
"Trik apanya? Kalian berkencan ketika aku menelfon? Maaf jika aku menganggu kencan kalian."
Kemala jelas sudah tahu soal rumor bahwa Ignacia dan Rajendra berkencan di rumah. Itu alasan yang lebih masuk akal kenapa Ignacia bisa mengangkat panggilan Kemala di ponsel kekasihnya.
"Tidak, aku tidak berkencan. Aku pergi dengan Nesya untuk membeli barang persiapan sebelum kuliah. Aku menemui Rajendra setelah kau menelfon, Kemala."
Kemala menganggukkan kepala paham, mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Gadis itu merebahkan dirinya di atas karpet lembut yang digelar teman-temannya di atas rerumputan. Tempat ini disewa Rananta selama sehari penuh untuk kesembilan teman lainnya bersantai.
Utari dan Maharani sedang duduk-duduk di dekat danau yang ada di tempat itu sambil memperhatikan Widia dan Hanasta. Kedua gadis itu tengah berjalan-jalan di dermaga seolah ingin mencoba perahu kecil disana namun tidak berani. Hanya saling mendorong pelan untuk meminta izin memakai perahunya.
"Kita tidak diperbolehkan menggunakan ini karena perahunya belum diperbaharui," ucap Rananta sambil mendekati keduanya. Keduanya di ajak ke tempat lain untuk mengambil foto.
Lalu di sebuah rumah pohon dekat Ignacia duduk, ada Aruna dan Dianti yang sibuk mengambil gambar. Keduanya seperti adik kakak jika sudah disatukan. Saling membantu mengabadikan momen dan mengarahkan sudut pandang.
Dan jangan lupakan Indri yang kini tengah berjalan mendekati tempat Ignacia dan Kemala. "Toiletnya bagus. Aku senang karena tempat ini disewa hanya untuk kita." Indri duduk di sebelah Ignacia setelah mengulas tentang toilet yang dia gunakan beberapa waktu lalu.
"Indri, bisa antarkan aku ke toiletnya? Aku tidak ingin pergi sendirian," Kemala meminta tolong. Dia bangkit kemudian bersama Indri meninggalkan Ignacia sendiri. Padahal Indri baru saja duduk ketika Kemala mengajaknya. Tanpa banyak protes, Indri pun setuju saja.
"Ignacia," panggil Aruna dari atas rumah pohon, "apa aku bisa meminta tolong padamu sebentar?" Ignacia sudah tahu bahkan sebelum Aruna dan Dianti mengatakan tujuan mereka. Pasti bantuan untuk mengambil gambar.
Begitu sampai di atas, pemandangannya lebih luas. Sisi lain danau terlihat lebih jelas dan pepohonan di sekitarnya tampak memendek. Pantas saja Aruna dan Dianti tidak kunjung turun dan memilih untuk menetap lebih lama. Alasan lain sekain malas naik turun tangga sepertinya.
Ignacia tidak pandai dalam mengambil foto, namun Aruna bilang jika dia bisa asal mengambil gambar dan nanti hasilnya akan dipertimbangkan. "Ambil banyak foto sebisamu, Ignacia. Tapi jangan terlalu buruk."
"Teman-teman, ayo berfoto dengan kamera polaroid," Rananta membuat pengumuman sambil berjalan mendekati tempat piknik, "kita akan membuat banyak foto dan dibagi masing-masing satu. Ayo buat sebanyak mungkin!" Dia tampak bersemangat sekali.
Kemala dan Indri belum datang, jadinya menunggu mereka dahulu sebelum mulai berfoto.
Sambil menunggu, Ignacia berkaca pada latar ponselnya untuk memastikan penampilannya tidak buruk. Dan ketika itu pula, sebuah pesan masuk. Dari Athira. Tiba-tiba saja dia meminta Ignacia segera pulang setelah kegiatan dengan teman-temannya selesai. Tidak biasanya Athira begini.
"Kemala, Indri, ayo kita berfoto bersama!" Teriak Rananta memanggil. Tangan kanannya mengangkat tinggi-tinggi kamera polaroid miliknya kepada kedua teman yang mendekat. Kemala menggandeng Indri agar segera datang. Tidak ada orang yang ingin melewatkan sesi foto bersama teman-teman.
Seseorang dari tempat yang Rananta sewa membantu dalam mengabadikan momen kesepuluh sahabat ini. Orang terbaik yang dipilih, jadinya semua hasil fotonya tidak akan mengecewakan. Karena menggunakan kamera polaroid, hasilnya memang tidak boleh mengecewakan.
Ignacia berdiri di dekat Aruna yang tingginya hampir sama dengannya. Maharani dan Dianti ada di sisi lain. Di sebelah Maharani ada Utari kemudian di sisi lainnya ada Rananta. Yang di tengah Hanasta, Kemala, dan Indri. Widia lebih memilih berpose di depan teman-temannya daripada membuat barisan.
Posenya hanya untuk foto pertama. Di foto selanjutnya mereka tidak memikirkan pose, yang penting tersenyum saja. Hasilnya acak, namun terlihat lucu. Ignacia sampai tidak bisa menahan senyum dan hasil fotonya selalu mulut yang mencoba tertutup namun selalu ada kekehan di baliknya.
...*****...
"Kau akan datang ke malam puncak, Ignacia? Jika begitu aku bisa mengajakmu double date nanti," Kemala tersenyum hingga matanya terlihat seperti garis, "ayo datanglah. Acara ini hanya ada satu sebelum kelas 12 lulus."
Kemala tampak memohon.
Ignacia tersenyum kecil. Dia menoleh sebentar melihat Kemala dan kembali lagi ke tangannya yang masih dicuci dengan sabun. Krim dari cupcake yang dimakan Ignacia tadi tidak sengaja tersentuh. "Entah aku akan datang atau tidak. Aku akan meminta izin dahulu."
"Datang saja, Ignacia," Utari datang entah darimana. Ikut mencuci tangan di samping Kemala yang tengah mengeringkan tangan dengan tissue. "Rajendra akan langsung datang jika kau yang memintanya. Aku jarang melihat kalian bersama. Entah aku saja yang jarang melihat keluar. Tapi sebaiknya kalian datang ke malam puncak."
"Akan kupikirkan nanti, teman-teman."
...*****...
"Hati-hati di jalan, Ignacia."
Lagi-lagi Ignacia yang terakhir meninggalkan tempat pertemuan. Rananta melambaikan tangan pada Ignacia yang dijemput ayahnya. Dan gadis yang memiliki pesta masih melakukannya hingga benar-benar tidak dapat melihat temannya.
"Aku akan merindukan kalian semua," bidiknya sambil menahan senyuman.
"Nesya tidak ikut?"
Ayah Ignacia mengenal Nesya, jadi wajar jika bertanya. Orang tua mereka saling mengenal dan akrab. Ignacia menggeleng, menjelaskan jika acara piknik ini hanya didatangi oleh sahabat-sahabat Ignacia sejak SMP dan kebetulan Nesya juga ada acara dengan teman-temannya.
Di tengah perjalanan pulang, sepeda motor ayahnya tiba-tiba menepi. Berhenti di depan sebuah toserba. "Ayah akan membeli sesuatu. Ada yang kamu butuhkan?" Ignacia menggeleng. tetap di sepeda motor menunggu sang ayah kembali.
Ignacia mengambil ponselnya dari dalam tas. Mengecek apa mungkin Rananta sudah mengirimkan foto-foto mereka yang ada di ponselnya. Ada banyak sekali foto selain foto polaroid yang mereka buat tadi.
"Aku akan merindukan saat-saat ini ketika sudah tidak bertemu dengan mereka. Oh, ada pesan?" Jari Ignacia bergerak untuk menekan notifikasi yang baru masuk.
New Message from Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ
Bagaimana harimu, Ignacia?
Kamu akan datang di malam puncak?
Jika iya, akan kujemput kamu
Senyuman kecil muncul di wajah Ignacia. Dia senang menunggu pesan Rajendra seharian. Setidaknya laki-laki itu tidak lupa mengirimkan pesan yang lumayan panjang sebelum matahari terbenam.
...*****...
"Jam berapa?" Mamanya bertanya. Pertanyaan yang seolah memberikan harapan bagi Ignacia.
"Mulainya pukul 6 sore. Entah selesainya jam berapa."
Mama dan ayahnya saling tukar pandang.
...*****...
"Dimana?" Ignacia berjalan sambil mendekatkan ponselnya ke telinga, "sebelah aula besar? Baiklah aku akan kesana." Panggilan diakhiri. Ignacia bisa berpamitan pada kedua orang tuanya yang akan pergi makan malam dan masuk ke dalam area sekolah yang sudah dipenuhi banyak orang.
Izin yang diberikan sekolah hanya mereka-mereka yang diundang oleh seorang murid dari SMA. Jadinya ada undangan khusus agar tidak banyak orang yang datang dan merusak malam yang ditujukan untuk para siswa tahun terakhir SMA. Agar malamnya lebih berkesan dan tidak ada kasus apapun.
Nesya mengangkat tangannya tinggi-tinggi begitu matanya menangkap sosok Ignacia dari kejauhan. Ignacia tahu baju warna apa yang digunakan Nesya, jadinya langsung mendekat ketika melihat tangan yang dilambaikan di udara untuk menarik perhatiannya.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa. Ayo masuk."
Aula besar dipenuhi oleh sekitar 400 lebih orang. Ya tambahan lain berasal dari tamu undangan para siswa. Ignacia tidak membutuhkan akses untuk itu. Toh teman-teman dan kekasihnya berada di satu sekolah. Aruna yang mengajak Dianti datang. Mereka sudah lengkap sepuluh malam ini.
Para panitia melakukan tugasnya dengan baik. Dekorasi sudah terpasang dengan sempurna, penataan panggung yang luar biasa, juga peletakan soundsystem yang sesuai. Jangan lupa dengan camilan yang ada di sisi aula. Orang-orang bisa datang dan mengambilnya sesuka hati.
Makanan itu dari sponsor acara ini soalnya.
Melihat suasana yang hangat, Ignacia bisa pastikan jika malam ini akan menjadi sangat sempurna.
Ignacia masih belum melihat Rajendra. Mungkin laki-laki itu masih bersama teman-temannya. Katanya dia sudah datang ketika Ignacia masih dalam perjalanan.
"Aku mengajak seorang teman lamaku kemari. Setelah bertemu dengan Rajendra, aku akan mencari temanku. Jika butuh sesuatu, telfon saja aku."
Nesya masih menggenggam tangan Ignacia hingga keduanya bisa bergabung dengan keramaian. Ignacia tidak sanggup mengatakan apapun. Nesya tidak biasanya bersikap begini. Ignacia juga tidak biasanya ingin menyisihkan Nesya sementara waktu. Ucapan Nesya membuat Ignacia merasa tidak enak.
"Rajendra sudah datang kan? Dia tidak mengatakan dimana posisinya? Laki-laki itu bisa ada dimana saja." Nesya mengedarkan pandangannya. Mencari-cari posisi si laki-laki kekasih teman dekatnya.
"Aku juga tidak melihat Rajendra sejak tadi," Nesya bergumam.
"Mungkin Rajendra tengah menunggu di suatu tempat. Dia tidak mengatakan padaku lokasinya." Ignacia ikut mengedarkan pandangan. Melihat sisi-sisi yang bisa dilihat matanya. Tapi belum juga menemukan keberadaan laki-laki yang dicari.
"Kurasa..." Nesya menatap Ignacia, "oh lupakan. Dia datang. Kurasa aku bisa pergi sekarang. Kita bertemu lagi nanti." Nesya langsung pergi begitu saja tanpa menunggu Ignacia bicara. Seolah dia sudah tahu dimana posisi teman yang dia undang.
Sementara itu Ignacia tidak bisa bergerak. Posisinya yang ada di tengah beberapa orang membuatnya merasa canggung. Juga dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Nesya tadi. Ya, hingga seseorang berdiri di sebelahnya. Ignacia terkejut namun juga senang. Ketemu juga akhirnya.
Rajendra tahu pakaian yang digunakan kekasihnya, jadinya langsung menemukan setelah melakukan penelusuran. A-Line Dress pendek selutut berwarna royal blue. Cocok sekali dengan rambut coklat Ignacia yang bergaya Half Ponytail.
"Kamu datang," senang Ignacia sambil menatap si laki-laki yang baru datang. Rajendra tampak berbeda malam ini. Kemeja berwarna dark blue, slim fit pants berwarna putih, lalu sepatu berwarna hitam. Kapan lagi Ignacia dapat melihat Rajendra berpenampilan seperti ini?
Acaranya sudah dimulai sejak 10 menit yang lalu. Ignacia dan Nesya datang terlambat karena alasan masing-masing. Jadinya baru sampai ketika band SMA selesai membawakan lagu kesekian. Mereka sudah akan meninggalkan panggung hingga seseorang naik ke panggung dan memberikan sesuatu.
"Oh maaf, sepertinya kami memiliki sebuah permintaan dari para panitia. Kami akan mengabulkannya untuk kali ini." Sang vokalis menyisir rambutnya dengan tangan, menarik perhatian para perempuan yang jatuh hati akan parasnya. Memang tampan, cocok sekali dengan tingkahnya.
Sebuah tangan besar menggandeng tangan Ignacia. Otomatis gadis itu menoleh, mendapati wajah malu-malu Rajendra di sampingnya. Padahal keduanya sudah sering melakukan skinship. Lalu apa yang membuat Rajendra kini tampak malu? Mungkin karena ada banyak orang disini.
Ignacia tersenyum, mendekatkan dirinya pada Rajendra seolah bukan apa-apa. Tidak ada yang mereka bicarakan. Hanya menikmati lagu bernada sedikit sendu dari band di depan sana sambil bergandengan tangan. Orang-orang yang membawa kekasihnya juga melakukan hal yang sama. Hanya saja mereka saling berkomunikasi sementara Ignacia dan Rajendra tidak.
"Kamu tidak ikut mengambil video seperti orang-orang?" Rajendra menunjuk dengan dagunya ke arah mereka-mereka yang merekam penampilan anggota band di atas panggung. Si gadis mengedarkan pandangan. Melihat beberapa orang yang mengangkat ponselnya tinggi-tinggi seperti harapan orang tua untuk merekam.
Ignacia menggeleng, "aku tidak begitu tertarik. Lagipula aku tidak tahu lagu yang dia bawakan." Ignacia menyandarkan kepalanya pada bahu Rajendra. Mengikis banyak jarak diantara keduanya. "Kamu tidak ingin merekam gitaris perempuan disana, Rajendra? Dia terlihat keren."
Sekarang Rajendra yang menggeleng, "kamu lebih cantik dari dia. Memoriku akan terbuang sia-sia jika harus merekamnya." Ignacia tersenyum kecil mendengar ucapan Rajendra dan menguatkan genggamannya.
Yang tampil berikutnya adalah para murid dari ekstrakurikuler dance. Ignacia tidak begitu bisa melihatnya karena orang-orang jadi begitu tinggi. Jadilah dia hanya melihat semanpunya dan mendengarkan musik yang mengalun begitu semangat. Hal yang harus Ignacia persiapan selain pakaian untuk acara seperti ini adalah tinggi badan.
"Kamu tidak bisa menontonnya?" Rajendra baru menyadarinya. Ya kan dia tinggi, jadinya bisa melihat dengan baik. Ignacia mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Rajendra kemudian meraih sesuatu dari dalam saku jaketnya, menyalakan ponsel dalam mode kamera dan meminta Ignacia untuk melihat layarnya saja. Panggungnya terang, jadinya mudah untuk dilihat melalui kamera. Ignacia tidak perlu melihat ke depan karena di layar Rajendra sudah ada.
Rasanya lucu ketika Ignacia menatap ke Rajendra yang mengangkat tangannya agak tinggi agar bisa menunjukkan apa yang sedang ditampilkan di atas panggung besar aula. Ignacia jadi seperti adik kecil yang memperhatikan ponsel kakaknya untuk melihat keadaan di panggung.
"Wah mereka keren. Kamu tidak ingin merekamnya juga?" Ignacia ingin menggoda kekasihnya saja. Membuat Rajendra menggeleng dan membuat alasan seperti saat melihat band tadi. Padahal Ignacia tidak apa-apa jika Rajendra menyimpan video para gadis dari ekstrakurikuler dance di depan.
Toh tidak akan ada yang bisa mengambil Rajendra darinya.
"Wah gadis itu melakukan split?" Ignacia semakin tertarik. Dan ketika kepalanya semakin mendekati tangan lain Rajendra yang membawa ponsel, Rajendra mencium puncak kepala si gadis tanpa mengatakan apapun.