Beautiful Monster

Beautiful Monster
Terima Kasih



"Karena itu aku merasa familier."


Rajendra menatap kekasihnya sebentar. Mulai ingat dengan laki-laki yang membuatnya terheran-heran waktu itu. Ignacia tampak senang dan sedih di saat yang bersamaan. Rajendra hanya berdehem pelan sebagai respon. Tidak begitu tertarik untuk membahas laki-laki disana.


"Kalian pernah melihatnya? Kalian pergi bersama?" Nesya bertanya. Kelihatannya ada yang salah bicara.


"Hah?" Ignacia pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan obrolan lain dengan Rajendra agar tidak ditanya-tanyai Nesya. Meskipun banyak orang yang tahu soal kencan rumahan keduanya, Ignacia tidak tahu apakah Nesya tahu juga atau tidak. Dia merasa jadi teman yang buruk karena tidak menjelaskan sesuatu pada Nesya.


"Nesya, sepertinya aku tertarik dengan laki-laki itu. Bagaimana jika kita mendekat? Kumohon." Teman Nesya menautkan tangannya, menatap memelas pada Nesya agar dipenuhi keinginannya. Nesya mau tidak mau ya ikut menemani. Kasihan jika temannya pergi sendirian.


"Aku akan pergi. Hubungi aku jika ada masalah," Nesya berpesan kemudian pergi menjauh mengikuti temannya.


"Sepertinya aku salah bicara, Rajendra." Ignacia sekarang bisa menyandarkan kepalanya pada bahu Rajendra. Perasaan tegangnya tadi pasti membuat Nesya curiga. "Apa sebaiknya aku memberitahu Nesya tentang kencan kita selama ini?"


"Itu akan membuat hubungan kalian renggang. Nesya pasti akan merasa dibohongi."


"Kalau begitu tidak perlu?" Ignacia melihat Rajendra mengangguk, "ya baiklah, aku akan tetap menyembunyikannya. Tapi apakah dia tahu jika aku tidak membahasnya karena takut dia merasa tidak nyaman? Perasaanku membuatku bingung."


"Kamu tidak perlu mengatakan apa yang membuatmu tidak nyaman, Ignacia. Simpan saja. Tapi jika Nesya tahu suatu hari nanti, mungkin Nesya akan mengerti."


"Begitukah? Kuharap kamu benar." Ignacia mengalihkan pandangan dari atas panggung. Didapatinya wajah tidak senang Rajendra yang entah sejak kapan. "Kenapa kamu tampak serius begitu? Apa yang sedang kamu perhatikan?"


"Tidak ada," balas Rajendra dengan serius.


...*****...


"Kamu ingin camilan?" Rajendra bertanya, "sekalian kita ambil minuman juga disana. Ada minuman dingin saat kulihat tadi."


"Kamu berkeliling sebelum menemukan aku?"


"Tentu saja. Aku ingin tahu semuanya agar aku bisa membuatmu merasa nyaman. Kupastikan semuanya akan terkendali karena kamu akan datang."


Ignacia tidak menolak. Berdiri saja disana membosankan. Tidak ada salahnya pergi sebentar untuk mengambil camilan yang tersedia. Entah siapa yang membuatnya, tapi rasanya enak. Bukan hanya makanan manis yang ada disana. Camilan basah yang digoreng dan sebagainya juga ada.


"Tunggu disini sebentar, akan aku ambilkan minumannya disana."


Ignacia mengangguk patuh. Berdiri di dekat camilan Tanggulu, camilan buah yang diberikan lapisan gula-gula bening. Rasanya masih, bercampur dengan rasa asli buah menambah sensasinya. Ignacia mengambil Tanggulu stroberi dan beberapa beri lain disana. Karena enak, Ignacia mengambil beberapa.


Rajendra mungkin akan kembali sedikit lebih lama. Teman-teman laki-lakinya kebetulan juga akan mengambil minuman dan mengajaknya mengobrol. Mereka mengobrol setelah menutup lemari pendingin dengan baik. Dari tempatnya, Ignacia dapat melihat senyuman lebar kekasihnya saat bercanda dengan teman-temannya. Kelihatannya menyenangkan.


"Hei," seseorang menepuk bahu Ignacia. Yang dikejutkan tidak merasa demikian, hanya menoleh dan tersenyum. "Sepertinya kalian memiliki malam yang menyenangkan. Bagaimana rasanya kencan dengan Rajendra disini? Aku beberapa kali melihat kalian terus bergandengan."


"Ya begitulah. Kamu akan akan pulang, Nesya?"


"Setelah acara berakhir. Kurasa itu tidak lama. Aku kembali dulu ya. Nikmati kebersamaan kalian." Nesya kembali ke temannya, meninggalkan Ignacia sendirian.


"Iya, sampai jumpa." Rajendra berpisah dengan teman-temannya, membawa dua botol minuman dingin. "Maaf membuatmu menunggu. Ini untukmu." Sebotol minuman disodorkan pada Ignacia.


"Terima Kasih, Rajendra." Minuman dinginnya diterima oleh si gadis dengan baik.


Keduanya masih disana, mengobrol sambil makan Tanggulu. Ignacia yang merekomendasikannya. Iseng saja agar Rajendra ikut memakannya. Gula membuatnya bersemangat. Mungkin kekasihnya bisa merasakan energi yang sama nanti.


"Rajendra," Ignacia memanggil. Hidungnya seperti mencium sesuatu yang aneh. Belum pernah dia mencium bau yang sangat menyakitkan bagi hidungnya ini. "Bau apa ini?" Dia bertanya.


"Bau?" Rajendra baru menyadarinya setelah Ignacia bertanya. Rajendra mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari-cari sumber bau yang diciumnya. Laki-laki ini jelas tahu bau apa ini. Dan mungkin penyebabnya bisa membuat keributan.


Ada dua orang berjalan mendekat. Mereka membawa botol minuman berisi cairan bening di tangan. Rajendra belum pernah melihat mereka. Mungkin seseorang dari kelas yang jauh dari kelasnya. Sikap mereka membuat Rajendra semakin menaruh rasa curiga. Mereka berjalan seolah sedikit tidak sadar.


"Ayo kita pergi," ajak Rajendra sambil menarik lengan Ignacia tanpa menjelaskan apapun. Si gadis yang akan dibawa pergi ketika Tanggulunya hampir habis itu tentu terkejut. Dia terpaksa pergi sebelum bisa mengambil Tanggulu lain karena paksaan dari Rajendra.


"Kenapa kita harus pergi? Dan kenapa kamu terlihat cemas begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Ignacia tidak bisa diam saja ketika tangannya masih dibawah menjauh oleh Rajendra. Memberontak pun tidak ada untungnya untuk Ignacia. Dia tidak bisa membuat Rajendra melepaskannya.


"Setidaknya jawab pertanyaanku, Rajendra," kesal Ignacia.


"Ignacia!" Rajendra yang cemas akhirnya meledak juga. Sebisa mungkin dia mengendalikan nada bicaranya. "Aku hanya ingin membuatmu tetap aman. Ada orang asing yang mencurigakan. Jadi aku ingin membawamu menjauh dari mereka."


"Siapa?" Kini kekesalan Ignacia sudah hilang. Berganti dengan rasa khawatir yang bisa dirasakan dari Rajendra. "Kamu bisa menjelaskannya padaku tadi. Kamu terlihat mencurigakan, membuatku takut."


Rajendra merangkul bahu kekasihnya, "aku minta maaf. Aku tidak bisa mengatakannya tadi karena khawatir kamu akan terluka jika tidak cepat-cepat pergi." Dibawanya si gadis ke tempat yang menurutnya aman. Harap-harap kedua orang tadi tidak akan mendekati mereka lagi.


Ignacia tidak keberatan jika kekasihnya melakukan banyak skinship seperti yang dilakukannya hari ini. Tapi jika sesering ini, apakah aman untuk jantungnya? Memang dia sudah mulai banyak mengendalikan perasannya ketika berada di dekat Rajendra akhir-akhir ini. Hatinya merasa tergelitik sesekali.


Bisa dirasakan Ignacia jika tangan Rajendra yang merangkulnya semakin erat. Rasa khawatirnya bisa terlihat. Ignacia tersenyum senang melihat apa yang dilakukan kekasihnya. Ada rasa bangga tersendiri di dalam diri.


"Laki-laki ini yang terbaik," batinnya.


...*****...


"Tunggu disini sebentar."


Ignacia mengangguk, menatap punggung Rajendra yang kian menjauh mendekati seseorang di sisi aula. Dia ditinggalkan sebentar di sebuah sisi tak jauh dari tempat Rajendra mendekati seseorang yang tampak seperti panitia. Seperti ada yang penting yang ingin Rajendra sampaikan.


Laki-laki itu tampak serius.


"Ignacia, kenapa sendirian?" Suara seseorang mengejutkan Ignacia. Rupanya itu berasal dari Widia dan Hanasta. Mereka membawa Tanggulu juga. "Dimana Rajendra?" Widia bertanya lagi. Matanya tidak menemukan kekasih sahabatnya.


"Oh ya benar. Kenapa kau ditinggalkan disini? Apa ada masalah? Kan dia dahulu ketua MPK. Yang tengah bicara dengannya itu ketua MPK yang baru bukan?" Hanasta memerhatikan kekasih sahabatnyaitu, "kelihatannya ada yang serius."


"Kurasa begitu."


"Ignacia, apa kau tidak melihat laki-laki tampan di sekitar sini? Kurasa aku ingin mencari jodoh sekarang." Widia melihat sekitar. Membuktikan apa yang dibicarakannya tadi.


Hanasta refleks menoleh pada yang baru saja bicara. "Tidakkah kau sudah sangat terlambat? Kau mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi ketika masuk perguruan tinggi. Melakukan hubungan jarak jauh bukan pilihan bagus untuk yang baru berpacaran." Hanasta seperti tahu banyak.


"Ya terserah saja. Kalau begitu aku hanya akan mencari laki-laki tampan malam ini. Kau menemukan satu, Ignacia?"


Ignacia mengangguk, menunjuk ke suatu arah yang membuat Hanasta dan Widia agak sebal. Tapi Ignacia tentu tidak bersalah. Yang ingin Widia tau adalah laki-laki tampan bukan? Rajendra juga tampan bagi Ignacia. Jadinya dia menunjuk kekasihnya sendiri. Namun tentu bukan laki-laki tampan untuk Widia.


"Ya orang yang sedang jatuh cinta ya begini. Hanasta, kita cari laki-laki tampan yang lain saja." Ajak Widia ke suatu tempat.


Rajendra sudah selesai, berjalan kembali ke arah kekasihnya. Dia melewatkan keberadaan Widia dan Hanasta tadi. "Maaf aku meninggalkan kamu agak lama. Kamu tadi bicara dengan seseorang? Sepertinya ada yang baru saja pergi."


"Itu tadi Widia dan Hanasta. Mereka sahabatku."


"Oh begitu. Maaf karena membuatmu menunggu. Kamu bahkan belum minum. Mau kubukakan minumannya?"


"Tidak, terima kasih. Aku bisa membukanya sendiri." Ignacia memutar tutup botol minuman dengan sekali coba. Meneguknya sedikit dan menutupnya lagi. "Apa yang kamu bicarakan dengan ketua MPK baru itu? Kamu masih menjadi penanggung jawab acara ini atau sebagainya?"


Rajendra menggeleng. Katanya dia hanya menyampaikan sesuatu yang harus para panitia hadapi. Ignacia tidak begitu mengerti. Ingin bertanya namun mungkin Rajendra tidak ingin menjelaskannya. Terlihat dari bagaimana laki-laki itu merespon.


...*****...


Panitia tidak kehabisan ide dalam membuat malam ini semakin menyenangkan bagi semua orang. Mereka membuat semacam sayembara untuk para siswa bersuara indah agar menyanyi di atas panggung. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah camilan yang sudah disediakan di belakang panggung. Mendadak, namun tetap saja seru.


Ignacia melihat Widia yang ingin ikut, namun Hanasta menahannya agar tidak merusak telinga orang-orang yang ada disini. Hanasta takut Widia akan membuat teman-temannya malu. Meksipun begitu, dengan tekad bulat, Widia berhasil naik ke panggung setelah beberapa peserta menyelesaikan kegiatannya.


"Halo, namaku Widia. Aku akan menyanyikan lagu untuk kalian semua." Anak itu sungguh percaya diri. Urat malu yang biasanya dijaganya sudah hilang. Lagipula Widia tidak akan bertemu dengan orang-orang ini lagi. Kenapa harus malu?


Ketika intro dimainkan, Rananta sudah bersiap dengan kameranya. Dirinya ingin membuat film dokumenter katanya. Ignacia bertemu dengannya saat mendekati panggung. Tujuannya ya untuk memberikan dukungan untuk Widia.


Teman-teman bersemangat kecuali Hanasta dan Indri yang mereka malu dengan kelakuan Widia. Suaranya tidak buruk, namun penjiwaannya agak tidak enak dilihat mereka. Tetap saja ada yang mendukung Widia. Teman-teman kelasnya terutama.


Rajendra melihat Ignacia yang bergabung dengan para sahabat untuk mendukung Widia hingga lagunya selesai diputar. Ada senyuman gemas di wajahnya. Ignacia tidak biasanya akan seperti ini. Namun namanya juga remaja. Pasti ada sisi yang coba dia sembunyikan dari orang-orang.


"Sudah?" Rajendra membukakan minuman milik Ignacia setelah Widia turun panggung. Menyodorkan pada pemiliknya sambil tersenyum lebar. "Kamu harus mengisi ulang tenaga."


"Haha terima kasih. Kuharap Widia menang malam ini."


...*****...


Acara puncak akhirnya tiba. Panitia membagikan satu lilin juga mawar merah kepada masing-masing siswa dan tamu undangannya. Foto dengan bunga mawar dilakukan dengan lampu yang menyala sementara saat dengan lilin, lampunya akan dipadamkan. Lilin-lilin itu akan memberi kesan bahwa orang-orang di foto itu adalah kunang-kunang.


Rajendra merangkul bahu kekasihnya di tengah kerumunan orang. Ketika ada laki-laki yang mencoba mendekat, Rajendra dengan sigapnya memindahkan Ignacia ke posisi yang lebih aman. Jauh dari laki-laki. Sebaiknya begitu agar tidak ada yang main-main dengan miliknya.


Miliknya?


Pengumuman pemenang dilakukan setelah melakukan sesi foto. Ignacia tidak ikut naik ke panggung, namun dirinya merasa deg-degan dengan hasil Widia. Dia menggandeng tangan Rajendra dengan cemas. Membuat yang di gandeng bingung.


"Setidaknya Widia bisa mendapatkan juara ketiga atau juara harapan kan?" Gumamnya.


"Oh ada bau ini lagi." Ignacia menoleh pada Rajendra, "ini bau yang kucium saat kita berada di tempat camilan tadi."


Rajendra melepaskan genggamannya pada Ignacia, beralih merangkul di gadis dan membuatnya semakin dekat. "Jangan jauh-jauh dariku." Ignacia menatap kekasihnya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.


"Sebenarnya ini bau apa?"


"Minuman keras," jawab Rajendra dengan suara kecil.


Tidak boleh ada yang mendengarnya karena mungkin akan membuat malam ini berantakan. Biarkan hanya keduanya juga panitia yang tahu soal keberadaan b*r*nd*l di aula. Ignacia tidak ingin melepaskan diri dari Rajendra jika begini. Orang yang sedang tidak sadar bisa membuat keributan.


Bau itu semakin mendekat. Ignacia merasa muak dengan baunya. Yang dilakukan Rajendra selanjutnya adalah membawa Ignacia terus menjauh dari orang-orang itu. Memastikan kekasihnya tetap aman bukanlah hal yang mudah.


"Jika kamu mencium bau itu lagi, tahan saja ya. Aku akan membawamu pergi diam-diam dan menjauhi mereka. Dan jika kamu melihat orangnya, cepat-cepat abaikan. Jangan membuat kontak mata. Mereka berbahaya."


Jika sangat berbahaya, bukankah panitia harus cepat-cepat membawa mereka pergi? Ignacia tidak bisa tenang selama acara berlangsung jika masih mencium bau yang menyengat ini. Orang-orang awam pun pasti bisa menciumnya.


Ignacia berhasil bertahan hingga acara berakhir. Tangannya menggenggam ujung pakaian Rajendra. Untuk berjaga-jaga saja jika nanti Rajendra melepaskan rangkulannya. Siapapun bisa mengambil perhatian Rajendra seperti teman-teman laki-laki itu saat mengambil minum tadi.


"Sebentar lagi aku antar pulang ya."


Rajendra belum melepaskan tangannya ketika bicara. Mengajak Ignacia menepi agar tidak berdesakan setelah berfoto. Ignacia bisa bertahan dengan posisi ini lebih lama. Kenapa Rajendra harus cepat-cepat mengantarnya pulang?


"Kenapa kamu menatapku begitu?" Rajendra baru menyadarinya. Gadis itu terus menatapnya meskipun keduanya tengah berjalan menepi tadi. "Apa ada yang ingin kamu katakan?" Rajendra sedikit mendekatkan telinganya pada si gadis. Agar Ignacia tidak berteriak.


Cup!


Ignacia yang menjadi berani sekarang. Mengecup singkat pipi Rajendra dan langsung mengalihkan pandangan. Rajendra terkekeh pelan, tidak percaya dengan apa yang baru dia dapatkan. Ignacia-nya menjadi berani sekarang.


"Jadi, kamu akan mengantar aku pulang kan?"