
Miho tak menyerah untuk berkelana mencari Yujiro. Namun saat ini dirinya membutuhkan senjata. Miho tak mungkin menggunakan tangan kosong ketika ada bahaya seperti anak buah Senzo atau Keizo datang padanya.
Oleh karena itu, hal yang pertama Miho pikirkan saat ini adalah mendapatkan senjata dari seseorang. Ia pergi mendatangi Yosuke, kekasih Rin yang merupakan pengrajin pedang dan senjata lainnya.
"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Yosuke yang datang menghampiri Miho.
"Maafkan aku mengganggu pekerjaanmu," kata Miho yang membuat Yosuke menggelengkan kepala.
"Aku sedang tidak sibuk. Ada apa? Kau tidak kemari bersama... Rin?"
"Ah, aku tidak tahu keadaannya setelah kejadian itu. Aku tidak bekerja lagi untuknya."
"Mungkin dia sedang dikurung oleh ayahnya sekarang," kata Yosuke seperti bergumam. "Ketika marah, Tuan Senzo selalu mengurung Rin. Saat tahu Rin kekasihku juga dia sempat marah besar dan memotong kebebasan Rin."
Kasihan sekali.
"Aku ingin memesan senjata. Mungkin pedang atau apapun yang bisa aku gunakan. Kau bisa membantuku, kan?" pinta Miho setengah ragu, takut Yosuke tak bisa.
"Kau bisa mengambil milikku," jawab Yosuke. "Aku memiliki belati yang bisa kau bawa. Jika kau membawa pedang atau pistol, kau bisa saja ditangkap karena dianggap ancaman. Senjata seperti itu hanya bisa dibawa oleh orang-orang tertentu."
"Oh, baiklah. Tidak apa-apa."
"Sebenarnya kami saat ini sedang membuat senjata lain atas perintah Tuan Senzo. Dia memesan beberapa senjata dengan bahan perak termasuk untuk peluru."
"Perak?" Kening Miho sedikit mengkerut memikirkan itu.
"Iya. Kudengar ada monster seperti manusia serigala bertanduk yang sempat menyerang beberapa desa. Mungkin Tuan Senzo memesan senjata perak untuk memburu makhluk itu. Kau tahu kan mitosnya? Manusia serigala akan lemah bahkan mati jika bersentuhan dengan perak."
Mendengar informasi itu membuat Miho semakin cemas dengan keselamatan Yujiro yang masih diburu oleh Senzo. Alhasil, meski hanya membawa sebuah belati, Miho berencana untuk cepat menemukan Yujiro sebelum Senzo.
Saat mendatangi gua tempat mereka tidur saat itu, Yujiro tetap tak ada di sana. Di semua tempat yang pernah mereka datangi, Yujiro tetap tidak bisa ditemukan.
"Ke mana lagi aku harus mencarinya?" monolog Miho yang sudah berjalan begitu jauh hingga kini tubuhnya yang lelah terduduk di bawah sebuah pohon.
Dilihatnya langit mulai gelap, hendak berganti menjadi malam. Miho berencana untuk kembali berjalan, mencari tempat aman agar dirinya bisa beristirahat.
Srakkk!
Miho sontak berwaspada, mengeluarkan belatinya untuk diarahkan pada sumber suara mengancam itu. Pasalnya sekarang sudah malam, gelap, hanya mengandalkan cahaya bulan yang menyinari beberapa tempat tak tertutup pohon.
Seekor serigala hitam keputihan berjalan mendekatinya, mmeutari kaki, lalu duduk begitu saja di depan Miho. Biasanya serigala akan menyerang mangsa termasuk manusia. Namun Miho terkejut melihat serigala itu hanya menatapnya setelah santai duduk.
"Kau... tak akan menyakitiku, kan?" Ngomong apa aku ini?
Miho merasa sudah gila karena berinteraksi dengan hewan karnivora itu. Ia pun mundur perlahan, berusaha agar tak membuat serigala tersebut terancam dengan gerakannya.
Kepalanya menoleh. Hewan itu kembali bangun lalu berjalan dan sempat berhenti menoleh lagi pada Miho seakan dia ingin diikuti.
Alhasil, Miho berjalan mengikutinya dengan sikap tetap waspada. Apalagi banyak suara aneh di tengah hutan itu. Bisa jadi semua hewan buas sedang berburu di malam hari.
"Yang benar saja!" Miho bahkan tak memiliki penerangan untuk bisa masuk ke dalam gua yang ia tak ketahui ada apa di dalamnya.
Serigala itu tiba-tiba duduk menempelkan kepala di tanah dengan tatapan yang terlihat memelas dan suara melolong kecil.
Miho tak mengerti apa yang hendak ditunjukkan hewan itu. Dia tak bisa membahayakan dirinya dengan masuk ke dalam sebuah gua gelap di malam hari.
...****************...
Woosh!
Tiba-tiba terdengar seperti sebuah helaan nafas dari dalam gua. Miho menatap serigala itu bangun lalu masuk ke dalam sana hingga saat ditunggu, tak kembali lagi.
Karena penasaran, Miho pun masuk ke dalamnya dengan penuh kehati-hatian. Mungkin saja Yujiro juga ada di dalam. Kakinya pun berjalan perlahan, mulai memasuki daerah yang sangat gelap.
Miho berusaha berjalan lurus hingga ia melihat cahaya remang dari belokan gua yang dimasukinya.
"Yujiro..." Apa itu benar Yujiro?
Kakinya pun melangkah tak ragu untuk menghampiri sumber cahaya itu. Saat dilihat, Miho mendapati tanduk Yujiro yang menyala kecil. Dia sedang tidur memeluk dirinya sendiri menggunakan sayap. Yujiro masih ada dalam wujud makhluk itu.
"Yujiro?" panggil Miho dengan hati-hati hingga mata Yujiro terbuka, memperlihatkan cahaya birunya di tengah kegelapan.
Terdengar suara raungan kecil darinya. Sayap itu semakin menyembunyikan tubuh, seakan tak menerima kedatangan Miho yang mendekatinya.
Namun Miho tak mau menyerah. Ia menjulurkan tangan untuk menyentuh kepala Yujiro yang tak tertutup sayap. Kedua mata birunya kembali terbuka, menatap Miho selama beberapa saat. Serigala yang tadi menuntun Miho juga terlihat tiduran dengan santai di sebelahnya seakan tak ada ancaman apapun.
"Yujiro, ini aku. Aku... Miho," katanya mencoba memberitahu.
Telinga Yujiro bergerak seakan mulai terbuka untuk mendengarkan. Nama Miho bukan sesuatu yang asing sehingg Yujiro mulai sedikit membuka sayapnya.
Miho terdiam mengamati Yujiro sedang terbaring lemah dengan nafas memburu. Ada beberapa luka bekas serangan saat itu yang membuat bulu di tubuhnya harus bercampur dengan darah kering.
"Yujiro, maafkan aku. Aku... sudah meninggalkanmu sendirian seperti ini. Kau pasti kesakitan sekarang," kata Miho merasa begitu bersalah.
Miho sudah berani lebih mendekat ke arah Yujiro. Ia mengelus wajahnya yang seperti seekor serigala kesakitan. Namun saat itu, tanduk rusa di kepala Yujiro mulai menyala terang seakan sengaja memberi penerangan bagi Miho di sana.
"Maafkan aku, Yujiro. Aku tak akan meninggalkanmu lagi," lanjut Miho memeluk tubuh lemah Yujiro.
Saat itu, Yujiro pun menggerakkan sayapnya untuk menutupi tubuh mereka berdua. Yujiro seakan ingin membiarkan Miho terus memeluknya. Dia tak merasa jika manusia di dekatnya ini adalah suatu ancaman.
Miho menangis tanpa bersuara setelah melihat keadaan menyedihkan Yujiro. Bersembunyi sendirian di dalam gua yang gelap, tanpa makanan, dan tubuhnya dipenuhi bekas luka yang tidak bisa diobati sama sekali.
Di sisi lain, Miho senang jika Yujiro bisa ditemukan. Ia semakin mengeratkan pelukan pada kepala Yujiro, memberikan ketenangan dan kehangatan untuknya yang masih belum berubah menjadi manusia.
Yujiro pun memejamkan mata birunya. Dia mulai menghembuskan nafas tenang, seakan rasa sakit yang selama ini menyerang tubuhnya sudah sembuh hanya karena pelukan Miho.