
Kedua mata Miho terbuka menatap langit-langit ruangan asing yang tak pernah disinggahinya. Ia berusaha bangun, memegangi sebelah bahunya yang merasa nyeri akibat tembakan.
"Miho!" Hisashi berlari cepat mendekati Miho untuk membantunya bangun dan duduk bersandar dengan nyaman di ranjang.
"Di mana aku?" tanya Miho menatap sekeliling.
"Aku membawamu ke rumahku. Lukamu juga sudah diobati," kata Hisashi menatapnya cemas.
Miho terdiam memikirkan sesuatu. Dia teringat saat dirinya dibawa terbang oleh Yujiro. Miho ingat bagaimana Yujiro menatapnya saat itu. Ada sorot sedih yang membuat Miho merasa jika sesuatu berusaha Yujiro ingin ungkapkan padanya namun tak bisa.
"Aku harus mencarinya," cetus Miho hendak beringsut, tapi Hisashi langsung mencegahnya.
"Dia sudah pergi."
Miho terdiam. "Apa?"
"Dia sudah pergi, Miho. Dia memilih untuk pergi agar tak membahayakanmu dan yang lain," jelas Hisashi.
"Aku tidak ingin membiarkan Yujiro sendirian. Dia pasti... pasti sangat ketakutan sekarang." Mengingat saat itu Yujiro juga ketakutan setelah dia memburu banyak hewan ternak milik warga Desa Noda.
"Miho, berikan dia waktu untuk sendiri. Dia saat ini menjadi hal yang paling ditakuti orang-orang setelah membuat desa berantakan. Jika dia kembali, dia pasti menjadi buruan semua orang. Mereka pasti akan membunuhnya."
Hisashi benar. Hal itu membuat Miho menghembuskan nafas kecil dengan perasaan yang masih gelisah memikirkan keadaan Yujiro.
Di mana lelaki itu sekarang?
Miho sangat ingin tahu keadaan Yujiro sampai-sampai dirinya tak bisa tidur untuk beristirahat sama sekali selama masa pemulihannya.
Kepala Miho terus bekerja memikirkan berbagai cara untuk mengembalikan Yujiro. Miho tak ingin lelaki itu dicap monster lagi oleh orang lain karena terlihat dari diri Yujiro yang seakan mengatakan bahwa itu bukanlah kehendaknya.
Hari-hari pun berlalu. Saat itu, Miho memutuskan sesuatu.
"Jika Yujiro tak bisa kembali, maka aku lah yang akan mengejarnya. Aku yang akan menemaninya," tekad Miho membuat Hisashi menatapnya tak menyangka.
"Miho, apa kau gila?" Hisashi memegang kedua lengan Miho dengan lembut. "Miho, jika kau menganggap hanya punya dia, kau masih punya aku. Kau bisa hidup bersamaku. Tidakkah kau berpikir kalau keputusanmu untuk mengejarnya adalah hal yang sia-sia untuk hidupmu? Bahkan mungkin akan membahayakanmu. Lihatlah aku, Miho. Aku akan menjagamu sebaik mungkin, jadi tetaplah tinggal di sini. Denganku."
Miho melepaskan tangan Hisashi darinya sambil tersenyum tipis. "Yujiro hanya memilikiku. Dia tak memiliki siapa pun lagi untuk ada di sampingnya sekarang. Jadi aku ingin terus menemaninya. Aku ingin menemukan Yujiro sendiri dan membuatnya tetap hidup sebagai seorang manusia."
"Kau yakin dengan keputusan ini?" tanya Hisashi mulai menenangkan hatinya setelah mendapatkan penolakan.
"Aku yakin. Terimakasih karena kau sudah menjagaku selama ini," pamitnya lantas berjalan mencapai pintu keluar.
"Aku akan tetap menjagamu," cetus Hisashi membuat Miho berhenti.
"Apapun keputusan perasaanmu padaku, tak akan mengubahku untuk melindungimu, Miho."
"Terimakasih, Hisashi," ucap Miho sedikit menoleh lalu melenggang pergi dari sana.
Sekarang, apa hal pertama yang harus dilakukan?
Miho sempat bingung hendak mencari Yujiro ke mana terlebih dahulu. Mendapatkan fakta bahwa Senzo masih hidup, membuat Miho bertekad harus menemukan Yujiro terlebih dahulu.
Miho pun berjalan dengan mengenakan jubah untuk menutupi identitasnya. Dia takut ada bawahan Senzo yang melihatnya dan akan menculiknya lagi.
Akhirnya, Miho memutuskan datang ke Desa Noda terlebih dahulu untuk menemui Nenek Kawa. Miho ingin tahu keadaannya yang saat itu terlihat begitu syok melihat Jo membawa kepala Sen padanya.
"Nenek Kawa," panggil Miho seraya menurunkan tudung jubahnya.
Nenek Kawa mengalihkan manik mata pada Miho. "Dia sempat mendatangiku beberapa hari yang lalu."
Miho memahami jika "Dia" yang Nenek Kawa maksud adalah Yujiro.
"Dia terlihat sedih, sepi, takut dan kesakitan. Dia terlihat begitu merasa bersalah dengan tatapannya. Malam itu, dia mendatangiku seakan hanya ingin meminta maaf padaku sebelum pergi."
Miho bisa membayangkan hal itu.
"Meski wujudnya mengerikan, aku memahami hatinya yang lemah. Itu bukan keinginannya. Dia ingin hidup sebagai manusia dan aku tahu itu setiap dia menatapmu. Dia menjadi dirinya saat bersamamu," lanjut Nenek Kawa.
"Dia adalah korban kutukan higanbana biru yang selalu Sen cari. Selama ini, dia pasti berusaha keras menahan kesengsaraan dalam hidupnya. Meski dia mati, dia akan hidup kembali dengan kesengsaraan yang baru. Itulah kutukan higanbana biru."
...****************...
Senzo menatap salah satu bawahan yang masuk ke dalam ruangannya. Dia membungkuk memberi hormat sebelum akhirnya melaporkan sesuatu.
"Menurut informasi yang kita dapatkan, manusia serigala sangat alergi dengan perak. Jika makhluk itu bersentuhan dengan perak, maka itu akan membuatnya lemah atau bahkan mati."
Senzo tersenyum senang. "Kalau begitu pesanlah semua senjata berbahan perak. Kita harus segera menemukan monster itu dan menjadikan wujudnya tontonan bagi manusia untuk menunjukkan bahwa makhluk mengerikan itu sudah kukalahkan."
"Baik, Tuan." Lelaki itu kembali mengatakan sesuatu. "Ini mungkin akan menjadi tambahan senjata untuk kita. Kudengar ada sebuah tanaman beracun bernama Wolfsbane yang bisa melemahkan manusia serigala. Kita bisa mencoba menggunakan untuk melemahkannya nanti sebelum kita serang dengan senjata perak."
"Cerdas!" puji Senzo tertawa puas. "Aku tidak sabar menyeret mayatnya. Kita pasti akan punya banyak untung dengan kematiannya."
Bertepatan dengan itu, bawahannya yang lain izin masuk untuk melaporkan sesuatu pada Senzo.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tuan Keizo sudah sadar. Tapi tubuhnya masih tak bisa bergerak setelah dilempar cukup keras oleh monster itu."
Senzo pun memutuskan untuk pergi menengok Keizo. Ia melihat lelaki itu terbaring kaku dengan beberapa perban di bagian tubuhnya.
"Suatu keajaiban kau masih bisa hidup, Keizo," ejek Senzo yang membuat Keizo hanya bisa menggerakkan matanya untuk melirik.
"Aku sudah melakukan pencarian untuk menemukan makhluk itu. Kami juga sudah menemukan senjata untuk mengalahkannya," lanjut Senzo yang menyeret satu kursi untuk duduk di sebelah ranjang tempat Keizo berbaring.
"Bawa tanduk dan sayapnya padaku. Aku akan menjadikannya pajangan di rumah ini," geram Keizo penuh dendam dengan bersusah payah bicara.
"Kau harus membayarku mahal jika ingin bagian tubuhnya," kata Senzo.
"Aku akan membayarmu berapa pun asal kau bisa menyeretnya ke hadapanku!"
"Baiklah." Senzo angkat bahu tak masalah. "Ah, anak buahku bilang jika mayat pembunuh bayaranmu itu tidak ditemukan. Mungkinkah dia masih hidup lalu kabur ketakutan karena monster itu?"
Keizo berdecih. "Aku tidak membutuhkannya lagi. Dia hanya salah satu anjing menyedihkan yang kupungut saat perang. Jika tidak kubawa, mungkin dia sudah mati terbakar saat itu."
"Kau masih saja kejam," cibir Senzo lantas kembali bangkit.
"Melihatmu masih bisa bicara membuatku lega. Jangan lupa bayaranmu nanti. Aku akan membawa apa yang kau inginkan, Keizo."