
"AYO, SEMUANYA! KEMARILAH! AKAN KUBERITAHU CERITA YANG MENARIK! KAMI ADALAH SAKSI DAN BUKTINYA!" teriak seorang lelaki dengan beberapa luka seperti bekas cakar hewan buas.
Selain dirinya, ada lelaki lain lagi sedang meminta uang kepada kerumunan penonton di sana yang datang untuk mendengarkan cerita menarik yang sedang para lelaki itu jual.
Jo muncul mendekati kerumunan tersebut. Ia memakai sebuah jubah hitam yang menutupi bagian wajahnya. Jo berniat untuk mendengarkan cerita dari para lelaki di depan sana yang masih mengemis uang serta berteriak memanggil pengunjung lain yang ada di pasar itu.
"Cepatlah ceritakan! Apa yang terjadi?" desak salah satunya.
"Beberapa hari lalu kami pergi ke hutan untuk berburu. Saat itu, aku dan teman-temanku dihadang oleh seorang manusia. Dia menyerang kami dengan brutal sampai membuat luka pada kami. Kalian lihat, kan?" jelas lelaki itu sambil menunjukkan beberapa luka di tubuhnya.
"Dia bisa melompat tinggi dan berlari begitu cepat. Kalian tahu? tangannya bercakar dan giginya bertaring. Dia sangat menakutkan! Dia adalah monster yang bisa berubah wujud menjadi manusia dan bisa menyerang kalian sampai mati. Dia bahkan mengancam semua manusia. Kalian harus hati-hati!"
Semua orang yang ada di sana pun mulai berbisik-bisik dengan cemas, takut jika makhluk yang dibicarakan lelaki itu datang ke kota ataupun desa.
Tiba-tiba Jo berjalan melewati kerumunan. Dia melempar sekantong uang ke depan lelaki itu dengan santai, membuat orang-orang di sana terheran.
"Apa dia memiliki mata biru?" tanya Jo.
"Kau benar! Matanya... Dia memiliki mata biru yang berkilat. Aku bisa merasakan mata itu yang memberikan ancaman mati setiap kali aku melihatnya. Ada sorot dendam dan benci yang tersirat dalam mata biru itu," sahutnya dengan ekspresi ngeri.
Merasa puas dengan jawabannya, Jo pun pergi. Dia bersiul seakan memanggil sesuatu. Ternyata seekor anjing berwarna hitam dengan sedikit warna kecoklatan berlari menghampirinya.
Jo membungkuk, mengarahkan sebatang bulu burung berwarna hitam sepanjang 60 cm pada hidung anjing itu untuk dihirupnya lagi.
"Sepertinya kita semakin dekat dengannya, Arai."
Guk! Guk!
Anjing itu menggonggong lalu berlari setelah mendapatkan penciuman dari sehelai bulu itu. Jo mengikutinya dengan tenang sampai ia berhenti di depan sebuah rumah yang ada di hutan.
Arai, anjing hitam dengan penciuman tajamnya itu mendekati pintu bahkan mencakar-cakarnya seakan tengah memberitahu bahwa yang dicari Jo ada di dalam sana.
Jo mendobrak pintu tersebut dengan satu kakinya. Kekuatan tubuhnya itu berhasil membuat pintu terbuka bahkan lepas sehingga kini rumah tersebut bisa dimasuki.
"Ah, sepertinya mereka sudah pergi," gumam Jo sambil berjalan melihat-lihat sekitar.
Arai berjalan menyusuri ruangan dengan penciumannya hingga ia kembali keluar lalu menggonggong saat penciumanya berhenti begitu saja di satu titik.
"Ada apa?" tanya Jo berjongkok mengusap punggung Arai yang terus menggongong sambil mengadah ke atas.
Jo mengikuti arah pandang anjingnya, menatap langit cerah hingga sebelah sudut bibirnya terangkat ke atas.
"Bukankah dia bisa terbang?" kata Jo lalu mengamati bulu hitam dari sayap Yujiro yang saat itu jatuh dan Koyo memungutnya sebelum dia pergi.
Sementara itu, Yujiro mendaratkan kakinya di sebuah padang rumput yang begitu luas. Dia menurunkan Miho lalu menyusutkan sayap yang membentang hingga akhirnya menghilang.
"Kemarilah. Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan di sini," ajak Miho yang menggenggam tangan Yujiro.
Miho membawa Yujiro ke padang rumput luas dan banyak bunga yang sempat ia datangi bersama Rin saat hendak bertemu secara rahasia dengan Yosuke.
Yujiro segera menangkap tangan Miho yang hendak memetik bunga tersebut.
"Apa aku tidak boleh membawanya?" tanya Miho sehingga Yujiro membalasnya dengan anggukan.
Namun hal itu tak membuat Miho marah. Ia malah tersenyum lebar lalu menarik tangan Yujiro agar mereka bisa kembali berjalan-jalan di sana.
...****************...
Miho membuka kedua matanya yang langsung disapa dengan langit malam bertabur bintang serta wajah Yujiro yang sedang memandang ke depan yang bisa dilihat dari bawah.
"Kau tahu? Kita memang harus hati-hati dengan bunga," kata Miho membuat Yujiro menunduk memandangi wajah Miho yang sedang berbaring di atas pahanya.
Mereka tengah menikmati hari di padang rumput yang luas itu, hingga Miho akhirnya ketiduran sampai malam. Yujiro tak berniat membangunkan dan memilih untuk menikmati pemandangan yang ada di depannya ketika Miho terlelap tidur di atas pahanya.
"Teman Papa saat itu memberitahuku kalau mereka mengalami bencana setelah memetik bunga higanbana merah yang tumbuh di tembok gua. Beberapa orang percaya jika bunga itu adalah simbol kematian dan mereka saat itu malah menginjaknya hingga gua berguncang. Aku tak mempercayai mitos tentang bunga itu, tapi diam-diam hatiku merasa khawatir dan perlahan percaya jika sesuatu yang tak biasa bisa saja menjadi ancaman," jelasnya.
"Aku tak ingin kau menganggap dirimu sendiri sebagai sesuatu yang tak biasa atau ancaman untukku, Yujiro. Seperti yang kau bilang, bagiku kau adalah manusia. Jadi, apapun yang terjadi, tetaplah menjadi Ushioda Yujiro. Gunakan kelebihanmu ini dengan sebaik-baiknya," tambah Miho dengan sebelah tangan terjulur ke atas menggapai sisi wajah lelaki itu.
Yujiro terdiam memikirkan bunga higanbana yang Miho sebutkan tadi. Tapi kilatan kecil dalam pikirannya bukan menunjukkan higanbana merah, melainkan sepucuk higanbana biru.
"Kau kenapa?" tanya Miho begitu khawatir saat melihat Yujiro mengerutkan kening sambil memegangi kepalanya.
"Apa kau sakit?" Miho bangun, mengamati keadaan Yujiro dengan begitu lekat.
"Ushioda... Yujiro," erang Yujiro memegangi kepala.
"Apa yang terjadi?" tanya Miho kebingungan saat melihat Yujiro mengerang kesakitan di kepalanya.
Miho segera menarik kepala lelaki itu untuk di peluknya lalu diberi elusan lembut yang perlahan membuat Yujiro tenang. Mereka terdiam dengan posisi itu selama beberapa saat dengan keheningan malam yang menyelimuti.
"Miho," panggil Yujiro membuat Miho melonggarkan pelukan pada kepala Yujiro.
"Ya? Kau memanggilku lagi."
Yujiro memandangi wajah gadis yang begitu berseri di depannya. Perlahan, Yujiro melihat sosok Naho pada diri Miho. Setiap perlakuan, kepedulian, perlindungan, dan kasih sayang yang Miho berikan membuat Yujiro terus teringat dengan Naho.
Manusia tidak buruk.
Meski lemah dalam hal hati, Yujiro tak menyangkal jika semua yang ia rasakan saat ini begitu mengagumkan. Yujiro kira hidup menjadi manusia akan membuatnya kejam seperti yang biasa ia lihat ketika menjadi hewan dan tumbuhan.
Namun ternyata, sisi manusia yang memiliki cinta melembutkan pemikiran itu. Manusia seperti Naho, Miho, dan Toru haruslah tetap hidup di dunia.
"Miho," panggilnya lagi seakan tak bosan. "Kurata... Miho."
"Yujiro," gumam Miho terharu mendengar lelaki itu terus mengucapkan namanya.
Saking senang, Miho melompat memeluk Yujiro hingga tubuh mereka berdua terbaring. Miho tertawa bahagia lalu memandangi langit malam bertabur bintang bersama Yujiro di sana dengan tenang.