Beautiful Monster

Beautiful Monster
Sesuai Keinginanku



Hari membahagiakan masih belum berakhir meksipun acara pernikahan keduanya sudah dirampungkan. Ignacia sudah terbebas dari gaun cantik yang membuat bagian bahunya terasa dingin. Rajendra juga tak lagi memakai jas yang membuatnya tampak lebih gagah. Meksipun tanpa jas itu pun karisma Rajendra bagi Ignacia sudah terpancar jelas.


Kini keduanya tengah duduk di kamar sambil memandangi jendela dengan tirai terbuka. Langit berbintik bintang tampak indah bersanding dengan sang Dewi malam. Apakah bulan memang seterang itu hingga ruangan ini mampu menyala redup? Atau hanya perasaan Ignacia saja yang menganggap detail kecil di tempat ini sangat berarti?


"Mau membuka kado yang diberikan tamu undangan tadi?" Orang-orang tidak datang dengan tangan kosong. Beberapa ada yang memberikan hadiah yang diyakini bisa berguna untuk pengantin baru. Ignacia mengangguk, mengikuti Rajendra untuk membawa kotak dan bingkisan yang ada di ruang tamu. Mereka terlalu banyak untuk dibawa sendiri.


Kembali ke kamar, lampunya dinyalakan agar lebih leluasa melihat isi hadiah. Keduanya duduk di samping barang-barang yang tadi dibawa. Banyak yang memberikan hadiah berupa barang keseharian seperti seprai, album foto, Tumbler, dan lain-lain sebagainya. Tak sedikit juga yang memberikan buket bunga atau buket makanan ringan seperti sedang wisuda.


"Ignacia, lihat ini." Ada sebuah buku yang tampak seperti album di tangan Rajendra. Namun album foto berukuran besar itu lebih unik, ada beberapa potongan kertas yang disambungkan pada covernya. "Mau membukanya bersama?" Rajendra mendekatkan posisi duduknya pada sang istri. Keduanya membuka cover album, merasa kagum dengan halaman demi halaman.


Disana ada banyak foto-foto kebersamaan Ignacia juga Rajendra yang diambil diam-diam. Ignacia menatap Rajendra penuh tanda tanya. Sepertinya teman-teman Ignacia tidak ada sangkut pautnya dengan semua foto yang mengisi album ini. Khususnya di foto di halaman pertama. Itu foto ketika Ignacia bersama Rajendra di toko buku. Hari dimana mereka berdua bertemu dengan teman-teman Rajendra tanpa sengaja.


Langsung saja gadis itu bertanya pada Rajendra. Apakah lelakinya itu tahu mengenal foto-foto yang ada disini. Untuk beberapa saat Rajendra tampak berpikir sebentar. Rupanya benar dugaan Ignacia. Hadiah ini dari teman-teman Rajendra di SMA, mereka mengambil foto diam-diam namun Rajendra berhasil mengetahuinya lebih dulu. Karenanya pose Rajendra disini seperti sudah ia sesuaikan.


Ada kartu yang terselip di halaman terakhir. Mereka mengucapkan selamat untuk pernikahan keduanya dan mengharapkan banyak doa yang terbaik untuk kehidupan mereka kedepannya. Mereka juga meminta maaf karena waktu itu mereka menganggu kencan Ignacia dan Rajendra. Ignacia tidak tahu jika mereka masih ingat dengan itu. Teman-teman Rajendra adalah teman yang bisa diandalkan.


"Kamu ingin makan sesuatu?" Ignacia menoleh, "Aku bisa membuatkan sesuatu atau memesan makanan." Tangannya masih sibuk membuka hadiah lain. Menyusun mereka dengan baik agar bisa ditata nantinya. Beberapa kali ia beraktifitas sambil menatap Rajendra yang masih setia dengan album foto tadi.


"Bagaimana jika kita pergi keluar saja? Jadi kita tidak perlu membersihkan piring setelahnya."


Ignacia kira suaminya ini tengah lelah, karena dari wajahnya tak menunjukkan selera untuk kembali keluar. Beristirahat selama sekitar dua jam memang sesuatu yang perlu. Tidak tahu kenapa Rajendra tadi ikut bergabung duduk disini setelah terbangun dari tidur. "Kamu ingin makan diluar? Kalau begitu aku saja yang menyetir." Ignacia akan bangkit namun didahului oleh Rajendra.


Mana mungkin dirinya akan membiarkan Ignacia yang menyetir. Malam pertama mereka seharusnya dibuat Rajendra menjadi malam yang menyenangkan. Buru-buru laki-laki itu mengambil jaket dan menyalakan sepeda motor. Ignacia masih memakai helm ketika motor sudah berada diluar rumah. Wajah lelah yang Ignacia lihat berubah semangat perjuangan.


"Oh ya aku ingin mengambil jaket sebentar." Malam terasa dingin, jadinya Ignacia kembali ke dalam lagi untuk mengambil jaket yang terlupa. Ketika sampai di ambang pintu, Rajendra masih menunggu dengan sabar. Ia disapa oleh tetangga yang tengah lewat. Suaminya itu tersenyum, merespon seramah mungkin lalu ada kekehan disela obrolan keduanya.


Jaket sudah Ignacia pakai dengan baik, kini ia berjalan mendekati Rajendra yang sudah ditinggalkan sendiri. "Apa kamu tahu tetangga sebelah rumah kita? Katanya anaknya seumuran dengan kita dan juga akan segera menikah." Kupu-kupu langsung berterbangan di dalam perut Ignacia. Suaminya tadi bilang apa? Rumah kita? Ignacia tidak mampu menahan senyum, jantungnya berdetak lebih cepat sebab bahagia.


Tangan Ignacia melingkar di pinggang suaminya. Tak lupa memberikan telinga untuk mendengar cerita Rajendra. Keduanya sedang membahas soal keluarga yang ada di acara pernikahan tadi. Katanya Qabil terus menggoda Rajendra karena tampak tegang selama acara berlangsung. Qabil juga beberapa kali mendapati Rajendra hanya menatap ke arah Ignacia sangat lama.


Karena sedang membahas saudara, Ignacia menimpali soal wanita bernama Riris. Wanita yang wajah dan namanya mirip dengan seseorang yang ia temui bersama Danita juga Nesya. Rajendra mulai melamban, berhenti di lampu merah. "Kak Riris juga mengatakan hal yang sama. Katanya dia seperti tahu namamu tapi entah ingat dimana. Mungkin kalian benar sudah saling kenal, Ignacia."


Mungkin karena memakai make-up jadinya sulit dikenali. Riasannya tidak begitu tebal, namun bagi yang melihatnya akan tampak berbeda. Karena tidak sering bertemu dengan mengenal wajah dengan baik. Jika itu memang Kak Riris yang Ignacia kenal, seharusnya Ignacia menyapa lebih ramah. Danita dan Nesya pasti senang bertemu dengan kak Riris di tempat yang tidak terduga ini.


"Mau makan es krim setelah makan malam?" Kebetulan mereka berhenti di dekat sebuah kedai. Desainnya tampak lebih kalem daripada kedai yang biasa mereka datangi. Kedengarannya menarik. Melepas masa pacaran yang panjang di malam pertama sebagai suami istri dengan es krim tampak seperti nostalgia yang menyenangkan. "Kita mampir kesana setelah makan."


Mencari rumah diluar kota memang sesuatu yang menarik. Rajendra bekerja untuk stasiun kereta api yang ada di kota perantauan, otomatis Ignacia juga akan dibawa ke rumah baru yang ada disana. Ignacia tidak mencoba untuk memaksakan suaminya pindah ke kota perantauannya yang lebih sejuk. Berada di kota yang sudah dikenal Rajendra lebih dulu membuat Ignacia dilindungi. Rajendra sudah mengetahui seluk-beluknya.


Soal pekerjaan, Ignacia melepaskan statusnya sebagai Pustakawan yang sering disebut-sebut Nesya dan hanya fokus pada pekerjaan Proofreader yang mulai berkembang. Mulai ada banyak naskah yang dikirim dan penghasilan Ignacia terus bertambah. Kadang ia berpikir apakah suatu hari nanti bisa menjadi editor di tempat percetakan buku. Mungkin suatu hari nanti bahkan bisa bertemu dengan Nona Cream sekali lagi.


Keduanya kesulitan memilih makan malam. Sepanjang jalan setelah kedai es krim tadi ada banyak sekali pedagang kaki lima dan tempat makan yang menjual berbagai makanan enak. Butuh dua kali perjalanan bolak balik untuk memilih. Olahan mi yang tidak mungkin ditolak. Mereka sudah makan nasi siang tadi, jadi anggap saja sekarang tidak apa untuk menyantap olahan karbohidrat satu ini.


Ignacia punya keinginan untuk membawa koleksi bukunya ke rumah baru, membawa rak yang menganggur di kamarnya juga agar tidak perlu membawa yang baru. Lagipula buku juga rak itu tidak akan digunakan oleh keluarganya di rumah. Sayangnya Rajendra tidak berpikir demikian. Ignacia butuh rak baru di rumah ini untuk buku-buku lain yang ia beli. Tidak mungkin istrinya ini tidak tertarik menambah koleksi.


Kebiasaan menunggu dengan membaca kini sudah tidak berlaku lagi. Yang ada hanya Ignacia ingin menambah koleksi dengan dalih agar anak-anaknya kelak juga suka membaca dan memperkaya ragam bahasa dengan buku-buku dari sang ibu. Anggap saja sebagai warisan yang tidak lekang dimakan zaman. Jika saja anak-anaknya butuh buku untuk hiburan, Ignacia bisa memberikan miliknya.


"Kamu tidak akan tahu nilai sebuah buku jika tidak mencoba membaca isinya, Rajendra." Menurutnya kenapa Ignacia bahkan bisa membaca sebuah buku tebal dalam waktu singkat selain untuk membunuh waktu? Cerita yang terangkum dalam sebuah buku karya sastra ini berhasil menghanyutkan siapapun yang membacanya. Menghilangkan perasaan tertekan dan depresi dengan kisah masih khas Nona Cream.


Rajendra mengangguk-anggukkan kepalanya, anggap saja setuju dengan ucapan istrinya. "Kamu pasti senang sekali ketika anak-anak kita nanti sudah bisa membaca. Aku yakin kamu akan memamerkan semua koleksi bukumu." Ignacia terkekeh mendengar penuturan suaminya. Sepertinya kunjungan ke rumah nenek, tempat buku-bukunya berada, bisa menjadi kunjungan yang sangat menyenangkan bagi Ignacia.


Sebelum membuat kunjungan di masa depan itu menjadi sangat istimewa, Ignacia harus membuat anak-anaknya menyukai buku lebih dulu. Omong-omong Ignacia tidak sadar jika keduanya baru saja membahas soal keturunan. Semoga saja dari berapapun anak yang akan mereka dapatkan dalam pernikahan ini, ada yang bisa menemani ayah atau ibunya melakukan hobi. Minimal punya ketertarikan yang sama akan sesuatu.


Sesuai rencana, keduanya mendatangi sebuah kedai es krim. Untuk rencana yang satu ini keduanya kalah cepat. Tempat ini begitu ramai dengan anak-anak dan keluarga, apalagi para kekasih dan teman yang ingin menghabiskan malam akhir pekan. Ignacia merasa tempat ini tidak akan bisa menjadi tempat berbincang yang nyaman.


Ada minimarket dekat kedai itu. Membeli es krim ukuran sedang sama saja. Keduanya memutuskan untuk pulang, makan camilan pencuci mulut sambil duduk-duduk di halaman depan. Sayangnya malam menjadi semakin berangin. Rajendra hampir menyarankan agar mereka menunda acara makan es krim jika saja Ignacia tidak duduk lebih dulu di ruang tamu, menghadap pada jendela besar yang menghadap ke taman kecil samping rumah. Rajendra tidak bisa menolak tatapan mata itu.


Ucapannya tercekat, Ignacia sudah lebih dulu mengambil posisi nyaman. Ditepuknya tempat kosong di samping, "Duduklah, Rajendra." Jika ditolak, wajah berseri-seri istri tercintanya bisa luntur. Jadinya Rajendra menurut saja. Ia dekati Ignacia setelah menggantungkan jaketnya pada tempat yang telah disediakan, di samping tempat Ignacia juga meletakkan jaketnya.


"Sekarang semuanya sudah lengkap," Ignacia bicara. Membuat Rajendra penasaran dan menoleh. "Kita selalu menikmati es krim setiap kencan. Entah di kota kelahiran atau di tempat perantauan. Sekarang, bisa menikmati es krim lagi rasanya seperti kembali di masa itu. Ketika kita masih remaja dan mulai dewasa bersama."


Senyuman manis terpatri sempurna pada wajah rupawan Ignacia. Matanya tampak lebih terang daripada remahan cahaya di sekitar Dewi malam. Rajendra ikut tersenyum, salah tingkah dan bahagia menjadi satu. Laki-laki itu memposisikan diri, membalas kontak mata sang istri hingga Ignacia sendiri yang memutuskannya.


Obrolan kecil terus muncul seiring waktu. Tak butuh waktu lama, sekitar lima belas menit sembari bercakap-cakap, es krim keduanya hanya tersisa wadah dan sendok saja. Ignacia suka posisi ini. Duduk di tempat yang nyaman, sepi dari gangguan, dan yang paling penting ia tidak perlu memikirkan waktu pulang dan harus berpisah dengan Rajendra. Keduanya punya tempat pulang yang sama sekarang.


Tidakkah momen ini manis sekali? Hangat dan nyaman. Bahkan es krim di atas meja tadi masih menyisakan sensasi lembut yang memikat hati. Jauh berbeda dengan kondisi diluar. Rumah ini serasa menjelma menjadi pondok kayu hangat yang dilengkapi perapian. Ignacia menyandarkan kepalanya pada bahu Rajendra, bisa ia rasakan kehangatan yang semakin ramah ketika ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggang.


"Terima kasih sudah mau menungguku, Ignacia." Kecupan singkat mendarat di puncak kepala Ignacia. "Terima kasih untuk semua kesabaran, pengertian, dan usahamu selama ini. Aku beruntung bisa mengenalmu, aku beruntung karena bisa mendapatkanmu hingga sampai dititik ini." Rajendra membawa tubuh Ignacia semakin dalam ke dekapan.


Ignacia mendongak, menatap suaminya. Tangannya perlahan terulur untuk mengelus pipi Rajendra. Ignacia akan menyimpan pemandangan ini dalam ingatan, selamanya. Cara Rajendra memeluknya dan menggosokkan pipi ke tangan Ignacia yang baru sampai. Gadis berambut panjang ini tersenyum, kembang api meledak-ledak dalam dadanya saking bahagianya.


"Tentu saja aku akan terus menunggumu, Rajendra. Karena kamu adalah hadiah terbaikku."


Perlahan Ignacia melepaskan dekapan Rajendra, memutar tubuhnya agar lebih pas masuk ke dada bidang suaminya. Rajendra juga melakukan hal yang sama, mengubah posisi berpelukan ini menjadi lebih nyaman. Ia sandarkan tubuhnya pada lengan sofa, jadi Ignacia bisa berada di atas dirinya. Bisa Ignacia dengar dengan jelas suara detak jantung Rajendra.


Beberapa saat kemudian Ignacia kembali mencoba untuk melepaskan diri, ia menatap manik mata tegas Rajendra yang kini hanya berfokus padanya. Ignacia memberikan kecupan singkat pada bibir suaminya, "Terima kasih juga karena sudah membuat kita memiliki tempat pulang yang sama." Rajendra lantas tersenyum, tak lupa mengembalikan ciuman yang sudah diberikan Ignacia tadi.


Ignacia akan menarik ucapannya yang bilang bahwa Rajendra adalan monster yang cantik. Laki-laki ini tengah menyembuhkan semua luka yang pernah singgah. Rajendra memang cantik, hanya saja monster yang dulu dilihat Ignacia akan segera menghilang. Tidak akan ada lagi buku yang menumpuk, menunggu untuk dibaca. Tak akan ada lagi emosi campur aduk di penantian sepanjang malam.


"Semuanya sudah sesuai dengan keinginanku. Tidak ada lagi monster yang akan menyakitiku. Yang ada hanya aku akan pulang ke tempat yang sama dengan hadiah kecil yang selalu aku nantikan."