Beautiful Monster

Beautiful Monster
Aku Berusaha



Angin berhembus pelan, mengusap tangan Ignacia yang mulai terasa dingin. Hatinya yang hangat juga ikut mendingin. Rasa-rasanya dunia runtuh tepat di hadapan. Indra Ignacia pasti salah. Tatapan itu tidak bermakna sungguh-sungguh. Memang seperti itu tatapan Rajendra setiap hari, benar? Dan apa yang Ignacia dengar tadi pasti kesalahan.


Ignacia ingin terus membohongi dirinya sendiri. Seolah ucapan Rajendra bisa dibatalkan begitu saja dengan kebohongan yang menumpuk. "Rajendra hanya bercanda. Yang kau dengar tadi hanya ilusi. Tidak ada satupun dari ucapan Rajendra tadi yang benar-benar kau dengar. Lupakan, Ignacia. Kau pasti salah." Meksipun begitu, Ignacia tetap tahu kebenarannya.


"Rajendra, jangan bercanda." Ignacia tak mampu menahan perasaan tak karuan dalam diri. Jelas yang ia lihat dari Rajendra bukan candaan. Sorot mata itu tampak sungguh-sungguh yakin dengan ucapannya barusan. "Rajendra, katakan saja padaku jika tadi kamu hanya berbohong. Tidak mungkin kamu ingin mengakhiri hubungan ini secara tiba-tiba."


Sekuat apapun menyangkal, hati Ignacia tetap saja sudah terluka. Bak ada belati yang ditusukkan tepat ke jantung. Luar biasa sakit. Luar biasa pedih. Bagaimana bisa hari jadi mereka bisa kedatangan tamu tidak diundang seperti ini? Ignacia mencoba untuk mencari titik ketenangan dari sorot mata Rajendra. "Yakinkan aku jika kamu hanya bercanda."


Sore ini seharusnya jadi momen paling indah. Setelah mengawali hari bersama-sama, sekarang mereka akan bersenang-senang di akhir matahari bertakhta. Ignacia sudah membayangkan pelukan dan kecupan singkat dari kekasihnya sewaktu membeli es krim tadi. Hadiah kecil yang bisa mereka bagian dengan penuh makna hari ini.


"Rajendra, hari ini hari jadi kita yang kesepuluh. Tolong katakan padaku jika yang kamu sampaikan tadi hanya candaan belaka. Kamu tahu jika aku akan sangat terluka nantinya." Ignacia terus menatap penuh harap. Pasti ada secercah harapan dari aura berbeda kekasihnya. Ignacia harus cepat menemukannya sebelum dirinya kehilangan kewarasan.


"Sejujurnya ... Aku sudah berusaha untuk tetap mempertahankan hubungan ini. Semuanya yang kita lalui semasa SMA, ketika menjalani hubungan jarak jauh, dan semua kisah manis kita, benar-benar berarti untukku. Aku sadar jika kamu bersungguh-sungguh dalam hubungan ini sejak lama. Karenanya aku tidak sanggup mengatakan ini lebih cepat. Aku butuh waktu bertahun-tahun agar bisa jujur padamu."


"Jika hubungan kita sangat berarti dan kamu tahu jika aku serius dengan hubungan kita, lantas kenapa-"


"Karena aku ingin berhenti jadi pengecut yang hanya bisa membuatmu menunggu." Rajendra memotong cepat. Seolah risih dengan suara Ignacia yang bergetar. Penekanan ketika menyebut kata 'pengecut' seperti merobek jantung Ignacia menjadi potongan kecil. "Aku tidak ingin kita terus bersembunyi dari ayahmu, aku ingin punya hubungan normal seperti orang lain. Aku ingin terlihat di depan keluargamu, Ignacia."


Air mata lolos begitu saja tanpa perlawanan dari gadis yang ada di samping laki-laki itu. Semua yang Rajendra katakan seolah tulus dari hati. Semua intonasi juga tatapan mata yang kembali teralihkan pada lautan membuat Ignacia semakin putus asa. Ignacia pasti hanya bermimpi. Ini pasti mimpi buruk ketika ia tidak sengaja tertidur ketika menatap laut.


Ignacia mengutuk dirinya sendiri karena membuat Rajendra merasa buruk. Pasti sangat sulit untuknya memendam semua perasaan tidak nyaman itu selama bertahun-tahun. Ignacia pasti kurang peka dan tidak mengambil inisiatif apapun demi Rajendra. Jadi selama ini Ignacia hanya berjalan untuk dirinya sendiri sambil menyeret Rajendra sejauh ini?


"Kekasih macam apa kamu, Ignacia?"


"Aku lelah dengan hubungan kita, Ignacia. Bukan karenamu, tapi karena diriku sendiri. Kurasa aku akan lebih sibuk dari biasanya. Karena itu aku ingin membuat kamu tidak mendapatkan beban berat. Aku tidak sanggup membuat kamu kembali menunggu dan mengalihkan perhatian dengan membaca buku. Aku merasa semakin payah karen mengetahui fakta itu."


"Aku tidak keberatan jika harus terus menunggu!" Ignacia mengeraskan intonasi suaranya. Dirinya panik jika harus menjadi salah satu alasan kenapa mereka sampai harus berpisah. Ini konyol, tidak adil. Ignacia akan terus menunggu dan menjemput Rajendra dari stasiun jika perlu. "Tarik ucapanmu, Rajendra. Kumohon jangan seperti ini."


Tidakkah Rajendra bisa memaafkan gadis malang itu untuk kali ini saja? Ignacia tidak tahu harus melakukan apa selain membaca buku agar tidak mengingat penantian panjangnya. Ignacia bisa menghilangkan kebiasaan itu jika Rajendra menginginkannya. Ignacia bisa melakukan apapun jika itu yang terbaik untuk hubungan mereka.


Sayangnya Rajendra menggeleng pelan, berkata jika bukan Ignacia yang bersalah. "Aku merasa bersalah jika harus membuatmu menunggu. Aku tidak bisa menjamin kita akan sering bertemu seperti saat ini dalam hubungan yang sekarang. Aku ... Tolong maafkan aku, Ignacia." Rajendra menarik tubuh Ignacia ke dalam dekapannya. Ia peluk gadis kesayangannya itu selembut mungkin.


Perasaan Ignacia semakin hancur jadinya. Es krim yang ia pegang sudah jauh ke pasir. Air mata terus membanjiri wajah disertai isakan yang tertahan. Apakah Rajendra tidak sadar jika perlakuannya ini justru membuat Ignacia tidak berdaya? Apa harus mereka memutuskan hubungan yang sudah lama terjalin begitu saja hanya karena kebiasaan menunggu Ignacia?


Ignacia mencoba untuk bicara, namun setiap kali mulutnya terbuka, malah isakan yang akan muncul. Hanya untuk mengatakan bahwa dia tidak ingin hubungan mereka berakhir saja butuh proses panjang. Selagi Ignacia mengumpulkan tenaga, Rajendra terus mengungkapkan perasaan tulusnya. Banyak hal yang Rajendra pendam tanpa sengaja.


Semua soal hal yang mengusik dan membingungkan Rajendra ungkapkan dalam satu waktu. Perasaan ini dimulai ketika masih menginjak bangku sekolah menengah atas tahun terakhir. Ketika memberikan bunga di hari wisuda, Rajendra merasa kurang mampu untuk mengimbangi kekasihnya ini. Mereka akan menjalani hubungan jarak jauh yang terkenal berat. Membagi waktu untuk dunia sendiri dengan dunia berdua bukankah yang hal mudah bagi Rajendra.


Banyak hal yang membuat Rajendra takut mengecewakan. Lalu ketika hubungan berjarak dimulai, perasaan itu terasa semakin besar. Dengan semua dukungan yang Ignacia berikan, Rajendra merasa belum cukup. Seperti ada banyak hal mengganjal yang membuatnya merasa tidak nyaman meninggalkan gadisnya sendirian di kota asing itu.


"Apa kamu ingat ketika kita pergi ke restoran bagus setelah mengikuti kelas membuat kue?" Ignacia sedikit tersentak, bagaimana bisa ingatan Rajendra bisa kembali ke masa-masa itu? Hari dimana Ignacia tidak sengaja menunjukkan perasan tak diinginkan. "Kamu menangis ketika kita bicara. Aku merasa kecewa karena membuatmu menangis. Kamu bilang jika kamu bahagia, tapi bukan itu yang aku rasakan."


"Kita berpelukan malam itu karena aku kecewa pada diriku sendiri. Bahkan aku sempat bertanya pada ibuku soal apa yang sudah kulakukan. Rasanya berat, Ignacia. Aku menguatkan diri, memberikan perhatian terbaik agar kamu tidak merasa terabaikan. Aku senang kita bisa sampai di titik ini, dan sekarang sudah waktunya untuk menemukan jalan yang tepat."


"Kadang aku khawatir dengan kondisimu setiap kali menunggu kabarku. Aku khawatir jika ada laki-laki lain yang membuatmu nyaman dan membuatmu meninggalkan aku. Setiap harinya kamu menunjukkan bahwa kamu tetap mempertahankan hubungan kita tanpa mengatakannya padaku. Dengan semua hal yang kamu lakukan, itu sudah lebih cukup untuk membuktikan bahwa kamu sangat menyayangi aku."


Ignacia merasa dipeluk semakin erat. Ia tahu jika Rajendra juga akan berat meninggalkan dirinya. "Kenapa kita harus berpisah?" Lagi-lagi suara gadis itu terdengar bergetar. "Kenapa hubungan ini harus berakhir seperti ini? Kamu tidak lagi menginginkan aku, Rajendra? Kita sudah berjalan sejauh ini. Aku tidak ingin kita berakhir."


Rajendra membuat gadisnya merasa semakin buruk. Tangannya yang mengelus kepala juga punggung Ignacia menyimbolkan hal lain. Cepat-cepat Ignacia meminta penjelasan, bertanya apa yang Rajendra inginkan demi hubungan yang tak akan berakhir. Ignacia rela melakukan apa saja demi menyelamatkan status ini. Tidak mudah baginya untuk menunggu, Ignacia sungguh tak ingin semuanya berakhir.


Tidak ada jawaban dari laki-laki ini. Ia hanya diam seolah mencoba tuli demi mempertahankan keputusannya. Dalam keheningan yang berlangsung lama, Rajendra sesekali mendengar isakan dari mulut kekasihnya. Pasti tidak mudah untuk menyembunyikan isakan yang menyesakkan dada. Selama itu pula Ignacia tidak sanggup membalas pelukan Rajendra sama sekali. "Hatinya pasti sangat terluka."


"Maaf sudah membuatmu terabaikan kemarin. Maaf aku terlalu sibuk dengan ponsel hingga membuatmu kesal." Rajendra menggunakan nada bicara meneduhkan namun begitu menyayat hati gadis yang tengah ia rengkuh. Jika ia meminta maaf, seharusnya kejadian ini tidak pernah terjadi. "Jangan membenci kesibukanku ya. Aku yang bersalah karena memicu itu."


Pelukan keduanya melonggar. Tangan Ignacia mengepal kuat untuk menahan diri agar tidak menarik tubuh Rajendra. Jadi selama ini dirinya dianggap apa oleh laki-laki di hadapannya ini? Jika sejak lama dirinya sudah akan ditinggal, lalu hubungan yang mereka jalani selama ini hanya kepura-puraan semata? Ignacia tidak bisa membiarkan dirinya tertipu lagi.


Wajah basah Ignacia terlihat jelas oleh indra pengelihatan Rajendra. Hatinya juga terluka. Namun ada sesuatu di dalam hati kecilnya yang terus menguatkan tekad malam ini. Cahaya lembut yang melumuri keduanya benar-benar menambah makna tak ternilai bagi Rajendra. Ia hembuskan nafas panjang demi bisa mengungkapkan perasaannya sekali lagi.


"Ada yang ingin aku berikan padamu. Hadiah kecilku untuk hubungan kita." Perlahan sebuah kotak dikeluarkan dari saku. Kotak kecil yang memiliki benda berkilau di dalamnya. "Setelah kamu menerimanya, hubungan ini akan resmi berakhir, Ignacia."


Tangisan si gadis semakin menjadi. Ia pukul dada Rajendra dengan sisa-sisa tenaga. "Kau pria yang sangat payah! Kenapa kau harus melakukan ini padaku?!" Segala bentuk kekesalan Ignacia berikan sebagai tanda tak suka. Hatinya sudah hancur berkeping-keping dan sekarang Rajendra memberikan hadiah yang menyilaukan. "Kau pria yang kejam!"


Rajendra tidak mencoba untuk menahan atau bahkan menangkis pukulan dan segala ungkapan Ignacia. Laki-laki itu hanya diam, menunggu hingga si gadis tenang untuk kembali berbicara. Hingga pada akhirnya Ignacia kehabisan energi dan menjatuhkan diri pada dada bidang kekasihnya. "Kau benar-benar sutradara yang payah. Kenapa kau harus membuatku merasa tertekan seperti ini?"


Kembali Ignacia merasakan tangan hangat Rajendra di belakang kepalanya. Laki-laki itu mengaku jika dirinya memang sutradara yang buruk. Tidak ada yang bisa mengalahkan kehebatan Ignacia dalam mengatur orang-orang dalam drama. Karena itu kelompoknya di kelas sebelas dahulu mendapatkan juara pertama. Dan drama yang Ignacia atur ketika masih berkuliah juga memukau.


"Aku tidak bermaksud menjadi sutradara. Aku bermaksud untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan padamu. Jadi, apa kamu akan menerima hadiah dariku?" Matahari sudah terbenam. Langit semakin gelap dengan lampu taman yang menyala terang. Hari keduanya sudah berakhir. Momen yang Ignacia tunggu-tunggu sudah selesai. Bersamaan dengan pertanyaan itu, Ignacia masih merasa enggan menjawab.


Wajahnya sudah amat kacau, belum ditambah dengan rasa menyesakkan di dada. "Aku kehilangan es krim karenamu. Kamu laki-laki paling kejam. Kau harus membelikan aku es krim lagi agar aku bisa menjawabnya. Aku sudah bahagia sekali padahal, kenapa kamu malah melakukan ini padaku? Apa tidak cukup sudah membuatku merasa tersisihkan?"


Ignacia tidak ingin menatap Rajendra lagi. Takut dirinya yang sangat cengeng ini akan diingat oleh laki-laki itu seperti momen tidak menarik di restoran bagus itu. Ignacia tahu dirinya tidak seharusnya meluapkan perasaan tidak berguna itu di hadapan Rajendra. Lelakinya sampai merasa buruk karena dirinya. "Aku mengutuk diriku sejak tadi karena merasa tidak cukup baik. Aku membenci diriku."


Sekarang tubuh itu kembali mendapatkan pelukan, rengkuhan hangat yang mampu menetralkan seluruh perasaan berkecamuk Ignacia. Sementara itu Rajendra meletakkan kepalanya di atas milik gadisnya. Ia ubah posisi keduanya agar terasa lebih pas dan nyaman. Itu yang Ignacia butuhkan setelah percakapan panjang yang penuh ungkapan menegangkan.


"Aku benar-benar takut, Rajendra. Semua yang kamu sampaikan benar-benar terasa nyata. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya kamu menahan semua itu." Mata Ignacia terasa semakin panas. "Tolong jangan lakukan hal semacam itu lagi, kumohon. Tidakkah kamu kasihan pada wanita malang ini? Dia butuh banyak kehangatan dari orang yang ia percaya."


Selanjutnya gadis itu segera menyeka seluruh air matanya. Begitu pulang jalur yang sudah mengering di pipinya. Rajendra memberikan beberapa lembar tisu yang ia simpan di dalam saku. Seharusnya Rajendra keluarkan dari tadi, tapi melihat Ignacia yang begitu emosional, tangannya tertahan.


"Kamu tetap akan menerima hadiahku kan?" Rajendra kembali bertanya. Kotak itu dibuka, menampilkan benda berkilau yang katanya bisa menghancurkan hubungan yang sudah sepuluh tahun keduanya jaga. "Aku tidak akan menjadi pengecut lagi jika kamu menerimanya, Ignacia."


Tangan si gadis terulur, tanda bahwa hadiah itu akan dia terima tanpa mengatakan apapun. Dari banyaknya momen dan pilihan kata, kenapa harus disaat seperti ini dengan drama yang berbelit-belit? Juga kenapa harus ada hadiah untuk meresmikan hubungan yang akan berakhir jika diterima?


"Terima kasih sudah membuatku bisa sampai di posisi ini, Ignacia." Bahkan Rajendra berterima kasih.