Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kesibukan Lain



Danita meletakkan segelas teh hangat di samping kepala gadis yang ada di atas meja. Tangannya diletakkan di bawah meja, menunggu gadis di hadapannya kembali mengangkat wajah yang terlihat sangat lelah tadi. "Jadi... sesuatu terjadi?" Sayangnya Danita tidak menyukai keheningan.


"Aku tidak mendapatkan izin," jawab Ignacia. Masih dengan posisi yang sama. Rambutnya yang tidak diikat menjuntai di sekitar kepala. Membuatnya tampak agak menyeramkan karena sekarang juga sudah malam.


Ignacia kebetulan bertemu dengan Danita yang baru pulang dari toserba saat dirinya tengah membuang sampah daur ulang. Melihat wajah tidak menyenangkan Ignacia, Danita pun berinisiatif untuk mengajaknya minum teh di pantry asrama. Tempatnya ada di lantai satu sama seperti tempat daur ulang.


"Soal pekerjaan paruh waktu?" Danita menebak-nebak.


Ignacia mengangguk, masih dengan posisi yang sama. Rasanya kepalanya berat sekali. Apalagi setelah ayahnya muncul dan mengatakan sesuatu yang membuatnya agak tidak nyaman.


"Bagaimana respon mereka saat mendengar permintaanmu? Apa yang orang tuamu katakan?" Danita mengambil cangkir teh miliknya, meminumnya perlahan dengan tatapan yang masih di tujukan untuk tetangga asramanya.


Pertanyaan itu membuat Ignacia terduduk. Dia memperbaiki posisi duduknya sebelum bicara. "Kata mama akan dirundingkan dengan ayah. Tapi sebelum aku sempat memutuskan panggilan, ayah muncul dan mama menceritakan semuanya. Ayahku menentang dengan keras soal keinginanku."


"Ayah bilang jika aku tidak perlu berusaha mencari uang di awal kuliah karena mereka bisa membiayai aku hingga lulus nanti. Tapi aku ingin mencari pekerjaan bukan soal uang. Aku sudah bilang pada mereka. Tapi mereka tetap menentang dan berkata jika aku hanya perlu menjadi mahasiswi terbaik."


"Aku tidak bilang akan mencari uang untuk biaya kehidupanku disini. Aku juga tidak seperti meremehkan mereka soal keuangan. Tapi ayah bicara seperti itu seolah-olah aku mencemooh mereka dengan ingin mencari pekerjaan paruh waktu. Padahal pekerjaan itu bagus."


Untuk pertama kalinya Danita melihat Ignacia yang bicara panjang lebar. Gadis berambut pendek ini masih memegang cangkir teh di tangannya. Bahkan dia belum sempat meminum tehnya sendiri. Pergerakannya seolah tersendat karena cerita panjang teman di hadapannya.


"Kalau begitu kau bisa melakukan kesibukan lain, Ignacia. Apa hobimu? Itu bisa menjadi kesibukanmu nanti."


"Yang kulakukan hanya membaca novel. Aku berhenti membeli novel fisik setelah seminggu berada di kota ini. Apa aku harus kembali membaca novel online saja? Tapi itu artinya aku akan memegang ponselku lebih lama. Itu membuat mataku sakit."


"Ya itu juga bisa. Kamu tidak harus sibuk setiap waktu, Ignacia. Atau mungkin ikut lomba kepenulisan karena kau sudah memiliki bekal membaca banyak novel. Atau kau ingin meminjam novelku? Rumahku ada di daerah yang tidak begitu jauh, aku bisa meminta orang tuaku mengirimkan beberapa novelnya ke asrama. Bagaimana?"


Kalau begitu Ignacia yang akan merepotkan. "Tidak, aku akan mencari jalan keluar sendiri. Yang tidak merepotkan seseorang yang kukenal tentunya."


Tangannya akan meraih cangkir teh, namun tiba-tiba urung. Danita menggeser cangkir itu hingga mendekati Ignacia sebelum kembali bertanya. "Memangnya kenapa kau tiba-tiba ingin mencari pekerjaan paruh waktu? Aku sudah bersamamu cukup lama, dan berita ini agak mengejutkan."


Apa Ignacia harus jujur saja? Lagipula Danita pasti lebih memahami ini daripada Nesya karena juga memiliki kekasih.


"Kekasihku mendapatkan pekerjaan paruh waktu. Dia membuatku kesepian belakangan ini. Dia sering datang di beberapa waktu, namun hanya sangat sebentar. Aku ingin memiliki pekerjaan seperti dia juga. Karena... aku tidak ingin merasakan sepi lagi."


Gadis berambut panjang itu mengalihkan pandangan ke teh yang ada di dalam cangkirnya. Nada bicaranya semakin pelan di akhir kalimat. "Dia sering meninggalkan aku karena organisasi saat SMA. Jadinya aku agak merasa Dejavu. Dia akan sibuk dan membuatku merasa ditinggalkan lagi."


Danita meletakkan cangkir tehnya, mengulurkan tangan untuk menepuk bahu si teman. "Aku mengerti perasaanmu. Tapi jika kau tidak mendapatkan izin, kau mungkin akan kesusahan nanti. Kau tidak mungkin akan terus menutupi pekerjaan yang kau dapatkan nantinya."


Benar. Danita lebih bisa mengerti.


"Kalian sudah sama-sama dewasa sekarang. Kekasihmu mungkin akan lebih bisa membagi waktunya untukmu, kuliahnya, dan pekerjaan barunya. Laki-laki itu memang seharusnya bekerja, jadi kamu tidak perlu mengimbanginya jika tidak mendapatkan izin. Lagipula aku bisa menemanimu jika kesepian."


"Bukan begitu," Ignacia mengambil jeda sebentar, "aku tidak mencoba untuk mengimbangi. Aku hanya ingin lupa jika sedang menunggunya. Kami sudah lama tidak bertemu. Yang aku harapkan hanya kabar darinya."


Di gadis meneguk tehnya sedikit. Sudah dingin karena sudah lama dibiarkan.


Gadis berambut pendek dengan jepit rambut berwarna merah di hadapan Ignacia itu melipat tangan di depan dada. Dia tahu betul jika berhubungan jarak jauh memang tidak bagus. Tidak bertemu dengan seseorang yang disukai tentu menyiksa.


"Kau tahu, aku dengar akan ada festival bulan bahasa dua sebentar lagi. Bagaimana jika kau ikut organisasi BEM saja? Kau bisa sibuk mengurus acara itu nanti. Bukankah mereka semacam organisasi OSIS? Maksudku mereka akan sibuk jika ada acara-acara resmi di kampus."


"Bukankah agak terlambat untuk itu? Pendaftaran pasti sudah ditutup. Aku juga tidak bisa terlalu lama sibuk dengan masuk organisasi seperti itu, Tata. Aku tidak pandai bergaul dan selalu canggung di dekat orang baru."


"Benar juga. Kalau begitu kau membaca novel online saja. Biar tidak menunggu kekasihmu hingga waktunya dia mengirimkan pesan. Mau kubantu mencari novel yang bagus?" Danita sangat ingin membantu. Namun Ignacia menggeleng. Katanya dia bisa mencarinya sendiri.


...*****...


"Aku bingung bagaimana harus membantunya." Danita menarik selimutnya hingga menutupi kedua kaki. Memindahkan ponsel ke telinga kiri. "Aku bisa melihat jika Ignacia tampak kecewa padahal dia tahu jika kekasihnya senang mendapatkan pekerjaan. Dia senang, namun tidak ingin ditinggalkan."


"Mungkin dia sering ditinggalkan hingga bisa merasa sangat hampa jika ditinggalkan sendirian oleh orang yang disukainya. Kabarnya laki-laki itu adalah anggota organisasi."


"Menurutmu bagaimana?" Membicarakan seseorang bukanlah sesuatu yang disukai Danita. Namun siapa lagi yang bisa dia ajak berdiskusi. Danita baru mengenal Ignacia. Tapi rasanya sangat tidak nyaman jika tidak membantu.


"Aku tidak mengenalnya, jadi aku tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Hal paling bagus adalah dengan menekuni hobinya. Jika tidak begitu dia bisa melakukan apa saja untuk membantu kuliahnya."


"Aku juga mengatakan itu. Dia akan membaca novel online karena tidak diperbolehkan sering-sering membeli buku fisik. Tapi membaca novel online terlalu lama bisa membuat matanya lelah. Aku juga tidak tahu banyak tentang dia, jadi aku bingung. Apa yang harus kulakukan?"


"Kenapa tidak membuat kelompok belajar saja? Kalian dari jurusan kesastraan. Mungkin membaca satu buku dan membahasnya bersama? Apa istilahnya ya? Aku lupa."


Oh Danita jadi ingat sesuatu. "Bedah buku!"


"Sepertinya benar. Kalian sama-sama menyukai buku. Jadi kenapa tidak ikut klub itu saja? Aku yakin disana ada klub semacam itu. Kampus kalian adalah kampus terbaik."


Benar juga. Apa mungkin Danita harus mencari klub itu dan mengajak Ignacia bergabung? Jika tidak begitu, dia bisa membuat kelompok belajar yang mengikutsertakan Ignacia. Baiklah, Danita akan membuat temannya melupakan masa-masa menunggunya dengan cepat.


...*****...


"Ya, sedikit. Setelah mendengar suaramu, aku jadi bersemangat. Apa yang kamu lakukan di kelas hari ini, Ignacia? Aku yakin kamu memiliki cerita menarik."


"Tidak ada yang menarik. Aku hanya melakukan kegiatan yang sama setiap hari. Pergi kuliah, makan siang dengan Nesya atau Danita. Malamnya menghubungi kamu. Oh tapi hari ini aku membaca novel online. Aku tidak bisa membeli novel baru, jadinya aku akan kembali membaca novel online seperti beberapa waktu dia SMA."


"Jangan terlalu lama membaca, matamu bisa lelah. Kamu sudah makan, Ignacia? Kamu terdengar lemas."


Ignacia tersenyum kecut, "tentu saja aku sudah makan. Sekarang sudah hampir waktunya tidur. Kamu tidak melewatkan makan, Rajendra? Kamu banyak beraktivitas."


"Aku malah semakin banyak makan karena bekerja sebentar, haha. Ignacia, sebentar lagi ulang tahunmu. Apa yang kamu inginkan untuk hadiah ulang tahun?" Si gadis sedikit tersentak mendapatkan pertanyaan itu. Bulan kelahirannya sudah akan datang lagi? Rasanya lebih cepat.


"Aku bisa mendapatkan hadiahku sendiri, Rajendra. Terima kasih untuk perhatianmu."


"Tapi aku ingin memberikan sesuatu untukmu. Aku akan berusaha untuk mendapatkannya untukmu."


"Jika aku ingin kamu datang, bagaimana? Aku ingin kamu jadi hadiah ulang tahunku."


Rajendra tidak menjawab. Jeda yang ada membuat Ignacia terkekeh kecil. Rajendra tidak akan bisa memberikan hadiah semacam itu untuknya. Ignacia menang. Berhasil membuat laki-laki yang ingin mengetahui hadiah yang diinginkan Ignacia itu diam. Tidak bisa menjawab.


"Aku bercanda, Rajendra. Kamu menganggapnya serius? Aku tahu posisi kita sekarang ini. Jadi mana mungkin aku akan meminta hal semacam itu. Aku bisa mengurus ulang tahunku sendiri, Rajendra. Jangan terlalu memikirkannya."


Ignacia menatap langit-langit kamar. Pencahayaan yang cukup membuatnya mengingat langit kamarnya sendiri. Kamar dengan banyak buku di sebuah rak. Tidakkah malam yang lenggang ini sangat sempurna jika ditambah dengan buku baru?


"Ignacia, apa tidak ada hal lain yang kamu inginkan sebagai hadiah ulang tahun? Aku juga ingin bertemu denganmu. Sangat ingin malah. Tapi kamu tahu sendiri sekarang bagaimana. Jarak kita terlalu jauh."


Rajendra masih bersikeras dengan hadiahnya? Tapi kenapa harus hadiah lain jika ada satu hal yang begitu diinginkan Ignacia? Tapi ya sudahlah.


"Entahlah, aku tidak begitu memikirkan hadiah. Apa aku bisa memberitahumu apa yang kuinginkan setelah mendapatkan ide? Lagipula ulang tahunku belum begitu dekat."


...*****...


Sudah waktunya makan siang. Restoran milik keluarga teman Rajendra akan semakin ramai. Sebelum jam makan siang saja sudah banyak pengunjung. Apalagi jika perut semua orang sudah harus diisi kembali setelah kegiatan sedari pagi.


Ada dua lantai, dan dua-duanya penuh dengan pengunjung. Kebanyakan berstatus keluarga kecil dan keluarga besar karena tema restorannya juga untuk keluarga. Tapi tak jarang para pasangan muda juga datang untuk sekedar menikmati suasana hangat.


"Rajendra, ini pesanan meja sembilan." Seorang juru masak buru-buru meletakkan pesanan di atas meja. Membiarkan rekan kerja barunya mengantarkan makanan ke meja yang dikatakannya.


Buru-buru yang diberi tugas melakukan pekerjaannya agar para pengunjung tidak menunggu terlalu lama. Dirinya sendiri juga akan kesal jika makanan yang sudah dipesan sejak tadi belum juga datang. Dengan hati-hati Rajendra meletakkan pesanan di atas meja, memberikan senyuman agar pengunjungnya tidak merasa kesal.


"Selamat menikmati," ucapnya sebelum kembali ke dapur untuk mengantarkan pesanan selanjutnya.


"Rajendra, ini meja satu. Setelah mengantar jangan lupa bersihkan meja yang sudah kosong. Orang-orang masih akan datang hingga satu jam kedepan."


Rajendra mengangguk patuh. Melakukan semuanya tanpa mengeluh dan menjadi seramah mungkin. Rajendra tidak akan mengeluh sampai apa yang dia cita-citakan terwujud. Senyuman selalu merekah dikala Rajendra mengingat akan keinginannya di masa depan meksipun rasa lelah seringkali merasukinya. Yang penting pekerjaan ini akan membantunya nanti.


"Kau tersenyum diam-diam lagi," seseorang mengejutkan Rajendra. Seorang teman yang membantunya mendapatkan pekerjaan seperti sekarang. Dia mengambil tempat di samping Rajendra, memberikan minuman kaleng pada temannya. Bisa dilihatnya jika Rajendra masih tersenyum samar.


"Memikirkan apa hingga tersenyum begitu? Halaman belakang ini bisa menjadi berbahaya jika pikiranmu kosong dan tidak fokus, Rajendra. Aku tidak menerima jawaban 'tidak apa-apa' yang biasa kau katakan padaku. Apa ini soal rencana besarmu di masa depan? Atau tentang kekasihmu? Kau merindukan dia?"


Temannya bicara panjang lebar. Rajendra belum menjawab. Membiarkan keheningan setelah ucapan temannya diselingi dengan kegiatannya membuka minuman kaleng yang dia dapatkan. Ditegukmya minuman itu sedikit kemudian membuka suara. Tatapan matanya tampak menerawang ke arah langit malam gelap tanpa bintang.


"Menurutmu apa yang bisa membuatku tersenyum seperti yang kau katakan tadi? Kau pasti tahu jawabannya. Lantas kenapa terus bertanya seolah-olah tidak tahu?"


Temannya menoleh, "karena kau tidak pernah mengatakannya secara langsung agar aku paham. Bukankah seharusnya orang yang memiliki pacar itu pandai menjelaskan sesuatu? Tapi yang kulihat, kau beberapa kali menyembunyikan sesuatu."


"Kenapa juga aku harus berbagi denganmu?" Rajendra bangkit. Mengencangkan apron yang dia gunakan sebelum meraih minuman kaleng yang tadinya dia letakkan di sisi. "Lebih baik aku cepat selesaikan pekerjaan ini agar bisa pulang."


"Untuk menghubungi kekasihmu? Tidakkah ini sudah terlalu larut? Setelah ini kita harus menyiapkan dekorasi untuk acara besok. Sudah katakan pada kekasihmu jika kau akan sibuk?"


Temannya ini tahu banyak karena juga memiliki kekasih. Dia ingin memastikan hubungan temannya berjalan lancar seperti yang dia lakukan selama ini. Dia tahu betul jika seorang wanita tidak suka merasa tidak dipedulikan oleh pasangannya. Apalagi jika mereka tidak bisa bertemu karena jarak.


"Akan kukatakan setelah pulang nanti. Dia sepertinya sudah tidur. Akan ku kirimkan pesan saat dia bangun besok."


Temannya ikut bangkit, menepuk pundak Rajendra pelan, "hei kau seharusnya tidak meremehkan pesan. Siapa tau kekasihmu ini sedang menunggu. Mungkin dia mengerjakan tugas dan menunggu pesanmu. Kukira kalian berkencan selama lebih dari empat tahun. Bukan begini caranya menjalankan hubungan."


"Apa maksudmu?"


"Jangan membuat kekasihmu kesepian hanya karena kau memiliki kesibukan lain. Kirimkan pesan ketika kau bisa, jangan jika kau sempat. Rasanya akan berbeda."