Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kupon Hadiah



"Kalian akan mengajak siapa ke acara Bulan Bahasa?" Danita memulai obrolan sambil makan, "kita bisa mengajak setidaknya satu orang ke acara kampus agar lebih meriah. Aku dapat bocoran jika kita akan diminta membuat quote atau puisi untuk orang yang akan kita ajak."


"Siapa yang mengatakannya?" Nesya bertanya.


"Temanku dari jurusan lain. Temannya menjadi panitia untuk acara bulan bahasa ini. Karena berhubungan dengan bahasa, jadinya dibuatlah hadiah kecil itu untuk para undangan." Ide yang bagus, benar-benar terasa bahasanya. Ketentuannya pasti menggunakan bahasa nasional.


"Pengumumannya kapan?" Sekarang Ignacia yang bertanya.


"Mungkin dua Minggu sebelum acara. Membuat quote atau puisi tidak begitu sulit jika ditujukan untuk orang tersayang."


Ignacia akan menulis apa untuk Rajendra? Sebaiknya dia membuat sesuatu yang tidak akan dilupakan laki-laki itu Tapi, apa Rajendra bisa datang dan menerima hasil pemikirannya? Membayangkan Rajendra datang saja sudah luar biasa. Ignacia seharusnya tidak lupa dengan pekerjaan kekasihnya.


Kapan sebaiknya Ignacia mengajak Rajendra untuk datang ke acara kampusnya? Terakhir kali Ignacia mengajaknya berkencan saja Rajendra harus menundanya. Jika kali ini Rajendra juga menundanya, Ignacia tidak harus membuat puisi atau quote itu. Acaranya sudah berlalu.


Keesokan harinya pengumuman muncul. Pengumuman soal bulan bahasa yang harus diketahui para penghuni kampus. Boleh mengundang teman dari luar, menyiapkan puisi atau quote seperti yang dikatakan Danita, lalu akan ada beberapa lomba untuk memeriahkan festival. Membuat cerpen, membaca pusi, musikalisasi puisi, pementasan tari dan drama serta Karya Tulis Ilmiah.


"Aku merekomendasikan Ignacia." Dengan senang hati Danita mengangkat tangannya dan menunjuk teman di sebelahnya untuk menjadi sutradara. "Aku dengar dulu Ignacia pernah menjadi sutradara ketika SMA. Kelompoknya mendapatkan juara pertama seangkatan."


Apa Nesya yang membocorkan rahasia Ignacia?


Orang-orang kini menatap Ignacia sambil menimbang-nimbang. Fakta yang disampaikan Danita membuat semuanya setuju meksipun Ignacia agak malu. Dia baru beberapa bulan mengenal teman-temannya, namun sudah mendapatkan kesempatan yang begitu besar di lomba drama yang diminta seorang dosen.


Tidak semua orang di kelas akan mengikuti drama. Ada yang memilih membuat cerpen dan membaca puisi. Tidak ada perintah agar semua jurusan mengirimkan perwakilan untuk setiap lomba. Namun disarankan untuk minimal mengirimkan perwakilan untuk lomba selain drama yang sudah diwakilkan oleh kelas Ignacia.


Latihan akan dimulai setelah pembuatan naskah dan pembagian peran. Karena hampir semua yang ikut drama pernah mendapatkan pengalaman, jadinya Ignacia tidak harus bekerja ekstra. Dia hanya perlu mengarahkan dan memberikan beberapa saran saja agar terasa lebih nyata.


Karena berhubungan dengan Bulan Bahasa, Ignacia dan kawan-kawan akan membawakan drama yang menyinggung tentang peristiwa besar di balik di peringatinya bulan ini. Peristiwa yang dimana salah satunya adalah pengakuan terhadap bahasa persatuan.


Ignacia tidak memberitahu Rajendra soal dirinya yang akan menjadi sutradara untuk acara besar kampusnya. Biarkan menjadi kejutan jika Rajendra bisa datang. Setuap hari Ignacia berharap agar kekasihnya bisa datang. Ignacia akan membuktikan kemampuannya selama kuliah.


Teman-teman Ignacia mengurus naskah dengan baik. Ignacia baru memberikan gambaran kasar sebuah ide, dan dalam sehari, seorang teman sudah membuat kerangka ceritanya. Katanya dia terinspirasi dari buku dan film yang pernah dia lihat mengenai perjuangan. Setelah mendapatkan persetujuan, latihan pertama dimulai.


Ignacia mulai membagi peran untuk teman-temannya. Untuk para pekerja di belakang panggung dan para aktor yang akan beradu akting. Mengatur teman-teman yang sudah dewasa lebih mudah daripada teman-teman Ignacia dahulu. Mereka lebih paham apa yang mereka bisa lakukan dan menghargai apa yang Ignacia katakan.


Latihan di hari pertama hanya difokuskan pada pembacaan naskah seperti yang dilakukan pada aktor sebelum syuting. Ignacia akan memberitahu para aktor apa yang harus mereka lakukan ketika membaca bagiannya dibantu dengan mereka yang membuat naskah.


Lalu di latihan selanjutnya mereka akan mencoba untuk mengatur posisi di panggung dan tindakan para aktor. Untuk mereka yang ada di belakang panggung juga akan memperhatikan, memikirkan juga properti yang akan disiapkan untuk setiap bab adegannya.


Di istirahat latihan kedua, Ignacia mengajak Danita yang adalah salah satu aktris di dramanya untuk pergi ke kantin membeli minum. Sekalian Ignacia mentraktir teman-temannya minuman dingin karena sudah bekerja keras untuk drama. Sebagai rasa terima kasih karena bersusah-payah menghafalkan dialog.


"Kau keren," puji Danita, "orang-orang kagum padamu karena caramu mengatur mereka. Kamu tegas ketika latihan dan rileks saat jam istirahat. Kamu mengagumkan."


Ignacia selesai memasukkan semua minuman dingin ke dalam kantong plastik. Memberikan satu pada Danita dan biarkan dia yang membawa sisanya. "Aku berusaha agar tidak membuat kalian kecewa. Kelas kita menjadi satu-satunya kelas yang membuat drama. Jadi harus bagus."


"Bagaimana jika membelikan camilan juga untuk yang lainnya?" Ignacia berhenti dan melihat beberapa camilan ringan di etalase kaca kantin. Danita menggeleng, Ignacia tidak harus memanjakan teman-temannya di latihan awal.


"Minuman ini sudah cukup. Lain kali saja jika kita berhasil, sekalian traktir kami makanan," canda Danita.


Sepulang latihan, Ignacia mengecek apakah Rajendra mengirimkan pesan. Seharian ini Ignacia hanya memegang buku mata kuliah dan kertas naskah tanpa melihat ponsel. Bagusnya Rajendra belum pulang bekerja ketika Ignacia sudah sampai di asrama. Jadinya Ignacia tidak perlu mencari alasan.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Sepertinya aku sudah tahu apa hadiahnya |^^^


^^^Apa boleh kugunakan kupon hadiahku? |^^^


| Tentu saja


| Apa yang kamu inginkan?


| Tolong jangan sesuatu yang sulit


^^^Aku ingin bertemu denganmu |^^^


^^^Apakah permintaan itu diterima? |^^^


| Bertemu? Kamu serius?


| Aku harus mengosongkan jadwal


| Kapan kamu ingin bertemu?


^^^Akan ku kirimkan tepatnya nanti |^^^


| Baiklah, akan kutunggu


| Jika bisa, ketika hari libur saja


^^^Tentu saja aku memilih hari libur |^^^


Benak Ignacia dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang menghawatirkan. Dia sangat takut membuat Rajendra kewalahan. Memintanya datang ke kota ini apa tidak merepotkan laki-laki itu? Terlebih dia juga bekerja paruh waktu di restoran yang ramai.


Hari-hari latihan Ignacia berjalan lancar. Semua orang menghafal peran dan tanggungjawab masing-masing bahkan tiga Minggu sebelum mereka tampil. Persiapan sudah hampir selesai. Bahkan kostum yang akan digunakan sudah dipersiapkan, siap dengan make up-nya juga.


Tiga Minggu sebelum festival, Ignacia mengatakan pada Rajendra kapan dia ingin bertemu. Rajendra bilang dia akan mengusahakannya. Baiklah, Ignacia harus optimis. Rajendra akan bisa datang jika Ignacia percaya pada kemampuan kekasihnya. Sambil menunggunya datang, Ignacia akan membuat surat kecil seperti yang dikatakan pengumuman waktu itu.


...Panitia akan menyiapkan kertas dan amplop disertai kue kecil untuk satu tamu undangan yang dibawa oleh mahasiswa....


Ignacia melihat langit-langit ruang kelas yang menjadi tempat kelompoknya berlatih sambil teruduk. Lampu di atas sana, beberapa lampu sudah dihidupkan. Seharusnya mereka semua sudah bisa pulang, namun karena terlalu asik membahas properti dan yang lainnya, jadinya acara pulangnya tertunda.


Mereka akan pulang bersama, keluar dari kelas bersama. Wujud solidaritas katanya. Sambil menunggu tim penata panggung kembali dari toilet, Ignacia dan teman-teman yang lain bersantai di kelas. Tidak melakukan apapun selain mengobrol atau bercanda dengan dialog aktor lain yang mereka hafal.


"Bu Sutradara, kenapa diam saja?" Seseorang menggoda Ignacia, membuat yang dipanggil Bu Sutradara itu berhenti mendongak. "Sini, bergabung dengan kami membahas tempat makan enak," ajak salah satunya.


Ignacia tersenyum kecil, dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri teman-temannya yang tengah duduk melingkar. Mereka begitu asik membahas makanan enak yang ada di sekitar universitas. Ternyata ada banyak tempat makan yang belum dijelajahi Ignacia selama beberapa bulan ada disini.


"Setelah drama selesai, bagaimana jika kita makan di belakang kampus? Ayam bakarnya enak sekali. Dagingnya empuk dan sambalnya sangat terasa cabainya," usul seorang teman perempuan yang ada di hadapan Ignacia.


"Kita tampil setelah pembukaan. Bagaimana bisa kau makan sebelum waktu makan siang? Makan berdekatan dengan sarapan pula," sanggah dia yang baru datang. "Ayo kita pulang sekarang. Kasihan mereka yang sudah lelah berakting."


Ruang kelas dibiarkan tertutup, ditinggalkan begitu saja biar nanti penjaga keamanan yang mengunci. Ignacia berjalan lebih lamban dari teman-teman. Matanya menangkap pemandangan langit purnama. Apa bulan tengah menerangi jalan teman-temannya pulang? Malam ini menjadi lebih terang dari biasanya.


Pikiran Ignacia lalu melayang pada respon Rajendra ketika akan mengusahakan agar datang. Rajendra bahkan tidak bertanya kenapa Ignacia memintanya datang. Apa Rajendra sudah tahu alasan kenapa Ignacia mengundangnya?


"Bu Sutradara," tegur seseorang. Ignacia berhenti, melihat teman-teman yang ada di depannya menatap ke arahnya, "kenapa anda melamun? Apakah ada sesuatu yang lebih penting daripada jalan di depan anda?"


Wajah Ignacia memanas, melihat teman-temannya tersenyum ke arahnya membuat si sutradara merasa malu. "Kenapa kalian menatapku begitu?" Protesnya karena malu.


"Anda sebaiknya melihat ke arah mana anda melangkah. Bagaimana jika anda terjatuh? Kami tidak ingin anda terluka," sahut yang lainnya lalu terkekeh. Kenapa mereka harus menggoda Ignacia dengan kata-kata seperti itu?


...*****...


Lagi-lagi Bagas mendapati teman sekamarnya tengah memerhatikan kalender. Bagaimana jika dia membuang kalender itu saja daripada ditatap tajam oleh si beralis tebal. "Apa yang membuatmu kini menatap kalender tidak bersalah itu? Apa kau tidak ingin tidur saja?"


"Kurasa aku akan pergi keluar kota lagi dalam waktu dekat. Ignacia mengajakku bertemu," sahut Rajendra cepat.


"Oh benarkah? Itu bagus. Kalian bisa bertemu lagi. Aku juga akan pergi keluar kota dalam waktu dekat. Kapan kau akan pergi? Aku pergi akhir bulan ini." Bagas meraih ponselnya yang selesai diisi daya, membawanya ke atas tempat tidur.


Rajendra yang mendengar kalimat terakhir temannya itu pun menoleh, "aku juga akan pergi akhir pekan ini." Keduanya saling pandang sebentar. Kebetulannya terlalu kebetulan.


...*****...


"Kita istirahat sebentar lalu mengulang adegan seperti yang akan kita lakukan di panggung," titah Ignacia.


"Permisi," seseorang muncul di belakang Ignacia, "kamu berusaha sangat keras. Bagaimana hasilnya?" Baru pertama kali Ignacia mendapatkan tamu. Seseorang ini juga menyodorkan minuman dingin untuk si sutradara.


"Terima kasih minumannya. Setelah beberapa latihan lagi, kami akan menampilkan drama dengan sempurna. Rasanya seperti kembali ke masa SMA." Ignacia duduk bersama tamunya, "apa yang kamu lakukan disini, Nesya? Kukira kamu sudah pulang."


Nesya ada kerja kelompok, jadi dia menetap lebih lama di kampus. Dia sengaja melewati kelas Ignacia ketika akan pulang untuk melihat apakah teman sutradaranya ini sudah pulang atau belum. Sekalian saja membelikan minum untuk Ignacia.


Tidak butuh waktu lama hingga Danita juga menyadari keberadaan Nesya di samping Ignacia. Gadis berambut pendek itu juga mendapatkan minuman dingin lainnya. "Aku melihat kalian latihan sejak tadi. Kalian semua melakukannya dengan baik," puji si mata empat.


"Semuanya karena Ignacia mahir mengatur kami. Kalian sudah memutuskan akan mengajak siapa ke festival?" Danita duduk di depan Ignacia, "kue-kue kecil yang akan dibagikan terlihat lucu sekali. Teman penitiaku menunjukkan sekilas padaku."


Orang dalam Danita ini memang hebat.


Dalam perjalanan ke asrama, seseorang menelfon Ignacia. Siapa lagi jika bukan Rajendra? Ada berita bagus untuk gadis berambut panjang ini. Danita memutuskan untuk kembali lebih dulu, membiarkan Ignacia mengobrol dengan kekasihnya tanpa gangguan.


"Aku akan datang, Ignacia. Hanya sehari, aku tidak bisa menetap. Jangan menjemputku, aku yang akan menghampiri kamu ke asrama."


Ignacia tersenyum sangat lebar, "kamu benar-benar akan datang? Aku akan menunggumu, Rajendra."


Baiklah, kalau begini, Ignacia harus mempersiapkan dramanya dengan sangat baik. Tamu undangan terhormatnya datang. Dan juga--surat kecil yang akan diberikan harus dipersiapkan. Apa yang harus Ignacia katakan pada Rajendra? Apalagi kertas yang dia dapatkan tidak besar.


"Apa yang kau tulis untuk Bahri?" Ignacia bertanya pada Danita. Sudah beberapa hari Ignacia mencoba mengisi surat, namun belum mendapatkan inspirasi. Mungkin Danita bisa memberikannya sedikit saran.


"Aku akan berkata jika aku mencintainya lebih dari apapun? Haha kurasa aku akan menulis itu. Aku kurang bisa mengungkapkan rasa sayang lewat pesan singkat." Danita menatap luar jendela ruangan, "aku lebih suka menunjukkan perasaan lewat kebersamaan."


"Hampir sama seperti Rajendra ya?" batin Ignacia.


"Oh ya, kamu tidak bisa meninggalkan kampus karena drama kita tampil setelah pembukaan. Bagaimana Rajendra akan datang? Aku khawatir dia tersesat." Danita berganti menoleh pada temannya. Dia benar juga, kampus akan ramai oleh para tamu undangan dan mahasiswa.


Ignacia mengangkat bahu tidak tahu, dia juga sedang memikirkan hal itu sejak semalam. Minggu depan akan segera datang. Dia hanya bisa berharap Rajendra bisa menemukan jalan ke panggung di lapangan besar kampus.


"Ignacia, ayo berlatih dengan properti lagi," ajak seorang teman yang sudah siap membawa properti di tangannya. Mau tidak mau sekarang latihannya kembali dimulai. Mereka hanya punya satu Minggu untuk menyelesaikan latihan.


Seminggu berubah menjadi tiga hari dalam sekejap. Ignacia mengutak-atik ponselnya untuk melihat jadwal kereta. Rajendra bilang dia akan pergi menggunakan kereta pagi. Jika masih ada waktu, Ignacia bisa menjemputnya dari stasiun dan pergi ke kampusnya bersama-sama kan?