
Sudah ada banyak peluru, panah, bahkan tombak mengenai tubuh Yujiro yang kini mengamuk di sana. Ia mengobrak-abrik manusia sampai tank harus terus menembaki tubuhnya.
Yujiro merasa begitu kelaparan, melebihi saat dirinya ingin memakan semua hewan ternak itu. Yujiro merasa adrenalinnya berpacu berkali-kali lipat untuk menghancurkan semua yang ada di depannya.
Sementara itu, Keizo mulai membawa tubuh Miho pergi dari sana. Tentu saja Miho masih bisa ia jadikan umpan yang bagus untuk Yujiro yang sudah menjadi monster mengerikan. Semua orang harus melihat bahwa monster itu adalah ancaman yang memang harus dibunuh.
"Tidak! Miho!" panggil Rin berusaha melepaskan diri.
"Ayo kita pergi juga dari sini!" ajak Senzo yang menyeret putrinya dari sana.
"Lepaskan aku! Lepaskan Miho!" seru Rin memberontak.
Plakkk!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Rin. Ia tak menyangka ayahnya akan sejahat itu sampai tega menamparnya.
"Jangan pikirkan wanita itu! Kau ingin mati dengannya? Dia hanya wanita yang tidak berguna untuk kita!"
"Dia temanku!" tegas Rin.
Senzo tak peduli. Ia kembali menyeret Rin yang pergi berlawanan arah dengan Miho.
Pertarungan semakin sengit.
Makhluk itu semakin menggeram keras, menghempaskan semua manusia yang ada di depannya. Dia bahkan tak mempedulikan apapun lagi karena amukannya saat ini sudah tak memiliki batas dan tujuan.
Yujiro sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Nama Miho, Naho, dan Toru dalam pikirannya bahkan sudah terhapus begitu saja.
Amukan itu membuat seluruh warga dari desa yang ada di dekat tempat pertarungan itu berlari ke sana kemari untuk melindungi diri. Apalagi setelah menghabisi anak buah Keizo, makhluk itu terbang lalu mendarat menginjak beberapa rumah di desa tersebut.
Banyak jerit ketakutan bahkan tangisan. Semua warga berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari ancaman makhluk buas yang kerap mereka sebut monster.
Di samping itu, Miho mulai tersadar. Dia berusaha membuka matanya dengan lemah dan merasa tubuhnya kini dihempas jatuh dengan kasar oleh seseorang.
"Lihatlah monster itu. Dia adalah ancaman yang akan membunuh banyak manusia. Semua orang sudah mulai merasa takut dengan kehadirannya," kata Keizo menyeringai jahat memandangi Yujiro yang masih mengamuk mengobrak-abrik desa.
"Yuji..." Miho berusaha bangun, tapi kepalanya begitu sakit. Saat diraba, ada darah keluar dari kepalanya itu bekas pukulan keras yang seseorang layangkan saat ia hendak kabur bersama Rin.
"Miho!" panggil Hisashi yang kini turun dari kuda yang ditungganginya.
Hisashi langsung menarik pedang yang ia arahkan pada Keizo. "Lepaskan Miho!"
Keizo mengangkat kedua tangannya. "Aku tak butuh wanita ini lagi. Ambil sana!"
Hisashi segera mendekat lalu membantu Miho untuk bangun.
"Yujiro," kata Miho menoleh ke belakang, ke arah makhluk yang masih mengamuk.
"Kita harus segera pergi, Miho. Di sini tidak aman," ajak Hisashi lalu memapahnya agar pergi dari sana.
Keizo terlihat antusias memandangi setiap perubahan Yujiro. Ia bahkan menyadari jika kilatan biru di mata Yujiro kini sudah berubah menjadi merah. Keizo suka keunikan makhluk itu. Dia masih memiliki banyak bawahannya yang kini kembali menyerang, menembaki tubuh Yujiro.
"Tidak," tolak Miho berusaha melepaskan diri dari Hisashi. "Dia bisa membahayakan banyak orang jika tidak disadarkan."
"Tapi makhluk itu juga akan membahayakanmu, Miho. Aku tak ingin kau kenapa-kenapa," kata Hisashi.
"Aku tak ingin Yujiro seperti itu!" tegas Miho membuat Hisashi terdiam, mencoba memahami perasaannya.
"Aku tak bisa meninggalkan Yujiro. Dia..." Miho tertunduk dengan perasaan campur aduk.
Hisashi melepaskan Miho. Ia membiarkan gadis itu pergi dari hadapannya. Meski begitu, Hisashi akan tetap memantau Miho karena dia tak ingin bahaya menimpanya.
...****************...
Kaki Miho pun berlari melewati kekacauan di sekitarnya. Ia berteriak memanggil nama Yujiro hingga akhirnya mereka saling berhadapan.
Makhluk itu menoleh dengan mata merahnya yang membuat Miho sedikit takut, merasa yang di depannya bukanlah Yujiro.
"YUJIRO, INI AKU. MIHO!" teriaknya lagi berusaha menyadarkan.
"KAU HARUS INGAT JANJIMU. KAU HARUS TETAP BERSAMAKU. KAU BUKANLAH MONSTER. KAU ADALAH MANUSIA BERNAMA USHIODA YUJIRO! KAU USHIODA YUJIRO!"
Nama itu membuat makhluk tersebut berbalik ke arah Miho, mencoba mencerna suatu perasaan yang perlahan membuatnya tenang.
"AYO KITA PERGI DARI SINI! AYO KITA HIDUP BERSAMA. KAU SEBAGAI YUJIRO YANG SELALU MELINDUNGIKU. KAU HARUS INGAT AYAHKU SANGAT MENYAYANGIMU, DAN AKU JUGA MENYAYANGIMU, YUJIRO! AYO KITA--"
Dorrr!
Satu tembakan berhasil mengenai bahu Miho yang membuatnya terduduk kesakitan.
Makhkuk itu langsung mengarahkan mata pada Keizo yang ia serang lalu lempar dari sana tanpa mempedulikan apapun lagi.
Miho mendongak menatap Yujiro. Dia membiarkan makhluk itu membawa tubuhnya lalu terbang pergi dari sana.
Hisashi melihatnya. Ia menggerakkan kuda yang ditunggangi untuk pergi ke arah Miho pergi.
Rintihan kesakitan terdengar. Miho memandangi wajah Yujiro yang benar-benar berbeda seperti manusia serigala bertanduk rusa.
Mereka pun mendarat di dekat tebing yang sempat disinggahi hari itu. Yujiro membaringkan tubuh Miho dengan hati-hati lalu ia terduduk di sampingnya.
Yujiro mencabuti panah dan tombak yang menancap di tubuh. Ia menggeram sakit, bahkan masih ada peluru dan bekas luka lain di tubuhnya yang terus berdarah.
"Yujiro?" panggil Miho dengan lemah. Ia berusaha bangun sambil memegangi bagian bahunya yang berdarah terkena tembakan.
"Aku senang... Kau bisa bersamaku. Aku... argh! Tak ingin melihatmu pergi lagi," ujar Miho di tengah ringis kesakitannya.
Yujiro melihat Miho datang mendekatinya, menangkup wajahnya yang mengerikan dan bisa membuat banyak orang takut.
"Kau Ushioda Yujiro. Ingatlah itu," kata Miho menempelkan kening mereka berdua agar bisa saling terhubung.
Sayangnya Miho yang sudah pucat tak bisa menahan rasa sakit. Tubuhnya mulai lemah lalu jatuh sehingga Yujiro segera menahannya.
"MIHO!" panggil Hisashi mulai datang mendekat
Yujiro membaringkan Miho dengan hati-hati. Ia memandanginya sejenak sehingga mata merah itu kini berubah kembali biru.
Miho. Hatinya mengucapkan nama itu, kembali mengingat setiap kenangan yang menyadarkan dirinya. Yujiro ingin bersama Miho, tapi melihat kondisinya saat ini membuat Yujiro tak pantas untuk bersamanya.
Yujiro menyadari bahwa dirinya bukanlah manusia.
Yujiro tak akan bisa pantas mendapatkan cinta manusia yang harusnya diberikan pada sesama manusia.
Mata Yujiro beralih pada Hisashi yang perlahan-lahan mendekat dengan sikap waspada. Ia ingin membawa Miho yang terluka, Yujiro mengetahui itu.
Yujiro pun berbalik memunggungi Miho lalu berjalan menuju tepi tebing. Dia memandangi langit, membayangkan kebersamaannya bersama Miho.
Hatinya perlahan sakit. Yujiro bertanya-tanya, apa monster bisa merasakan hal seperti ini?
Cinta adalah kutukan paling mengerikan dibanding kematian. Yujiro berusaha melepaskan setiap bayangan Miho dari pikirannya.
Untuk kesekian kalinya, mata Yujiro berair. Sebelah tangan yang bercakar itu menepuk dadanya yang sakit. Ia menoleh, melihat Miho yang sudah ada dalam pelukan Hisashi.
Setidaknya Hisashi adalah manusia yang pantas mendapatkan cinta murni dari manusia seperti Miho.
Selamat tinggal.
Yujiro menjatuhkan dirinya dari tebing. Hisashi pun berlari ke tepi, melihat Yujiro terbang menjauh dari sana.