
"Sebentar lagi akan ada acara besar di kampusku. Namanya Festival Bulan Bahasa. Karena acara itu, aku akan membeli kain sebagai dress code acaranya. Dan untuk menyambut bulan itu, jurusan kami meminta para mahasiswanha untuk memakai kain hingga acaranya selesai. Mulai Minggu depan hingga bulan bahasanya berakhir."
"Festival Bulan Bahasa? Kedengarannya menarik. Kenapa harus memakai kain? Kain seperti apa yang kamu maksud?"
"Ya seperti kain batik yang akan digunakan sebagai pelengkap. Kainnya rencananya akan kugunakan sebagai bawahan namun tidak seperti bawahannya." Ignacia bingung bagaimana harus menjelaskannya. Di ujung panggilan, Rajendra mengiyakan saja pura-pura mengerti.
"Kamu tidak ingin mampir, Rajendra? Kita bisa berkencan dengan bebas tanpa gangguan orang tuaku," Ignacia bergumam.
Hatinya benar-benar ingin bertemu dengan sang kekasih, tapi juga tidak melupakan jarak yang ada diantara keduanya. Rajendra tidak mengatakan keberadaannya hingga saat ini. Ignacia menganggap Rajendra berada di belahan dunia lain.
"Andai bisa kulakukan seperti saat kita masih berada di bangku sekolah menengah atas. Tapi kamu ingat jika kesibukan kita berbeda 'kan? Maaf jika aku belum bisa menemuimu tahun ini."
Ignacia mengigit bibir bawahnya, menahan hembusan nafas berat yang akan segera keluar.
"Sebentar lagi kita juga akan merayakan anniversary kelima kita. Apa kamu juga tidak bisa meluangkan sedikit waktu untukku? Hanya satu hari saja. Atau aku yang akan menemuimu, kita bertemu di hari penting kita."
Ignacia tidak perlu menutupi perasaannya lagi. Biarkan Rajendra tahu apa yang dia inginkan secara langsung. Dia sudah lelah berpura-pura tidak ingin apa-apa.
"Maafkan aku. Untuk saat ini aku belum bisa memutuskan. Akan kuberikan kabar setelah kukosongkan semua jadwalku. Aku tidak akan pernah membiarkan gadisku datang menemuiku. Tetaplah disana dan aku akan berjalan ke arahmu."
Si gadis tersenyum kecil, "tentu. Aku akan menagihnya sebelum hari jadi kita. Kamu mengerti?"
"Haha baiklah aku mengerti. Lalu akan ada apa saja di acara itu? Mendengar kamu yang begitu antusias, sepertinya acaranya akan sangat sesuai untukmu." Rajendra mengalihkan pembicaraan. Mencoba membuat kekasihnya menjadi lebih baik.
"Kudengar akan ada seorang sastrawan yang akan datang. Aku tidak mengenal beliau karena yang kutahu hanya Nona Cream dan beberapa penulis lain. Danita bilang jika beliau ini sastrawan yang sederhana dan katanya aku akan menyukainya."
"Danita sepertinya mengenalmu dengan baik."
"Ya padahal yang kutahu darinya hanya dia dan aku menyukai penulis yang sama. Lalu bagaimana harimy, Rajendra? Apa ada cerita menarik di kampus atau tempat kerja?"
Ignacia menarik kakinya, memeluknya dengan lembut sambil mendengarkan semua cerita kekasihnya. Jika tidak bisa bertemu, setidaknya Ignacia tahu apa yang kekasihnya lakukan jauh disana. Andai semudah ini untuk mengetahui keberadaan kekasihnya juga.
...*****...
"Kalian sudah tahu tentang detail acara Bulan Bahasa yang akan datang?" Dosen di depan kelas tengah merapikan buku yang dibawa sambil berbicara, "apa kalian sudah mengecek dress code apa yang harus kalian pakai?" tanya beliau sambil menatap para mahasiswa yang mendengarkan.
"Tentu saja, kami harus memakai kain batik. Memangnya ada sesuatu yang berbeda, Bu?" Seseorang merespon cepat.
"Kalian harus memakai pita sebagai hiasan kepala. Mungkin kalian belum melihatnya. Ada berita tambahan di bagian dress code selebarannya. Kalian bisa beristirahat sekarang. Kita bertemu di kelas selanjutnya."
Sang dosen pergi meninggalkan kelas. Menutup pintu dengan lembut sebelum para mahasiswanya sempat mengucapkan terima kasih untuk pelajaran hari ini dengan lengkap. Itu etika yang harus dilakukan setiap kelas berakhir.
Ignacia melihat berita tambahan bersama Danita. Keduanya saling pandang seolah mengatakan bahwa keduanya tidak memiliki pita yang di maksud. Disana tertulis jika para mahasiswi diperuntukkan untuk memakai pita berwarna senada dengan batik yang dipakai sebagai hiasan kepala. Boleh untuk bandana atau hanya hiasan kecil.
"Bagaimana jika kita membeli pintanya sambil mencari kain batik nanti? Sebaiknya kita siapkan segera sebelum banyak orang yang mencarinya," ajak Danita.
Ignacia mengangguk saja, mengecek kembali ketentuan terbaru yang dikatakan ibu dosen tadi. "Kenapa tiba-tiba kita harus memakai hiasan kepala? Memangnya kita harus seramai apa untuk datang ke acara ini?" gumam Ignacia.
Jika ingat-ingat, bukan hanya para mahasiswa kampus ini yang akan mendatangi acaranya. Apa mungkin pita itu akan menjadi simbol pembeda antara orang luar dan orang dalam? Karena ketentuan terbaru ini di posting di website pribadi sekolah yang hanya bisa diakses oleh para pelajarnya saja, pikir Ignacia.
Danita mengambil ponselnya di atas meja, mengetikkan sesuatu beberapa detik. "Temanku bilang tokonya sudah buka. Bagaimana jika pergi setelah kelas selesai saja? Stoknya pasti masih banyak jika baru buka," ucap Danita memberitahu.
"Terserah padamu saja. Aku akan ikut."
...*****...
...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...
^^^Rajendra, aku akan pergi membeli kain |^^^
^^^Untuk menyambut acara Bulan Bahasa |^^^
Ignacia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas saat mendapati Danita sudah keluar dari kamarnya setelah meletakkan sesuatu. Rajendra memiliki ujian penting dan tidak bisa memegang ponsel hingga sore nanti. Pesan Ignacia akan dibaca begitu laki-lakinya bebas.
"Kamu sudah siap?" Tanya Danita bersemangat.
"Tentu saja. Karena itu aku menunggumu."
Keduanya turun keluar arena asrama. Berjalan ke halte bus terdekat sebelum terlambat. Kesempatan menunggu bus datang digunakan Ignacia untuk mengecek apakah Rajendra sudah mengaktifkan ponselnya. Namun hasilnya nihil. Rajendra pasti sangat fokus dan gugup hingga ponselnya tidak mendapatkan perhatian.
"Ada apa?" Danita melihat dengan jelas ekspresi tidak bahagia teman yang duduk di halte bersamanya, "sesuatu terjadi?"
"Tidak. Aku hanya lelah setelah kuliah hari ini. Kuharap kita bisa segera menemukan apa yang kita cari dan kembali ke asrama. Aku ingin segera beristirahat."
"Tapi auramu seperti menunjukkan sedikit rasa gugup. Ada sesuatu yang terjadi? Kau bisa membicarakannya denganku. Mungkin aku bisa membantumu." Sikap temannya yang begitu hangat perlahan membuat Ignacia ingin menceritakan banyak hal seperti yang dilakukannya pada Nesya.
"Kekasihku melakukan ujian penting. Kuharap dia berhasil."
"Kalau begitu doakan saja yang terbaik untuknya. Kirimkan energi positif agar dia tidak ikut gugup juga."
"Aku angkat panggilan sebentar." Danita izin pergi menjauh beberapa langkah untuk mengangkat panggilan entah dari siapa. Ignacia juga tidak ingin banyak tahu dan hanya mempersilahkan temannya mengambil waktu pribadi.
Beberapa saat setelahnya Danita kembali duduk di sampingnya, menyimpan ponselnya ke dalam tas dan tidak mengatakan apapun. Ignacia merasakan sesuatu yang aneh tentang temannya, namun dia tidak begitu yakin.
"Sesuatu terjadi?" Sekarang Ignacia yang bertanya.
"Kekasihku mengajak bertemu setelah kita selesai. Kukatakan padanya untuk bertemu saat jam makan malam, tapi katanya dia tidak bisa menunggu selama itu. Itu artinya aku akan membiarkanmu kembali ke asrama sendirian, Ignacia."
Ignacia jadi merasa bingung. Bagaimana bisa dia bertemu dengan teman baru yang begitu baik dan perhatian seperti Danita? Bahkan dia tidak ingin membiarkan Ignacia kembali sendirian setelah urusan busana untuk acara Minggu depan selesai.
"Dia pasti punya alasan yang penting. Lalu kalian tetap akan bertemu kan? Jangan khawatirkan aku dan bersenang-senanglah dengan kekasihmu selagi kalian masih bisa bertemu." Ignacia seperti menyinggung soal dirinya sendiri.
"Kukatakan padanya jika aku akan memikirkannya. Bukankah tidak baik meninggalkan teman sendirian sementara kita asik bertemu dengan kekasih? Maksudku itu rasanya canggung. Aku tahu jika kau juga memiliki kekasih dan tahu bagaimana perasaan setiap akan bertemu, tapi tetap saja. Rasanya aneh."
Danita menyandarkan dirinya pada sandaran kursi halte. Tatapan matanya terlihat berputar-putar agar bisa berpikir cepat. "Bagaimana jika kuminta bertemu dengannya setelah kita kembali ke asrama saja? Aku ingin memastikan kau pulang dengan selamat."
Danita ini ada-ada saja. Padahal Ignacia bisa menjaga dirinya sendiri. Berbulan-bulan tinggal disini membuat Ignacia sudah hafal sebagian jalan di kota. Sebagian itu sudah cukup bagus.
Kain yang akan dibeli sudah didapatkan dengan mudah karena koneksi teman lama Danita. Ketika keduanya datang, pemilik toko kain seakan sudah menunggu kedatangan keduanya. koneksi memang membantu sekali. Karenanya sang pemilik toko menyimpan warna-warna kain terbaiknya.
Tidak lupa Danita bertanya apa mungkin sang pemilik toko memiliki sisa kain dengan warna yang sama dengan kain yang keduanya akan beli atau bahkan ikat rambut yang senada dengan kedua lain ini. Sayangnya jawaban sang pemilik mengecewakan keduanya.
Ignacia berkeliling terpisah dengan Danita. Keduanya memiliki selera yang berbeda soal warna, jadi berada di jajaran kain yang berbeda pula. Si gadis berambut panjang mengedarkan pandangan, mencari-cari warna yang menarik minatnya.
"Kamu ingin mencari warna yang seperti apa?" Sang pemilik toko mendatangi Ignacia, "biar saya bantu carikan."
"Mungkin merah yang sedikit gelap namun bukan maroon."
"Omong-omong kenapa kalian tidak mencari kain bersama pasangan kalian? Tadi saya kedatangan beberapa pasang kekasih yang mencari kain untuk acara serupa," jelas pemilik toko yang berdiri tak jauh dari Ignacia. Sambil mencari-cari warna yang tepat beliau bicara lagi, "kesempatan ini biasanya digunakan para pasangan untuk menyelaraskan pakaian."
Ignacia jadi bingung harus merespon bagaimana. Dia hanya tersenyum kaku tanpa menjawab. Jika Rajendra ada disini dan satu kampus dengannya, mungkin Ignacia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Namun sayangnya Rajendra berada jauh dan tidak mungkin keduanya menyelaraskan pakaian untuk kegiatan yang bahkan di kampus laki-laki itu tidak diadakan.
Usaha mencari ikat rambut yang harus digunakan untuk acara itu. Mencari warna yang senada bukankah sesuatu yang mudah. Ignacia dan Danita memutuskan akan memakai bandana saja agar lebih mudah terlihat.
Pergi ke satu toko dan toko yang lain sambil bertanya apa mungkin ada warna yang keduanya cari. Danita dengan warna plum sementara Ignacia fokus pada warna cherry. Seharusnya warna yang hampir sama selalu ada. Apalagi keduanya sudah berkeliling ke toko dan mall.
"Sudah mengecek toko online?" Ignacia bertanya.
"Aku juga tidak menemukannya disana. Yang ada hanya ikat rambut kecil. Jika kita tidak menemukannya, bagaimana jika mencari warna coklat saja? Biarkan meksipun tidak senada." Ide bagus namun Ignacia tidak begitu menyukainya.
Sebelum meninggalkan mall yang ini, Ignacia izin pergi ke toilet sebentar. Alam memintanya beristirahat sebentar dan mengecek penampilannya di kaca yang lebih besar dari layar ponselnya. Sementara itu Danita kembali mengecek toko online, berusaha mencari sembari menunggu Ignacia.
...*****...
Sebuah ponsel dilemparkan sembarangan ke atas tempat tidur. Disusul dengan tubuh seorang laki-laki tinggi yang merasa kelelahan setelah berpikir. Panik bukanlah kebiasannya saat mengerjakan soal di saat-saat terakhir, tapi pengecualian untuk hari ini. Jika hasilnya buruk, nilainya bisa terganggu.
"Sesuatu menganggumu? Ujianmu memuakkan?" teman sekamarnya bertanya. Dirinya baru keluar dari kamar mandi saat mendapati Rajendra baru kembali dari kampus.
"Aku ingin menemui Ignacia. Aku ingin bersamanya selama tiga hari di kotanya. Dia menungguku di hari jadi kami." Rajendra menjelaskan tanpa memandang temannya yang asik mengeringkan rambut. Rajendra menatap langit-langit kamarnya sambil termenung.
"Liburannya datang setelah ujian. Memangnya harus tepat di hari jadi kalian? Bagaimana jika tidak?"
"Maka aku akan membuatnya merasa terabaikan lagi. Ignacia itu niatnya baik ingin mengajakku bertemu. Lagipula kami sudah terpisah selama berbulan-bulan."
"Ya kau benar juga. Memangnya apa yang membuatmu merasa terbebani? Memangnya hari jadi kalian bertepatan dengan urusan mendesak apa?" Temannya meletakkan handuk ke tempatnya sebelum berjalan mendekati sisi tempat tidurnya.
"Hari jadi restoran keluargamu?" Rajendra melirik temannya seperkian detik, "apa yang harus kukatakan pada ayahmu jika pegawai barunya ini meminta cuti tepat di hari sibuk restoran dalam setahun?"
Temannya terdiam, dirinya bungkam. Pegawai restorannya tidak banyak, semua orang memegang kendali pada keahliannya masing-masing hingga tidak bisa mencampuri urusan orang lain. Dan juga tenaga Rajendra sangat dibutuhkan dalam menyajikan makanan. Hari besar restorannya membutuhkan semua karyawannya.
"Siapa sangka jika hari jadi kalian sama seperti hari besar restoran keluargaku? Kau pikirkan saja. Jika kau ingin menemui Ignacia, katakan saja padaku. Akan kubantu bicara dengan ayah dan mencari pengganti sementara."
"Aku tidak ingin mengecewakan siapapun," gumam Rajendra. Tubuhnya dimiringkan, memunggungi temannya yang menatap.
"Jika kau berani mengajak seorang gadis berkencan, kau harus siap untuk membagi waktumu untuknya juga. Dunia ini memang bukan hanya tentang dirimu atau Ignacia. Kau berani mengajaknya berkencan, jadi kau tidak boleh membuatnya merasa sendirian."
Rajendra membalikan tubuhnya dengan cepat, "seperti kau pernah berkencan saja. Dahulu aku pernah mengecewakan seorang gadis yang kau ajak kencan? Kukira yang kau lakukan hanya menjadi sibuk di restoran keluargamu."
Temannya tersenyum kaku. Dia bangkit meninggalkan kamar dengan membawa ponselnya tanpa mengatakan apapun. Biarkan Rajendra yang memikirkan jawabannya sendiri. Dia tidak mungkin mengungkit sesuatu yang tidak disukainya di depan teman sekamarnya.
"Kenapa dia? Aku salah bicara?" Gumam Rajendra. Laki-laki itu terduduk dan menyambar handuk untuk mandi.
Diluar, tepatnya di teras kos-kosan. Teman sekamar Rajendra duduk sambil memainkan ponselnya. Tatapannya tertuju pada sebuah roomchat yang berisi pesan-pesan lama bertahun-tahun lalu. Jarinya bergerak perlahan untuk menghapus segala kenangan yang ada disana agar tidak diketahui siapapun.
"Dahulu aku sepengecut itu," bisiknya tanpa ada yang mendengarkan, "dan sebaiknya Ignacia tidak bertemu lagi dengan laki-laki payah."