Beautiful Monster

Beautiful Monster
Lima Tahun



Ignacia menunggu dengan gugup. Si gadis datang dua puluh menit lebih awal hanya untuk memastikan dia tidak terlambat. Tentunya dia tidak datang tanpa buah tangan. Kedatangan Rajendra harus sempurna. Hari jadi yang kelima harus sempurna. Kue rasa coklat adalah hadiah yang bagus kan?


Menunggu selama dua puluh menit itu lumayan menyiksa. Antara gugup dan tidak sabar bercampur menjadi satu. Ignacia mengecek ponsel tiap lima menit sekali untuk berjaga-jaga apakah Rajendra membutuhkan bantuan di stasiun. Tidak lupa sambil melihat jadwal kereta yang dinaiki sang kekasih.


Waktu berlalu, kereta yang dinaiki Rajendra sudah akan tiba di stasiun dalam beberapa detik. Ignacia berdiri dengan membawa kue di belakang tubuhnya. Sebaiknya jadikan ini sebagai kejutan kecil. Ignacia harus menyiapkan senyuman terbaiknya juga untuk yang berpergian jauh.


Para penumpang di gerbong yang Ignacia perhatikan mulai turun, mengisi sebagian stasiun bagaikan kawanan lebah sibuk. Pergo ke arah sana, pergi ke arah sini, duduk sebentar disana, menyelesaikan urusan sebentar disini. Dan lagi bukan hanya satu atau dua kereta yang datang di waktu yang bersamaan.


Ignacia berusaha keras untuk mencari keberadaan Rajendra dengan radar khusus. Mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang diantara puluhan bukanlah sesuatu yang mudah. Ignacia jadi kagum pada Rajendra yang bisa muncul tepat di depan pintu gerbong ketika Ignacia turun dari kereta waktu itu.


Radar Rajendra sangat hebat.


Tangan Ignacia tidak bisa diam padahal ingat jika tengah membawa kotak kue. Sesekali berjinjit agar pandangannya bisa lebih luas. Hasilnya tetap saja nihil seolah Rajendra tidak berada di kereta itu sejak awal.


Seperkian menit berlalu, Ignacia lelah harus berjinjit. Stasiun mulai terlihat sepi. Kereta kembali mengikuti jalurnya, mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang baru saja melewati pemandangan berharga bersama. Apa Ignacia salah? Apa kereta Rajendra bukan yang diperhatikannya?


Namun tiba-tiba radarnya seperti menangkap sebuah aura yang sangat familier. Ignacia cepat-cepat mencari darimana asalnya. Mempertajam penglihatan juga pendengaran jika saja targetnya memanggil dari arah lain. Radarnya tidak mungkin salah. Tidak mungkin juga menumpul.


Dan di tengah kesibukan mencari asal sinyal, akhirnya Ignacia dapat menemukannya. Senyuman di wajah cantik si gadis berambut panjang ini mengembang sempurna bagai adonan kue yang tercampur dengan ragi.


Si gadis mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi, melambaikan tangan untuk mendapatkan perhatian kekasihnya. Apa Ignacia tidak sedang berkhayal? Seseorang yang membawa tas punggung disana adalah seseorang yang ditunggunya beberapa bulan terakhir?


Senyuman manis, tatapan yang hanya ditujukan untuk Ignacia, lalu setiap langkah yang menipis memberikan dampak hebat pada detak jantung si gadis. Semakin dekat. Semakin dekat kemudian sampai telah di hadapan Ignacia. Laki-laki ini berhasil datang. Akhirnya.


Rajendra berhenti di hadapannya, menatap lurus pada manik mata si gadis. Wajah rupawan, alis tebal, tubuh tinggi, semua deskripsinya cocok dengan visualisasi yang diingat Ignacia akan kekasihnya. Tidak ada yang berbeda.


"Kamu menunggu lama?" tanya Rajendra, masih dengan senyuman yang sangat bahagia.


"Kenapa kamu lama sekali?"


Ignacia langsung memeluk kekasih erat. Ignacia dapat dengan jelas mencium aroma tubuh seseorang yang sangat membuatnya sesak jika tidak bertemu barang sehari. Lupakan banyak pasang mata yang menatap keduanya aneh. Ignacia tidak akan terpengaruh lagi dengan semua yang dilakukan orang lain.


"Aku sudah menunggu dan mencari-cari kamu sejak tadi," gerutu si gadis setengah berbisik, "darimana saja kamu hingga baru muncul sekarang? Keretanya saja sudah pergi."


Rajendra membalas pelukan gadisnya hangat, mengelus surai panjang Ignacia lembut. "Aku kesulitan keluar karena ada banyak orang berlalu lalang. Bahkan setelah turun dari kereta, aku masih kesulitan."


"Dan kenapa kamu bisa ada disini? Sudah kukatakan jika aku akan langsung pergi ke hotel sebelum menemuimu. Biarkan aku yang menemuimu, seperti yang dilakukan pria sejati."


Pelukan keduanya melonggar, Ignacia menatap kekasihnya lamat-lamat. Tangannya perlahan menangkup wajah yang sangat dirindukan si gadis dengan satu tangan. Rajendra dapat melihat dengan jelas jika kini mata kekasihnya tengah berbinar sangat cantik.


Bertatapan mata dengan Ignacia adalah kesukaan Rajendra. Ya alasannya karena Ignacia selalu mengalihkan pandangan setelah bertatapan kurang dari lima detik. Tapi sekarang Ignacia berhasil. Sekarang pasti sudah lebih dari lima detik.


"Aku juga ingin menemuimu lebih dahulu."


Sayangnya Rajendra yang tidak siap dengan tatapan Ignacia. Apalagi ditambah dengan kejujuran Ignacia yang sangat polos. Si laki-laki bertubuh tinggi ini lebih memilih untuk kembali mengeratkan pelukan daripada bertatapan. Wajahnya terasa panas karena Ignacia terus menatapnya.


"Kenapa?" bingung Ignacia. Bahkan posisi tangannya sudah disingkirkan agar Rajendra bisa memeluknya dengan leluasa. Bukan hanya Ignacia yang bahagia karena akhirnya bisa kembali bertemu. Bukak hanya Ignacia yang merasa sesak ketika tidak bertemu barang sehari.


Ignacia semakin dibuat bingung karena Rajendra semakin mengeratkan pelukannya. "Hei apa ada yang salah?" tanya Ignacia lembut. Tidakkah pelukan Rajendra terlalu erat? Meksipun itu tidak menyakiti Ignacia.


"Aku senang bisa melihatmu lagi," jujur Rajendra.


Pelukan melonggar, sekarang saatnya Ignacia memberikan hadiah yang dia beli sebelum datang. Rajendra tidak akan menolak, tapi syaratnya Ignacia juga akan memakan kuenya bersama Rajendra. Ukurannya sedang, namun Rajendra mana bisa menghabiskannya sendirian.


Ignacia memanggil taksi agar bisa mengantarkan Rajendra ke hotel yang sudah dipesan. Namun aksinya cepat-cepat dihentikan oleh Rajendra dengan alasan yang aneh. "Aku tidak ingin merepotkanmu, jadi biar aku yang memanggil dan kamu cukup menemani aku saja."


Padahal memanggil taksi bukanlah sesuatu yang sulit dan merepotkan. Ignacia ingin membuat Rajendra nyaman selama bersamanya. Tkdak ada alasan lain. Tapi ya tidak apa-apa jika Rajendra ingin melakukannya sendiri. Selama dia tidak merasa terpaksa.


Selanjutnya ketika sampai di hotel, lagi-lagi Rajendra menghentikan aksi Ignacia yang akan mengikutinya ke kamar untuk meletakkan tas. "Duduklah di lobi agar kamu tidak perlu berputar-putar. Aku akan segera kembali."


Ignacia menolak, "aku tidak mau duduk di lobi. Aku ingin ikut. Aku tidak keberatan jika berputar-putar sebentar." Ignacia sedang berada di mode tidak ingin terpisah. Biarkan saja menjadi manja, yang penting bisa terus bersama dengan Rajendra.


Rajendra memangku wajah cantik Ignacia dengan kedua tangannya, "aku hanya akan pergi sebentar. Duduklah disana. Kamu ingin berkencan seharian kan? Kamu harus menyimpan energi kalau begitu."


Kenapa tatapan mata Rajendra membuat Ignacia langsung patuh? Apa laki-laki ini melakukan semacam trik hipnotis? Atau hanya Ignacia saja yang tiba-tiba ingin menurut karena Rajendra juga menggunakan nada bicara yang menenangkan?


Mungkin Ignacia salah lihat, ada sesuatu yang menarik perhatian Ignacia ketika Rajendra berbalik untuk pergi ke resepsionis. Sebuah benda yang mirip seperti yang Ignacia miliki. Tapi kenapa Rajendra memakainya? Dikiranya Rajendra hanya akan menyimpannya saja.


Jadilah Ignacia menunggu di lobi. Dirinya hanya menatap sekitar dengan bosan. Melihat orang-orang berlalu lalang dengan membawa koper atau tas ransel seperti yang dilakukan Rajendra. Sekarang bukan musim liburan tapi banyak orang yang memesan kamar.


...*****...


"Tadaa Crumble Cake dan Dalgona Latte."


Mata Ignacia mengikuti arah gerah Rajendra. Dia diminta duduk dan menunggu sementara kekasihnya memesan menu. Padahal Ignacia yang pernah datang kemari, tapi Rajendra yang mengurus semuanya seakan sudah mengenal lama. Kafe dimana Ignacia menelfon Rajendra saat dari jadi mereka waktu itu.


Melihat Rajendra yang bersemangat membuat Ignacia ingin mengabadikan semua momennya. Namun sayangnya ada janji pada diri sendiri untuk tidak menggunakan ponsel selama keduanya bersama.


"Terima kasih," ucap Ignacia masih dengan mata yang menatap lurus ke arah sang kekasih. Dia sibuk memindahkan camilan dan lattenya ke meja dan meletakkan nampan di sampingnya.


"Terima kasih kembali," respon Rajendra cepat. Rajendra bahkan menangkap basah kegiatan Ignacia yang menatapnya sejak tadi. Wajahnya kembali memanas karenanya. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Rajendra gugup.


"Karena aku sudah lama tidak melihatmu? Jadi bagaimana perjalananmu, Rajendra? Kamu belum bercerita padaku. Lalu bagaimana respon atasanmu saat kamu meminta izin cuti untuk menemuiku?" Ignacia menaruh minat lebih dari apapun. Bahkan dia seolah tidak berkedip.


Rajendra memulai ceritanya dengan waktu bangun yang mengejutkan. Dan ceritanya bisa sangat panjang karena Ignacia terus-menerus penasaran dengan apa yang dilakukan laki-laki di hadapannya ini. Saking rindunya dia.


Melihat Rajendra tersenyum, tertawa, dan membalas tatapannya adalah sesuatu yang akan diingat Ignacia hingga keduanya bisa kembali bertemu di kemudian hari. Semua tentang apa yang mereka lakukan hari ini akan diingat.


Pembicaraan lainnya dilanjutkan dengan jalan-jalan sambil makan es krim sebelum makan siang. Ignacia yang ingin karena cuacanya masih cukup bagus untuk digunakan duduk-duduk di taman sambil mengenang masa lalu. Lagi-lagi es krim keduanya seperti yang dahulu selalu keduanya makan.


"Sudah lama aku tidak makan es krim," ucap Rajendra memberitahu. Pernyataannya otomatis membuat Ignacia penasaran kenapa alasannya. "Karena aku lebih suka makan es krim saat bersamamu."


Ignacia sepertinya juga merasakan hal yang sama. Sejauh ini dia belum makan es krim apapun setelah menjalani hubungan jarak jauh dengan Rajendra. Es krimnya terasa lebih enak ketika bersama Rajendra. Apa karena keduanya memang selalu makan es krim ketika bersama?


Hening, keduanya lelah bertukar cerita. Ignacia menyandarkan kepalanya di bahu Rajendra, tatapan matanya tertuju pada pemandangan anak-anak di play ground. Entah mengapa melihat mereka berlarian, tertawa, dan saling memanggil menjadi pemandangan yang tidak membosankan.


Bahkan sampai es krim Ignacia habis saja dia masih menatap ke arah anak-anak disana. Sepertinya Ignacia sedang merindukan adik-adiknya di rumah. Sudah lama mereka tidak saling melihat. Beberapa bulan terakhir Ignacia hanya mengirimkan pesan singkat pada Athira dan mamanya saja.


"Ignacia," karenanya Ignacia tidak mendengar dengan jelas panggilan Rajendra. Si gadis mengangkat kepalanya, menatap kekasihnya yang memberikan kode, "kita pergi sekarang?"


"Kenapa kamu melamun?" pada akhirnya Rajendra tidak mampu membendung rasa penasaran. Tidak biasanya gadisnya akan menatap orang lain begitu lama dengan tatapan yang semakin lama semakin tampak kosong.


Ignacia menggeleng, mengambil tangannya dari genggaman Rajendra kemudian beralih menggelayut di lengan kekasihnya. Rasanya lebih nyaman seperti ini. Ignacia tidak ingin membahas soal perasaan pribadinya. Dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Rajendra.


Di restoran, pagi-pagi Rajendra melakukan hal yang sama. Melayani Ignacia dengan membawa makanan ke atas meja. Ignacia ingin mendahului, namun kaki panjang Rajendra lebih dahulu sampai. "Duduk saja, biar aku yang mengurusnya," kata Rajendra sambil menepuk bahu Ignacia pelan.


"Seharusnya aku yang melakukan semuanya, karena aku yang mengundang kamu kemari," protes Ignacia. Si gadis tampak tidak enak, namun justru protesnya tampak menggemaskan bagi Rajendra.


"Aku datang kemari karena ingin merayakan hari anniversary denganmu. Bukankah wajar jika laki-laki itu banyak melakukan sesuatu untuk gadisnya? Lagipula... Aku ingin minta maaf karena tidak bisa datang tepat waktu." Rajendra menatap Ignacia lama.


"Yang penting kamu sudah datang."


...*****...


Tempat terakhir sebelum Rajendra dan Ignacia memutuskan untuk menyudahi hari ini adalah bukit paralayang. Tempat sempurna untuk melihat pemandangan senja berdua bersama orang terkasih. Disini kebetulan tidak terlalu ramai. Rajendra pandai memilih tempat untuk duduk dan bersantai jauh dari keramaian.


Matahari sudah berada di posisi paling sempurna sebelum mengakhiri pekerjannya sebagai dewa siang. Menyisakan banyak cahaya merah keorenan yang jarang bisa diabadikan oleh para pemula seperti yang dilakukan Ignacia. Jadinya dia hanya senang memandangi langit yang kian menggelap.


Iseng si gadis menyandarkan kepalanya pada bahu kekasihnya, sambil masih bergandengan tangan seolah tidak ingin kembali dipisahkan. Beruntungnya tempat ini masih memiliki kursi taman yang tersisa, jadinya mereka tidak harus membawa alas seperti yang dilakukan pengunjung lain.


Mata keduanya hanya fokus pada pemandangan alam tanpa gangguan hingga Ignacia berbicara, "bukit ini mengingatkan aku dengan bukit di kota kita, Rajendra. Aku senang kamu membawaku kemari. Rasanya hangat." Ignacia memeluk lengan Rajendra, kepalanya mendongak untuk melihat reaksi si laki-laki.


"Kamu benar," Rajendra menyandarkan kepala di atas kepala Ignacia, "tapi disini lebih dingin daripada kota kita."


Seperginya Matahari beserta selendang cahaya, kini pemandangan lainnya datang dari kota. Citilight. Kota bagaikan menyimpan banyak kunang-kunang di dalam semua bangunan yang ada. Lautan kunang-kunang berwarna merah dan putih. Kunang-kunang yang akan bertahan semalaman.


"Terima kasih sudah menungguku. Terima kasih sudah mau mengerti dan tidak kecewa padaku, Ignacia." Dikecupnya puncak kepala Ignacia singkat kemudian kembali ke posisi semula. Rajendra mengeratkan genggaman tangannya, "terima kasih karena sudah bersamaku selama lima tahun."


Ignacia terkekeh, membuat bingung Rajendra yang sedang mengutarakan perasaannya. "Aku tidak percaya jika kamu bisa mengatakan hal semacam itu. Terima kasih juga atas semua yang kamu lakukan padaku, Rajendra. Terima kasih karena sudah datang menemuiku."


Mengakhiri kencan dengan pemandangan kota juga ungkapan terima kasih satu sama lain adalah sesuatu yang belum pernah Ignacia bayangkan sebelumnya. Ditambah lagi kecupan di puncak kepala tulus dari Rajendra tadi.


"Omong-omong apa kamu sudah memikirkan hadiah ulang tahunmu?"


Ignacia menggeleng pelan, "aku akan memberitahumu setelah aku mendapatkan ide."


Rajendra masih belum melupakan keinginannya untuk memberikan Ignacia sesuatu. "kamu bisa memikirkannya sebelum tahun ini berakhir. Aku ingin mengabulkan sesuatu yang sangat kamu inginkan tahun ini."