Beautiful Monster

Beautiful Monster
Mengantarmu Kembali



Ignacia menatap gandengan tangannya dengan Rajendra. Laki-laki yang tengah menuntunnya. Kenapa harus ada momen ini lagi? Keduanya berada di stasiun, menunggu waktu untuk keduanya kembali berpisah seperti yang seharusnya. Akan ada ruang rindu yang terbentuk karena tidak melihat satu sama lain. Ruang yang tidak pernah disukai Ignacia.


Rajendra tadi diantar kakak laki-lakinya. Sang kakak tidak bisa berlama-lama karena harus segera berangkat bekerja. Orang tuanya tidak ikut karena mereka juga sibuk dengan urusan lain. Sama seperti keluarga Ignacia. Orang tuanya tadi mengantar, tapi tidak bisa berlama-lama karena harus mengantarkan ketiga adik Ignacia pergi sekolah.


Jadi tersisa keduanya. Dua mahasiswa berbeda tujuan dengan tas ransel masing-masing. Berjalan dengan berat hati di tengah keramaian khas pagi hari. Tanpa suara mereka berlalu, menahan perasaan muak dengan sendirinya.


"Dan disinilah kita," gumam Rajendra. Laki-laki itu berhenti, menghadap ke arah kekasihnya yang tengah menunduk, "aku akan mengirimkan kabar sesering yang kubisa. Jangan bersedih, kita masih bisa bertemu lagi. Kamu masih memiliki kupon hadiah yang belum digunakan."


Ignacia tidak merespon, dia masih menunduk. Tangan yang sedang digenggamnya saat ini mau tidak mau harus dilepaskan. Jika Ignacia juga berkuliah di kota yang sama dengan Rajendra, mereka tidak harus berpisah jauh. Tapi sayangnya jurusan yang dikejar Ignacia tidak ada di tempat Rajendra. Entah ada dimana itu, Rajendra bilang tidak ada.


"Ignacia," lirih Rajendra lalu memeluk kekasihnya, "jangan sedih begitu. Aku jadi semakin berat meninggalkanmu. Ketika kamu punya tugas yang berat dan membutuhkan teman, kita bisa melakukan panggilan video, atau ketika kamu bosan, kamu bisa menelpon. Bagaimana?"


Ignacia masih enggan menjawab. Bahkan sejak tadi tangannya tidak membalas pelukan Rajendra sama sekali.


"Aku juga akan sangat merindukanmu," bisik Rajendra.


Pertahanan Ignacia runtuh. Keinginannya untuk tidak terikat dengan Rajendra di saat-saat seperti ini hilang sudah. Tangannya mulai membalas pelukan hangat kekasihnya, berjanji pada Rajendra bahwa dia tidak akan bersikap kekanak-kanakan. Ignacia akan melepaskannya baik-baik.


Pelukan keduanya melonggar bersamaan dengan terdengarnya informasi bahwa kereta yang ditunggu keduanya datang di saat yang bersamaan. Bagaimana cara terbaik untuk berpisah dengan orang yang sangat kamu sayangi? Bagaimana caranya agar tidak merasa berat dan sesak?


"Jadi, sekarang waktunya. Kita masih bisa bertemu lagi. Aku akan datang padamu." Diciumnya puncak kepala Ignacia oleh Rajendra, "tunggu aku. Akan ku rencanakan kencan yang tidak akan kamu lupakan."


Ignacia mengangguk disertai tersenyum kecil. Dirinya berjinjit, mencium pipi Rajendra singkat. "Aku akan selalu menunggumu. Aku akan mengunakan kupon hadiahku dengan baik." Ignacia puas melihat senyuman Rajendra. Kapan lagi Ignacia bisa mencium kekasihnya seperti ini?


"Oh ya, aku punya sesuatu untukmu," Ignacia menyodorkan sebuah paperbag, "semoga kamu menyukainya."


Rajendra mencium bau makanan dari dalam paperbag, "wah kamu memasak? Kamu membuatkan aku makan siang?" Si laki-laki tidak percaya dengan apa yang dibawanya. Antara salah tingkah dan bahagia.


"Aku memasaknya sendiri. Aku tidak tahu apakah rasanya sesuai dengan yang kamu suka. Tapi semoga kamu menyukainya."


Rajendra menggeleng, "aku pasti menyukainya. Karena kamu yang membuatnya. Terima kasih untuk makan siangnya, Ignacia. Akan kumakan hingga habis."


Sengaja Ignacia membuat bekal untuk kekasihnya sebelum berangkat tadi untuk menunjukkan sedikit hatinya. Jika apa yang Utari katakan soal memberikan cookies pada Ilham itu benar, seharusnya bekal makan siang juga bisa mengambil hati Rajendra kan? Seharusnya begitu.


Keduanya berjalan bersamaan ke arah kereta. Ignacia pergi ke arah kanan, sementara Rajendra ke arah sebaliknya. Tanpa aba-aba keduanya bertemu tatap ketika akan menaiki kereta. Alam bawah sadar pasangan ini pasti ikut ambil bagian. Kembali keduanya terkekeh.


Kekehan kecil terakhir sebelum akhirnya kembali terpisah.


Kereta mulai bergerak. Ignacia sudah berada di tempat duduknya, menatap keluar jendela, mengalihkan pikiran dari Rajendra yang sedang menuju ke arah berbeda. Lalu sesuatu di tas kecilnya terasa bergetar.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Sepertinya aku sudah merindukanmu


^^^Aku juga merasakan hal yang sama |^^^


^^^Bagaimana jika kita kembali saja? |^^^


| Ide bagus, lalu kita berkencan lagi


Padahal mereka baru saja berpisah di stasiun sekitar dua menit yang lalu. Rajendra tidak bersama, Ignacia paham betul.


...*****...


Aroma buku.


Satu hal yang menyambut Ignacia ketika membuka pintu asramanya. Disinilah dia, kembali ke tempat dimana dia akan menimba ilmu sampai ke negeri China. Tapi Rajendra tidak sedang di China, jadi Ignacia akan tetap di Indonesia saja. Ignacia melangkah masuk, melepas sepatu lalu meletakkan ranselnya ke sisi tempat tidur untuk membongkar isinya..


Bukan hanya ransel yang Ignacia bawa. Ada sebuah tas lain berisi boneka burung hantu dan buku-buku dari Athira. Ignacia tidak ingin meninggalkan bonekanya karena kemungkinan besar Arvin akan mengambilnya. Jadi lebih baik dibawa saja untuk memastikan bonekanya tetap aman. Sebagai teman Ignacia mengerjakan tugas juga.


Lalu buku yang dia dapatkan sebagai hadiah ulang tahun itu bisa menemani hari senggang Ignacia ketika tidak ada kelas. Atau mungkin menjadi refrensi Ignacia dalam mengerjakan tugas.


Ignacia membongkar plastik yang membuat bonekanya mengecil. Ukurannya kembali seperti semula setelah dibiarkan beberapa saat. Ignacia bangkit, menata buku barunya di rak pojok ruangan tempatnya menyimpan novel selama ini. Koleksinya bertambah berkat Athira. Oh ya, ada mug pemberian Rajendra juga. Ignacia pasti akan menggunakannya sebaik mungkin.


Hari berubah siang, Ignacia membuka makanan yang diberikan mamanya sebelum diantar ke stasiun. Memakannya dengan lahab. Ignacia membutuhkan banyak asupan untuk terus berjuang di kota asing ini hingga mendapat gelar sarjana.


Di tengah kesunyian, suara getaran di ponsel Ignacia terdengar sangat jelas. Dari getaran yang cukup panjang, dapat disimpulkan jika seseorang menelfon. Diraihnya ponsel dari dalam tas kecil di atas tempat tidur, menggeser tombol hijau di layar. "Halo, Ma. Ada apa?"


"Kamu sudah sampai di asrama? Sudag makan siang? Maaf tadi mama tidak bisa menemani di stasiun."


"Tidak apa-apa Ma. Aku mengerti. Sekarang aku sedang makan siang. Sudah suapan ketiga." Ignacia lanjut mengobrol dengan mamanya sebentar. Ada beberapa hal yang mamanya sampaikan dan harus Ignacia dengarkan dengan baik. Mama Ignacia yang mematikan panggilan lebih dahulu. Membiarkan anak perempuannya makan tanpa gangguan.


Namun tak lama kemudian seseorang menelfon Ignacia lagi. Sekarang orang yang berbeda. "Rajendra, kamu sudah sampai di asrama?" Senyuman merekah sempurna di wajah Ignacia. Apalagi setelah mendengar jika Rajendra tengah memakan bekalnya sekarang.


"Rasanya enak. Aku menyukainya. Terima kasih."


Tujuannya menelfon adalah untuk memberikan feedback untuk masalah si kekasih. Kebetulan sekali keduanya sama-sama sedang makan. Meksipun berada di kota yang berbeda, keduanya masih bisa terhubung secara tidak sengaja.


...*****...


"Akhirnya kamu kembali." Siapa lagi jika bukan Danita?


Di pesan, Danita bilang jika dia kembali ke asrama seminggu yang lalu. Tidak ada alasan, dia hanya lebih suka berkencan dengan Bahri di kota ini. Jadinya mereka kembali bersama-sama seperti sedang mudik lebaran.


"Selama seminggu aku tidak banyak bertemu dengan orang-orang di asrama. Mereka masih belum banyak yang kembali," jelas Danita. Pelukannya melonggar. "Kapan kau kembali? Aku tidak melihatmu datang." Sepertinya urusan Ignacia harus tertunda karena mengobrol dengan tetangganya.


...*****...


"Kak, aku pergi dulu ya. Kakak langsung pulang lagi saja."


Nesya pamit pada kakaknya, dia sebaiknya segera masuk ke stasiun dan menunggu kereta untuk memastikan. Sebelum masuk, kakaknya menahan Nesya sebentar. Diberikannya sebuah kantong plastik untuk si adik. "Kakak tadi membeli beberapa roti. Makanlah jika merasa lapar di jalan. Tadi kau makan sedikit sekali. Harus kau makan semuanya."


"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih kak."


Kakak Nesya masih berdiri di tempatnya, memperhatikan adiknya yang harus kembali ke kotanya lebih dahulu. Tangan dimasukkan ke dalam saku, tatapan matanya masih tertuju pada Nesya bahkan ketika adiknya sudah tidak terlihat. Berat untuk melepaskan adiknya pergi ke kota asing sendirian.


Nesya tentu tahu tentang apa yang dilakukan kakaknya. Kakaknya adalah yang terbaik. Mungkin kakaknya akan tetap disana hingga mendengar pengumuman bahwa kereta Nesya sudah sampai. Sambil menatap roti yang diberikan kakaknya, Nesya tersenyum hangat.


"Orang yang berkencan dengan kakaknya pasti orang yang sangat beruntung. Dan mencari seseorang seperti kakaknya pasti akan menjadi keberuntungan yang bagus untukku."


...*****...


"Kapan kau datang?"


Hal yang sama juga terjadi di kos Rajendra. Laki-laki yang sedang membereskan wadah makan siangnya itu pun menoleh pada yang baru datang. Rajendra kira Bagas akan kembali ke rumah orang tuanya hingga sekolah kembali dimulai. Anak ini datang sekitar satu jam setelah Rajendra sampai.


"Kau bahkan sudah makan siang."


"Memangnya kau belum?"


"Sudah," jawab Bagas singkat. Laki-laki itu masuk, meletakkan tas ranselnya ke sisi tempat tidurnya. Lalu di empunya ransel mengambil tas dari dalam sana dan memainkannya sambil merebahkan diri. "Bagaimana liburanmu, Rajendra? Kau banyak bersenang-senang di rumah?"


"Kau bicara padaku tapi bermain ponsel," protes Rajendra. Dia bangkit untuk mencuci kotak bekal milik Ignacia.


"Ya agar tidak sepi saja," Bagas menjawab.


...*****...


Ignacia duduk di sisi tempat tidurnya setelah ritual sore. Sesekali melirik boneka burung hantu yang duduk di dekat bantal sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Ignacia teringat dengan malam ketika dirinya pertama kali mendapatkan boneka ini. Masih penasaran bagaimana dirinya bisa ada di kamar keesokan harinya.


Suara ketukan terdengar. Jika dilihat dari kebiasaan sebelumnya, dia pasti Danita. Dan benar saja, ketika dibuka, Danita berdiri di depan kamarnya dengan pakaian rapi. Gadis ini sepertinya tidak bisa melupakan fakta bahwa Ignacia sudah kembali ke asrama.


"Aku berencana untuk menonton film. Bagaimana jika kamu ikut? Tadi aku juga sudah mengajak Nesya." Ada pertanyaan mengapa Danita tidak pergi saja dengan Bahri. Biasanya mereka berdua akan berkencan. "Aku merindukan kalian, jadi aku ingin pergi dengan kalian," lanjut Danita. Seolah menjawab pertanyaan yang kepala Ignacia ajukan.


"Kalau begitu masuklah. Aku akan berganti pakaian sebentar."


Ignacia menggeser tubuhnya, memberikan cela agar Danita bisa masuk. Si empunya kamar menutup pintu, berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju ganti. Setelah mendapatkan bajunyang sesuai, Ignacia masuk ke dalam kamar mandinya.


Danita menunggu dengan sabar. Duduk di kursi meja belajar Ignacia sambil menatap boneka yang ada di atas tempat tidur temannya. Danita tidak ingat jika Ignacia memiliki boneka di asramanya. Dan boneka itu mirip dengan-


"Kamu menyukai burung hantu, Ignacia?" tanya Danita begitu si empunya kamar selesai berganti pakaian, "kulihat gantungan kunci yang ada di tasmu juga berbentuk burung hantu."


Ignacia mengangguk, "aku kagum dengan cara mereka menoleh. Mereka memiliki kemampuan yang hebat. Tubuhnya tetap diam ketika kepalanya berputar ke belakang." Seperti orang yang melakukan sesuatu namun terlihat diam.


Danita membuat janji temu dengan Nesya di mall. Agar gadis berkacamata itu tidak perlu repot-repot datang ke asramanya dan Ignacia. Dikiranya Nesya sudah datang karena diajak lebih dahulu, tapi rupanya gadis itu agak terlambat. Dia hampir melupakan ponselnya karena sedang diisi daya.


Ignacia menyapa Nesya ketika teman berkacamatanya itu datang. Namun yang disapa malah terlihat sedikit aneh. Dia banyak mengalihkan pandangan dan tidak bisa berkontak mata terlalu lama. Ignacia berpikir jika ada yang terjadi dengan temannya. Mungkin dia sebaiknya bertanya nanti.


Hal wajib setelah menonton film adalah makan malam.


Ketiganya berkeliling di dalam mall, mencari tempat makan yang tidak penuh. Karena hampir semua tempat makan enak di dalam mall yang ketiganya tahu sudah penuh hingga tidak bisa menerima pengunjung lagi.


Ketiganya berjalan beriringan dengan Danita berada di tengah-tengah Ignacia dan Nesya. Berjalan dengan Danita rasanya seperti berjalan dengan matahari. Aura positif dan caranya membuat orang di sekitarnya merasa bahagia membuat kedua teman lainnya kelelahan.


Aura positif Danita terlalu besar.


"Kalian mau makan olahan mi? Disana tidak terlalu ramai," Ignacia menunjuk ke arah tempat makan yang pengunjungnya baru setengah. Jika cepat-cepat, mereka tidak akan kembali berkeliling dan mencari tempat makan lain. Kelihatannya tempat ini baru buka ketika ketiganya sedang keluar kota. Mereka belum pernah melihat tempat ini sebelumnya.


Setelah memesan dan mendapatkan tempat, ketiganya lanjut mengobrol. Kali ini topiknya tentang penulis naskah film tadi. Katanya sebelum membuat film bergenre drama tadi, si penulis juga membuat film tentang kriminalitas. Ignacia jadi ingin melihat film itu juga.


"Sepertinya aku harus pergi ke toilet," izin Danita.


Seperginya gadis berambut pendek itu, Ignacia menggunakannya untuk bertanya. "Apa sesuatu terjadi? Kenapa kamu tampak gugup?" Nesya menatap Ignacia dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti tatapan sendu yang tertahan.


"Tidak ada, aku hanya sedang lapar. Jadi aku agak sulit mengendalikan diriku." Nesya mengalihkan pandangan, ada yang sedang dia tutupi dari teman baiknya.


"Jika ada masalah, katakan saja padaku. Aku mungkin bisa membantumu mencari solusi terbaik." Teman Nesya ini tersenyum, "jangan sungkan untuk bicara padaku."