Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kita beruntung



...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Aku baru sampai rumah


| Huh melelahkan sekali


Pesan Rajendra datang kemarin. Sekitar satu jam sebelum hari berganti. Perjalanan keluar kota kelihatannya sungguh jauh. Tapi tidak sejauh saat dia keluar pulau. Bagaimana bisa mereka mengendarai mobil dengan jarak yang bisa membuat tubuh kelelahan seperti itu?


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Apa kamu tidak hanya duduk? |^^^


^^^Tapi memang duduk itu bisa membuat lelah |^^^


| Siapa yang bilang jika aku duduk saja?


| Aku juga menyetir menggantikan ayahku


^^^Wah kamu pasti terlihat keren kemarin |^^^


Ignacia baru ingat. Sekitar sebulan yang lalu Rajendra mengikuti kursus mengemudi dan akhirnya mendapatkan simnya. Pikiran liar pun muncul di kepala Ignacia. Dia jadi ingin melihat Rajendra yang mengemudikan mobilnya sendiri suatu hari nanti. Mungkin mengemudikan mobil keluarga mereka?


Sudah tidak ada waktu lagi. Ignacia harus segera berangkat agar tidak terlambat sekolah. Rajendra apa akan tetap masuk hari ini? Kemarin dia melakukan perjalanan panjang.


Hari ini Ignacia sudah dapat bersekolah seperti biasa. Berangkat dan pulang sendiri. Tidak akan ada lagi bagian dimana dia memanggil Bahri untuk menjemputnya seperti kemarin. Dan semoga tidak ada yang melihatnya dengan Bahri.


Samar-samar Ignacia mendengar suara langkah kaki yang kian mendengar. Jika didengar dari suara tas yang dibawa, Ignacia bisa langsung tahu siapa yang mencoba berlari diam-diam. Yang berlari pun pada akhirnya berjalan bersama Ignacia.


"Aku mendengar suara langkah kakimu," jujur Ignacia sambil menoleh pada teman berkacamatanya. Nesya terkekeh kecil, dikiranya akan berhasil mengejutkan Ignacia.


"Aku juga bisa mendengar suara resleting tasmu yang bergemerincing. Tidak terlalu jelas, tapi aku bisa mengingatnya."


"Kau orang yang dapat mengingat hal detail, Ignacia." Itu pujian pertama yang didapatkan Ignacia pagi ini.


"Tentu saja. Karena kita menghabiskan seharian di sekolah bersama."


Kelas lumayan sepi ketika keduanya sampai. Baru ada sekitar empat orang yang sampai, hanya fokus dengan ponsel masing-masing. Pemandangan seperti ini sudah biasa. Apalagi WiFi sekolah lebih lancar jika digunakan di pagi hari. Berbeda jika sudah waktunya pulang sekolah. Jaringannya menjadi sangat lambat dan menghambat produktivitas para murid yang tengah mencari informasi.


Nesya meletakkan tas di tempatnya, tapi lebih memilih untuk duduk di samping Ignacia. Keduanya membuka ponsel sambil mengobrol pelan. Tidak ingin merusak ketenangan khas pagi hari kelas. Rasanya menyenangkan jika seharian kelasnya menjadi tenang dan damai.


"Oh lihat itu." Nesya menunjuk keluar kelas.


Disana ada dua ekor kucing yang tengah berjalan bersama. Kucing jantan dan betina. Si jantan mengikuti betinanya dengan takut-takut. Dia sepertinya tidak bisa bergaul dengan manusia.


Berbeda dengan kekasihnya yang sudah sangat nyaman berada di dekat para warga sekolah. Dia dan kelima anaknya sangat dijaga disini. Bahkan kadang mereka berenam berjalan-jalan di sekitar kelas Ignacia karena dekat dengan taman baru.


Kelihatannya kucing jantan berwarna putih bercampur kuning itu adalah ayah kelima anak kucing menggemaskan yang ada di taman. Keberadaan mereka baru saja diketahui oleh Ignacia dan Nesya beberapa hari yang lalu. Kelimanya menggemaskan sekali. Namun bersuara keras ketika menangis.


Namanya juga anak-anak.


"Mau pergi keluar dan bermain dengan mereka?" Ajak Nesya dengan bersemangat.


Kebetulan keduanya sama-sama menyukai kucing. Ignacia ya mengangguk-angguk saja, mengikuti arah Nesya berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya. Tak jauh dari tempat ayah dan ibunya berpacaran, para anak kucing berlarian di sebelah kelas Ignacia.


Mungkin mereka juga ingin ikut dengan orang tua mereka.


"Wah mereka datang."


Kedatangan anak-anak kucing yang menggemaskan menambah semangat Ignacia juga Nesya. Jadilah keluarga yang menyenangkan ini berkumpul di depan kelas Mipa. Oh sejak kapan mereka sampai di depan kelas Rajendra?


Ignacia hampir lupa dimana dia berada.


"Sepertinya kita beruntung karena bisa melihat mereka semua di tempat yang sama."


Ada yang perlu dikoreksi dari kalimat Nesya. Para anak kucing tidak berada di depan kelas Mipa tiga seperti kedua orang tua mereka. Anak-anak memilih untuk menjauhi keberadaan dua manusia yang tengah bermain dengan anak-anaknya. Bersembunyi di balik pot bunga besar.


"Kenapa kamu ada disini?" Suara dari belakang Ignacia agak mengejutkan. Langsung gadis yang tadinya sibuk dengan kucing-kucing kecil bangkit, masih dengan tangan yang menggendong seekor anak kucing.


"Aku bermain dengan mereka," jujur Ignacia sambil tersenyum senang. Ignacia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memelihara kucing karena dahulu Arvin alergi pada anak kucing. Mamanya juga memiliki masalah dengan bulu-bulu hewan.


"Ini masih terlalu pagi, Ignacia. Segera letakkan mereka dan cuci tangan."


Tangan Rajendra bergerak untuk mengelus kepala Ignacia sebelum melanjutkan langkah masuk ke dalam kelasnya. Oh ya, Ignacia hampir lupa. Jika Rajendra ada disini, itu artinya Rajendra sudah bersekolah setelah hari yang melelahkan kemarin.


Wow dia kuat juga.


"Sepertinya hari ini juga keberuntunganmu, Ignacia," goda Nesya yang masih setia pada seekor kucing berwarna hitam putih. "Pagi-pagi sudah mendapatkan skinship dari kekasih."


...*****...


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Ignacia, kamu ada di rumah?


| Mau bertemu denganku malam ini?


Ignacia menyerkitkan dahinya bingung. Katanya hari ini Rajendra memiliki tugas yang cukup berat dari pelajaran kesukaannya. Alhasil dia harus menetap lebih lama di sekolah bersama dengan teman-temannya. Kebetulan juga ini adalah kerja kelompok yang lebih baik segera diselesaikan.


Ignacia mengerikan rambutnya sambil menatap pesan Rajendra sepuluh menit yang lalu. Apa laki-laki ini tidak lelah? Dia melakukan banyak hal. Ignacia berpikir sebentar, apa dia harus pergi atau meminta Rajendra beristirahat saja?


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Kukira kamu lelah |^^^


^^^kamu melakukan banyak hal |^^^


| Ayolah


| Aku ingin bertemu denganmu


^^^Iya baiklah ayo bertemu |^^^


^^^Kamu tidak perlu menjemputku |^^^


^^^Kita bertemu dimana? |^^^


| Aku sekarang sudah ada disini


Sebaiknya Ignacia cepat agar tidak membuat Rajendra menunggu terlalu lama. Tapi kenapa tiba-tiba meminta bertemu? Bahkan dia sudah ada disana. Matahari belum terbenam, tapi sebentar lagi sudah akan gelap.


Ignacia mengganti pakaiannya dengan cepat, menyambar kunci sepada motor di balik pintu dan segera keluar. Hampir lupa dia untuk berpamitan hingga akhirnya hanya mengatakan dengan keras di dekat pintu.


"Athira, aku akan menemui Rajendra sebentar!"


Mentang-mentang orang tuanya sudah pergi bekerja. Ignacia jadi bisa berteriak sesukanya. Daripada harus mondar-mandir dan malah membuatnya terlambat, ya kan?


Saat Ignacia baru menjalankan mesin motor, barulah Athira muncul dan mendapati kakaknya sudah menghilang. Hanya suara sepeda motornya yang terdengar semakin menjauh.


"Huh apa yang dilakukan pasangan aneh ini sekarang?" Gumam Athira kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


...*****...


Rajendra meletakkan ponselnya di sampingnya duduk. Mungkin Ignacia akan mengirimkan pesan. Dia sudah cukup puas karena Ignacia mau menemaninya beberapa waktu disini tanpa berat hati. Yang dibutuhkan Rajendra hanya keberadaan Ignacia disisinya ketika kelelahan.


Sekitar lima belas menit kemudian Ignacia akhirnya datang. Gadis itu memakai ikat rambut berwarna hitam, menunjukkan lehernya yang putih dan jenjang. Wajahnya kelihatan bingung karena diminta Rajendra datang. Lihatlah dia yang memakai pakaian santai seperti berada di rumahnya sendiri.


Hanya kaus putih dan celana jeans pendek.


"Rajendra, jika kamu lelah, seharusnya kamu beristirahat saja di rumah. Lagipula ibumu ada di rumah."


Ignacia duduk di samping Rajendra, menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. "Tapi bagaimana bisa kamu sampai disini? Sekolah kita saja lumayan jauh dari tempat ini."


"Kenapa tidak? Aku kemari karena merindukanmu."


Rajendra meletakkan kepalanya di atas bahu Ignacia, melingkarkan tangannya pada pinggang Ignacia yang ramping. Sungguh Rajendra sangat menyukai saat-saat bersama dengan gadisnya. Rasanya semuanya menjadi senyap dan terfokus pada kenyamanannya.


Ignacia tentu terkejut. Tapi cepat-cepat mengubah air wajah agar tetap tenang. Tempat ini tidak sepi, seseorang bisa melihat keduanya yang tengah menikmati waktu romantis berdua. Beruntungnya Rajendra sudah tidak lagi memakai seragamnya. Jadi tidak akan ada yang menyangka jika keduanya masih SMA.


Selama beberapa menit keduanya bertahan dengan kesunyian. Ignacia tidak tahu harus mengatakan apa, sementara Rajendra terlalu lelah untuk bicara. Yang dia butuhkan hanya Ignacia agar bisa mengembalikan energi.


"Kamu tahu, aku beruntung saat bertemu dengan kamu pagi ini, Ignacia. Rasanya energiku kembali setelah melihatmu. Lalu setelah hari yang berat, hanya dengan bertemu denganmu saja aku sudah merasa senang. Terima kasih karena sudah datang."


Ignacia meletakkan kepalanya di atas kepala Rajendra, "kamu ini ada-ada saja, Rajendra."


"Ya mau bagaimana lagi? Aku merindukanmu. Aku pergi seharian kemarin, tidak bertemu denganmu. Setelah bertemu, rasanya aku jadi semakin rindu."


Apa ini maksud dari kalimat bahwa orang-orang akan bicara jujur jika sedang kelelahan? Ignacia bisa merasakan tangan Rajendra yang semakin memeluknya erat. Rajendra tengah dalam mode manja yang belum pernah dilihat siapapun.


"Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku, Ignacia," lanjut Rajendra, "pagi ini aku bertemu denganmu, dan sekarang aku juga bisa bertemu denganmu."


Laki-laki ini tersenyum kecil, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Jika aku bisa lebih sering bertemu denganmu, sepertinya aku tidak akan terlalu lelah. Aku senang sekali."


Ignacia terkekeh pelan. Sungguh Rajendra terlihat berbeda.


"Lain kali kamu bisa pergi ke rumahku jika lelah, Rajendra. Akan aku buatkan kue atau makanan lain yang kamu inginkan. Itu lebih baik daripada disini. Katamu tempat ini hanya boleh digunakan untuk menyingkirkan perasaan buruk."


Tangan Ignacia bergerak pelan untuk mengelus wajah kelelahan Rajendra yang tidak menatapnya. Ignacia sejujurnya juga merindukan sosok Rajendra yang begitu hangat. Sosok laki-laki yang terlihat manja dan membutuhkan kehadirannya. Tidak seperti Rajendra yang biasanya hanya fokus dengan kegiatan organisasinya.


"Tapi jika aku pergi ke rumahmu, aku akan merepotkan kamu."


"Kenapa tidak? Selama aku bisa, kenapa tidak?"


"Kamu tahu, sebentar lagi kelas 12 akan pensiun dari organisasi OSIS dan MPK. Sebagai gantinya, kita akan sangat sibuk dengan semua ujian sebelum masuk ke universitas. Kita akan sangat sibuk hingga hampir melupakan dunia lain yang kita miliki. Aku takut, Ignacia."


Ignacia tidak salah dengar? Rajendra bilang jika dirinya takut? Apa laki-laki ini sehabis dibius atau sebagainya? Dia tidak bicara seperti kepribadian yang selalu dilihat Ignacia.


"Aku takut jika aku tidak bisa bertemu denganmu lagi."


Ignacia tertegun. Bukankah biasanya Rajendra bisa meninggalkan dia cukup lama untuk fokus dengan tugasnya sebagai ketua MPK? Bukankah laki-laki ini selalu pergi untuk menjadi sibuk di organisasinya sepanjang waktu? Bagaimana caranya dia bisa begitu takut dan enggan sekarang?


"Kenapa takut? Aku bisa mengirimkan pesan padamu."


"Tidak, aku tidak suka pesan. Aku ingin bertemu denganmu, memelukmu, memastikan bahwa kau masih jadi milikku."


Mendengar itu, Ignacia mulai menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada hari Rajendra. "Apa ada sesuatu yang terjadi? Semalam kamu bermimpi buruk atau sesuatu? Apa ada hal menakutkan yang kamu lihat?"


Masih dengan posisinya yang nyaman, Rajendra mulai bercerita.


"Semalam aku melihatmu dalam mimpiku. Aku melihatmu pergi dengan laki-laki lain dan dia memberikan hadiah untukmu. Kamu terlihat senang dan berterima kasih. Lalu kamu tidak lagi menyukaiku. Kamu lebih suka dengan laki-laki itu."


"Lalu pagi ini aku mendengar bahwa teman di kelasku baru saja putus dengan pacarnya. Sekitar dua bulan yang lalu dia pernah bilang jika memimpikan pacarnya tengah bersama dengan laki-laki lain di sebuah tempat hiburan. Dan hari ini mereka putus karena pertengkaran pribadi."


"Aku takut hal itu juga terjadi padaku, Ignacia. Aku bukan orang yang mudah mempercayai mimpi. Tapi melihatmu dengan laki-laki lain selalu membuatku tidak nyaman. Aku tidak ingin ada orang lain yang menyentuhmu, tidak boleh ada yang menjadi pusat perhatianmu selain aku."


Apa mode manja bisa memicu sifat posesif? Rajendra terdengar sangat egois, namun Ignacia tahu maksudnya.


"Mana mungkin aku bisa melihat laki-laki lain atau bahkan dekat dengan mereka setelah empat tahunku bersamamu. Jika selama ini saja aku hanya bisa memikirkanmu, bagaimana bisa aku begitu saja berpindah hati?"


Perlahan pelukan Rajendra merenggang, wajahnya yang damai menghadap pada Ignacia. "Apapun bisa terjadi jika soal urusan hati, Ignacia. Selama ini aku sibuk dan tidak memberikan perhatian padamu. Aku takut kamu mulai bosan dan akhirnya pergi. Itu menakutkan bagiku."


"Jika saja kamu melihatku kemarin, Rajendra. Mungkin kamu akan berpikir dua kali untuk takut kehilangan aku."


Ignacia tersenyum, melihat sekitar bukit yang mulai sepi. Setelah ini keduanya harus pulang sebelum langit semakin gelap. Gadis itu memposisikan diri menghadap pada Rajendra, begitu pula dengan laki-laki itu.


Cup!


Ignacia mengecup bibir kekasihnya sekilas, menahan detak jantung yang sedang berpesta. Sudah sangat lama Ignacia tidak melakukan hal mendadak yang dapat membuat Rajendra tersenyum kecil seperti ini.


"Aku tidak akan pergi kemanapun. Kamu sudah mengambil ciuman pertamaku beberapa tahun yang lalu. Mana mungkin aku merelakannya begitu saja."


Rajendra meletakkan kepalanya ke bahu Ignacia, benar-benar tidak bisa menahan rasa bahagia. "Bisa-bisanya kamu membuat aku malu seperti ini, Ignacia. Kenapa kamu menciumku lebih dahulu? Kamu sengaja memancingku hm?" Rajendra mengangkat wajahnya agar sangat dekat dengan wajah Ignacia yang terlihat memerah.


"Kenapa tidak boleh? Kamu pernah melakukannya," protes Ignacia dengan salah tingkah.


"Jadi kamu sedang membalasku, hm?" Rajendra menatap ke arah bibir Ignacia, seolah sudah merencanakan sesuatu.


"Iya, iya, aku minta maaf. Sekarang ayo pulang."


Ignacia buru-buru bangkit agar tidak mendapatkan balasan apapun dari Rajendra. Sementara yang di tinggalkan di kursi itu terkekeh kecil sebelum memutuskan untuk mengikuti Ignacia.