Beautiful Monster

Beautiful Monster
Tidak Adil



Flashback On


...Bahri...


| Kau sedang sibuk?


^^^Tentu saja, ada novel yang sedang kubaca |^^^


^^^Tumben sekali kau bertanya padaku |^^^


| Ayo keluar dan bermain


^^^Kita bukan anak kecil lagi |^^^


^^^Aku juga sedang malas keluar rumah |^^^


| Kau itu harus keluar rumah sesekali, Ignacia


| Ayo datanglah ke taman tengah


^^^Sudah kubilang jika aku malas |^^^


| Aku akan membawa banyak teman agar ramai


| Sekarang malam Minggu, sesekali bergaullah


^^^Haruskah? Tapi aku sedang malas |^^^


^^^Ada novel yang ingin kubaca malam ini |^^^


^^^Aku sudah berjanji pada diriku sendiri |^^^


^^^Aku akan membacanya tanpa gangguan |^^^


| Hei aku mengundang teman-teman untukmu


^^^Jangan bercanda |^^^


| Mereka datang karena katanya kau akan datang juga


| Mereka datang karenamu


^^^Berani-beraninya kau menggunakan aku sebagai alasan |^^^


^^^Memangnya kenapa aku harus ikut? |^^^


| Hei cepatlah datang


| Teman-teman yang kuundang sudah datang


^^^Ah dasar kau ini |^^^


| Kau harus bergaul dengan manusia juga


| Jangan hanya dengan buku, Ignacia


^^^Kenapa harus mengatasnamakan aku hah? |^^^


| Karena kita teman


| Ayo datang saja, Ignacia


^^^Hah tapi aku malas |^^^


| Aku juga mengundang teman perempuan mu


| Setidaknya ayo mengobrol dengan mereka


| Aku punya cerita menarik


^^^Hah baiklah, kau berhasil |^^^


^^^Aku akan datang dalam limamenit |^^^


| Seharusnya sejak tadi begini


| Aku sudah sampai


^^^Cepat sekali |^^^


| Sudahlah, ayo datang saja


| Malam ini cuacanya juga bagus


^^^Kau ini ada-ada saja |^^^


Ignacia meletakkan ponselnya di atas nakas. Berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju ganti. Tidak mungkin dia akan keluar rumah dengan pakaian tidurnya. Hoodie dan celana panjang saja sudah cukup. Malam ini lumayan dingin, jadi jangan gunakan pakaian yang pendek dah tipis.


"Kakak akan pergi kemana?" Tanya Athira ketika melihat kakaknya berjalan menuju pintu.


"Taman. Mau ikut?" Athira agak terkejut mendengar jawaban kakaknya. Untuk pertama kalinya, kakak mau diajak bermain di malam hari oleh temannya. Siapapun itu, yang jelas dia berhasil membuat Ignacia menjauhi bukunya sebentar.


"Kenapa kesana?"


"Bermain saja."


"Tidak terima kasih."


Begitu sampai, Ignacia langsung melihat para tetangganya yang sudah duduk melingkar di salah satu sisi taman. Tempat duduk yang dibuat Pak RT untuk para warga yang ingin menikmati keramaian taman di malam Minggu dan sebagainya.


Anak-anak kecil juga ada. Jika tidak bersepeda, yang mungkin bermain bola di dalam lapangan futsal. Bermain sepak bola asal-asalan saja. Yang penting masuk ke gawang dan bahagia. Tamannya ramai karena malam akhir pekan.


Omong-omong bukan hanya teman sepantaran yang diundang Bahri ke taman malam ini. Bahkan adik kelas yang juga dikenal Ignacia tidak luput dari undangan. Ignacia mengenal mereka semua, tidak masalah.


"Kak Ignacia," sapa mereka--para adik kelas-- bergantian. Haha mereka lucu sekali saat menyapa.


Jadi ikutlah Ignacia dalam perbincangan disana. Membahas soal sekolah yang terpisah, guru yang menyeramkan, makanan yang sedang ramai digandrungi para anak muda, dan bahkan hal-hal acak yang bisa mereka pikirkan secara tiba-tiba.


"Bagaimana? Berkumpul dengan manusia sungguhan tidak terlalu membosankan kan?" Pertanyaan retoris.


Bahri menarik turunkan alisnya sambil bertanya. Ignacia mengangguk pelan, dia mulai menyukai kehidupan bermain dengan teman-temannya seperti ini. Meksipun hanya sebentar di malam Minggu.


Minggu berikutnya, Ignacia pergi keluar lagi. Tentu karena ajakan dari Bahri. Tapi ada yang berbeda.


...Bahri...


| Mau menitip Thai Tea?


| Kebetulan aku akan pergi kesana


^^^Waw kau baik sekali |^^^


^^^Iya aku mau |^^^


Ignacia mungkin terlambat menitip. Bahri sudah offline dan pesannya belum terkirim ke ponsel laki-laki itu. Tidak apa-apa jika Ignacia tidak mendapatkan Thai Tea juga. Toh dia bisa membelinya sendiri nanti.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ ...


^^^Rajendra, aku akan pergi keluar |^^^


^^^Ke taman dengan temanku |^^^


| Tumben sekali kamu pergi keluar


| Baiklah, silahkan menikmati harimu


Taman tetap seramai biasanya. Para tetangga Ignacia juga sudah duduk-duduk disana menunggu semuanya datang untuk memulai permainan. Permainan kartu. Ignacia tidak begitu paham, jadi dia akan memperhatikan saja. Sambil mencerna pelan-pelan. Jujur saja dia bingung kenapa orang-orang di sekitarnya pandai bermain kartu.


"Kak Ignacia juga menitip Thai Tea?" Salah seorang adik kelas bertanya padanya. Tetangga yang rumahnya tepat berada di samping Rumah Ignacia. Sudah lama mereka tidak bertemu. Orang-orang sibuk ya begini.


"Iya, tapi sepertinya Bahri tidak melihat pesanku."


"Tidak apa-apa, aku sudah katakan pada Kak Bahri jika kakak datang."


Oh gadis dengan senyuman manis ini baik sekali. Seperti tahu jika Ignacia menyukai olahan minuman yang terbuat dari campuran teh hitam, adas manis, kapulaga, gula, bunga jeruk, dan susu itu.


Dan Bahri datang dengan seorang teman perempuan yang juga tetangga mereka. Rupanya Bahri menggunakan sepeda motor teman sepantarannya. Dasar laki-laki itu. Padahal dia memiliki sepeda motor sendiri. Katanya untuk hemat bensin.


"Oh ya, ini milikmu. Aku tidak tahu kau suka yang mana, jadi kubelikan rasa original."


Ignacia menerimanya dengan senang hati. Yang original sudah enak tanpa campuran apapun. Ignacia mengeluarkan sejumlah uang dari kantung hoodienya, tapi Bahri menolak. Katanya dia ingin membelikan Ignacia saja.


"Ih curang, aku kenapa tidak dibelikan juga?" Protes seorang adik kelas yang tadi mengobrol dengan Ignacia. Bahri menatap dia tajam, jengah, dan tidak habis pikir.


"Kau yang memintaku untuk membeli, kenapa aku harus memberikannya dengan cuma-cuma padamu? Toh aku membelinya juga bukan dengan motormu," kesal Bahri kemudian memilih tempat duduk di samping Ignacia.


"Dasar kau ini," masih saja dia mendumel pada gadis yang lebih muda.


"Apa Kak Bahri sebenarnya menyukai Kak Ignacia? Kak Bahri kelewat baik padanya," goda si teman gadis yang lebih muda tadi. Bahri sudah siap-siap melepas sandal gunung yang dia gunakan, dengan tatapan kesal tertuju pada keduanya.


"Terima kasih untuk minumannya," bisik Ignacia setelah situasinya hening.


Bahri hanya mengangguk, fokus dengan ponsel. Tujuan malam ini bukan untuk banyak mengobrol, tapi untuk menikmati jaringan yang lebih mudah di sekitar taman. Tidak tahu kenapa jaringan di rumah mereka masing-masing jadi tidak secepat disini.


Ignacia membuka media sosialnya, mengambil foto untuk di upload. Hanya pose sederhana dengan minuman yang diberikan Bahri tadi. Foto itu tidak memiliki caption, namun diselipkan pesan singkat Bahri yang bertanya apa mungkin Ignacia mau menitip Thai Tea padanya.


"Apa kau anak-anak? Begitu saja memposting foto di media sosial," sindir Bahri. Ignacia cuek saja, toh dia melakukan ini hanya untuk mendapatkan kepuasan batin. Moodnya sedang baik, ingin membagikan foto kegiatannya saja.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Pesan dari siapa itu?


^^^Temanku, Bahri |^^^


| Kenapa dia mengirimkan pesan?


^^^Dia bertanya apa aku ingin Thai Tea atau tidak |^^^


| Kamu dibelikan Thai Tea olehnya?


| Minuman itu? Sungguh?


| Dan kamu mengiyakan?


^^^Tentu saja |^^^


| Got damn it


"Bagaimana kabarmu dengan kekasihmu, Ignacia?" Bahri bertanya dengan fokusnya yang masih tertuju pada ponselnya. Mungkin sibuk mengirimkan pesan pada kekasihnya. Untuk sejenak Ignacia tidak memikirkan semacam umpatan yang di kirimkan Rajendra.


"Kami baik-baik saja. Tapi kadang ada beberapa pertengkaran kecil karena laki-laki lain." Ignacia menjelaskan, menatap sekitar untuk mengalihkan perasaan tidak nyaman. Dia belum pernah membahas ini dengan siapapun. Tentu saja karena tidak ada yang bertanya. Nanda hanya bisa membantu dan mengamati. Dia tidak tahu banyak.


"Bertengkar itu hal lumrah di kalangan pasangan. Jika tidak bertengkar, mungkin ada yang salah dengan hubungan kalian." Ignacia menganggukkan paham mendengar perkataan Bahri. Selalu ada salah paham dan hal kecil yang diributkan pasangan kekasih di awal-awal hubungan.


"Pertengkaran apa yang baru-baru ini terjadi?" Bahri bertanya seakan sedang menggoda Ignacia.


"Ada teman laki-laki yang mendekatiku, Rajendra marah. Bukan padaku, tapi entah mengapa kami kemudian bertengkar. Tidak lama, tapi ya aku masih bingung. Kenapa kami bertengkar untuk sesuatu yang tidak kulakukan?" Ignacia memandangi langit malam, mungkin ada jawaban di atas sana.


"Kelihatannya Rajendra ini tipe orang yang mudah cemburu jika 'miliknya' di ganggu oleh orang lain."


"Ya, begitulah. Aku bergaul dengan teman-teman sekelas saja dia agak tidak suka. Ada laki-laki lain yang sangat baik ke teman-teman perempuan. Kebetulan kami melakukan kerja kelompok bersama, tapi berbeda kelompok. Kami berfoto dengan laki-laki itu. Bukan hanya ada aku dan laki-laki itu padahal. Tapi Rajendra marah. Dia membuatku bingung."


"Kau ini memang kurang pengalaman." Bahri meletakkan ponselnya di atas meja, beralih pada minuman macha yang baru dibuka. "Tapi setelah bersama Rajendra, kau akan mendapatkan banyak pengalaman tentang berpacaran."


"Hah, menghadapi laki-laki itu sulit, Bahri. Omong-omong bagaimana dengan kekasihmu tempo hari? Dia sering mengirimkan fotonya padamu."


Pembicaraan beralih pada kehidupan Bahri. Ignacia menikmati minuman dinginnya dengan baik, melirik Bahri yang bersiap-siap memulai cerita.


Tapi belum sempat Bahri memulai obrolan, ponsel Ignacia bergetar. Tanda jika ada sebuah pesan yang masuk. Dari Rajendra.


"Balas saja dahulu. Kelihatannya Rajendra mungkin butuh sesuatu darimu," sela Bahri enteng. Dia seolah paling mengerti soal hubungan kekasih saja.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Kamu pergi kemana hah?


^^^Apa yang salah? |^^^


^^^Aku sudah izin jika aku akan pergi keluar |^^^


^^^Lalu kenapa jika Bahri membelikan aku minuman? |^^^


^^^Kami hanya teman, dia tetanggaku juga |^^^


| Kamu bisa membelinya sendiri


^^^Kenapa kamu sedingin ini? |^^^


^^^Apa yang salah? |^^^


| Jangan merepotkan orang lain


| Jika ingin, beli saja sendiri


^^^Aku mendapatkan tawaran tadi |^^^


^^^Tidak ada alasan untuk menolaknya |^^^


| Minta saja padaku


| Jangan padanya


| Mau aku belikan?


| Akan kuantarkan sekarang


^^^Tidak, terima kasih |^^^


| Kenapa tidak mau?


| Bahri tadi boleh membelikannya untukmu


| Kenapa berbeda denganku?


^^^Ayolah, ini hanya minuman |^^^


| Lalu kamu memilih dia daripada aku?


Ah ini salah Ignacia karena ingin menghidupkan kembali akun media sosialnya. Seharusnya dia diam saja sambil menikmati sisa akhir pekan. Seharusnya dia tidak ikut membagikan pesan dari Bahri. Semuanya salahnya. Ignacia yang membuat Rajendra marah dan terlihat sangat tidak suka.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Bukan begitu maksudku, Rajendra |^^^


| Lalu apa maksudmu?


^^^Bahri hanya menawarkan diri |^^^


^^^Dia hanya membelikan minuman |^^^


^^^Itu hal yang remeh |^^^


Ignacia menghembuskan nafas gusar. Ah, ini benar-benar salahnya karena sudah memancing kemarahan Rajendra. Mana dia tahu jika Rajendra begitu membenci temannya hanya kadang membelikannya minuman.


"Ada apa?" Bahri bertanya.


"Aku memulai perang karena kau memberiku minuman." Ada senyuman kecut di wajah Ignacia. Di pertengkaran yang biasa terjadi, Rajendra belum pernah semarah ini. "Kenapa kaummu menyeramkan sekali, Bahri? Perkara minuman saja sampai semarah ini. Aku tidak habis pikir."


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Kamu masih ada di taman?


| Aku akan datang sebentar lagi


Ignacia membulatkan matanya tidak percaya, "Rajendra akan datang sebentar lagi!" Paniknya. Sungguh gadis ini tidak bisa memikirkan apapun. Pikirannya kosong seketika.


Bahri menatap Ignacia sekilas, tidak mampu mengatakan apapun. Gadis di sampingnya ini bisa saja menangis jika sudah terlalu lelah dengan sikap kekasihnya. Bahri mengalihkan pandangan pada teman-temannya yang ada di area lain, mereka tidak tahu apapun. Dan sebaiknya tetap begitu.


"Bawa saja kekasihmu kemari, Ignacia. Kalian membutuhkan komunikasi yang baik jika ingin bertengkar. Jangan terbawa emosi ketika bicara dengannya. Aku tidak tahu laki-laki seperti apa Rajendra ini, tapi mungkin aku juga salah disini."


Bahri bangkit dengan membawa minuman milik Ignacia. "Kau mungkin sebaiknya tidak terlihat membawa ini. Akan aku berikan pada Athira, akan kuminta dia menyimpannya untukmu. Aku akan pergi, sampai jumpa. Hubungi aku jika ada masalah."


Ignacia hanya diam, menatap kepergian Bahri dengan minuman miliknya yang masih tersisa banyak.


Tidak lupa Bahri meminta teman-temannya untuk pindah ke tempat lain. Alasannya hanya agar Ignacia bisa menyendiri di tempat yang terbilang agak ramai. Tapi semakin malam, anak-anak yang ada di taman ini akan mulai berkurang.


"Tempat seperti ini cocok untuk bertengkar?" Gumam Ignacia. Tangannya mulai dingin, detak jantungnya tidak bisa terkendali.


Kedatangan Rajendra terasa sangat dingin bagi Ignacia. Sedari tadi Ignacia hanya menunduk. Memilin jari-jarinya karena gugup. Dia tahu jika malam ini Rajendra bisa saja memberikan banyak kata sarkasme padanya.


"Aku tidak suka ketika ada seseorang yang mengusik orang yang kusukai, Ignacia." Rajendra membuka suara, tangannya perlahan bergerak untuk menggenggam tangan Ignacia. Namun gadis itu menggeleng, berbisik jika tempat ini sebaiknya tidak menjadi tempat keduanya saling menyentuh.


"Aku minta maaf sudah membuatmu takut. Tapi aku melakukan ini untuk menjagamu. Aku tidak ingin ada yang membuatmu jatuh cinta selain aku."


"Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Kamu tidak mengetahuinya?" Ignacia akhirnya bersuara. "Kamu marah padaku hanya karena minuman, Rajendra. Mana mungkin seseorang bisa jatuh cinta hanya dengan itu."


"Kamu masih tidak mengerti, Ignacia?" Nada bicara Rajendra berubah sangat dingin. "Menurutmu apa lazim jika ada seorang laki-laki yang sampai membelikan minuman untuk seorang teman perempuan? Menurutmu teman laki-laki akan bisa bertahan berteman dengan seorang perempuan?"


"Memangnya apa yang salah?" Ignacia terpancing.


"Tidak ada pertemanan diantara laki-laki dan perempuan yang berjalan tanpa perasaan apapun, Ignacia."


"Tidakkah kamu berlebihan?"


"Bisakah kamu menjauhi laki-laki itu saja, Ignacia? Lakukan untukku yang menjadi kekasihmu. Jika tidak begitu, lakukan untuk menjaga dirimu sendiri agar tidak jatuh cinta pada laki-laki lain."


Flashback Off