Beautiful Monster

Beautiful Monster
Bahaya Besar



"Kamu yakin tidak ingin ikut? Kamu mungkin akan pulang malam dan makan diluar."


Sang ayah sudah berkali-kali membujuk, namun Ignacia sama sekali tidak ingin pergi keluar. Dia sangat ingin menikmati di rumah sendirian, membaca novel dan ditemani cuaca mendung yang kemungkinan akan hujan.


Ignacia sedang malas pergi keluar. Dia ingin satu hari menikmati waktu yang menyenangkan sendirian. Bahkan jika seluruh keluarganya harus pergi, Ignacia tidak keberatan.


"Aku bisa memasak sendiri nanti. Aku akan baik-baik saja sendirian di rumah. Lagipula aku juga akan mengerjakan tugas sore nanti. Kalian pergi saja. Aku tidak apa-apa."


Rencananya hari ini sang ayah akan membawa seluruh keluarganya untuk datang ke acara yang diadakan saudara dari ayah. Tapi karena Ignacia kelihatannya kelelahan dan menolak, jadinya ayahnya tida akan terlalu menekan.


"Yasudah kalau begitu, tapi kamu harus tetap makan malam. Ingat jika kamu punya penyakit lambung," pesan ayahnya sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar sang anak pertama. Tidak lupa ayahnya mengatakan pada sang istri jika anak pertama mereka tidak bisa ikut.


Setelah kepergian mobil keluarganya, akhirnya Ignacia bisa bangkit dari sofa kamarnya. Berjalan menuju dapur untuk mengambil kue coklat. Karena Rajendra, dia jadi sering membuat kue coklat untuk dirinya sendiri tanpa sepengetahuan adik-adik laki-lakinya.


"Yay akhirnya," senang Ignacia.


Dibawanya juga jus jeruk dingin sebagai teman. Novel yang bagus, suasana yang mendukung, cuaca yang tidak panas, serta camilan yang bisa dia nikmati tanpa memikirkan apapun.


Surga dunia.


Belum juga Ignacia mencoba kue coklat buatannya kali ini, tiba-tiba sebuah suara datang dari ponselnya. Sengaja Ignacia menyalakan nada dering agar bisa mendengar jika saja orang tuanya menelfon. Tapi kenapa mamanya menelfon setelah pergi beberapa menit yang lalu?


Oh buka mamanya.


"Ada apa Rajendra?" Kedengarannya laki-laki ini sedang berada di tempat yang ramai. Mungkin ada di suatu tempat dengan teman-temannya. Ignacia bisa mendengar beberapa obrolan kecil yang ada di belakang Rajendra.


"Kamu mau Thai Tea?" Tawar Rajendra tiba-tiba.


"Thai Tea?" Beo Ignacia.


"Iya, Thai Tea. Tadi pagi aku dan teman-teman organisasi melakukan rapat kecil, dan kami memutuskan pergi ke kota sebelum pulang. Jika kamu mau, sekalian akan aku belikan dan antarkan ke rumahmu. Aku memiliki banyak waktu luang sekarang."


Kedengarannya menarik.


"Tentu jika kamu tidak keberatan. Terima kasih, Rajendra."


"Rasa original kan?" Haha laki-laki ini masih mengingat semuanya. Padahal Ignacia terakhir kali dibelikannya sekitar dua tahun yang lalu. Entahlah dia mulai kembali menyukai es krim rasa vanila.


"Iya original. Cepatlah datang. Sebentar lagi sore."


"Haha baiklah. Sampai bertemu nanti." Rajendra mematikan panggilan secara sepihak.


Ignacia menatap layar ponselnya seperkian detik. Jika dia tidak salah dengar, sepertinya Ignacia mendengar lebih banyak suara perempuan daripada laki-laki di backsound panggilan.


Apa anak-anak OSIS dan MPK sekarang mulai didominasi oleh para perempuan? Ignacia tahu jika anak laki-laki di organisasi ini bukanlah orang pendiam.


"Hah, aku terlalu mengada-ada," bisik Ignacia kemudian kembali pada kuenya. Oh ya, dia akan membaca beberapa halaman sambil menunggu Rajendra datang. Haruskah dia berpindah ke ruang tamu saja? Agar bisa langsung membukakan pintu dan pagar untuk kekasihnya.


Ignacia membawa bukunya ke ruang tamu. Mungkin akan ada waktu untuk membereskan semuanya setelah selesai dengan Rajendra. Lagipula tadi katanya dia bersama dengan teman-teman organisasinya, jadi dia tidak mungkin langsung datang kemari.


"Apa dia bisa menetap lebih lama?" gumam Ignacia sambil membaca bab baru di novelnya.


...*****...


"Thai Tea? Wah sudah lama sekali."


Seorang gadis dengan pakaian berwarna dominan cerah terlihat senang sekali. Padahal dia bisa pergi kemari tanpa teman-temannya. Dia menggandeng seorang teman perempuan lainnya untuk berjalan seirama.


Kelihatannya dia sungguh senang.


Semua orang yang datang dengannya dapat menyadari dengan cepat perubahan wajah Sarah. Gadis yang tengah bersemangat di barisan paling depan. Dia terkenal dengan sikap yang friendly, bukan kekanak-kanakan.


"Sarah, kelihatannya ada yang salah denganmu," goda seorang teman laki-laki yang ada di samping kirinya, "kau bersikap seperti anak-anak. Kau baru lahir kemarin?"


Rajendra menyimpan ponselnya setelah menelfon Ignacia. Melihat-lihat sekitar apa mungkin ada sesuatu yang bisa dia berikan pada Ignacia selain Thai Tea. Perasaannya tengah senang. Alasannya tentu karena dia berhasil menyelesaikan rapat organisasi dengan baik dan mendapatkan jalan keluar.


"Ignacia?" Tanya teman berkacamata bulat di samping Rajendra. Teman organisasi sekaligus teman sebangkunya di kelas. "Kelihatannya hubungan kalian sudah mulai kembali hangat. Tidak biasanya kau menelfon dia lebih dahulu."


Rajendra tersenyum kecil, membenarkan ucapan temannya.


"Apa kalian tidak pernah pergi berkencan? Hanya kalian pasangan yang tidak pernah terlihat keluar untuk berkencan. Hubungan kalian baik-baik saja?"


Rajendra hanya diam. Tidak tahu harus mengatakan kejujuran atau memberikan kebohongan yang dapat menjaga privasinya dengan Ignacia. Ignacia meminta Rajendra untuk tidak pernah mengatakan soal kencan pada siapapun. Fakta bahwa keduanya sering pergi berkencan diam-diam.


Ignacia tidak ingin mengulang masa lalu. Tidak ingin ada yang memperhatikan hubungannya lagi. Kenangan bersama mantannya tidak ada, namun ditinggalkan dan menjadi pusat perhatian orang-orang sungguh memuakkan.


"Ignacia itu lebih suka di rumah daripada berjalan-jalan keluar. Dia lebih menikmati waktu membaca buku daripada buang-buang energi untuk keluar rumah," jelas Rajendra.


Dia senang menjelaskan sikap Ignacia dimasa lalu. Sebelum gadisnya menerima ajakan Rajendra untuk berkencan di masa sekarang.


"Kalau begitu, ketika kalian sudah menikah atau sudah di tahap lamaran, itu akan menjadi kencan pertama kalian? Aku yakin saat kuliah kalian akan sama sibuknya."


Kedengarannya lucu ketika ada yang mengatakannya dengan pandangan seperti itu.


Sekumpulan remaja tadi memasuki area kedai Thai Tea. Mulai memesan, menunggu di sebuah meja untuk sekalian mengobrol. Biar satu orang saja yang mengurus pesanan mereka. Yang jelas itu bukan Rajendra. Laki-laki itu lebih suka duduk dan mengobrol daripada mengatakan pesanannya pada seseorang di belakang kasir.


Notifikasi yang muncul di layar ponsel Rajendra mengambil atensi teman-temannya. Hanya layar ponselnya yang menyala ketika sebuah pesan masuk.


New Message from Ignacia🍓


Ignacia🍓 Aku membuat kue coklat


"Sepertinya ada yang akan sibuk malam ini," goda seorang teman setelah tidak sengaja membaca pesan. Mungkin salah Rajendra karena meletakan ponselnya di atas meja. Membiarkan mereka yang ada di sekitarnya dapat melihat pesan dengan emoticon Stroberi di layarnya.


"Kalian masih berpacaran?" Sarah, seseorang yang duduk di samping Rajendra bertanya. Tatapan matanya mengarah pada Rajendra, "kukira kalian sudah putus karena jarang terlihat bersama. Kalian juga tidak terlihat sedang menjalani hubungan backstreet. Kenapa?"


"Teman-teman, pesanan kalian akan datang dalam sepuluh menit. Kita memesan banyak, jadi sedikit lebih lama untuk menyiapkannya," jelas teman yang selesai memesan.


Dia mengambil duduk di sebelah Sarah, "oh ya, setelah ini kuharap kalian semua cepat pulang. Besok aku tidak ingin ada alasan apapun untuk melewatkan rapat kedua."


Dia si ketua OSIS.


Semua mengangguk patuh. Lagipula mereka pergi keluar hanya sebagai self reward karena sudah menjadi anggota OSIS dan MPK yang baik hingga hampir pensiun. Sebagai penghargaan kecil juga sebelum merekrut anak-anak baru.


Benar Thai Tea mereka datang setelah sepuluh menit menunggu. Rajendra membawa tiga sementara teman-temannya hanya membeli satu. Teman-teman si laki-laki sudah tahu alasan kenapa Rajendra membeli cukup banyak meksipun tidak terlalu menyukai minuman susu bercampur teh ini.


Mereka mulai pergi ke rumah masing-masing. Mengendarai kendaraan pribadi sendirian, atau meminta diantar seorang yang rumahnya searah.


"Rajendra," panggil Sarah, "apa aku boleh pulang denganmu? Ayahku ada acara, jadi tidak bisa menjemputku. Boleh antar aku sampai di rumah? Kumohon."


Rajendra akan menolak, namun responnya segera dipotong dengan kalimat pertanyaan dari Sarah. "Apa kau harus menemui Ignacia setelah ini? Bisa antar aku pulang lebih dulu?"


Teman-teman Rajendra sudah pergi satu persatu. Tersisa beberapa pasangan yang sebentar lagi juga akan pulang berdua. Jika ditinggalkan, Rajendra mungkin akan merasa tidak enak karena membiarkan Sarah sendirian. Di sisi lain dia juga tidak ingin membonceng Sarah. Ignacia bisa marah dan kecewa nanti.


"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu," tolak Rajendra pelan.


"Ayolah, rumahku dekat dengan rumahmu. Antar aku sebentar saja ya. Hanya kali ini saja, kumohon." Sarah bahkan menautkan kedua tangannya agar Rajendra setuju. "Aku janji tidak akan merepotkanmu lagi setelah ini."


"Akan ku pesankan ojek online saja. Aku harus pergi ke suatu tempat." Rajendra mengeluarkan ponselnya, memesan ojek online tanpa melihat wajah Sarah yang tampak kecewa. Dia tidak suka ketika temannya bersikap dingin.


"Sudah. Aku pergi dulu."


Rajendra naik ke sepeda motornya, memakai helm dan langsung menghilang beberapa detik kemudian. Sarah menghela nafas pasrah, memang dia tidak akan bisa meminta tolong pada seseorang yang sudah memiliki kekasih.


Tapi apa yang Sarah harapkan?


...*****...


"Oh kamu sudah datang? Hai," sambut Ignacia dengan semangat.


"Lihatlah apa yang kubawa," Rajendra mengangkat kantung plastik yang dibawanya, "semuanya untukmu."


"Wah kamu berencana membuatku gemuk dengan membawa banyak minuman manis ya? Tapi tidak apa-apa. Aku menyukainya."


Ignacia menerima tiga Thai Tea dari Rajendra dengan senang hati, membawa kekasihnya masuk sebentar. Mana mungkin Rajendra langsung diusir pulang begitu saja kan?


"Aku membuat kue coklat, apa kamu mau? Aku membuatnya lebih enak sekarang." Ignacia melangkah ke dapur, membiarkan Rajendra duduk sebentar di ruang tamu. Iseng laki-laki itu meraih buku novel Ignacia yang ada di atas meja. Melihat sudah halaman berapa buku itu dibaca.


Kelihatannya Ignacia membeli buku yang baru lagi. Ini bukan buku yang dibelinya saat merayakan hari jadi keduanya tahun ini. Hah, gadisnya benar-benar menyukai cerita fiksi.


"Lihatlah kue yang kubuat," Ignacia sudah membungkus kuenya dengan rapi seolah berasal dari toko kue. "Aku sengaja membeli kotak kue agar kamu bisa membawanya dengan baik. Mamaku bilang jika mungkin aku harus membuat sedikit lebih banyak jika ingin diberikan padamu. Jadi aku membuatnya lebih banyak."


Ignacia sudah duduk di sampingnya, tersenyum bahagia. Tidak lupa membawa jus jeruk beserta gelas.


"Terima kasih untuk kuenya. Ibuku bilang jika kamu pandai membuat kue. Kue ulang tahun lebih awalku." Oh Ignacia tidak pernah tahu jika Rajendra membagi kuenya dengan ibunya. Dikiranya laki-laki ini hanya makan kue dari Ignacia sendirian.


"Benarkah? Kurasa aku harus belajar lebih banyak untuk mengesankan ibumu, Rajendra." Ignacia menatap bukunya, "buku itu bagus. Aku membelinya dengan Athira beberapa waktu yang lalu. Kisahnya seru dan manis."


"Begitukah? Tapi kamu suda membacanya hingga tengah-tengah buku. Kamu membaca dengan cepat. Oh ya, ada yang ingin kutanyakan padamu." Suasana berubah menjadi agak berbeda. Tapi Ignacia tentu tidak dapat merasakannya.


"Langsung bertanya saja. Ada apa?" Tangan Ignacia bergerak untuk menuangkan jus jeruk untuk Rajendra.


"Kamu bertemu dengan Bahri lagi?"


Ignacia hampir menumpahkan jus jeruk yang coba dia tuangkan sembari mendengar pertanyaan si laki-laki. Apa yang baru dia lakukan tentu membuat Rajendra sedikit tidak nyaman. Ada yang gadisnya sembunyikan, pikirnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tidak tahu jika Bahri pindah rumah keluar kota? Mana mungkin dia ada disini, Rajendra."


"Aku melihatnya saat dalam perjalanan kemari. Dia duduk-duduk di taman dengan beberapa teman. Kamu yakin tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Rajendra menatap jus jeruk yang tumpah sedikit, membantu Ignacia untuk mengelapnya dengan tisu.


"Kenapa bertanya begitu? Kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu darimu?"


Ignacia menyingkirkan tisu yang sudah terpakai ke tempat sampah. Kembali duduk di samping Rajendra dan menahan kegugupannya. Jika dia bisa mempengaruhi Rajendra, mungkin Ignacia harus menjadi aktor.


"Ya bisa saja kamu masih bertemu dengan laki-laki itu. Toh dahulu kalian juga dekat. Dia bahkan membelikan kamu Thai Tea yang kamu suka. Kamu melarangku untuk datang karenanya."


Rajendra menatap kedua mata Ignacia tajam, mencari kebenaran, "Kalian memang tidak bertemu lagi kan?"


Ignacia menghembuskan nafas panjang, membalas tatapan mata Rajendra untuk beberapa detik. "Kenapa aku harus peduli dengan seseorang yang sudah memiliki kekasih?"


Pikirkan Ignacia melayang ke masa lalu bersama Bahri yang tengah dibahas Rajendra. "Saat kita bertengkar waktu itu saja dia sudah memiliki pasangan."


"Tapi kalian terlihat dekat."


"Ayolah, teman bukankah seperti itu?"


"Jika teman, dia tidak akan membelikan sesuatu untukmu dengan cuma-cuma. Dia pasti punya maksud." Nada bicara Rajendra menajam. Tidak bisa menahan rasa marah akibat kepura-puraan Ignacia.


"Teman itu tidak seperti itu, Ignacia. Dia mungkin saja suka padamu," nada bicaranya mulai memelan.


Gadis di hadapannya menunduk, tidak percaya jika baru saja dia mendapatkan nada bicara tidak menyenangkan dari kekasihnya sendiri. Ignacia tidak menangis, hatinya tidak selembut itu hingga tiba-tiba menangis. Tapi kenapa harus Rajendra yang membuatnya takut?


"Maafkan aku." Rajendra membawa tubuh Ignacia ke dalam dekapannya, mengelus surai panjang berwarna hitam milik si gadis dengan lembut.


"Aku tidak suka ketika kamu terlalu polos dan berpikiran positif tentang apa yang dilakukan laki-laki lain. Aku tidak bisa menerima perlakuan baiknya padamu. Laki-laki itu punya pola saat menyukai perempuan."


Ignacia tidak ingin bicara apapun. Hanya diam mendengarkan. Dia tidak bisa membedakan kejujuran dan sifat posesif. Yang jelas, membicarakan soal Bahri dapat memancing bahaya besar dari Rajendra. Sebenci itu kekasihnya pada teman lama Ignacia.