Beautiful Monster

Beautiful Monster
Jalan-jalan Sore



Ignacia meletakkan dagunya pada bahu kiri Rajendra, masih ada banyak topik yang ingin mereka bagi. Waktu kencan mereka tidak akan bertahan selamanya hingga mengobrol ringan adalah sesuatu yang bisa membuat keduanya merasa lebih dekat. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajah si gadis, membawa sedikit aroma khas Rajendra.


"Ignacia, untuk kencan selanjutnya bagaimana jika kita berkeliling di kota rantauan kita? Yang pertama di kotamu selanjutnya di kotaku." Rajendra sesekali menoleh, memastikan kekasihnya mendengar apa yang dia katakan. Setelahnya kembali fokus pada jalanan di depan.


"Bukankah kita sudah pernah berkeliling di kotaku? Kamu ingin berkeliling disana lagi?"


"Kali ini kita menelusuri jalanan dan berhenti di tempat yang menarik. Ya berkendara tanpa tujuan sambil melihat jalanan kota. Bagaimana?"


Kedengarannya menarik. Dengan begitu Ignacia bisa terus bersama Rajendra seharian kan? Oh tunggu sebentar. Bagaimana Ignacia akan mendapatkan izin untuk pergi bersama Rajendra? Tempat yang mereka akan tuju juga bukan tempat yang dekat. Berbeda jika di tempuh menggunakan kereta. Ignacia yakin dirinya akan kena marah untuk itu.


Rajendra terlalu bersemangat dengan idenya hingga lupa tentang urusan perizinan Ignacia. Kekasihnya punya orang tua yang berbeda dengannya dalam segi memberikan izin. "Kalau begitu rencana tadi kita gunakan setelah kamu bisa mendapatkan izin saja, Ignacia. Untuk kencan selanjutnya ... Kamu ingin pergi kemana?"


Sejujurnya rencana tadi seru, menghabiskan banyak waktu melihat-lihat kota. Apalagi jika sudah mulai sore, lampu jalan menyala begitu cantik di sepanjang sudut kota. Untuk menjawab pertanyaan Rajendra itu Ignacia tidak punya jawabannya. Mereka mungkin bisa pikiran nanti setelah jalan-jalan hari ini selesai.


Diam-diam Ignacia mengeratkan pelukannya pada Rajendra. Tidak mau melewatkan sedikitpun momen yang bisa membuatnya merasa nyaman ini. Di sisi lain, Rajendra yang bisa merasakan pinggangnya dipeluk lebih erat tersenyum di balik kaca helm. Ingin rasanya membalas pelukan ini lalu mengecup puncak kepala gadisnya.


Laju motor Rajendra perlahan menurun. Berhenti tepat di lampu yang sudah berubah merah. Si laki-laki tidak mendengar suara apapun dari Ignacia. Ketika dilihat melalui spion, rupanya seseorang yang duduk di belakangnya seolah tertidur di bahunya. Rajendra menepuk pelan paha Ignacia, berniat membangunkan.


"Ignacia, kamu tidak sedang tidur kan?"


Suara dari belakang menyahut, "Tentu saja tidak. Jika aku tertidur, waktu yang kita habiskan akan semakin pendek." Ignacia menunjukkan wajahnya, menatap ke arah spion yang digunakan Rajendra. Wajah kekasihnya tampan sekali disana. Alis tebal dan sorot mata tegas, begitu sempurna bak hasil karya.


Motor Rajendra kembali melaju, membela kepadatan kota di jam pulang kerja. Sebentar lagi langit akan dipenuhi dengan semburat oren kemerahan dan beberapa kelompok burung yang dalam perjalanan pulang. Ketika matahari akan kembali bersembunyi itulah Rajendra menanyakan sesuatu yang sudah ia pendam beberapa bulan terakhir.


Bertanya bagaimana pendapat Ignacia jika Rajendra mengundang kekasihnya ini datang ke rumah untuk bertemu dengan orang tua Rajendra untuk pertama kalinya. Jika sudah begini, keseriusan Rajendra sudah terlihat kan? Ia bahkan terlihat berani memperkenalkan kekasihnya pada keluarga tercinta.


Ignacia tidak keberatan, justru sangat setuju jika Rajendra mengajaknya bertemu dengan kedua orang tuanya. Agar Ignacia tidak hanya mengenal anak ketiga dari keluarga itu saja. Mungkin Ignacia bisa mengambil hati kedua calon mertuanya dan- Ignacia bisa mengenakan baju pengantin yang sangat cantik. Eh?


Si gadis mengharapkan pemberitahuan beberapa hari sebelumnya jika Rajendra sungguh akan mengundangnya datang ke rumah. Ignacia perlu mempersiapkan penampilan juga mental agar terlihat sempurna. Lalu ia juga harus berguru pada Kemala jika saja temannya itu sudah pernah di ajak menemui orang tua pacarnya. Agar Ignacia tidak salah langkah saja.


Rajendra menambahkan jika kedua orangtuanya sering mendengar cerita soal Ignacia dari Rajendra sendiri. Ignacia tidak perlu takut jika saja nanti dirasa tidak dikenal. Entah cerita apa yang laki-laki itu sampaikan, semoga nanti bisa mempermudah Ignacia agar diterima ketika bertemu.


Laki-laki ini juga bilang jika keluarganya pasti menerima Ignacia karena dia cantik. Soal cerita-cerita kencan menyenangkan sebagian sudah Rajendra ceritakan juga, kedua orang tua Rajendra tertarik untuk bertemu secara langsung. Tidak tahu kapan, yang penting sudah direncanakan.


Wah Ignacia menjadi gugup. Apa sebaiknya ia berguru pada Kemala dalam waktu dekat? Balik Ignacia yang bertanya. Apakah Rajendra mau jika Ignacia berniat memperkenalkan dirinya pada kedua orang tuanya. Pasti lebih berat bertemu dengan orang tua Ignacia daripada sebaliknya.


Ayah Rajendra sudah mengenal Ignacia sedangkan ayah Ignacia bahkan tidak tahu jika Rajendra hidup di dunia ini. Setidaknya itu yang Ignacia pikirkan ketika Rajendra menoleh sebentar ke arahnya. Bukan hanya Rajendra yang gugup semisal rencana Ignacia ini berhasil. Ignacia, mamanya, dan Athira ostu juga gugup. Mengingat ayahnya pernah keras menentang pacaran.


Rajendra juga mengharapkan pemberitahuan beberapa hari sebelumnya agar lebih berani. Rajendra bisa bertanya pada kakak laki-laki atau kakak iparnya cara agar disambut baik oleh calon mertua. Sekalian cara agar mendapatkan hati ayah perempuan yang ia sayangi ini.


Oh ya di wisuda Ignacia, kedua orang tuanya pasti akan hadir. Lalu bagaimana Rajendra akan menemui kekasihnya? Apa ia harus muncul membawa buket bunga dan berkenalan dengan orang tua Ignacia? Kedengarannya cukup berani, tapi apa Rajendra cukup berani melakukannya?


Daripada pusing sendiri, Rajendra ingin membicarakannya dengan Ignacia ketika makan malam nanti.


Langit sudah semakin gelap, memberikan sinyal untuk Rajendra segera membawa kekasihnya untuk makan sesuatu. Kini arah motor yang awalnya tidak menentu jadi punya tujuan. Ignacia tidak tahu ingin makan apa jadi Rajendra akan membawanya ke tempat biasa dirinya dan Keuda orang tuanya makan.


Tidak ada yang bisa menolak olahan mie di tempat makan itu.


Ignacia berjanji akan pulang setelah makan malam. Jadi sebelum mengantarkan kekasihnya pulang, Rajendra bertanggung jawab membuat Ignacia kenyang sebelum kembali ke rumah. Kencan kali ini terasa begitu singkat padahal sudah bersama sedari siang hingga malam. Kapan waktu bisa berputar sangat pelan hingga Ignacia benar-benar puas berkencan?


Omong-omong soal pertanyaan Rajendra tadi tentang membawa Ignacia ke rumahnya itu sungguh untuk membuktikan sesuatu kan? Apa semua orang yang di ajak bertemu dengan orang tua artinya lampu hijau untuk terus melanjutkan hubungan? Jika orang tua Rajendra penasaran dengan Ignacia, itu juga termasuk lampu hijau lainnya?


Rajendra bingung dengan tatapan seolah tengah membaca pikiran yang dilayangkan Ignacia. Sorot matanya begitu kemana arah Rajendra pergi tanpa alasan. Beberapa kali Rajendra seolah menyadarkan kekasihnya hingga tatapan Ignacia berubah kembali. "Kenapa kamu menatapku begitu? Apa ada sesuatu yang salah? Kamu ingin sesuatu."


"Tidak, aku hanya penasaran bagaimana bisa aku bertemu dengan laki-laki sebaik kamu." Ignacia jelas mengarang, hanya saja pembawaan dan cara bicaranya meyakinkan Rajendra. "Aku berterima kasih sekali pada nilai baikku hingga bisa masuk ke kelasmu, Rajendra."


"Menurutmu, jika kita tidak bertemu di kelas itu, bagaimana kita bisa saling mengenal?" Tiba-tiba saja Ignacia terpikirkan itu. Secara selama ini yang membuat keduanya terus bertemu adalah kelas acak yang dibuat ketika keduanya berada di SMP. Kelas yang membuat mereka pertama dan terakhir kalinya menjadi teman sekelas.


Rajendra tidak punya jawaban untuk itu. Tidak pernah terpikirkan bagaimana nasib keduanya jika saja tidak bertemu beberapa tahun yang lalu. Dan sebuah ingatan terlintas di benaknya. "Mungkin aku bisa mengenalmu ketika kamu tampil dengan Bagas. Kamu terlihat sangat cantik disana."


Satu pukulan mendarat di lengan Rajendra, membuat yang mendapatkan serangan meringis kesakitan. Melihat wajah malu Ignacia membuat Rajendra ingin terus berbuat iseng. Gadis di sebelahnya ini pasti mengingat soal ciuman pertama yang Rajendra ambil karena cemburu. Kenapa laki-laki itu harus ingat soal masa-masa yang tidak Ignacia sukai.


Bukan masalah ciuman yang ia curi, tapi masa-masa sulit yang Ignacia hadapi selama latihan. Soal Rajendra yang jadi berbeda dan membuatnya tidak nyaman. Yang penting sekarang tidak akan ada drama lain yang bisa membuat Rajendra kesal. Tidak akan ada pria yang menyentuhnya selain Rajendra.


"Kamu aktris yang hebat, Ignacia. Kamu profesional sekali."


Ignacia menghembuskan nafas kesal, "Sudahlah jangan membahas itu. Aku tidak menyukainya."


"Kamu tidak kembali menyukai mantanmu setelah waktu latihan yang kalian habiskan bersama. Kamu keren sekali."


"Mana mungkin aku menyukai laki-laki itu lagi!" Nada bicara Ignacia menajam. Sorot matanya sungguh menunjukkan rasa benci ketika Rajendra menyebutkan status Bagas. "Sudahlah, aku tidak ingin dengar soal itu. Yang ingin aku dengar, kamu pasti akan datang ke acara wisudaku. Kita bertemu diluar gedung prosesi. Bagaimana?"


Air wajah Ignacia kembali santai. Pandai sekali ia mengubah ekspresi dalam seperkian detik seolah tidak terjadi apa-apa. Pasti ini kehebatan aktris. Mengingat ada hubungannya dengan jurusan dan tugas drama yang Ignacia bintangi sebelumnya.


"Bagaimana aku bisa menemui kamu jika kedua orang tuamu juga ada disana? Apa adik-adikmu juga ikut? Bagaimana aku bisa meminjam kamu sebentar nanti? Kamu bisa membantuku mengenalkan diri kan?" Ignacia melihat keberanian di mata Rajendra. Laki-laki ini tidak berniat muncul diam-diam dan segera pergi. Pasti sudah lelah bersembunyi.


Ignacia bisa membantu untuk mengenalkan Rajendra, setidaknya itu yang ia pikirkan. Ayahnya sudah pernah menyinggung soal laki-laki baik yang menjaga Ignacia kan? Pasti sudah saatnya mengenalkan laki-laki yang di maksud pada ayahnya. Semoga baik Ignacia maupun Rajendra bisa mendapatkan keberanian yang cukup.


Hanya kedua orang tua Ignacia yang akan datang ke wisuda. Athira diminta menjaga kedua adiknya di mobil sementara ayah dan mama melihat sang kakak diwisuda. Ignacia bisa dengan nyaman memperkenalkan kekasihnya pada ayah dan mama tanpa gangguan apapun. Jika keberuntungan berada di pihak mereka, ayah Ignacia tidak akan marah dan kecewa.


Ketika sudah waktunya pulang, Ignacia masih setia meletakkan dagunya di bahu kekasihnya. Obrolan yang mereka punya mulai terbatas. Untuk rencana kencan selanjutnya Ignacia masih belum punya ide. Jika izin yang ia inginkan berhasil di dapat, maka selanjutnya mereka akan berkeliling ke kota rantauan.


"Jika aku punya ide, akan aku kirimkan pesan," kata Rajendra.


Rumah Ignacia semakin dekat sementara si gadis pemilik rumah masih enggan untuk berpisah. Selalu seperti ini, Ignacia seolah tidak ingin kembali ke rumah jika itu bisa membuatnya lebih lama bersama Rajendra. Dia tidak punya pilihan selain bertengkar dengan diri sendiri agar tampak mampu menunggu hingga jadwal kencan selanjutnya.


"Terima kasih sudah mengajakku makan es krim dan jalan-jalan malam ini. Kabari aku jika kamu sudah sampai di rumah."


Satu kecupan singkat Ignacia berikan pada pipi dingin Rajendra. Keduanya saling menyunggingkan senyum sebelum si gadis melangkah masuk. Rajendra masih setia berdiri di samping motornya sambil membawa helm. Perasannya selalu senang ketika mendapati langka ringan Ignacia masuk ke dalam rumah setelah kencan keduanya.


Perlahan ia kembali memakai helm dan duduk di atas motor. Mesin di nyalakan lalu melesat pergi kembali ke jalan raya di luar perumahan. Semoga ia cepat mencari ide agar bisa bersama Ignacia lebih lama. Biar Rajendra yang memutuskan jika Ignacia tidak bisa memberikan saran layaknya pria sejati.


Di rumah, Rajendra disambut oleh ibunya. Wanita itu duduk di teras seolah sudah menunggu kedatangan anak bungsunya ini. Rajendra tidak dipasrahkan membeli apapun, tidak ada alasan untuk terlihat begitu menunggu. Ketika Rajendra sudah memakirkan sepeda motornya dengan sempurna serta melepas helm, barulah wanita itu bersuara.


"Apa Ignacia tidak keberatan jika berkenalan dengan ayah dan ibu?" Rupanya soal apa yang keduanya bicarakan sebelum Rajendra berangkat berkencan. Melihat anak laki-lakinya mengangguk, wanita yang disebut ibu oleh Rajendra ini tersenyum kecil. Senang rasanya anak laki-lakinya ini memiliki kekasih yang baik.


"Oh ya, besok kamu mau ikut ke rumah teman Ibu?"


Rajendra menoleh cepat, "Ikut kemana? Kurasa kita tidak punya janji apapun besok."


"Besok Ibu ingin memperkenalkan kakakmu dengan anak teman Ibu. Kamu tahu sendiri jika kakakmu tidak bisa menyukai perempuan lain setelah dikhianati. Mungkin Ibu bisa menjodohkan dia dengan seseorang." Rajendra setuju dengan ucapan ibunya. Sudah lama sekali kakaknya tidak bergaul dengan perempuan. Kakaknya sibuk bekerja tanpa peduli pada perempuan beberapa tahun terakhir.


Mungkin Rajendra sebaiknya ikut untuk mengetahui reaksi kakaknya ketika akan di jodohkan diam-diam. Besok akan menjadi seru jika perjodohannya berhasil. Tuhan maha membolak-balikkan hati kan? Niat baik ibunya mungkin akan berhasil jika Tuhan juga ikut campur. Kabarnya ayah Rajendra juga tahu soal rencana istrinya.


Di dalam, Rajendra mendapati kakak keduanya duduk di meja makan bersama mie instan sambil menonton sebuah berita di ponselnya. Sikap kakaknya tergolong santai menghadapi segala sekarang, mungkin sudah lelah bersusah hati bertahun-tahun lalu. Sesantai apa lagi kakaknya jika akan dikenalkan dengan seorang perempuan besok?


Rajendra melanjutkan langkah masuk ke kamar. Sebaiknya ia cepat beristirahat agar bisa menemani ibu dan kakaknya besok. Omong-omong apa yang harus dilakukan Rajendra ketika ibunya mencoba untuk mendekatkan anak keduanya pada seorang perempuan yang beliau inginkan? Tidak mungkin Rajendra juga akan ikut campur.