
"Ignacia, semuanya baik-baik saja kan? Jika ada masalah dan kamu merasa kesakitan, katakan saja pada orang yang kamu percaya. Entah aku atau teman-temanmu. Jika kamu terlalu memendam perasaan, yang ada kamu akan meledak. Itu akan membuatmu semakin sulit menjalani hidup."
Ignacia meminum minumannya perlahan, memikirkan ucapan Nesya diam-diam. Keduanya diam, bergelut dengan pikiran masing-masing. Ada yang mengganjal, tapi logikanya belum bisa menemukan jalan keluar.
Tak lama kemudian Ignacia bangkit. Memilih membuang sampahnya dengan lebih baik tanpa mengandalkan keberuntungan seperti yang dilakukan Nesya barusan.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Jika ada sesuatu, aku akan sangat merepotkanmu." Si gadis bermata coklat itu terkekeh pelan, kembali mengambil tempat di samping si berkacamata. Tanpa aba-aba langsung menghembuskan nafas panjang seolah sedang lemah jiwa raga.
"Kau mengejutkanku," kesal Nesya. "Apa yang membuatmu bernafas seperti itu?"
"Hanya ingin saja. Kukira malam ini akan hujan. Jadi aku akan menghirup udara siang hari sebelum hujan." Ignacia menatap cakrawala yang tak tampak karena awan. "Ini akan menjadi hujan pertamaku di kota ini," lanjut si gadis selang beberapa lama. Matanya tampak berbinar.
Nesya mengangguk saja. Hujan ini juga akan menjadi yang pertama untuknya. "Tapi jika hujan turun... aku tidak akan bisa pergi keluar dengan teman kosku. Dia mengajakku membeli beberapa barang dari toserba."
"Kalau begitu semoga hujannya datang setelah kalian kembali dari toserba," timpal Ignacia.
...*****...
...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...
| Disini hujan, Ignacia
| Rasanya dingin sekali
^^^Benarkah? Disini sebentar lagi akan hujan |^^^
^^^Siang tadi mendung lama sekali |^^^
| Jika begitu, jangan bermain dengan hujan
| Aku tidak ada disana, jadi tidak bisa menjagamu
| Jaga kesehatan, jangan sampai sakit
^^^Aku orang yang kuat, Rajendra |^^^
| Ignacia, dengarkan aku
^^^Baiklah, aku mengerti |^^^
| Kamu sudah makan malam?
| Kamu tidak melewatkan makan kan?
^^^Tentu saja sudah |^^^
^^^Mana mungkin aku melewatkannya |^^^
^^^Bagaimana dengan kamu? |^^^
| Aku baru saja selesai makan
| Aku ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu
| Apa aku boleh menelfonmu?
Ignacia menyerkitkan dahinya bingung. Apa hal penting yang ingin dikatakan Rajendra hingga berpindah ke panggilan via suara. Ignacia setuju saja. Langsung mendapatkan panggilan begitu pesannya selesai dibaca yang di ujung sana.
"Ada hal penting apa?" Tanya Ignacia ragu-ragu.
"Aku mendapatkan pekerjaan paruh waktu," jawab Rajendra cepat. "Aku mendapatkan tawaran pekerjaan di tempat makan keluarga teman kosku. Hanya sebagai pelayan biasa, tapi gajinya lumayan karena tempatnya selalu ramai. Aku sudah datang kesana dan itu memang benar."
Mendengar Rajendra yang menjelaskan dengan begitu bersemangatnya membuat Ignacia juga merasakan semangat yang sama. Namun sesuatu menganggu pikirannya sekarang. Ah laki-laki ini akan sangat sibuk mulai sekarang, pikirnya.
"Wah itu berita bagus. Bagaimana bisa kamu mendapatkan pekerjaan secepat itu? Kamu tidak ada kesibukan kuliah? Apa tidak menganggu kuliahmu, Rajendra?"
"Bekerja kan kodratnya laki laki. Aku akan membagi waktuku dengan baik. Sama seperti yang aku lakukan denganmu, Ignacia. Aku akan membagi antara waktu denganmu, kuliah, dan pekerjaan. Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan ceroboh dan membuat kamu merasa ditinggalkan seperti dahulu."
"Tapi itu yang aku takutkan," batin Ignacia.
"Kamu akan bekerja mulai kapan? Jam berapa lebih tepatnya? Aku akan berusaha untuk tidak menganggumu nanti." Selalu perasaan ini. Ignacia selalu takut menganggu kehidupan pribadi Rajendra padahal sangat ingin tahu tentang kehidupannya.
Ignacia beralih duduk di sisi tempat tidurnya. Tidak menyenangkan duduk di karpet terlalu lama. Duduk sambil mendengarkan Rajendra menjawab. Memeluk lututnya sendiri dengan tatapan mata tertuju pada kedua kakinya.
"Aku akan mulai bekerja Minggu depan. Setiap selesai kuliah hingga pukul tujuh malam. Jika di akhir pekan, aku akan bekerja dari pagi hingga siang sebelum jam makan siang."
"Jangan bicara seperti kamu adalah pengganggu, Ignacia. Kamu tidak pernah mengangguku. Akan aku luangkan banyak waktu untuk kamu setiap akhir pekan. Bagaimana? Kita bisa melakukan apapun yang kamu mau. Berkirim pesan, melakukan panggilan video atau suara."
"Jangan menjanjikan sesuatu padaku," kesal Ignacia dalam hati. Mana mungkin dia berani mengatakan hal semacam itu. Sesuatu yang dapat mematahkan hati seseorang. "Aku takut terlalu berharap padamu."
"Baiklah, aku mengerti."
Panggilan malam itu masih berlanjut panjang. Rajendra mungkin tidak sedang memiliki kegiatan apapun hingga bisa meluangkan waktunya untuk si kekasih. Padahal hari itu hari yang bagus, tapi hati Ignacia enggan menerimanya. Jika seperti ini, Rajendra akan meninggalkan aku selama beberapa saat, pikirnya.
"Kenapa aku menjadi sangat sensitif padahal Rajendra mendapatkan sesuatu yang bagus. Seharusnya aku mendukung dan bukannya kecewa." Selalu Ignacia dan hati kecilnya.
"Tidurlah. Kamu pasti membutuhkan istirahat setelah hari panjang yang melelahkan." Ignacia berniat mengakhiri panggilan, namun Rajendra menolaknya dengan alasan masih ingin berkomunikasi dengannya. Hal ini tentu sedikit diluar kebiasaan si laki-laki. Tapi apa boleh buat.
"10 menit lagi ya?" Tawar Rajendra dengan nada yang sengaja dibuat selembut mungkin.
"Baiklah. Mari mengobrol sedikit lebih lama." Bersamaan dengan itu, Ignacia mendengar suara rintikan pelan dari luar. Dilihatnya keluar jendela. Rupanya hujan yang sejak siang memberikan tanda sekarang turun juga.
Si gadis yang berada di balik balutan baju tidur itu bangkit, mendekati jendela dan melihat butiran-butiran dingin itu mengetuk kaca. "Wah, hujan pertamaku," gumam Ignacia tanpa sadar. Senyuman muncul secara bersamaan.
"Hujan pertama?" beo Rajendra dari ujung panggilan.
"Ini hujan pertamaku di kota ini. Kita sudah sebulan kuliah, dan baru kali ini aku melihat hujan di kota ini." Ignacia kembali ke tempatnya duduk. Menarik selimut tipis untuk menutupi kaki yang mulai kedinginan.
"Benar. Sudah sebulan. Rasanya aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu, Ignacia."
"Itu ide bagus. Aku juga ingin bertemu."
Sebuah suara muncul dari ponsel Ignacia. Ketika dilihat, rupanya ada orang lain yang mencoba untuk menghubunginya via suara juga. "Rajendra, maafkan aku. Ada orang yang ingin menelfonku sekarang. Bagaimana jika kita akhiri malam ini?"
Tidak menunggu balasan dari Ignacia, langsung dia matikan untuk membiarkan orang yang menghubungi itu cepat dapat bicara dengan gadisnya.
"Kenapa Ma?" Rupanya sang mama.
"Kenapa kamu tidak menelfon, Ignacia? Mama kan khawatir dengan keadaan kamu. Sudah sebulan, tapi kamu belum pernah menelfon. Menjawab pesan saja kamu jarang." Di panggilan pertama saja sudah diserang seperti ini.
"Aku punya kesibukan Ma. Mama tahu sendiri jika aku mahasiswa baru. Jadinya ada banyak hal yang harus kulakukan." Ignacia berbohong. Dia hanya malas menghubungi karena ingin hidup sendiri tanpa bantuan. Meskipun yang dilakukannya jelas salah karena membuat orang tuanya khawatir.
"Seharusnya kamu menghubungi mama lebih sering, Ignacia. Mama menghubungi beberapa kali, tapi kamu tidak angkat. Apa saja yang kamu lakukan? Kadang mana melihat kamu online, tapi tidak membalas."
"Aku tidak mengaktifkan suara di ponselku, jadi tidak tahu jika ada panggilan masuk."
"Kamu ini alasan saja, Ignacia!" Suara sang ayah ikut dalam panggilan. "Kamu seharusnya menghubungi yang ada di rumah, bagaimana pun kondisinya. Jika terjadi sesuatu, siapa yang akan kamu hubungi hah?!" Apa ayahnya harus semarah ini hanya karena hal kecil?
"Dahulu ketika keluar kota untuk acara buku, kamu juga tidak menjawab panggilan kami. Sekarang kamu juga ingin melakukan hal yang sama?!"
"Baiklah, aku akan menghubungi kalian lebih sering nanti. Aku minta maaf. Sekarang aku lelah, ingin istirahat." Mendapatkan omelan di malam hari bukanlah sesuatu yang bagus. Rasa bahagia setelah mendengar suara Rajendra lenyap sudah.
Begitu panggilan selesai, Ignacia meletakkan ponselnya di atas nakas. Mengambil posisi yang nyaman kemudian pergi tidur. Malam ini tidak akan senyaman tanpa omelan. Suara keras ayahnya dari ujung panggilan membuat telinganya tidak tahan.
"Apa aku benar-benar harus mendapatkan teriakan itu?" gumam di gadis sebelum pergi ke alam mimpi.
...*****...
"Selamat pagi, apa yang kamu lakukan sekarang?"
Hari Ignacia diawali dengan panggilan telfon dari orang terkasih. Ya siapa lagi jika bukan Rajendra? Ini kebiasannya sebelum menjadi sangat sibuk dan meninggalkan Ignacia sendirian. Menjadi sangat baik dan selalu ada untuk sekejap.
"Aku dalam perjalanan menuju gedung kampus. Bagaimana denganmu? Sudah sarapan dan bersiap berangkat?"
"Aku juga melakukan hal yang sama. Ignacia, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Ini bukan pertama kalinya. Rajendra juga menanyakan hal seperti ini beberapa hari lalu setelah dia mengatakan soal kerja paruh waktu.
Mungkin bersiap-siap untuk hari pertamanya bekerja hari ini. Dan Ignacia akan menjawab 'tidak' seperti biasa. Jika dia bilang hanya ingin perhatian, Rajendra mungkin akan langsung memandang aneh dan berniat untuk semakin menyibukkan diri. Hah, sulit menjadi seseorang yang kekanak-kanakan.
"Ayolah, aku tahu kamu ingin sesuatu tapi tidak ingin mengatakannya padaku. Katakan saja apa saja. Dan aku akan memenuhi semuanya jika bisa."
"Sudahlah, aku bukan anak kecil, Rajendra. Aku bisa melakukan apa yang kuinginkan sendiri. Sudah dulu ya, aku harus mematikan panggilan sekarang."
"Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi nanti malam."
Ignacia langsung mematikan panggilan. "Padahal ini yang sangat kutunggu-tunggu. Tapi kenapa aku bersikap tidak baik dan dingin seperti itu? Rajendra hanya ingin menjaga hubungan ini tetap hangat padahal," bisik Ignacia.
Ponselnya disimpan ke dalam tas. Melanjutkan perjalanan menuju kelas yang ada di lantai sekian. Belum dilihatnya seorang pun. Ignacia sengaja berangkat lebih awal hanya untuk duduk di kelas, melihat luar jendela, memperhatikan mereka yang baru memasuki gedung kampus.
"Apa aku harus mencari pekerjaan paruh waktu agar tidak memikirkan Rajendra lagi?" Ignacia bergumam. Tangannya bergerak untuk meraih ponsel dan mencari lowongan pekerjaan paruh waktu lewat online. Mungkin ada sesuatu di media sosial yang letaknya di dekat sini.
Baru saja membuka sebuah web, tiba-tiba sebuah panggilan datang hingga menutupi layar ponsel Ignacia. Digesernya tombol hijau disana dengan ragu. Tapi kemudian memberanikan diri untuk mendekatkannya ke telinga. "Ada apa menelfonku?"
"Kau tidak ada di asrama? Aku mengetuk pintu tapi tidak ada yang menjawab."
"Aku ada di kelas. Kenapa mencariku, Danita?" Ya, panggilannya dari tetangga di asramanya.
"Aku ingin mengajakmu berangkat bersama. Kalau begitu aku akan langsung pergi kesana."
Danita sampai sekitar sepuluh menit setelahnya. Langsung mengambil duduk dan mengintip layar ponsel temannya. "Kau sedang mencari apa?" Bisiknya. Dia menatap layar Ignacia dan pemiliknya bergantian.
"Pekerjaan paruh waktu. Aku ingin menyibukkan diri."
"Menyibukkan diri? Bukankah menjadi mahasiswi sastra saja sudah sibuk? Kenapa kamu ingin menjadi lebih sibuk?"
"Untuk menambah uang saku?" Ignacia menoleh sambil tersenyum singkat, "aku hanya ingin menyibukkan diri dengan sesuatu saja. Meskipun upahnya kecil, yang penting aku sibuk."
"Benar hanya karena itu? Aku lebih suka alasan pertamamu." Oh rupanya Danita menganggap serius ucapannya yang pertama. Padahal niat awalnya hanya becanda. Wajah polos Danita membuat Ignacia tertawa geli. Temannya ini mudah percaya.
"Yang pertama itu bukan alasan. Omong-omong kenapa tadi kau ingin mengajakku pergi bersama? Kukira kelasmu tidak disini pagi ini." Danita mengambil kelas lain di hari ini. Biasanya juga Danita tidak bertemu dengan Ignacia di kelasnya seperti ini.
"Dosennya tidak bisa hadir. Jadinya aku ingin ikut kelas ini saja. Juga tadi kekasihku datang, dia membawakan ini." Danita mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ada sebuah bungkusan kantong kertas disodorkan padanya. "Dia membuat camilan sendiri. Katanya aku juga harus berbagi denganmu."
"Berbagi denganku?" Hal seperti tentu tidak pernah dibayangkan oleh Ignacia. Setelah kebaikan gadis ini, sekarang dia mendapatkan kebaikan hati kekasihnya juga? Wah mereka pasangan yang terlihat mengada-ada.
"Dia membuat banyak untuk teman-temannya juga. Ambil saja. Dia belajar membuat ini dari teman kampusnya di jurusan lain. Jadi rasanya tidak akan seburuk dugaanku." Danita tersenyum cerah, mengambil tangan Ignacia agar menerima bungkusan yang dibawanya.
"Terima kasih, Tata. Sampaikan terimakasih ku untuk kekasihmu juga. Wah aku jadi merepotkan kalian."
"Hei kau tidak merepotkan. Jika enak, aku akan meminta dia membuat lagi, hehe."
...*****...
Ada jeda tiga puluh menit sebelum kelas selanjutnya. Bisa dibilang ini jam yang tepat untuk menghubungi orang tuanya soal keinginan mencari pekerjaan paruh waktu. Mungkin akan ada kemudahan dalam mencarinya jika sudah mendapatkan izin. Meskipun agak ragu, Ignacia tetap melakukannya.
"Aku ingin bicara sesuatu."
Kebetulan mamanya yang mengangkat. Ignacia mungkin bisa lebih terbuka. "Katakan saja. Ada apa menelfon jam segini? Mama kira kamu ada kelas sekarang."
"Aku ingin bekerja paruh waktu," gumam Ignacia. Saking gugupnya, Ignacia sampai hanya bisa bergumam.
"Hah? Kamu bicara apa Ignacia?" Mamanya yang sudah berada di umur ini sampai tidak bisa mengerti apa yang dikatakan anak pertamanya. Suaranya begitu samar-samar seperti suara angin.
Si gadis menguatkan diri, mengepalkan tangan guna mengumpulkan keberanian yang dikumpulkannya sejak pagi. Harap-harap tidak ada penolakan. "Aku ingin bekerja paruh waktu," ulang Ignacia.
"Kerja paruh waktu? Dimana?" Mamanya balik bertanya.
Angin segar seolah menerpa tubuh tegang Ignacia. Cuaca panas di taman kampus yang menjadi tempatnya menunggu kelas selanjutnya seolah tidak terasa. Dari suara mamanya terdengar seperti tidak ada penolakan seperti yang diinginkan.
"Aku belum menemukannya. Aku minta izin agar dimudahkan dalam mencarinya. Bagaimana? Apa aku mendapatkan izin?"
"Kerja paruh waktu ya?"
Tunggu. Kenapa ada perubahan nada bicara disini?