Beautiful Monster

Beautiful Monster
Janji Kabar



"Darimana kalian belajar memainkan peran? Kukira kalian semua muak dengan drama kelas sebelas." Ignacia terkekeh. Lucu saat melihat teman-temannya menjadi kompak. Rasanya seperti benar-benar menjadi tokoh utama.


"Kami tidak sedang bermain drama," Maharani menjawab, "kami benar ada disini untukmu. Kami tidak butuh peran untuk membuat kejutan berhasil. Yang penting, kita semua bisa menghabiskan waktu bersama."


"Hari ini akan menyenangkan, Ignacia," Widia tersenyum lebar, "ini akan menjadi kenangan yang hebat sebelum menginjak bulan-bulan ujian menuju kedewasaan."


Sarapan bersama. Berolahraga bersama. Mengambil foto, membuat video singkat, juga hal-hal menyenangkan lainnya. Mereka sudah menyiapkannya. Ignacia hanya perlu ikut ambil bagian dan menikmatinya. Tokoh utama tidak harus bersusah payah untuk mendapatkan kebahagiaan ketika bersama orang-orang kepercayaannya kan?


Athira tidak bisa menyimpan kekhawatirannya soal sang kakak dari teman-teman kakaknya. Kebetulan dia memiliki nomor Nesya dan meminta teman baik kakaknya untuk datang dan membantu membuat Ignacia kembali bahagia.


Nesya membawa sembilan teman terbaik Ignacia untuk ikut karena kemungkinan benar Ignacia akan lebih senang jika semua temannya hadir. Harapannya Ignacia tidak akan tahu jika mereka merencanakan ini untuk hatinya yang sakti karena pertengkaran dengan Rajendra.


Tapi Ignacia bukan gadis yang polos.


...*****...


"Pengumuman-pengumuman," ucap perempuan yang bertugas menjadi protokol upacara di depan. Menggeser dirinya sendiri agar seorang guru yang sudah siap membawa sebuah kertas berisi pengumuman bisa memakai mic miliknya.


Semua orang tahu jika hal ini artinya mereka akan berada di lapangan sedikit lebih lama karena harus mendengarkan semua pengumuman hingga selesai. Jika beruntung, mereka yang tidak berkepentingan bisa meninggalkan lapangan seperti yang dilakukan oleh para guru dan petugas upacara hari ini.


Ignacia malas mendengarkan. Dia lebih memilih bersandar pada Nesya sambil menutup matanya yang lelah. Semalam dia tidak bisa tidur karena pada malam Minggu dia tertidur hingga hampir waktunya makan siang. Sudah dibangunkan, tapi alam bawah Ignacia menolak untuk bangun.


"Untuk para teman-teman kita yang berhasil mendapatkan juara pertama di perlombaan Oceanic kategori design kapal." Suara guru di depan menarik atensi Ignacia. Pasalnya nama Rajendra disebutkan bersama dengan dua orang teman laki-laki yang lain. Ketiganya tampak senang.


Gemuruh tepuk tangan ditujukan untuk ketiganya. Ada yang bersorak memberikan semangat, namun ada yang juga bersorak agar bisa segera kembali ke kelas. Udaranya tidak begitu panas, tapi melelahkan berdiri cukup lama disini.


"Aku sudah tahu itu." Ignacia membuka matanya, masih dengan posisi bersandar pada Nesya. Ignacia mendapatkan berita lebih dahulu dari Rajendra. Mungkin laki-laki itu hanya sedang iseng saja malam itu.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Kami menang juara pertama


^^^Kalian memang yang terbaik |^^^


| Terima kasih, Ignacia


^^^Terima kasih untuk apa? |^^^


| Aku bersemangat membuat kapal ini dengan bantuanmu


| Karena kamu bisa mengerti kesibukanku


^^^Aku tidak membantu apapun |^^^


^^^Semuanya karena kalian berbakat |^^^


| Maaf sudah membuatmu sedih tempo hari


^^^Tidak perlu dipikirkan |^^^


^^^Itu sudah berlalu |^^^


| Bagaimana jika kita berkencan setelah ini?


| Makan es krim di luar seperti kesukaanmu


^^^Aku akan menantikannya |^^^


"Woah, aku tidak tahu jika mereka ikut lomba." Nesya saja baru tahu hari ini. Apa kabar Ignacia jika saja teman laki-lakinya waktu itu tidak membahas soal lomba? Mungkin Ignacia akan terheran-heran karena tiba-tiba Rajendra dan kedua temannya mendapatkan penghargaan di sebuah lomba.


Ketiganya berfoto bersama dengan membawa penghargaan juga piala. Rajendra yang paling tinggi, berada di tengah kedua temannya. Seseorang yang tampak paling bersinar bagi Ignacia. Apa Rajendra sudah tahu jarak yang ada diantara keduanya sekarang? Dia ada di panggung, sementara Ignacia adalah satu dari sekian banyak penonton.


"Masa depanmu sudah tampak lebih bersinar bukan?" Gumam Ignacia tanpa diketahui Nesya.


Rajendra tampak mencari-cari sesuatu di barisan Ignacia. Matanya bertemu dengan mata Ignacia. Gerak-geriknya seolah ingin menunjukkan piala yang dibawanya pada Ignacia.


"Lihatlah, aku bisa mendapatkan ini karena sudah bertemu denganmu setiap sore," kira-kira begitu.


Ignacia mengangguk, memperbaiki posisi berdirinya kemudian tersenyum senang. Begitu pula dengan Rajendra di depan sana.


Tentu bukan Ignacia saja yang menyadari tatapan Rajendra dari depan sana. Kini teman-teman Ignacia mulai menggoda pasangan yang dipisahkan jarak begitu jauh ini. Ada yang berisik, ada juga yang sampai menarik perhatian teman di barisan lain. Namanya juga anak bahasa.


"Sekali lagi selamat untuk ananda-ananda yang berhasil mendapatkan penghargaan di lomba ini."


...*****...


"Ignacia," seseorang memanggil. Teman Rajendra yang ikut berfoto di saat selesai upacara tadi. Laki-laki itu melambaikan tangan, kode untuk Ignacia mendekatinya. Rasanya aneh karena Ignacia tidak mengenal laki-laki ini. Tapi entah mengapa dia menurut saja dan berjalan mendekat.


Ignacia di ajak ke arah samping kelas Rajendra. Jalan menuju ruang ekstrakurikuler robotik. Ignacia baru tahu jika selama ini Rajendra sering berada disana. Nesya baru memberitahu dia setelah upacara selesai.


"Ada apa?" Ignacia bertanya.


Oh Rajendra ada disana. Membawa sertifikat dan piala penenang lomba membuat kapal. "Aku ingin berfoto denganmu sambil membawa ini." Wah Rajendra ini ada-ada saja. Mana tidak hanya ada mereka berdua disana. Canggung sekali.


Rajendra mendekati Ignacia, menarik pinggang si gadis untuk berfoto dengannya. Laki-laki ini seperti lupa jika ada seorang teman yang sudah siap dengan ponsel Rajendra untuk mengabadikan momen keduanya. Dia pasti menyesal sudah mau menuruti permintaan Rajendra.


"Kenapa tidak nanti saja?" Bisik Ignacia, canggung.


"Kenapa harus nanti? Aku mengambil kesempatan ketika kamu tidak sedang bersama Nesya. Ayo berfoto sebentar." Rajendra berbisik tepat di sebelah telinga Ignacia. Membuat si gadis sedikit merinding.


Tanpa diketahui keduanya, seorang teman yang tengah membawa ponsel itu sudah menyalakan mode video sejak tadi. Merekam kedekatan keduanya. Tapi sayangnya tidak bisa ikut mencuri dengar ketika mereka berbisik.


Foto akhirnya diambil dengan posisi Rajendra yang masih memeluk Ignacia dengan sebelah tangan. Tangannya ada di pinggang Ignacia, mencoba sedekat mungkin. Emosinya tengah baik, lagi sikapnya jadi lebih romantis.


"Hah, apa dia tidak tahu jika aku bisa tidak tenang jika disentuh seperti ini? Apalagi ada seseorang yang melihat kami," gugup Ignacia dalam hati.


...*****...


Ignacia tidak tahu kenapa bisa berpikiran demikian. Yang dilakukan kekasihnya selama ini belum menunjukkan bahwa dia serius ingin menjadi masinis. Mungkin saja sudah, Ignacia saja yang tidak mengerti.


Tatapan Ignacia terarah pada keramaian, mulutnya tengah sibuk makan es krim membuatnya tampak menggemaskan di mata Rajendra. Padahal yang melihatnya mungkin saja akan merasa aneh dan terkekeh. Tapi suasana hati Rajendra tengah berbeda malam ini. Dia sedang senang.


Ini pertama kalinya mereka berbaikan dengan cepat setelah perselisihan waktu itu.


"Aku juga masih bingung ingin menjadi apa di masa depan. Yang jelas, aku akan berusaha untuk apapun itu."


"Kedengarannya kamu sudah siap menjadi dewasa," Ignacia menoleh, wajahnya kini menatap ke arah Rajendra, "kamu seperti sudah siap dengan apapun rencana Tuhan di masa depan. Kamu tidak repot-repot memikirkannya bahkan."


"Lihatlah, es krimnya ada di sekitar bibirmu." Rajendra membersihkan noda es krim di wajah Ignacia dengan tisu sebelum merespon ucapan kekasihnya tadi. "Tentu aku harus siap dengan apapun. Menurutmu kenapa aku berusaha keras di organisasi dan sebagainya?"


"Benar juga." Kembali dengan es krim ketika wajahnya sudah kembali bersih. Ignacia menyandarkan diri pada sandaran kursi dan melipat satu tangannya di depan dada. "Kita mungkin tidak akan bisa bertemu beberapa bulan ini. Kita sudah akan sangat sibuk dengan ujian."


"Lalu?" Rajendra yang menoleh sekarang.


"Lalu, kita harus fokus untuk masa depan."


"Bukankah selama ini kita sudah melakukannya?"


"Kamu mungkin sudah, tapi aku belum."


"Ayo lakukan sama-sama jika begitu."


Ignacia terkekeh pelan, "kamu terdengar sangat naif. Tapi kedengarannya tidak begitu buruk. Tapi berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku sendirian lagi, Rajendra. Aku kesal setiap kali kamu sibuk dengan duniamu sendiri."


"Iya, aku akan sering datang padamu nanti," Rajendra menoel hidung Ignacia gemas, "aku akan datang dengan es krim atau mungkin banyak camilan lain."


"Tanpa kamu membawa apapun saja aku sudah senang." Ignacia mencoba menyembunyikan wajahnya dengan menyandarkan diri pada bahu Rajendra. Tingkah laki-laki ini membuat Ignacia salah tingkah sendiri. Apalagi ada beberapa orang yang melihat keduanya yang menikmati waktu bersama.


"Aku hampir lupa jika kita pernah bertengkar beberapa hari yang lalu, Rajendra," batin Ignacia.


"Aku akan tetap membawakannya. Aku tidak akan membiarkan kamu dibahagiakan orang lain." Ignacia terkejut, menatap Rajendra aneh. Tatapan matanya jelas menunjukkan rasa penasaran. Apa yang dikatakan Rajendra?


"Aku tidak ingin ada seseorang yang mendahului aku dalam memberikan apa yang kamu mau. Apa kamu lupa? Dahulu ada seseorang yang membelikan sesuatu padamu. Dia laki-laki pula. Sekarang aku tidak akan membiarkannya."


Ignacia memukul lengan Rajendra pelan, "jangan bicara macam-macam. Kamu tahu sendiri jika aku hanya suka padamu. Jangan menganggap hubunganku dengan laki-laki lain itu serius. Kamu jangan mengingat hari itu lagi."


Bukannya menurut, Rajendra justru terkekeh karena melihat tatapan aneh Ignacia. Tangannya bergerak untuk menyingkirkan anak rambut dari wajah Ignacia, mengelus surai panjangnya lembut. "Iya aku akan melupakannya. Jadi jangan membiarkan orang lain mendahului aku, Ignacia."


"Rajendra, aku hanya mendapatkan keberuntungan hari itu. Seseorang memberikan minuman yang kusuka secara cuma-cuma hanya kadana kami berteman," Ignacia kesal. Dia merasa diremehkan Rajendra karena laki-laki ini tampak tidak percaya.


"Iya, aku mengerti. Aku sekarang sudah mulai dewasa. Aku bisa melupakan hal semacam itu dengan sendirinya nanti."


"Jangan pernah membahasnya lagi."


Ignacia kesal karena ingatan buruk tentang temannya disinggung kembali. Kisahnya sudah lama, tapi Rajendra sengaja mengulangnya lagi untuk melihat reaksi malu Ignacia. Tidak tahu kenapa gadis itu yang malu padahal yang cemburu adalah Rajendra. Bahkan dia sampai jauh-jauh datang hanya untuk memastikan Ignacia menerima pemberiannya.


Rajendra segera menyelesaikan makannya dan membuang bungkusan es krim ke tempatnya. Tidak lupa dia mengambil sampah milik Ignacia untuk dibuang sekalian.


"Kamu masih berteman dengan Bahri?" Rajendra membuka topik. Mendapatkan reaksi kesal dari Ignacia.


"Jangan membahasnya lagi, aku tidak suka."


Rajendra menangkup wajah Ignacia dengan kedua tangan. Sorot matanya berubah. Tampak berbinar padahal sudah malam. Dan di hadapannya, Ignacia masih dengan wajah kesal.


"Maaf karena aku sangat marah saat itu. Aku bersikap tidak rasional dan sangat memaksa. Aku takut kehilanganmu. Ini hubungan pertamaku, jadi aku banyak merasa khawatir."


"Iya, aku mengerti. Tapi lepaskan wajahku. Aku pasti terlihat sangat aneh sekarang." Rajendra tidak ingin menurut. Masih diambil alihnya wajah Ignacia agar tetap bertatapan dengannya. Suasananya berubah sangat canggung bagi Ignacia.


"Kamu selalu terlihat cantik, Ignacia. Karena itu aku tidak suka jika ada yang membuatmu lebih bahagia saat bersama orang lain selain aku dan keluargamu. Aku ingin menjadi sangat egois dengan memiliki kamu tanpa rasa khawatir."


Perlahan Rajendra memajukan wajahnya, membuat Ignacia gelagapan dan ingin segera melepaskan diri. "Apa yang kamu lakukan? Ada banyak orang disini," bisik Ignacia panik.


Rajendra melepaskan tangannya dari wajah Ignacia, terkekeh gemas. "Aku tidak akan melakukannya disini. Kamu terlihat panik sekali. Haha aku puas sekali melihat kamu panik seperti itu, hahaha." Rajendra bahkan sampai memukul kakinya sendiri karena puas membuat Ignacia panik.


Tapi itu tidak masalah. Ignacia senang masih bisa melihat Rajendra tertawa karena dirinya. Masih bisa meluangkan waktu dan menertawakan hal yang konyol.


"Rajendra, bagaimana jika kita berjanji untuk setidaknya mengirimkan satu pesan berupa kabar setiap malam? Sebelum tidur. Ketika sedang sibuk, ayo lakukan itu."


"Kamu takut aku tidak mengirimkan pesan apapun selama kita menghadapi segala ujian bulan depan?"


Ignacia tidak merespon. Tapi wajahnya jelas menunjukkan rasa khawatir. "Hanya untuk mengetahui kabar masing-masing saja. Kita tidak mungkin bisa mendapatkan banyak waktu luang karena ada banyak tugas dan ujian. Tapi bisakah kamu luangkan sedikit waktu untukku? Aku tidak suka sendirian."


"Iya, ayo lakukan itu jika itu yang kamu inginkan. Aku akan berusaha memastikan kamu tidak merasa kesepian. Tapi jika aku melakukan kesalahan, jangan ragu untuk mengingatkan aku ya? Aku juga harus banyak belajar."


Rajendra terlihat bersungguh-sungguh. Laki-laki ini mungkin akan menepati janjinya dengan sendirinya. Ignacia tidak perlu khawatir kan sekarang? Meskipun tidak berjalan sesuai harapan, setidaknya Rajendra pernah berniat.


"Bagaimana jika kita pulang? Aku tidak ingin kamu pulang terlalu malam. Sebentar lagi kamu juga sudah waktunya untuk tidur." Rajendra bangkit, mengulurkan tangannya untuk menggandeng Ignacia menuju tempat parkir.


"Apa kita harus benar-benar pulang? Aku masih ingin diluar."


"Bagaimana jika berkeliling kota sebentar? Tapi setelahnya aku akan mengantarmu pulang."


Tawaran yang pertama menarik, namun yang kedua Ignacia masih belum ingin. Menurutnya malam ini terlalu indah untuk diakhiri secepat ini. "Kita masih bisa bertemu sebelum bulan-bulan sibuk kita, Ignacia. Akan kuusahakan membuatmu tidak kesepian. Yang penting, setelah ini kita pulang."


Mau tidak mau Ignacia menurut saja. Yang penting sebelum pulang, mereka akan berkeliling kota sebentar. Semoga Rajendra tidak cepat-cepat membawanya pulang. Dengan bergandengan tangan, keduanya berjalan ke arah tempat parkir.


"Rajendra, kita langsung pulang saja. Aku merasa mengantuk."


Rajendra menoleh, benar saja dia mendapati wajah kelelahan Ignacia. Padahal tadi dia menolak untuk pulang. Apa berjalan sebentar sudah membuatnya sadar akan rasa kantuknya? Gadis ini sungguh menggemaskan.


"Ya, akan segera kuantarkan ke rumah, Tuan Putri."