendra?
Ingin bicara namun suaranya tidak bisa dikeluarkan, ingin menatap tapi rasanya terlalu berat, lalu saat didekati rasanya sudah sangat berbahaya.
"Mungkin karena kalian baru mengenal," tebak Rananta sambil memakan ciloknya.
Sementara di sampingnya ada Ignacia yang sedang memakan es batu dari gelas bekas es teh miliknya. Di depan ada Maharani yang juga menyimak perbincangan kedua temannya dengan tenang.
"Rajendra terlihat banyak mengambil peran di dalam hubungan kalian."
Di samping Maharani ada Utari yang setengah-setengah memakan pisang coklatnya, ikut menimpali ucapan Ignacia tentang perasaan gugupnya saat ada Rajendra.
"Dia mendekati kau lebih dahulu, duduk di sampingmu dan mengusir Rananta hanya dengan tatapan matanya." Utari benar sekali. Dia sudah pernah melihat Rajendra menatap Rananta dengan tujuan duduk di samping Ignacia.
"Pasangan baru selalu seperti itu," Maharani ikut bersuara, "aku sering melihat mereka yang baru berpacaran duduk berdua dan mengobrol seolah hanya ada mereka yang ada disana. Tapi Rajendra yang paling sering mendatangi Ignacia dari kedua pasangan yang lain."
Ignacia mengunyah es batunya dengan tenang. Hanya itu yang dapat dia lakukan agar merasa kembali tenang. Seharian dia mendapati Rajendra beberapa kali menatapnya tanpa alasan. Saat berbicara dengan Rananta saja laki-laki itu juga menatapnya beberapa kali. Ignacia tidak tahu. Rananta yang menangkap basah tingkah Rajendra.
"Tapi hanya Ignacia yang pura-pura tidak melihat kekasihnya saat duduk bersama. Maksudku teman-teman lain masih ada interaksi, sementara Ignacia sangat minim interaksi. Wajah ketakutannya terlihat sekali." Rananta mencoba untuk menahan tawa karena mengingat wajah Ignacia.
"Hah, aku tidak suka situasi ini," kesal Ignacia.
Sudah dia letakkan gelas kosong bekas es teh dan beralih menutup wajahnya dengan tangan. Sungguh dia gugup dan malu sekali jika berada di hadapan Rajendra. Tatapan laki-laki beralis tebal itu lebih terasa hangat daripada mantannya.
"Aku takut ditinggalkan lagi. Dia mungkin menunjukkan semua sisi hangatnya sebelum pergi menjauh. Ah menyebalkan sekali dunia manusia ini!"
Biarkan saja jika Ignacia terlihat dramatis. Dia sudah tidak peduli dengan apapun yang orang-orang pikirkan. Ignacia sudah terlanjur dikenal karena hubungannya dengan Rajendra. Jika hubungannya kali ini juga kandas, rasanya seperti melihat masa lalu saja.
"Hah, aku kurang panjang berpikir," sesalnya.
"Siapa juga yang menyuruhmu bermain-main di dunia manusia. Sudah bagus kau berada di dunia fiksi. Sama seperti aku yang berada di dunia anime, seharusnya kau tetap dengan semua buku novelmu, Ignacia. Dengan begitu tidak akan ada yang dapat menyakitimu." Utari tampak sangat bangga saat berbicara. Tapi yang dia katakan ada benarnya juga.
"Kecuali authornya," tambah Rananta.