
"Ignacia!"
Baru masuk sekolah saja dia sudah bersemangat. Berada di rumah selama empat hari membuat Nesya kembali segar walaupun harus mengerjakan banyak tugas di rumah. Belum lagi ujian-ujian yang mulai digelar untuk menyambut PTS. Wajah Nesya yang berseri-seri seolah tidak menunjukkan bahwa hari-harinya selama di rumah seburuk itu.
"Aku membawa kabar bagus untukmu!"
Langkahnya mulai mendekati meja Ignacia. Si pemilik meja menyimpan ponselnya dan fokus untuk mendengarkan kabar bagus yang dibawa Nesya. Gadis itu tidak bisa menyimpan senyumannya sebelum memulai cerita. Hatinya terlalu bahagia hingga sulit berkata-kata.
"Atur nafasmu sebelum bicara," saran Ignacia pada sahabatnya.
"Baiklah," ada jeda beberapa detik sebelum Nesya mulai bicara.
"Jadi sebelum aku sakit, aku pergi keluar kota. Kau tahu, daerah yang dingin adalah tempat yang sangat cocok untuk menikmati akhir pekan. Aku tidak pergi sendirian. Ada seorang teman yang pergi bersamaku. Kami melewati cabang toko buku yang kau sukai.
"Kedengarannya hebat. Sudah lama aku tidak mengunjungi toko buku luar kota," Ignacia menimpali.
"Tapi bukan itu yang istimewa. Aku melihat sebuah spanduk besar di depan toko buku. Katanya-" Nesya kembali tersenyum lebar, "akan ada acara penandatanganan buku penulis kesukaanmu di awal bulan depan!"
Nesya mengangkat tangannya tinggi-tinggi saking bahagianya.
Ignacia menutup mulutnya tidak percaya. Matanya hampir membuat sempurna dan ikut tersenyum sangat lebar. Apa ini artinya Ignacia bisa selangkah lebih maju dalam membantu penulis kesayangannya untuk lebih berkembang?
Wah ini kesempatan yang bagus! Penulis kesukaannya belum pernah mengadakan acara selain di sisi lain pulau. Para fans dan toko bukunya lebih besar disana. Apa yang membuat penulis perempuan itu kini berpindah membukanya di sisi pulau yang ini? Tapi tetap saja berita bagus!
Kenapa Nesya bahagia? Bukankah Nesya tidak terlalu tertarik dengan buku? Dia lebih suka komik daripada buku. Apalagi jika buku itu bergenre kehidupan drama yang memiliki sedikit konflik. Nesya lebih menyukai aksi.
"Aku bahagia karena dengan begini kamu bisa mendapatkan tandatangan dari penulis idolamu, Ignacia. Wah, aku bangga bisa mengatakan ini padamu. Sungguh aku tidak sabar melihatmu mendapatkan tandatangan dari seseorang yang sangat kamu idolakan. Kau sangat beruntung."
Nesya menepuk bahu Ignacia dengan bangga, "semoga kamu mendapatkan kesempatan yang luar biasa."
Air wajah Ignacia seketika berubah, mengingat sesuatu. Awal bulan depan adalah hari ulang tahun Rajendra yang sudah dia rayakan dengan yang bersangkutan lebih awal. Sudah jauh-jauh hari untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan malah.
Mengajak Rajendra pergi bersama mungkin akan menyenangkan. Di sisi lain, mengingat Rajendra yang menerima panggilan ketika mereka berkencan sungguh membuat Ignacia muak.
"Mau ikut denganku? Kita bisa berjalan-jalan setelah acaranya selesai." Gadis itu menawari Nesya.
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa ikut denganmu. Tanggal itu adalah hari dimana pengurus OSIS dan MPK yang baru melakukan ldks. Dan para senior sepertiku akan menjadi panitianya. Maafkan aku, Ignacia," sedang Nesya. Semangatnya turun karena memberikan kabar buruk.
Itu artinya Rajendra juga tidak akan bisa ikut? Bahkan katanya laki-laki itu akan menjadi panitianya.
"Acaranya pukul berapa?"
"Kamu bisa mengeceknya di website toko bukunya. Disana tertera semua hal yang ingin kamu ketahui."
Ignacia membuka ponsel. Mencari-cari acaranya yang sangat ingin dia datangi.
Penandatanganan Buku oleh Penulis Cream
Hari/Tanggal : ⬜⬜⬜⬜⬜⬜⬜
Waktu : Pukul 08.00-⬜⬜⬜
Tempat : Aula Toko Buku Aleyda
Oh ya, mungkin Athira ada waktu dan bisa menemaninya. Disogok dengan alat menggambar pasti akan membuatnya bersedia pergi kemanapun.
...*****...
Hal pertama yang harus dilakukan Ignacia sebelum mengajak adiknya ikut adalah meminta izin pada kedua orang tuanya.
Hanya membutuhkan detail informasi tentang apa yang akan dia lakukan, pergi dengan siapa saja, transportasi untuk berangkat dan pulang, kemudian yang paling penting adalah jam berapa dia akan berangkat dan sampai di stasiun untuk pulang.
Ignacia mencatat semuanya, membacanya di depan kedua orang tuanya agar mendapatkan persetujuan. Pergi dengan kereta pukul enam pagi, pulang di jam enam sore. Rutenya dia akan pergi ke toko buku yang menjadi tujuan utama, pergi ke tempat makan di tengah hari, dan mungkin membeli sesuatu.
Dengan siapanya, Ignacia berencana untuk mengajak Athira jika adiknya tidak keberatan. Anak itu belum pulang dari perjalanan mencari camilan bersama dua adiknya.
Ayah Ignacia berpikir-pikir sebentar. Anak pertamanya belum pernah melakukan perjalanan sendirian. Takutnya ada sesuatu yang terjadi. Apalagi membawa Athira. Anak itu lebih sering pergi keluar daripada kakaknya, tapi pergi sendirian ke tempat yang jauh bukanlah hal yang bagus.
Kedua anak perempuannya terlalu berharga untuk dibiarkan keluar rumah berdua. Apalagi kota yang akan mereka kunjungi tidaklah dekat. Kereta juga bisa berbahaya bagi mereka. Hah, memberikan keputusan untuk anak perempuannya ini sungguh sulit. Lebih sulit daripada memutuskan menu makan malam.
Ayahnya tidak ingin memberi izin, tapi kasihan anaknya.
Sang mama juga bingung ingin mengatakan apa. Ingin bilang tidak, tapi Ignacia berhak mendapatkan kebebasan sekali seumur hidupnya untuk pergi sendirian sebelum hari-hari sibuknya di sekolah. Pulang sore hari tidak akan terasa jika moodnya bagus setelah mendapatkan tandatangan idolnya.
"Akan kami putuskan nanti," putus sang ayah yang berpikir cukup lama. Pria paruh baya itu bangkit mendekati kulkas dan mengambil minuman dingin untuk dibawa ke halaman belakang. Entah apa tujuannya. Tapi Ignacia berharap jika ayahnya akan memberikan keputusan yang dia inginkan.
"Ma," rengek Ignacia sambil menatap mamanya penuh harap.
"Pergi sendirian itu tidak mudah, Ignacia," rupanya ada nasihat yang harus Ignacia dengar. "Jika kamu pergi sendirian, kamu harus terus menyalakan ponsel untuk menghubungi kami. Jangan terus memainkan ponsel agar tidak ada tindak kejahatan."
"Aku tahu semua itu," respon Ignacia malas.
"Kamu belum pernah keluar sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu dan Athira? Memang seharusnya kalian baik-baik saja karena sudah mulai dewasa. Tapi mama dan ayah masih berat untuk membiarkan kalian pergi tanpa pengawasan. Kamu jangan terlalu berharap, ya?"
"Baiklah, aku mengerti."
Lalu kapan Ignacia bisa pergi dan mendapatkan tandatangan jika begini? Jika pergi dengan seluruh keluarga, kemungkinan besar dia bisa terlambat karena masih harus mengurus kedua adiknya yang masih kecil.
Berita buruknya, sang ayah harus pergi bekerja selama tujuh jam di hari itu. Akhir pekan, tapi tetap harus bekerja. Ignacia tidak mengerti alasannya, yang jelas, ayahnya tidak bisa mengantar.
Jadinya, ya, begitu. Pilihannya hanya Ignacia pergi atau tidak.
"Tenang saja, semuanya bukan makanan berbahaya. Bebas dari MSG dan perasa. Tapi dominan coklat." Athira buru-buru menjelaskan seolah tahu apa yang akan mamanya katakan saat melihat anak-anaknya membawa camilan.
"Athira, ayo bicara sebentar," ajak Ignacia sebelum adiknya duduk di sebelahnya.
Kamar Athira adalah tempat yang mereka pilih. Athira juga sekalian menyimpan camilannya untuk diri sendiri. Harus disimpan dengan baik agar Rafka dan Arvin tidak menemukan dan menghabiskannya.
Ignacia mulai menjelaskan soal acara penandatanganan buku pada Athira. Adiknya mendengarkan dengan seksama meksipun masih sibuk mengatur camilannya di atas lemari. Awalnya dia mengangguk-angguk saja. Tapi begitu mendengar tanggal yang disebutkan kakaknya, dia jadi kecewa.
"Maafkan aku sebelumnya, Kak. Aku sungguh ingin pergi denganmu untuk mendapatkan tandatangan buku. Tapi sayangnya aku ada acara hari itu. Aku dan teman-temanku berencana untuk membuat lukisan bersama sebagai kenang-kenangan sebelum salah satu temanku pindah."
Athira menatap kakaknya, berharap kakaknya mengerti. Tapi Ignacia sudah terlanjur kecewa.
"Temanku akan pindah keluar kota untuk mengikuti kakaknya yang berkuliah. Ayahnya sudah tidak ada, jadi ibunya ingin memastikan anak-anaknya baik-baik saja. Dia teman terbaik kami, jadi kami harus membuat sesuatu yang bisa membuatnya tetap mengingat kami nantinya," terang Athira lagi.
"Tidak masalah. Aku mengerti."
Lalu apa yang akan Ignacia lakukan? Rajendra jelas tidak bisa, Nesya juga. Athira memiliki janji lain. Lalu teman-teman dekatnya kebanyakan memiliki agenda tersendiri. Pergi dengan mamanya? Yasudah begitu saja. Daripada tidak jadi pergi kan? Sayang jika Nesya hanya bisa memberitahukan sesuatu tanpa didatangi oleh Ignacia.
Buru-buru Ignacia keluar kamar, mendatangi mamanya yang masih mengobrol asik dengan kedua adiknya. Biasa. Mereka akan menceritakan banyak hal pada mamanya hingga sampai kemana-mana. Kemunculan Ignacia menarik atensi ketiga anggota keluarganya hingga ceritanya terhenti.
"Mama aja yang ikut. Nanti ke stasiun diantar ayah dan pulangnya juga. Biar aku yang beli tiket keretanya."
"Mama?" Bingung mamanya. "Mama juga tidak bisa sendirian keluar rumah. Keluar tanpa ayah itu sulit."
"Tidak apa-apa. Hanya sekali saja. Aku ingin mendapatkan tandatangan penulis kesukaanku. Sekali saja aku ingin bertemu dengan seseorang yang ceritanya kubaca setiap hari, Ma. Kali ini saja, ayo pergi denganku." Ignacia menautkan kedua tangannya, memohon agar permintaannya diterima.
"Kak, mama tidak bisa."
"Mama, sekali aja."
"Mau kemana?" Arvin menyela, menatap kakaknya dan sang ibu bergantian. Tapi keduanya tidak merespon dan masih terjebak di pikiran masing-masing.
...*****...
Dua hari berlalu. Ignacia masih kekeuh untuk mengajak mamanya pergi bersama. Beruang kali mamanya menunjukkan keraguan, tapi hal itu tidak dapat menghalangi Ignacia untuk berharap. Ayahnya sudah tahu jika Ignacia berencana membawa sang mama pergi sebagai teman perjalanan.
Jika begitu ayahnya tidak keberatan.
Jadi keputusan ada di tangan mamanya.
Lalu di malam yang tenang, mamanya datang ke kamar Ignacia dengan membawa Fitbar. "Mama membeli banyak. Mungkin kamu lebih menyukai ini daripada makanan dominan coklat." Ada aura aneh saat mamanya datang dengan membawa banyak camilan untuk Ignacia.
"Mama tetap menolak?" Tanya Ignacia to the point. Awal bulan akan segera datang. Ignacia membutuhkan kepastian.
Mamanya tersenyum tipis, masih berdiri di daun pintu. Seperkian detik selanjutnya langkahnya mulai mendekat. "Siapa bilang jika mama akan menolak?" Kalimat mamanya menafsirkan banyak hal. Ignacia segera memberikan tanda pada bukunya, bangkit dan mendekati mamanya untuk memastikan.
"Mama mau pergi bersamaku ke acara itu kan?" Rasanya seperti berada di awan. Melihat mamanya mengangguk, Ignacia berlipat-lipat kali bahagianya. Refleks memeluk mamanya senang, bahkan dia tampak melompat-lompat seperti anak kecil yang akhirnya mendapatkan es krim.
Ignacia melonggarkan pelukannya, mundur satu langkah sambil tersenyum sangat bahagia. Sungguh harinya akan menjadi sangat baik bulan depan. "Kalau begitu nanti aku akan memesan tiket pulang dan pergi. Akan aku rencanakan semuanya. Wah aku senang sekali! Terima kasih Ma!"
"Seperti ini saja kamu sudah senang ya?"
"Tentu saja. Karena aku akan bisa menikmati waktu berdua dengan mama, dan mendapatkan tandatangan penulis kesukaanku. Wah aku sudah sangat tidak sabar!"
Mama Ignacia menutup pintu yang ada di belakangnya. Mencegah suaminya secara tidak sengaja mendengar pembicaraan khususnya dengan si putri pertama. "Kamu sudah beritahu Rajendra jika kamu akan pergi keluar kota? Kenapa kamu tidak pergi dengan Rajendra saja?" Mamanya berbisik.
Mood Ignacia sedikit menurun mendengar pertanyaan mamanya. Rasanya malas membahas, namun sekarang posisinya sedang ditanya. "Rajendra itu ketua MPK, Ma. Sebentar lagi mereka akan mengajak ldks untuk para anggota baru OSIS dan MPK. Rajendra kelihatannya akan menjadi panitia yang sibuk."
"Rajendra yang mengatakannya padamu?"
Ignacia menggeleng, jujur jika dia mendengar ini dari Nesya. Satu-satunya orang yang dapat memberikannya informasi soal Rajendra tanpa sensor. Tapi ya tetap akan ada sesuatu yang di sembunyikan jika itu sangat pribadi.
"Seharusnya tanyakan dulu apa Rajendra bisa atau tidak. Memangnya kamu sudah tahu kapan ldksnya akan dilaksanakan? Mungkin jadwalnya tidak bertabrakan." Keduanya kini duduk di sisi tempat tidur Ignacia. Suasananya menjadi agak dingin.
"Rajendra merahasiakannya." Ada nada kecewa dari Ignacia.
Mamanya menepuk bahu anaknya menguatkan. Sebaiknya tidak membahas tentang Rajendra untuk sementara. Anaknya bukan orang yang mudah kecewa pada orang lain. Jadi pasti ada alasan yang masuk akal hingga Ignacia menjadi sangat kecewa dengan laki-laki yang disukai sang mama.
"Berarti mama harus bangun lebih pagi agar kita bisa berangkat pukul enam pagi, Ignacia. Kita harus mengatur semuanya agar sempurna. Jangan lupa jika kamu tidak bertanggung jawab untuk membuat hari itu menyenangkan. Kita akan menjalaninya bersama-sama. Kamu mengerti?"
"Baiklah, akan kuusahakan. Tapi biarkan aku yang mengurus semuanya."
"Iya baiklah. Tapi mama juga ingin ambil bagian."
"Mama menemaniku saja. Mama membuatku mendapatkan izin dari ayah untuk pergi," ada senyuman kecil di wajah Ignacia. "Hah, aku tetap saja senang karena mama akhirnya menerima ajakanku."
"Iya, mama juga akan memastikan kamu baik-baik saja."
Athira mengetuk pintu, mencari mamanya untuk bertanya sesuatu. Karena pertanyaan dari anak keduanya, sang mama bangkit meninggalkan kamar Ignacia untuk memenuhi kebutuhan si anak kedua. Tinggallah Ignacia dengan senyuman bahagia. Athira belum pergi saat itu.
"Baru dapat durian runtuh?" Athira bertanya dengan tatapan menyelidik. "Mama menerima ajakan kakak pergi keluar kota untuk acara penandatanganan buku?"
"Tentu saja. Ini akan menjadi pertama kalinya aku menghabiskan waktu seharian dengan mama." Athira menatap kakaknya iri. Dia juga ingin mendapatkan hari seperti itu dengan orang tuanya.
"Semoga berhasil dengan kencan mama, Kak."
"Kau juga semoga berhasil dengan rencana untuk temanmu, Athira. Jangan lupa untuk menjaga catmu dengan baik. Jangan terlalu boros."
"Ya, aku akan mengingat informasi yang penting itu."