
"Jika takut, tidak bisakah kita kembali seperti masa lalu? Ketika aku benar-benar bisa melihatmu di sekitarku."
Wajah keduanya sangat dekat. Jarak yang dibuat Ignacia memancing keinginan Rajendra untuk tetap tinggal. Bahkan apa yang baru saja Ignacia lakukan pada bibirnya membuat Rajendra merasakan sengatan listrik kecil yang manis.
"Maafkan aku. Tapi seperti yang kamu tahu, ini demi masa depanku. Aku tidak ingin melewatkannya."
"Meskipun nantinya juga akan seperti ini lagi?" Ignacia menetap Rajendra yang mengangguk kecil. Masih di posisi yang ambigu, Ignacia tersenyum di sudut bibirnya. "Seharusnya aku tahu jika kita terlalu berharga untuk menjadi nyata." Dia menjauh, duduk dengan benar dan kembali menatap kota.
"Apa maksudmu?" Bingung Rajendra.
"Aku menyesal karena membuatmu tidak nyaman ketika pentasku, Rajendra. Karenanya aku tidak ingin terlibat apapun di SMA agar tidak ada masalah. Aku juga ingin menikmati hari sekolahku tanpa gangguan ekstrakurikuler manapun. Tapi malah aku yang ditinggalkan."
Ignacia tahu jika ucapannya barusan dapat membuat Rajendra tersinggung. Tapi sampai kapan dia bisa menahan perasaan tidak nyaman setiap kali ditinggalkan sang laki-laki? Ignacia sudah muak di tinggalkan terus-menerus. Sudah dengan orang tuanya yang pergi bekerja di malam hari, lalu Rajendra?
"Jadi haruskah kita saling jujur satu sama lain hari ini?" tawar Rajendra dengan smirk kecil di sudut bibir, "maaf jika kamu merasa tidak nyaman, Ignacia. Tapi aku ingin menjadi lebih berpengalaman ketika berada di SMA. Aku ingin mencoba hal-hal yang belum pernah kulakukan."
"Aku mengerti," dingin Ignacia.
Rajendra terkekeh kesal. "Jika begini alurnya, ada yang ingin kukatakan juga padamu, Ignacia. Aku benci sikapmu yang seolah menolak keberadaan ku setiap bertemu di sekolah."
Ignacia menoleh, kenapa tiba-tiba ke topik itu?
"Kamu kelihatan enggan ketika aku mendekatimu di sekolah. Apa kamu malu berkencan denganku? Selama empat tahun terakhir, kamu selalu mencoba untuk tidak terlihat bersamaku. Apa yang salah? Juga selama ini kita berkencan diam-diam. Kenapa kamu menutupi hubungan kita padahal sudah banyak yang tahu?"
Ignacia ingin menyentuh tangan Rajendra, namun dengan cepat laki-laki itu langsung menarik tangannya. Mungkin sudah terlanjur kesal karena ocehan Ignacia tadi. Ocehan yang membahas bahwa dia memilih untuk tidak mengikuti kegiatan di sekolah karena rasa bersalahnya.
Ignacia seharusnya tetap diam.
Si gadis menghembuskan nafas panjang.
"Jika kujelaskan, kau tidak akan mengerti. Karena aku sendiri saja bingung kenapa aku selalu ingin menyimpanmu untuk diriku sendiri. Ini hubungan pertamaku, Rajendra. Aku belum banyak belajar tentang hubungan romantis."
"Apa aku aib bagimu, Ignacia?" Rajendra memincingkan matanya, "apa aku memalukan bagimu?"
"Rajendra!" Ignacia marah. Kenapa Rajendra harus mengatakan hal yang membuatnya tampak buruk?
Bukankah keduanya tampak berlebihan? Keduanya hanya sedang kesal dan tidak sengaja mengungkapkannya. Rajendra kesal karena menyinggung Ignacia soal masa depan. Sementara Ignacia kesal karena akan kembali ditinggalkan. Meksipun kelihatannya ini tidak selama sebelumnya.
"Kamu tahu," Ignacia mengatur nada bicaranya, "kamu tampak lebih bersinar tanpaku. Kamu ingat ketika acara pelantikan ketua MPK? Aku melihatmu sungguh bersinar di depan sana. Lalu ketika kamu menjadi panitia di aula, kamu tampak sangat tampan dan bersinar."
"Kamu sangat berbeda ketika sedang bersamaku. Aku tidak berbakat dalam apapun. Berbeda denganmu. Aku takut-" air mata keluar dari satu sisi mata Ignacia, "aku takut jika berjalan di samping orang yang bersinar. Aku takut tidak terlihat."
"Sekarang kenapa kamu menangis?!" Kesal Rajendra.
"Aku ingin menyimpanmu untuk diriku sendiri. Kenapa aku harus berbagi dengan orang lain tentang hubungan kita? Aku tidak suka ketika orang-orang menatapku. Aku tidak ingin ingat jika dahulu- ditinggalkan ketika semua orang tahu tentang hubunganku dengan seseorang!"
"Kamu membandingkan aku dengan mantanmu?"
"Rajendra," Ignacia tampak memohon. Gadis itu bangkit, sudah tidak mau terlibat dalam pembicaraan tidak sehat ini. "Aku ingin pulang. Aku lelah. Aku akan pulang sendiri, jadi tidak-"
"Maafkan aku," Rajendra memeluknya erat, "selama ini aku hanya khawatir jika kamu berhenti menyukaiku karena aku selalu tidak ada. Jadi aku mencoba untuk mendekatimu ketika sempat tanpa mengetahui perasaanmu. Maaf, aku tidak bisa mengerti perasaanmu."
"Maaf aku kekanak-kanakan malam ini, Ignacia."
Ditenggelamkannya wajahnya di leher jenjang Ignacia. "Aku sangat menyesal. Maaf sudah membuatmu menangis. Aku akan mengantarmu pulang, tapi berhentilah menangis. Aku bersalah, aku minta maaf padamu. Kumohon maafkan aku."
Ignacia tidak membalas pelukan Rajendra. Kedua matanya sudah memanas, tidak bisa menahan ledakan emosi yang terjadi akibat pertengkaran tidak jelas malam ini. Apa yang baru saja mereka lakukan tadi? Mereka bertengkar hanya karena keluhan sepeleh? Padahal keduanya sudah bersama selama empat tahun.
Ignacia tidak terisak. Dia menahan isakannya begitu kuat hingga tidak ada yang bisa mendengarnya.
"Pasti sulit karena menahan semuanya, Ignacia. Aku minta maaf sudah bersikap tidak adil padamu." Rajendra bergerak untuk memberikan dukungan emosi lewat elusan lembut di punggung si gadis. Berharap emosinya tadi cepat dilupakan Ignacia.
"Aku ingin pulang," ucap Ignacia dengan nada bergetar.
"Aku minta maaf, Ignacia," Rajendra semakin mengeratkan pelukannya, menahan Ignacia yang ingin segera menyudahi kebersamaan keduanya, "setiap hari aku ingin mengatakan soal keseharianku. Tapi aku takut melihat reaksimu ketika tahu aku akan pergi. Kamu tidak suka."
"Rajendra, aku ingin pulang," ulang Ignacia lagi.
"Lain kali ayo lebih terbuka tentang perasaan masing-masing, Ignacia. Katakan saja semua keluhanmu padaku. Bukan hanya Nesya yang bisa kau ajak bicara."
Ignacia menyerah. Rajendra jika sudah memakai suara rendah menjadi lebih lembut. Pertahanan Ignacia runtuh. Perlahan membalas pelukan hangat Rajendra. Wajahnya menjadi lebih basah namun tetap tanpa suara.
"Maafkan aku, Ignacia. Selama seminggu terakhir, aku membuatmu bingung."
...*****...
Sesampainya di rumah, Ignacia langsung masuk ke kamar tanpa memperdulikan pertanyaan sang mama yang khawatir melihat anak pertamanya menangis. Mama Ignacia mengikuti hingga di depan pintu. Tidak bisa masuk, pintunya terkunci dari dalam.
Gadis itu duduk di sisi tempat tidur. Duduk memeluk lutut tanpa melanjutkan menangis. Emosinya tidak tertahankan. Yang ada sekarang hanya perasaan bersalah. Dia baru saja membuat Rajendra menyesal di tengah perjuangan untuk masa depan.
"Ignacia, kamu baik-baik saja? Ada masalah apa? Kenapa kamu menangis?" Ignacia diburu pertanyaan oleh sang mama dari luar ruangan.
Samar-samar Ignacia bisa mendengar suara langkah orang lain di balik pintu. Ayahnya bertanya, apa yang sedang terjadi, siapa yang menangis. Istrinya kebingungan harus menjawab apa. Setelah keduanya pergi, berganti Athira yang datang. Mengetuk dan memanggil-manggil nama kakaknya.
"Apa yang terjadi? Kakak bisa bicara padaku. Apa Kak Nesya tahu sesuatu tentang ini?"
Ignacia tidak menjawab. Dia malu dengan dirinya sendiri karena mengeluh pada Rajendra. Salahnya karena tidak sabaran.
"Kak, buka pintunya. Kak Ignacia."
"Pergilah, apa gunanya kau disini? Aku tidak berencana untuk mengakhiri hidup." Ignacia berbisik. Masih membiarkan keluarganya bertanya-tanya. "Aku harus melihat usaha Rajendra di masa depan. Tidak mungkin aku akan menyerah."
Selang beberapa lama, Ignacia memperbaiki posisi duduknya. Menatap dinding yang gelap. Sedari tadi lampu kamarnya tidak menyala. Dibiarkan lampu dari luar yang menerangi beberapa sudut ruangan lewat jendela yang tirainya belum ditutup.
"Aku kekanak-kanakan sekali. Begitu saja menangis. Padahal Rajendra saja tidak menangis." Diusapnya pipi dengan air mata yang sudah mengering sejak tadi. Perlahan dia bangkit, akan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah menangis, Ignacia harus menghapus bekasnya.
Aneh.
Ketika membuka pintu, seluruh rumah menjadi gelap. Hanya lampu teras yang menyala. Ignacia berjalan mencari saklar lampu, mencoba untuk menyalakan lampu ruang tamu. Belum juga menemukan saklar, rasanya Ignacia menendang sebuah bungkusan.
Segera dinyalakannya lampu, cepat-cepat melihat apa yang ditendangnya tadi. Ignacia berjongkok, mencoba melihat apa yang ada di dalam.
Sebuah bungkusan berwarna putih. Kantong plastik khas minimarket. Isinya beberapa Fitbar kesukaan Ignacia. Dengan rasa berbeda dan jumlahnya banyak. Apa yang sedang terjadi? Ignacia tidak ingat jika memesan Fitbar dari mamanya.
Oh ada catatan disini.
..."Kak, aku dan mama membeli banyak Fitbar agar kakak tidak sedih lagi. Kami tidak tahu apa yang terjadi, tapi Kak Rajendra bilang jika kakak sedang sedih. Aku tidak ingin ikut campur dalam hubungan kalian. Tapi jika ingin bercerita, aku akan mendengarnya."...
^^^Athira^^^
Ignacia tersenyum samar. Dia menghargai niat baik mama dan adiknya. Tapi seharusnya Ignacia tidak tampil aneh di hadapan keluarganya. Rajendra mungkin khawatir, jadi memberitahu Mama dan adiknya. Jika khawatir, kenapa Rajendra tidak mengirim pesan pada Ignacia setelah pertengkaran kecil tadi?
...*****...
Ignacia bangun sebelum matahari terbit. Entah mengapa matanya tiba-tiba terbuka dan tidak mau kembali menutup. Diputuskannya untuk keluar rumah. Duduk di halaman sambil melihat sinar matahari yang perlahan datang menyapa.
Rasanya hangat.
Si gadis duduk di teras, menutup mata perlahan seolah akan kembali tidur saking nyamannya udara pagi itu. Apa karena semalam Ignacia merasa sangat buruk? Semesta memperlihatkan dunia yang lebih baik setelah mengalami masalah dengan kekasihnya semalam.
"Ignacia!" Sebuah panggilan datang dari arah pagar. Nyawa Ignacia belum datang seluruhnya, jadi butuh proses untuk menyadari keberadaan Nesya yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?!" Buru-buru Ignacia membuka pagar. Menemukan Nesya sudah cantik memakai celana training dan Hoodie berwarna abu-abu. Rambutnya diikat dengan baik, tidak lupa memakai kacamata juga.
"Aku datang untuk mengajakmu olahraga pagi. Aku sudah mengirimkan pesan, tapi tidak ada tanggapan."
Ya bagaimana mau ada tanggapan? Ignacia saja membiarkan ponselnya ada di atas nakas tanpa berniat untuk mengisi dayanya. Mode pesawat juga dia gunakan agar tidak ada gangguan apapun dari luar.
"Ayo olahraga di alun-alun. Jika kamu belum sarapan, kita sarapan bersama saja disana. Jarang-jarang kita bisa berolahraga bersama." Sejujurnya ini akan menjadi pertama kalinya keduanya berolahraga. Jarak rumah keduanya yang cukup jauh tidak memungkinkan untuk sering bertemu.
Ignacia tidak bisa menolak. Kasihan Nesya yang sudah jauh-jauh kemari. Lagipula matahari baru keluar. Belum terlalu panas. Bahkan suasananya menjadi lebih bersahabat sekarang.
Ignacia masuk ke dalam, membawa Nesya juga bersamanya. Diminta menunggu selagi Ignacia bersiap-siap. Mandi, menyisir rambut, merapikan wajah yang sempat berantakan juga. Tidak butuh waktu lama, sekitar dua puluh menit saja. Nesya menunggu dengan sabar.
"Kak Nesya?" Bingung Athira yang akan menuju ruang tamu. Di tangannya ada segelas air dingin berisi irisan lemon. "Kenapa Kak Nesya bisa ada disini pagi-pagi? Kakak memiliki janji dengan kakakku sepagi ini?" Athira mengambil duduk di single sofa, minum perlahan.
"Kukira sebaiknya kubawa Ignacia pergi pagi hari. Ketika dunia masih belum terlalu panas untuknya. Terima kasih sudah menghubungi aku semalam." Keduanya berbisik. Menjaga rahasia hingga yang dijemput selesai.
"Katakan pada mama jika aku akan sarapan diluar." Ignacia membawa tas kecil, memasukkan power bank dan ponselnya ke dalam. Sebenarnya dia tidak ingin membawa ponsel. Berjaga-jaga saja jika mamanya menghubungi. Ignacia tidak ingin merepotkan Nesya.
"Tentu. Kalian bisa kembali kapan saja. Mama dan ayah berencana untuk mengubah letak taman belakang."
"Kalau begitu sebaiknya aku tidak cepat kembali," canda Ignacia kemudian pamit keluar bersama Nesya.
...*****...
Alun-alun ramai.
Tempat makan di sekitar juga ramai. Ignacia dan Nesya berlari berkeliling alun-alun sebentar sambil melihat-lihat tempat makan yang tidak begitu ramai. Keduanya tidak banyak bicara. Menyimpan energi agar bisa tetap berlari.
"Kita berhenti sebentar?" Tanya Nesya. Gadis itu melepas kacamatanya dan membersihkannya dengan ujung Hoodie. Nafasnya tersengal-sengal. "Ayo duduk sebentar. Apa kamu sudah menentukan ingin makan apa, Ignacia?"
Kebetulan ada bangku taman yang kosong. Keduanya duduk disana sambil meluruskan kaki. "Aku ingin makan semuanya. Bingung. Bagaimana denganmu, Nesya? Apa yang ingin kamu makan pagi ini? Semuanya tampak enak."
"Aku ingin makan ayam."
"Kita pergi makan sekarang?"
Nesya menggeleng. Masih merasa kelelahan.
Ignacia menyandarkan diri pada sandaran kursi, menatap langit yang sudah terang sepenuhnya. Kesibukan menatap langit membuatnya tidak menyadari gelagat Nesya yang diam-diam mengecek ponsel. Selang beberapa menit, kejutan lain datang.
"Kau kelelahan?" seseorang menyodorkan dua botol minuman pada Ignacia dan Nesya, "kebetulan sekali kita bisa bertemu disini. Dengan formasi lengkap malah." Itu Rananta, masih menyodorkan botol minuman. Semua teman-teman dekat Ignacia datang.
"Bagaimana kalian datang kemari? Kalian juga berolahraga disini? Hari ini? Kalian sudah merencanakan semua ini?" Ignacia bukan seseorang yang mudah percaya dengan kebetulan semacam ini.
Sekarang mereka semua ada di sebuah tempat makan. Menempati satu meja panjang. Kebetulan semuanya belum sarapan. Mereka saling pandang, tidak tahu harus membongkar rahasia atau tetap dalam kebohongan.
"Kau merasa tidak nyaman?" Utari angkat bicara.
"Tidak, aku senang kalian semua ada disini. Tapi kenapa kalian tiba-tiba merencanakan ini? Hari ini bukan ulang tahunku. Lalu ini juga bukan hari sahabat atau ulang tahun persahabatan kita. Kenapa kalian merencanakan hal semacam ini?"
"Memangnya kejutan hanya datang di hari ulang tahun saja? Kami bebas memberikan kejutan satu sama lain," Kemala menyela, "lagipula hari ini bagus sekali. Kami ingin sesekali menghabiskan waktu diluar bersama-sama."
"Tapi kalian tidak mengajakku," Ignacia agak kecewa.
"Itu tugasku," Nesya menyahut, "kamu tokoh utamanya, Ignacia. Jadi kami merencanakan ini tanpamu dan tugasku adalah membawamu kemari. Maaf karena aku tidak menjelaskannya."
"Ignacia, kami ingin menunjukkan bahwa kami ada disini untuk memberikan dukungan yang kau inginkan. Kebersamaan, rasa aman, dan tidak kesepian," Indri memberikan tatapan meneduhkan, kami ingin kamu tahu bahwa kau tidak pernah sendirian."
Kini Ignacia menoleh pada teman-temannya, melempar senyum kecil.