Beautiful Monster

Beautiful Monster
Sayang Kakak



Ignacia menatap sekitar penginapan yang akan ditempatinya dengan keluarga. Tempatnya berlantai tiga, kelihatannya ada banyak yang menetap karena banyak mobil terparkir di bagian depan. Apa tempat ini akan ramai? Ignacia butuh sedikit ketenangan padahal.


"Ignacia, ini." Ayah Ignacia mengoper tas ransel miliknya untuk dibawa bersama barang-barang bawaan lain. Beruntungnya Ignacia sempat membaca pesan untuk membawa pakaian karena akan di ajak menginap sebelum meninggalkan asrama. Jika tidak, Ignacia harus kembali ke kamarnya.


Satu kamar hanya muat sekitar tiga orang. Jadi harus memesan dua kamar untuk seluruh anggota keluarga. Ayahnya akan tidur dengan kedua anak laki-lakinya sementara sang mama bersama dengan kakak-kakak mereka. Arvin tidak merengek ketika mendengar mamanya tidak akan tidur bersamanya. Ignacia tidak tahu jika adiknya sudah semakin dewasa selama beberapa bulan terakhir setelah dia merantau.


"Bagaimana kabar Rajendra? Kencan kalian menyenangkan?"


Ignacia langsung menoleh ke arah pintu jika saja pintunya tidak tertutup. Siapa yang tidak panik saat mamanya menyebutkan nama orang terkasih Ignacia dengan nada bicara normal yang mungkin akan terdengar sampai keluar pintu karena suasana penginapan yang hening.


"Dia baik, kencan kami sama seperti biasa. Hanya saja sekarang kami tidak bisa sering keluar seperti dahulu," jawab Ignacia.


"Kalian baru-baru ini berkencan?! Kak Rajendra mendatangi kakak?" Athira yang tidak tahu soal kegiatan kakaknya sebelum bertemu hari ini cukup terkejut. Dia semakin tidak percaya saat melihat kakaknya mengangguk. "Wah kalian akhirnya bertemu setelah beberapa bulan terpisah. Bagaimana rasanya?"


"Menyenangkan," jujur kakaknya.


Selesai dengan menyimpan barang-barang di tempatnya dan membersihkan diri, Ignacia memutuskan untuk pergi keluar penginapan sebentar. Menghirup udara segar yang tidak cukup didapatkan lewat jendela. Masih sore dan belum terlalu malam untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar.


Di sebelah penginapan terdapat sebuah gang yang tertutup banyak tanaman liar. Sepertinya bukan jalan yang biasa dilalui. Lorong yang semakin jauh semakin gelap itu terlihat menakutkan. Sebaiknya Ignacia tetap disini dan menghindari marabahaya.


Iseng Ignacia mendongak, berniat melihat langit yang mulai ternodai warna jingga. Karena dekat pantai, udara disini selalu terasa hangat. Berbeda sekali dengan asramanya yang selalu dingin walau tanpa pendingin. Lalu di tengah keheningan, sesuatu bergetar dari dalam kantong celana Ignacia. Dirogohnya saku, melihat siapa yang menelfon.


"Hai, bagaimana kunjunganmu ke tempat kakak?" Ignacia melihat sekitar, mencari tempat yang cocok untuk menerima telfon dari teman berkacamatanya. "Pasti menyenangkan bisa bepergian dengan kereta sendirian. Apa saja yang kalian lakukan? Pergi bermain seharian?"


"Kami membuat beberapa mini vlog dan melakukan wisata kuliner. Mumpung ada di kota orang, jadinya aku makan banyak. Disini ada banyak jajanan enak." Nesya terdengar bersemangat. Pasti menyenangkan bertemu dengan kakak laki-lakinya setelah lama tidak bertemu.


"Oh ya, maaf sudah terlambat merespon pesanmu. Aku terlalu menikmati waktuku sendiri. Bagaimana rasanya? Apa enak?"


"Tentu saja enak. Karena seseorang memberikannya padaku, hehe. Aku ingin tahu kenapa kamu membuat kue, Nesya. Apa untuk membuat kakakmu terkesan?"


"Ya begitulah. Sebagai adik yang baik, aku akan membuatkan kakakku sesuatu agar dia merasa senang."


Nesya mengobrol dengan Ignacia sekitar hampir satu jam. Sekarang langit yang keorenan sudah berubah warna menjadi gelap. Ignacia berjalan kembali ke kamarnya masih dengan panggilan yang tersambung dengan teman lamanya. Karena datang dengan tertawa akibat cerita lucu Nesya, mama dan Athira mengira Ignacia tengah mengobrol dengan Rajendra.


Mama dan anak keduanya sampai berbisik-bisik dan menunjukkan tatapan aneh untuk menggoda yang tengah menelfon. Ignacia tidak menyadarinya bahkan hingga panggilan berakhir. Barulah dia mendapati mama dan adiknya menatap penasaran disertai senyuman maut.


"Apa?" bingung Ignacia, "aku menelfon Nesya."


"Oh ya?" tanya mamanya tidak percaya.


"Kenapa juga aku berbohong?" Ignacia bingung harus merespon bagaimana lagi jika ditatap menyeramkan begini. Mama dan Athira menyerah, memilih percaya saja pada Ignacia.


...*****...


"Uwah, tempatnya bagus." Ignacia melihat bangunan restoran berdominan kaca di sekitar pintu masuknya. Lampu gantung khas yang biasanya ada di kafe-kafe membuat suasana menjadi lebih hangat. Sangat terlihat jika tempat ini cocok dikunjungi bersama keluarga. Ignacia belum pernah melihat restoran dekat laut sebelumnya.


Arvin berlari menuju pintu, disusul dengan Rafka yang ingin menjaga adiknya agar tidak terjatuh. Merska sampai di depak pintu kemudian menunggu kakak dan orang tuanya menghampiri. Mereka juga terlihat senang datang ke tempat ini. Bersemangat untuk segera masuk dan memesan makan malam.


Ignacia tersenyum senang saat melihat bagian dalam restoran yang tidak begitu sesak meskipun ramai pengunjung. Ada bagian outdoor juga di bagian belakang. Nanun karena sudah malam, hanya sedikit bagian laut yang terlihat. Meskipun begitu, masih ada suara ombak yang menenangkan hingga ke dalam.


"Mama, ayah, disini," panggil Arvin. Suaranya yang keras hampir membuat beberapa pengunjung di sekitar meja kosong yang diinginkan anak itu menoleh. Ignacia harus buru-buru pergi ke meja itu sebelum orang-orang semakin memperhatikan.


"Rasanya memalukan," gumam Ignacia pelan.


Seorang pelayan restoran datang, membawa menu juga rekomendasi makanan yang paling sering dipesan dan disukai pengunjung. Melihat Wanita muda di ujung meja yang memakai apron itu membuat Ignacia teringat akan Rajendra. Apa Rajendra juga melakukan apa yang wanita ini lakukan ketika bekerja? Ignacia sangat ingin melihatnya.


Karena lamunanya, Ignacia sampai mendapatkan teguran dari Athira yang menunggu pesanan kakaknya. Semua mata tertuju pada Ignacia yang diam-diam tersenyum tanpa alasan. "Kakak ini kenapa melamun? Kakak ingin makan apa?" ulang adiknya sekali lagi. Dia tidak jengkel, hanya merasa aneh saja.


"Samakan denganmu saja," putus Ignacia cepat tanpa tahu apa yang Athira pesan.


Begitu pelayan tadi pergi sambil membawa menu juga pesanan keluarga ini, Ignacia masih mendapatkan tatapan menyelidik dari Athira yang duduk di hadapannya. Tatapan matanya seolah berkata, 'kakak sedang memikirkan sesuatu? Apa ada yang salah?'. Ignacia tidak merespon, dia lebih memilih untuk mengalihkan pandangan.


Acara makan malamnya berhasil, seperti yang di harapkan semua orang termasuk Ignacia. Setelah menikmati makanan utama, sang ayah tiba-tiba berkata, "bagaimana jika kita membeli makanan penutupnya juga? Es krim atau gelato."


Keempat anak dari keluarga ini pun langsung menatap pada sang ayah yang berbicara seolah bukan masalah besar. Bahkan ayahnya tengah mengecek ponselnya saat itu. Ya bagaimana tidak? Kejadian seperti ini langka sekali. Biasanya setelah makan, tidak akan ada camilan tambahan.


"Ayah sedang dalam suasana hati yang baik. Kalian pergi saja untuk memesan es krim atau gelato," mamanya menimpali.


"Kenapa kalian masih disini? Ikutlah memesan es krim atau gelato dengan Arvin dan Rafka. Athira, awasi adik-adikmu sekarang," titah sang ayah. Ponsel sudah diletakkan. Ayahnya meletakkan tangan di sandaran tangan sambil menatap pada kedua anak tertuanya.


Athira perlahan bangkit tanpa menunggu kakaknya. Jika dia tetap tinggal, kedua adiknya bisa salah memesan dan membuat masalah. Jika orang tuanya sudah memberikan izin, kenapa dia harus menolaknya? Peristiwa langka ini berhak diindahkan.


"Ignacia," tegur ayahnya, "kenapa tidak ikut? Kamu bisa memesan yang lain jika tidak ingin es krim atau gelato. Di menu tadi ayah melihat beberapa camilan lain."


Yang di ajak bicara menggeleng, menolak dengan sopan. Dia tidak ingin membuat orang tuanya mengeluarkan lebih banyak uang hanya untuk makan malam. Ignacia tidak memiliki pemasukan sendiri, jadinya rasanya sungkan jika ingin meminta terus pada kedua orang tuanya.


"Kenapa tidak mau? Jangan khawatir soal apapun dan bergabunglah dengan adik-adikmu. Kita tidak setiap hari bertemu sekarang, ingat?" Sang mama menepuk bahu anak pertamanya, "anggap saja ini imbalan atas kerja kerasmu selama di kampus satu semester ini."


Tidak, Ignacia tetap pada pendiriannya. Dia sudah tidak ingin merepotkan. Jika saja mamanya mengizinkan Ignacia untuk bekerja paruh waktu, mungkin Ignacia yang akan membayar tagihannya. Tapi bahkan Ignacia tidak bisa selalu menggunakan uang kiriman orang tuanya setiap bulan jika tidak darurat.


"Es krim membuatku merindukan Rajendra," batin Ignacia.


Ayah dan mama Ignacia saling lempar pandang. Sebaiknya biarkan saja anak pertama mereka perlahan menjadi dewasa dan menolak pemberian remeh. Padahal tujuan keduanya membiarkan empat bersaudara ini membeli makanan penutup itu agar Ignacia kembali bersemangat.


Suara langkah kaki kecil terdengar, akhirnya Arvin dengan kedua saudaranya kembali dengan es krim. Athira bilang gelatonya habis dan hanya ada es krim dengan berbagai rasa. Ignacia tidak menyesal. Toh dia masih bisa makan es krim biasa selain di tempat ini.


"Kakak, mau coba?" Arvin menyodorkan es krim cone coklat miliknya, membiarkan Ignacia mencoba dengan sukarela. Tapi sekali lagi kakaknya menolak. Berkata jika makan es krim di malam hari bisa membuatnya pusing. Bohong, tentu saja.


"Kakak sedang diet?" Athira menyela, "tubuh kakak terlihat lebih kurus. Berat badan kakak berkurang?"


Ignacia menunduk, melihat tubuhnya sendiri. Apa memakan Fitbar cukup lama membuat beratnya berkurang? Dia tidak memeriksa berat badannya cukup lama, jadi tidak tahu apakah dia menjadi lebih ringan atau tidak. "Tidak, aku tidak diet. Aku hanya tidak ingin es krim," jawab kakaknya.


Di tengah keheningan makan es krim, mama Ignacia tiba-tiba bangkit, "ayo duduk di meja dekat laut." Mamanya hanya mengajak Ignacia, ingin berbicara berdua.


Aroma khas laut dan deburan ombak tenang langsung menyapa mereka yang baru datang. Ignacia dapat melihat riak putih di sekitar bibir pantai saling bersahutan. Tidak habis-habisnya pergi dan kembali. Semakin malam laut akan menjadi semakin tenang. Tapi belum terlalu malam untuk melihat laut sekali lagi.


Hening, tidak ada yang memulai pembicaraan antara ibu dan anak ini. Ignacia menatap laut sementara mamanya menatap Ignacia dengan tatapan berbeda. Ada sesuatu yang ingin diketahui, ditanyakan, namun takut menyakiti perasaan.


"Aku berencana untuk pulang sendiri setelah liburan selesai," Ignacia bersuara, "aku akan memesan tiket agar kalian tidak perlu mengantarku kembali ke asrama. Sekarang aku sudah pandai memakai tranportasi umum."


Wanita di hadapannya mengangguk, mengiyakan permintaan anak perempuannya tanpa protes. "Tapi berjanjilah untuk menghubungi mama setelah sampai di stasiun dan asrama. Kamu jarang menghubungi kami sekarang, Ignacia. Kamu membuat orang rumah khawatir."


"Aku terlalu sibuk dengan persiapan ujian dan belajar. Aku akan belajar menghubungi kalian lain kali. Maafkan aku karena membuat kalian khawatir."


"Lalu ketika hari sibuk itu... Kamu makan dengan baik? Mama sudah menyadari tubuhmu yang terlihat sedikit kurus. Kamu tidak melewatkan makan? Jangan mencoba untuk menurunkan berat badan dengan tidak makan." Mamanya menatap khawatir. Ada beberapa penekanan di dalam kalimat yang disampaikan.


Ignacia tidak melakukan diet apapun. Hanya kebiasaan memakan Fitbar membuatnya kurang makan nasi di malam hari. Jika Ignacia menyebutkannya, mamanya mungkin tidak akan suka. Ignacia pasti diminta menghubungi ketika sedang makan untuk memastikan dia tidak lagi menggunakan Fitbar sebagai pengganti karbohidrat.


"Ignacia, ayah menyiapkan banyak hal untuk kamu hari ini. Kamu pasti menyadarinya. Liburan di pantai, bekal makan siang, penginapan, dan restoran malam ini ayah yang menyiapkannya. Kami membicarakan rencana ini selama beberapa hari untuk memastikan semuanya berjalan lancar."


Ignacia mendengarkan. Sesekai menunduk menatap tangannya di atas pangkuan. Dirinya merasa tersentuh karena orang tuanya membuat liburan yang menyenangkan untuknya. Mamanya juga menambahkan jika ayah Ignacia ingin anak pertamanya ini tetap merasakan sosok ayah setelah lama tidak lagi satu rumah.


"Ombaknya sudah semakin tenang," sang mama mengalihkan pembicaraan. Membuat perhatian Ignacia juga tertuju pada pemandangan yang dibicarakan wanita di hadapannya.


Untuk sesaat Ignacia merasakan sesuatu di pundaknya. Seperti ada orang yang menepuknya untuk memanggil. Dan ketika si gadis berambut panjang ini menoleh, dilihatnya Athira duduk di sampingnya. Adiknya menunjuk sesuatu di atas meja dengan dagu tanpa bicara. Ignacia beralih pada sesuatu yang ditunjuk oleh adiknya. Matanya hampir membulat sempurna, bahkan hampir tidak mempercayai pengelihatannya.


Di atas meja terdapat sebuah buket bunga. Namun bukan bunga yang dirangkai, melainkan beberapa buku novel dan juga Fitbar. Dua hal yang sangat disukai kakaknya. Dua hal yang paling diketahui Athira tentang kakaknya.


"Selamat ulang tahun," ucap Athira.


Mamanya tersenyum melihat momen manis adik kakak ini. Mereka masih kompak dan saling menyayangi membuat hati sang mama tersentuh. Apalagi ketika Ignacia seolah akan memeluk adiknya saking bahagianya namun segera ditangkis Athira sekuat tenaga.


Anak perempuan keduanya terlihat malu-malu.


"Terima kasih banyak. Bagaimana kau bisa tahu buku yang kuinginkan? Dan dari penulis favoritku." Tangan Ignacia bergetar saking senangnya. Menutup mulutnya masih dengan ketidakpercayaan. "Aku sangat menyukainya!"


Apa ini yang Athira rencanakan untuk liburan? Bukan pergi ke suatu tempat yang dia sukai, melainkan memberikan hadiah yang dia tahu akan menyenangkan kakaknya.


"Bagaimana aku bisa tidak tahu? Aku melihat nama penulis yang sama di hampir semua buku kakak. Dan kebetulan ada buku baru yang dirilis," jujur Athira. Senyuman canggung setelah hampir dipeluk Ignacia kini berubah jadi bangga.


"Wah kau yang terbaik. Aku mendapatkan hadiah meskipun ulang tahunmu sudah terlewat. Aku benar-benar menyukainya. Twrima masih atas kejutannya, Athira." Ignacia tidak keberatan menunjukkan perasannya yang sangat bahagia. Lagipula tempat yang ketiganya duduki sekarang jauh dari keramaian.


"Aku tidak merencanakannya sendiri. Ayah, mama, bahkan Arvin dan Rafka juga ikut membantu."